Pelayan Dokter Amnesia

Pelayan Dokter Amnesia
Bab.33


__ADS_3

Setelah dari apotek, Juan membawa Maudy pergi ke suatu tempat yang, biasanya Juan datang sendiri. Entah mengapa dia ingin membawa Maudy ke sana.


Sesampainya di tempat itu Maudy langsung turun dari mobil mendahului Juan karena dia begitu penasaran kenapa tiba-tiba saja Juan membawanya ke sebuah pusat wisata yang sedang tutup.


"Tuan, apa anda tidak lihat, disini jelas tertulis, tempat ini sedang tutup, kenapa anda membawa saya kemari?" tanya Maudy yang nampak heran.


Juan segera mendekat dan menunjukkan satu kartu sakti miliknya. "Tempat ini memang tutup, tapi tidak berlaku untuk pemiliknya." Diraihnya tangan Maudy dan langsung di genggam dengan erat. "Ayo masuk."


"Hah, anda pemilik tempat ini." Maudy mengikuti langkah Juan masih dengan tatapan tak percaya."


***


Senja sore ini menjadi pemandangan tersendiri untuk Juan dan Maudy. Mereka duduk berdampingan dengan pandangan yang sama-sama mengarah ke langit sore.


"Sekarang katakan kepadaku apakah kamu masih marah karena beberapa waktu lalu aku tidak mengabari kamu dan membalas pesan kamu? Kamu tidak boleh berbohong, jujurlah. Aku tidak suka melihat kamu diam seperti ini," ujar Juan pada akhirnya.

__ADS_1


Sejenak Maudy terdiam seraya menatap Juan dengan lekat. Dia juga tidak mengerti kenapa dirinya begitu kesal. "Saya juga tidak tahu, lagi pula untuk apa saya marah? Jangan terlalu di anggap serius, jangan buat saya semakin salah paham, Tuan."


"Salah paham, maksudnya?" tanya Juan dengan raut wajah kebingungan. "Kamu benar-benar tidak sadar dengan semua perlakuan ku selama ini, aku bukan tipe pria yang suka bermain-main dan menggoda wanita."


"Lalu anda mau saya berpikir seperti apa?" Maudy kembali meneguk minumannya hingga kaleng minuman itu kosong. Dia kembali menatap Juan yang duduk disampingnya. "Baiklah, sekarang saya akan bertanya serius. Apa anda menyukai saya?"


"Iya, benar. Aku menyukaimu, kenapa?" Juan menjawab dengan begitu santai. Hingga membuat Maudy terperangah.


"Hah?" Maudy kembali terdiam seraya berpikir.


Sepertinya aku salah, seharusnya aku bertanya lebih signifikan lagi, batin Maudy.


"Hm, ya aku sangat mencintaimu. Kamu adalah cinta pertamaku," jawab Juan dengan santainya.


Dan jawaban itu berhasil membuat Maudy semakin salah tingkah hingga wajahnya bersemu merah. Dia tak lagi bisa berkata-kata, memilih membuang muka ke sembarang arah.

__ADS_1


"Hey, apa kamu tidak ingin memberikan tanggapan apapun? Aku sudah mengakui perasan ku padamu, ayo pacaran," ucap Juan seraya mencolek-colek punggung Maudy.


Maudy terlihat tidak sanggup, bahkan untuk sekedar menatap mata Juan. Dia masih berpikir semuanya yang terjadi saat ini adalah kesalahan.


"Maudy, apa kamu baru saja menolakku?" tanya Juan mendesak.


Helaan napas Maudy terdengar lirih, hingga detik selanjutnya dia menoleh menatap Juan. "Lebih tepatnya saya sadar diri sebelum disadarkan. Perasaan yang anda rasakan itu mungkin hanya perasaan sesaat, jangan terlalu gegabah saat berkata cinta."


Juan nampak tertegun. Ya, mungkin benar, dia terlalu terburu-buru untuk mengungkapkan perasaannya, namun sungguh dia tidak bermain-main sekarang.


Sesaat situasi menjadi hening, hingga akhirnya Juan berdiri dari tempat duduknya lalu mengambil posisi berdiri dihadapan Maudy.


"Aku bukanlah pria romantis dan aku tidak pernah mengungkapkan cinta kepada siapapun kecuali kamu. Jika strata sosial menjadi alasanmu, aku bisa menjamin tidak akan ada kendala soal itu. Jadilah kekasihku, aku mencintaimu Maudy."


Maudy nampak kebingungan, namun jika boleh jujur, dia pun merasakan hal yang sama. "Aku ... Aku sebe--"

__ADS_1


Maudy tak bisa melanjutkan ucapannya saat Juan membungkam bibirnya dengan ci*man.



__ADS_2