Pelita Di Ujung Asa

Pelita Di Ujung Asa
Part 4. Vivian dan Fika Kecelakaan


__ADS_3

“Jadi, kedepannya apa yang ingin elo lakukan?” tanya Fika kepada Vivian.


“Gue juga nggak tahu harus gimana? Atau gue jadi pelakor saja ya?” jawab


Vivian yang langsung mendapat jitakan dari Fika.


“Ngawur saja lo, emang elo mau di jambak sama istri sahnya? Jangan


ngadi-ngadi, mending elo bikin usaha saja …,’’ kata Fika.


“Kira-kira usaha apa ya? Atau gue jadi purel aja kan lumayan tuh


uangnya,’’ kata Vivian.


“Haha … Nggak akan ada yang mau sama elo. Secara elo itu lemot dan


tukang kepo,’’ kata Fika yang masih tertawa terbahak-bahak.


Vivian hanya tertawa karena memang dia juga merasa begitu. Namun untuk


saat ini, dia akan mencari uang tambahan untuk membiayai kebutuhannya. Fika


juga sangat mensuport semua yang akan Vivian lakukan selagi itu positif, karena


jujur Fika kasihan sama Vivian.


“Sudahlah, Vian. Elo mending kerja bareng gue saja, besokkan  kita nggak ada kuliah nanti gue ajak elo ke


tempat kerja gue, gimana?” tanya Fika.


“Bolehlah, daripada gue nganggur  dan diem di rumah mulu,’’ jawab Vivian.


“Oh iya, kita makan malam yuk, tenang gue yang traktir karena kemarin


gue baru gajian …,’’ ajak Fika.


Vivian pun mengangguk dan dengan cepat mereka pun langsung siap-siap


untuk pergi makan malam bersama. Dan tak butuh waktu lama, akhirnya mereka pun


sudah selesai lalu bergegas menuju ke tempat yang biasa mereka kunjungi.


Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka pun sudah sampai disebuah café


yang menurut mereka ramah dikantong. Fika memarkirkan motornya di depan kafe,


setelah itu mereka pun langsung masuk ke dalam dan mencari tempat duduk yang


pas untuk mereka.


“Kita duduk disana saja,’’ ucap Vivian seraya menunjuk kearah meja yang


kosong.


“Boleh,’’ kata Fika.


Mereka pun langsung bergegas menuju ke meja yang Vivian tunjuk itu, dan


memesan makanan karena mereka juga sudah sangat lapar. Sambil menunggu makanan


datang, Vivian dan Fika pun berbincang tentang masalah pekerjaan.


“Fika … Apa gue berhenti kuliah saja?” Vivian merasa tidak semangat lagi


untuk belajar.


“Congor lo itu kalau ngomong suka sekate-kate … Gue kan dah bilang mau


bantuin elo nyariin kerjaan. Jangan putus asa gitu kali …,’’ kata Fika.


“Nggak usah ngegas juga kali …,” kata Vivian terkekeh.


“Habisnya elo ngeselin amat jadi manusia,” kata Fika.


Vivian hanya tertawa melihat sahabatnya itu kesal akan tetapi, dia


sangat beruntung karena memiliki sahabat seperti Fika karena setidaknya bisa


membuat Vivian tertawa dan melupakan masalahnya sejenak. Dan tak butuh waktu


lama, makanan yang mereka pesan pun sudah sampai dengan cepat Vivian dan Fika


menyantap makanan itu dengan lahap.


“Wah-wah … Ternyata keponakan kecilku ada disini juga,’’ ucap seorang


pria yang tak lain adalah Paman Khoi.


Vivian dan Fika pun menoleh kearah paman Khoi. Tangan Vivian langsung


mengepal karena dia sangat membenci pria yang sudah membunuh kedua orang tuanya

__ADS_1


hanya demi hartanya itu.


“Kenapa kalian menatap ku seperti itu?” sambung Paman Khoi tersenyum


menyeringai.


“Suka-suka kami lah mau menatap Anda itu seperti apa? Jangan terlalu


percaya diri Anda …,’’ ketus Fika.


“Percuma juga kita ngomong sama manusia modelan seperti itu, mending


kita lanjut makan,’’ sahut Vivian yang memang sedang malas menghadapi pamannya


itu.


“Vian, sopanlah sedikit. Apa kau tidak merindukan Pamanmu ini?” tanya


Paman Khoi.


“Aku? Kangen sama Paman? Sepertinya tidak deh, untuk apa aku kangen sama


Paman? Buang-buang waktu saja,’’ jawab Vivian dengan nada ketus karena dia


sudah muak dengan tingkah laku pamannya itu.


“Jangan sombong kamu, Vian. Tanpa Paman kau tidak akan bisa hidup sampai


sekarang,’’ kata Paman Khoi.


“Lebih baik aku mati, daripada aku harus menampung darah Paman di


tubuhku,’’ teriak Vivian dengan mata berkaca-kaca.


“Vian, sudah. Kita pergi saja dari sini, jangan buang waktu dan tenaga


elo hanya untuk berdebat dengan manusia iblis seperti dia,’’ sahut Fika menatap


tajam kearah Paman Khoi.


“Kau!”


“Apa? Anda mau marah sama saya, terus mau mukul saya silahkan. Saya


tidak takut, ayo Vian kita pergi saja …,’’ kata Fika dengan nada ketus sambil


mengajak Vian untuk pergi.


berani mempermalukan dirinya di tempat umum. Sedangkan Vivian dan Fika pun


langsung pergi setelah membayar makanan mereka, sepanjang perjalanan Vivian


hanya bisa menangis dan marah karena dia menyesal sudah menerima donor darah


dari pamannya itu.


Fika menepikan motornya dan memberikan tisu untuk sahabatnya sebab, dia


sangat tidak tega jika harus melihat Vivian menangis.


“Sudahlah, elo jangan terlalu menyalahkan diri lo sendiri. Pokoknya elo


harus semangat, ad ague yang akan selalu menemani lo sampai kapan pun,’’ kata


Fika memeluk Vivian dan menenangkan Vivian.


“Kenapa hidup gue seperti ini, Fik? Salah gue apa?’’rancau Vivian sambil


sesegukan.


“Elo nggak salah kok, memang Paman lo saja yang gila. Sudah jangan


nangis, elo tuh harus kuat …,’’ kata Fika. “Kita pulang saja,” sambung Fika.


Vivian yang masih menangis pun hanya bisa mengangguk. Dan dengan cepat


Fika pun langsung melajukan motornya menuju ke rumah akan tetapi, ketika sedang


mengendarai di jalanan yang sepi mereka berdua pun di hadang sama orang yang


tidak di kenal.


“Siapa mereka Fika?” tanya Vivian.


“Mana gue tahu, tapi kayaknya mereka itu perampok deh,’’ jawab Fika.


“Terus gimana ini?” tanya Vivian yang sudah nampak khawatir.


“Elo tenang saja, siapa kalian? Kenapa menghalangi jalan kita?” Fika pun


bertanya kepada kedua pria yang menghadang mereka.

__ADS_1


“Jangan banyak bacot kalian! Cepat serahkan motor kalian,’’ jawab Pria


A.


“Enak saja main minta-minta aja, elo pikir teman gue beli motor ini


kagak pakai duit apa? Iya kan, Fik?” sahut Vivian yang diangguki sama Fika.


“Wanita sialan!” umpat Pria B.


Kedua pria itu pun langsung mengambil paksa dan menyuruh Vivian serta


Fika untuk turun dari motor. Akan tetapi, dua gadis itu masih saja kekeh


mempertahankan motornya dibandingkan dengan nyawa mereka. Sebab, dua pria itu


membawa senjata tajam Vivian yang lagi kesal dan hawanya ingin mengamuk pun


dengan cepat menendang perut salah satu pria tersebut sampai tersungkur. Dan


Vivian juga menyuruh Fika untuk melajukan motornya agar bisa kabur dari dua


perampok itu.


“Fik, tabrak saja. Mumpung yang satunya lengah,’’ teriak Vivian.


“Oke …,’’


Dengan cepat Fika pun langsung melajukan motornya dan benar saja hampir


saja mereka menabrak pria satunya. Namun, mereka belum bisa bernafas lega


karena kedua perampok itu malah mengejar mereka.


“Wah, mereka masih mengejar kita Fika!” teriak Vivian yang sesekali


melihat kearah belakang.


“Iya, mana jalanan ini sepi sekali. Apa kita salah lewat jalan ya?”


tanya Fika.


“Sepertinya tidak deh, elo fokus nyetir saja. Gue takut kita kenapa-napa


lagi,’’ jawab Vivian.


“Baik, elo pegangan yang kuat.” Fika menyuruh Vivian untuk pegangan


dengan erat , dan Vivian pun menuruti perkataan dari sahabatnya.


Fika melajukan motornya dengan kecepatan tinggi karena takut para


perampok itu mengejar mereka berdua. Namun, ketika berada ditikungan ada sebuah


mobil yang muncul dan membuat Fika terkejut lalu tidak bisa menjaga


keseimbangannya.


Brak!!


Vivian dan Fika pun terjatuh, tubuh Vivian terpental sedangkan Fika


sudah tidak sadarkan diri.


“Astaga, Deni. Cepat kau telpon ambulans sekarang!” ucap Erland yang


terlihat panik.


“Ba-baik, Tuan muda.” Sekretaris Deni yang sama paniknya pun dengan


cepat menelpon ambulans.


Benar, Erland dan Sekretaris Deni yang baru saja pulang dari sebuah


acara begitu terkejut ketika ada sebuah mobil yang tiba-tiba melintas di depan


mereka. Erland dengan cepat menghampiri Vivian yang tadi terpental lumayan


jauh.


“Gadis ini?” gumam Erland terbelalak ketika melihat gadis yang ia


tabrak.


Vivian membuka matanya dan melihat sosok yang ia sangka itu adalah


papanya pun hanya tersenyum.


“A-akhirnya a-aku bisa bertemu Papa dan Mama lagi,’’ ucap Vivian yang


terbata-bata kemudian dia sudah tidak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2