
Jika memang pada akhirnya Juan harus mengambil tindakan tegas karena kelakuan Rian yang ternyata sudah di luar batas, pasti tidak akan mudah baginya karena beberapa tahun mereka banyak melewati waktu bersama sebagai seorang sahabat.
Juan keluar dari rumah sakit itu dengan langkah lemas. Semakin banyak bukti dia temukan, maka tidak ada jalan untuk membicarakan semuanya dengan baik-baik melainkan Juan harus mengambil tindakan tegas.
Setelah masuk ke dalam mobil Dia segera tancap gas pergi meninggalkan rumah sakit itu menuju tempat lain dan kali ini bukan untuk mencari bukti tetapi dia sudah mengatur janji dengan seorang dokter ahli yang bisa menyembuhkannya.
***
"Kemana dia, kenapa dia melewatkan cek up bulanannya tanpa kabar," ucap Rian seraya memutar-mutar pulpen dengan jarinya.
Jika awalnya Rian hanya berpikir mungkin Juan lelah tetapi sekarang dia mulai curiga. Karena sudah beberapa waktu ini sikap sahabatnya itu berubah drastis.
Juan yang lulus selalu berkonsultasi baik secara tatap muka ataupun meneleponnya kini mendadak sunyi. Dia juga sudah datang ke rumah Juan namun tidak mendapati sahabatnya itu di sana.
Hal tersebut membuat Rian memutar otak. cara apa yang harus dilakukan agar Juan kembali ke rumah sakit dan menjalani pengobatan yang sebenarnya bukan untuk menyembuhkan tetapi malah memperparah Amnesianya.
Tiba-tiba saja jarinya yang sejak tadi memutar-mutar pulpen, terhenti begitu saja. Dia mengingat seseorang yang kemungkinan besar mengetahui keberadaan Juan.
***
Sudah dua hari Maudy hanya bermalas-malasan di rumah dan mondar-mandir ke toko loli. Hari ini pun masih sama namun bedanya sejak pagi dia belum pernah turun dari kasur.
Ditatapnya layar ponsel dengan penuh harap, semoga saja Juan menelponnya dan segera memberikan kabar baik. Meski sebenarnya hari inipun belum genap satu minggu Juan pergi.
__ADS_1
"Sejak kemarin dia tidak ada kabar pesanku pun tidak dibalas apakah memang harus aku yang menelpon dia lebih dulu."
Sejenak Maudy nampak berpikir hingga beberapa detik kemudian dia menggelengkan kepalanya. "Ah tidak, masa aku duluan. Tunggu sajalah nanti juga dia menelepon."
Dia meletakkan ponselnya di atas nakas lalu kembali berbaring dengan posisi terlentang menatap langit-langit kamar dengan tatapan nanar.
"Maudy kamu ngapain sih di kamar terus seharian keluar gih sana Kalau tidak ada kerjaan nyuci kek, ngepel kek! Maudy kamu dengar Ibu tidak sih!"
Suasana hati Maudy benar-benar sedang tidak bisa diganggu namun sang Ibu seolah tidak mengerti semua itu. "Iya Bu nanti saja, aku aku masih mengantuk dan ingin tidur sekarang."
"Dasar pengangguran, kalau begitu Ibu pergi sebentar ya kamu jaga rumah jangan kemana-mana," sahut Ibu lagi balik pintu kamar.
"Iya, iya!"
Dia tersenyum lebar saat mengetahui yang menelponnya adalah Juan. "Ehm, ya hallo?"
[Maaf karena kemarin aku sedikit sibuk, apa kabar kamu hari ini?]
"Baik, hanya saja karena aku sedang libur bekerja sebagai pelayan anda jadi saya seperti pengangguran yang tak berguna. Kapan anda pulang?"
Suara Maudy nampak seperti merengek.
[Haha, lusa aku pulang. Oh iya, aku ingin kamu tetap waspada selama aku tidak ada. Terutama dengan Dokter Rian.]
__ADS_1
Maudy mengerutkan keningnya heran.
"Memangnya kenapa dengan Dokter Rian?"
[Aku tidak bisa menceritakannya sekarang, intinya jaga jarak dan jangan katakan apapun tentang kepergianku kepadanya.]
"Ah begitu, Baiklah."
Tok... tok
Saat tengah asik menelpon, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu. "Tuan, sepertinya ada tamu, saya tutup dulu ya."
Maudy segera mengakhiri panggilan telepon itu dan beranjak keluar menuju pintu utam rumahnya.
Klek.
Saat pintu terbuka, Maudy masih nampak kebingungan siapa pria yang saat ini sedang berdiri di teras rumahnya. "Siapa ya?"
Pria itu tersenyum sambil mengulurkan tangannya. "Selamat Siang, saya Rian. Saya ini dokter pribadi Juan."
Deg.
Maudy mendadak terpaku, baru saja Juan memintanya untuk waspada dan tiba-tiba saja pria itu sudah ada dihadapannya.
__ADS_1
Dari mana dia tahu rumahku, batin Maudy.