
“Jadi, kedepannya apa yang ingin elo lakukan?” tanya Fika kepada Vivian.
“Gue juga nggak tahu harus gimana? Atau gue jadi pelakor saja ya?” jawab
Vivian yang langsung mendapat jitakan dari Fika.
“Ngawur saja lo, emang elo mau di jambak sama istri sahnya? Jangan
ngadi-ngadi, mending elo bikin usaha saja …,’’ kata Fika.
“Kira-kira usaha apa ya? Atau gue jadi purel aja kan lumayan tuh
uangnya,’’ kata Vivian.
“Haha … Nggak akan ada yang mau sama elo. Secara elo itu lemot dan
tukang kepo,’’ kata Fika yang masih tertawa terbahak-bahak.
Vivian hanya tertawa karena memang dia juga merasa begitu. Namun untuk
saat ini, dia akan mencari uang tambahan untuk membiayai kebutuhannya. Fika
juga sangat mensuport semua yang akan Vivian lakukan selagi itu positif, karena
jujur Fika kasihan sama Vivian.
“Sudahlah, Vian. Elo mending kerja bareng gue saja, besokkan kita nggak ada kuliah nanti gue ajak elo ke
tempat kerja gue, gimana?” tanya Fika.
“Bolehlah, daripada gue nganggur dan diem di rumah mulu,’’ jawab Vivian.
“Oh iya, kita makan malam yuk, tenang gue yang traktir karena kemarin
gue baru gajian …,’’ ajak Fika.
Vivian pun mengangguk dan dengan cepat mereka pun langsung siap-siap
untuk pergi makan malam bersama. Dan tak butuh waktu lama, akhirnya mereka pun
sudah selesai lalu bergegas menuju ke tempat yang biasa mereka kunjungi.
Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka pun sudah sampai disebuah café
yang menurut mereka ramah dikantong. Fika memarkirkan motornya di depan kafe,
setelah itu mereka pun langsung masuk ke dalam dan mencari tempat duduk yang
pas untuk mereka.
“Kita duduk disana saja,’’ ucap Vivian seraya menunjuk kearah meja yang
kosong.
“Boleh,’’ kata Fika.
Mereka pun langsung bergegas menuju ke meja yang Vivian tunjuk itu, dan
memesan makanan karena mereka juga sudah sangat lapar. Sambil menunggu makanan
datang, Vivian dan Fika pun berbincang tentang masalah pekerjaan.
“Fika … Apa gue berhenti kuliah saja?” Vivian merasa tidak semangat lagi
untuk belajar.
“Congor lo itu kalau ngomong suka sekate-kate … Gue kan dah bilang mau
bantuin elo nyariin kerjaan. Jangan putus asa gitu kali …,’’ kata Fika.
“Nggak usah ngegas juga kali …,” kata Vivian terkekeh.
“Habisnya elo ngeselin amat jadi manusia,” kata Fika.
Vivian hanya tertawa melihat sahabatnya itu kesal akan tetapi, dia
sangat beruntung karena memiliki sahabat seperti Fika karena setidaknya bisa
membuat Vivian tertawa dan melupakan masalahnya sejenak. Dan tak butuh waktu
lama, makanan yang mereka pesan pun sudah sampai dengan cepat Vivian dan Fika
menyantap makanan itu dengan lahap.
“Wah-wah … Ternyata keponakan kecilku ada disini juga,’’ ucap seorang
pria yang tak lain adalah Paman Khoi.
Vivian dan Fika pun menoleh kearah paman Khoi. Tangan Vivian langsung
mengepal karena dia sangat membenci pria yang sudah membunuh kedua orang tuanya
__ADS_1
hanya demi hartanya itu.
“Kenapa kalian menatap ku seperti itu?” sambung Paman Khoi tersenyum
menyeringai.
“Suka-suka kami lah mau menatap Anda itu seperti apa? Jangan terlalu
percaya diri Anda …,’’ ketus Fika.
“Percuma juga kita ngomong sama manusia modelan seperti itu, mending
kita lanjut makan,’’ sahut Vivian yang memang sedang malas menghadapi pamannya
itu.
“Vian, sopanlah sedikit. Apa kau tidak merindukan Pamanmu ini?” tanya
Paman Khoi.
“Aku? Kangen sama Paman? Sepertinya tidak deh, untuk apa aku kangen sama
Paman? Buang-buang waktu saja,’’ jawab Vivian dengan nada ketus karena dia
sudah muak dengan tingkah laku pamannya itu.
“Jangan sombong kamu, Vian. Tanpa Paman kau tidak akan bisa hidup sampai
sekarang,’’ kata Paman Khoi.
“Lebih baik aku mati, daripada aku harus menampung darah Paman di
tubuhku,’’ teriak Vivian dengan mata berkaca-kaca.
“Vian, sudah. Kita pergi saja dari sini, jangan buang waktu dan tenaga
elo hanya untuk berdebat dengan manusia iblis seperti dia,’’ sahut Fika menatap
tajam kearah Paman Khoi.
“Kau!”
“Apa? Anda mau marah sama saya, terus mau mukul saya silahkan. Saya
tidak takut, ayo Vian kita pergi saja …,’’ kata Fika dengan nada ketus sambil
mengajak Vian untuk pergi.
berani mempermalukan dirinya di tempat umum. Sedangkan Vivian dan Fika pun
langsung pergi setelah membayar makanan mereka, sepanjang perjalanan Vivian
hanya bisa menangis dan marah karena dia menyesal sudah menerima donor darah
dari pamannya itu.
Fika menepikan motornya dan memberikan tisu untuk sahabatnya sebab, dia
sangat tidak tega jika harus melihat Vivian menangis.
“Sudahlah, elo jangan terlalu menyalahkan diri lo sendiri. Pokoknya elo
harus semangat, ad ague yang akan selalu menemani lo sampai kapan pun,’’ kata
Fika memeluk Vivian dan menenangkan Vivian.
“Kenapa hidup gue seperti ini, Fik? Salah gue apa?’’rancau Vivian sambil
sesegukan.
“Elo nggak salah kok, memang Paman lo saja yang gila. Sudah jangan
nangis, elo tuh harus kuat …,’’ kata Fika. “Kita pulang saja,” sambung Fika.
Vivian yang masih menangis pun hanya bisa mengangguk. Dan dengan cepat
Fika pun langsung melajukan motornya menuju ke rumah akan tetapi, ketika sedang
mengendarai di jalanan yang sepi mereka berdua pun di hadang sama orang yang
tidak di kenal.
“Siapa mereka Fika?” tanya Vivian.
“Mana gue tahu, tapi kayaknya mereka itu perampok deh,’’ jawab Fika.
“Terus gimana ini?” tanya Vivian yang sudah nampak khawatir.
“Elo tenang saja, siapa kalian? Kenapa menghalangi jalan kita?” Fika pun
bertanya kepada kedua pria yang menghadang mereka.
__ADS_1
“Jangan banyak bacot kalian! Cepat serahkan motor kalian,’’ jawab Pria
A.
“Enak saja main minta-minta aja, elo pikir teman gue beli motor ini
kagak pakai duit apa? Iya kan, Fik?” sahut Vivian yang diangguki sama Fika.
“Wanita sialan!” umpat Pria B.
Kedua pria itu pun langsung mengambil paksa dan menyuruh Vivian serta
Fika untuk turun dari motor. Akan tetapi, dua gadis itu masih saja kekeh
mempertahankan motornya dibandingkan dengan nyawa mereka. Sebab, dua pria itu
membawa senjata tajam Vivian yang lagi kesal dan hawanya ingin mengamuk pun
dengan cepat menendang perut salah satu pria tersebut sampai tersungkur. Dan
Vivian juga menyuruh Fika untuk melajukan motornya agar bisa kabur dari dua
perampok itu.
“Fik, tabrak saja. Mumpung yang satunya lengah,’’ teriak Vivian.
“Oke …,’’
Dengan cepat Fika pun langsung melajukan motornya dan benar saja hampir
saja mereka menabrak pria satunya. Namun, mereka belum bisa bernafas lega
karena kedua perampok itu malah mengejar mereka.
“Wah, mereka masih mengejar kita Fika!” teriak Vivian yang sesekali
melihat kearah belakang.
“Iya, mana jalanan ini sepi sekali. Apa kita salah lewat jalan ya?”
tanya Fika.
“Sepertinya tidak deh, elo fokus nyetir saja. Gue takut kita kenapa-napa
lagi,’’ jawab Vivian.
“Baik, elo pegangan yang kuat.” Fika menyuruh Vivian untuk pegangan
dengan erat , dan Vivian pun menuruti perkataan dari sahabatnya.
Fika melajukan motornya dengan kecepatan tinggi karena takut para
perampok itu mengejar mereka berdua. Namun, ketika berada ditikungan ada sebuah
mobil yang muncul dan membuat Fika terkejut lalu tidak bisa menjaga
keseimbangannya.
Brak!!
Vivian dan Fika pun terjatuh, tubuh Vivian terpental sedangkan Fika
sudah tidak sadarkan diri.
“Astaga, Deni. Cepat kau telpon ambulans sekarang!” ucap Erland yang
terlihat panik.
“Ba-baik, Tuan muda.” Sekretaris Deni yang sama paniknya pun dengan
cepat menelpon ambulans.
Benar, Erland dan Sekretaris Deni yang baru saja pulang dari sebuah
acara begitu terkejut ketika ada sebuah mobil yang tiba-tiba melintas di depan
mereka. Erland dengan cepat menghampiri Vivian yang tadi terpental lumayan
jauh.
“Gadis ini?” gumam Erland terbelalak ketika melihat gadis yang ia
tabrak.
Vivian membuka matanya dan melihat sosok yang ia sangka itu adalah
papanya pun hanya tersenyum.
“A-akhirnya a-aku bisa bertemu Papa dan Mama lagi,’’ ucap Vivian yang
terbata-bata kemudian dia sudah tidak sadarkan diri.
__ADS_1