Pelayan Dokter Amnesia

Pelayan Dokter Amnesia
Bab.23


__ADS_3

Pukul empat sore di ruang tamu sederhana keluarga Maudy.


Juan sedang duduk berhadapan dengan ibu dan juga adik Maudy yang sejak tadi terus bertanya tentang seluk-beluk keluarga Immanuel yang sebenarnya tidak perlu dipertanyakan lagi.


Sementara itu, Maudy hanya bisa duduk di samping Juan seraya terus memberi kode kepada Rafael agar menutup mulutnya yang begitu cerewet mempertanyakan kehidupan pribadi orang lain.


"Terima kasih nak Juan karena sudah mau datang ke rumah kami," ucap Ibu sambil menepuk pelan punggung tangan Juan. "Kalau boleh tahu apakah kalian sudah lama saling mengenal atau memang baru bertemu tadi saat di toko bunga loli?"


"Ah itu ...." Juan melirik ke arah Maudy yang nampak tidak tenang. "Ya kami baru mengenal beberapa waktu belakangan ini, dan dia sudah membantu saya dalam banyak hal jadi kami memutuskan untuk ber--"


"Berteman!" sahut Maudy memotong ucapan Juan. "Ya kami memutuskan untuk berteman karena Tuan ... ehm maksudnya, Juan tadi tiba-tiba saja dia penasaran dengan kehidupan ku yang sangat sederhana ini, hahaha. Sepertinya dia terbiasa hidup kaya jadi ingin tahu seperti apa kehidupan sederhana itu sebenarnya."


"Oh gitu, Kak Juan malam ini menginap saja disini. Makan masakan Ibu yang sederhana tapi enak loh," sahut Raphael yang selalu saja berhasil membuat Maudy mati kutu.

__ADS_1


Sial, dasar bocah tengil. Ide macam apa itu, batin Maudy.


"Bolehkah, kalau begitu saya mau," ujat Juan lalu tersenyum manis.


"A-apa, tidak bisa seperti itu. Disini banyak nyamuk, ranjangnya juga sempit. Anda tidak akan bisa tidur dirumah ini," ujar Maudy yang semakin panik.


"Tenang saja, Maudy. Biarkan aku menginap disini untuk mengenal keluarga kamu," ucap Juan dengan lemah lembut.


Kenapa dia tiba-tiba saja bersikap manis begitu, batin Maudy.


***


Seorang wanita berpakaian seksi, memasuki sebuah ruangan khusus yang hanya diterangi cahaya remang-remang. "Maaf mengganggu anda, Tuan. Tuan Liam, sudah tiba dan ingin bertemu dengan anda."

__ADS_1


Rian, dia melepaskan ciumannya dari seorang wanita yang duduk di pangkuannya. "Suruh dia masuk." Rian segera berdiri dari posisinya. "Kalian semua keluarlah, aku ada tamu penting," pintanya kepada tiga orang wanita yang malam ini akan melayaninya.


Tak lama setelah para wanita itu keluar, seorang pria masuk dengan membawa koper hitam. "Selamat Malam, Dokter. Transaksi kita mulai sekarang?"


Rian menyunggingkan senyumnya. "Ya, seperti biasanya. Ada uang maka ada barang. Duduklah."


Rian meraih koper yang akan dia tukar dengan sekoper uang yang jumlahnya milyaran. Ya, sudah dua tahun belakangan ini, dia menjual obat ilegal yang sebenarnya menyebabkan ketergantungan jika di konsumsi tanpa aturan.


Meski pada dasar obat tersebut dimanfaatkan untuk pengobatan. Dengan catatan harus dalam pengawasan dokter yang ahli di bidangnya. Namun Rian, malah menjual obat tersebut secara ilegal tanpa mengikuti aturan yang berlaku dan dia secara sadar dia telah melanggar kode etiknya sebagai seorang, Dokter ahli syaraf.


Pria berjas hitam itu memeriksa isi koper yang disodorkan Rian, hingga detik selanjutnya dia mulai menganggukkan kepalanya. "Bagus, sesuai dengan yang saya butuhkan. Ck, terkadang saya heran, kenapa seorang dokter seperti anda, bisa mendapatkan barang langka seperti ini?"


Mendengar pertanyaan itu, membuat Rian berdecak. "Hidup ini keras. Yang jujur akan selalu tertinggal dan tertindas. Saya hanya mengikuti permainan dunia, dan semua barang ini datang dari sumber terpercaya yang diatur oleh Ayah saya." Rian menyondongkan tubuhnya menatap sinis pria dihadapannya. "Anda jangan munafik, kita ini sama. Sama-sama keluar jalur aman."

__ADS_1


__ADS_2