Pelita Di Ujung Asa

Pelita Di Ujung Asa
Part 1. Vivian di Usir


__ADS_3

“Usir gadis kecil ini dari rumah saya …,’’


seru seorang pria paruh baya yang tak lain adalah Paman Khoi.


“Paman … Aku ini keponakanmu. Kenapa Paman


tega melakukan ini semua sama aku?” Vivian berteriak histeris karena dia tidak


menyangka kalau pamannya sangat jahat padanya.


Paman Khoi dengan langkah yang tegap pun


menghampiri Vivian yang terduduk di lantai itu. Sedangkan Vivian, dia sangat


membenci Paman Khoi karena dia baru tahu kalau pamannya sudah tega membunuh


kedua orang tuanya hanya karena harta.


“Dulu kau memang keponakanku. Tapi


sekarang, kau sudah tidak berguna lagi,’’ ucap Paman Khoi dengan pelan.


“Cih, aku tidak akan tinggal diam! Akan ku


balas semua perbuatan Paman ini …,’’ ketus Vivian dengan menatap tajam kearah


pamannya.


Paman Khoi pun tertawa terbahak-bahak


ketika mendengar perkataan dari keponakannya itu. Namun, Paman Khoi menampar


pipi mulus Vivian sampai sudut bibirnya berdarah. Vivian pun kembali meneteskan


air matanya sambil menahan emosinya.


“Kau itu sudah tidak punya apa-apa, karena


harta kedua orang tuamu yang bodoh itu kini sudah jatuh di tanganku.” Paman


Khoi pun menarik dagu Vivian sehingga mereka saling bertatapan.


Vivian menatap pamannya dengan penuh


kebencian dan dia bersumpah akan membalas semua perbuatan pamannya itu. Dengan


cepat, paman Khoi  menyuruh anak buahnya


untuk mengusir Vivian keluar dari rumahnya sendiri.


“Paman! Buka pintunya … Aku mohon jangan


usir aku, Paman!” teriak Vivian sambil menggedor-gedor pintu.


“Nona muda, lebih baik anda segera pergi


dari sini. Saya takut, nanti Tuan Khoi melakukan hal yang buruk sama Nona muda


…,’’ kata salah satu bodyguard yang dulunya sering mengawal Papanya Vivian.


“Tapi, aku bingung mau pergi kemana?”


jawab Vivian dengan raut wajah yang begitu sedih.


 “Nona muda tenang saja, kebetulan saya punya


rumah dan  Nona muda bisa tinggal


disitu,’’ kata bodyguard itu seraya menyodorkan kunci rumah kepada Vivian.


“Tidak usah, nanti aku malah ngerepotikan  Bapak lagi …,’’


“Saya tidak merasa direpotkan lagian itu


juga rumah pemberian mendiang orang tua, Nona. Dan kalau mau biar saya antar ke


rumah itu …,’’ kata Bodyguard.

__ADS_1


Vivian hanya mengangguk, dengan cepat


bodyguard itu pun mengantarkan Vivian ke rumahnya yang memang sudah tidak


ditinggali karena lebih suka tidur di mess yang sudah di sediakan. Vivian masih


menangis karena meratapi nasibnya sekarang, dan dia juga bingung harus


bagaimana kedepannya.


Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka pun


sudah sampai di rumah tersebut dan Vivian melihat sebuah rumah yang sangat


sederhana tapi bersih dan masih layak untuk ditempati.


“Nona muda, ini ada sedikit uang. Siapa


tahu Nona membutuhkan untuk biaya sehari-hari …,’’ kata Bodyguard itu.


“Aku masih ada tabungan kok, Pak. Itu buat


Bapak saja,’’ kata Vivian yang menolak secara halus.


“Jangan sungkan, Nona. Saya sudah


menganggap Nona seperti anak saya sendiri, jadi, terimalah …,’’ kata Bodyguard


yang tak lain bernama Pak Joss.


Vivian pun langsung memeluk Pak Joss


dengan erat sambil menangis. Dia sangat beruntung karena orang-orang yang


bekerja di rumahnya itu sangat baik dan setia. Dan Vivian juga memaklumi kenapa


semua orang itu berubah karena mereka sangat takut sama Paman Khoi.


“Ingat, Nona. Jaga diri Nona baik-baik,


saya akan mengunjungi Nona setiap hari minggu saja,’’ kata Pak Joss.


aku akan membalas semua kebaikan Bapak …,’’ kata Vivian tersenyum kepada Pak


Joss.


“Jangan dipikirkan, sekarang Nona muda


turun dan istirahat. Karena saya harus kembali ke rumah lagi …,’’ kata Pak


Joss.


Vivian hanya mengangguk. “Hati-hati


dijalan, Pak,’’ kata Vivian.


Pak Joss hanya tersenyum dan mengangguk,


memang beliau itu sangat dekat dengan papanya Vivian dan sudah mengenal


karakter dari nona mudanya itu. Pak Jos sendiri tidak memiliki anak dan istri,


maka dari itu Pak Jos pun menganggap Vivian itu seperti anaknya sendiri.


Vivian pun langsung masuk ke rumah sambil


membawa dua kopernya itu. Dia melihat sekelilingnya, terlihat tatanan rumahnya


yang nampak rapi dan bersih. Vivian pun berjalan lalu duduk disofa yang ada di


ruang tamu itu, ia pun menghela nafasnya dengan panjang dan Vivian kembali


menangis mengingat kedua orang tuanya itu.


“Mama, Papa. Mengapa kalian meninggalkan


aku dengan begitu cepat?” gumam Vivian seraya melihat foto kedua orang tuanya

__ADS_1


di layar ponselnya itu. “Aku takut menghadapi dunia ini sendirian, Ma, Pa.


Dunia ini begitu kejam untukku,’’ sambung Vivian yang semakin terisak.


**


“Enough, Ma! Jangan paksa istriku untuk


hamil, dia masih pengen berkarir. Lagian aku juga belum siap punya anak …,’’


protes Erland yang kesal dengan mamanya.


“Cih, kau terlalu memanjakan istrimu itu.


Pokoknya, Mama mau istri kamu lepas alat kontrasepsi itu …,’’ tegas Mama Lola


kemudian pergi meninggalkan Erland dan istrinya di ruang tamu.


Kini hanya tinggal Erland dan Bella sang


istri. Erland Wijaya, pria 30 tahun yang merupakan seorang presdir di


Perusahaan Wijaya Corp dan pebisnis muda yang terkenal arrogant serta ketus.


Erland sudah menikah selama dua tahun dengan Bella Anandita merupakan seorang


aktris film yang sedang naik daun. Akan tetapi, Bella sampai saat ini belum


bisa memberikan keturunan dengan alasan dia tidak mau jika tubuhnya melar


gara-gara melahirkan dan Bella juga belum siap menjadi seorang ibu.


“Honey, pokoknya aku nggak mau punya anak


dulu!” tutur Bella seraya memeluk suaminya dari belakang.


Erland pun menghela nafasnya dengan


panjang dan membalikkan tubuhnya lalu mencium kening istrinya dengan lembut.


Erland sangat mencintai Bella, bahkan setiap Bella menginginkan sesuatu Erland


selalu menurutinya.


“Honey … Maafkan ucapan Mama tadi. Aku


tidak akan memaksa kamu untuk hamil, honey …,’’ kata Erland dengan lembut.


“Terima kasih, honey. Oh iya, aku punya


ide, gimana kalau kamu nikah lagi?” Bella pun memberikan saran yang membuat


Erland tergelak.


“Jangan bercanda honey. Mana mungkin aku


menikahi wanita lain,” kata Erland.


“Dengarkan aku dulu, honey.  Kita bisa menyewa rahim wanita lain,’’ kata


Bella.


“Tapi, kalau Mama tahu gimana? Bisa-bisa


jantungnya kambuh, honey,’’ ucap Erland.


“Ya, jangan sampai Mama tahu dong. Mau ya,


lagian nantinya Mama tidak akan curiga sama kita karena bayi itu pasti mirip


sama kamu nantinya …,’’ ucap Bella yang terus mengompori Erland.


Erland masih terdiam dan memikirkan


tentang perkataannya. Memang benar apa yang dikatakan istrinya kalau mamanya


tidak akan tahu karena mau bagaimanapun dia ayah dari bayi itu nantinya. Dan

__ADS_1


mau tidak mau akhirnya Erland pun menyetujui saran dari sang istri untuk


menikah lagi walaupun sebenarnya Erland tidak mau melakukan itu semua.


__ADS_2