Pelita Di Ujung Asa

Pelita Di Ujung Asa
Part 13. Makan di Warung Biasa


__ADS_3

“Pilih saja apa


yang kamu mau,’’ kata Erland.


“Ngapain kita ke


sini sih? Mas, mending kita pulang …,’’ ucap Vivian yang kesal karena Erland


mengajaknya ke toko baju.


“Kamu tidak mau


pilih-pilih bajunya sayang?” tanya Erland mengerutkan matanya.


“Nggak, lagian


baju yang kamu belikan masih banyak dan semuanya belum aku pakai,’’ jawab


Vivian.


Memang baju dan


kebutuhan Vivian lainnya masih banyak. Sedangkan Vivian, dia hanya memakai


beberapa saja karena bingung mau pakai yang mana duluan. Erland baru kali ini


melihat wanita yang menolak di ajak ke toko baju yang mahal.


‘Memang beda dari yang lain,’ gumam Erland dalam hati.


“Tas nya juga


bagus-bagus loh, sayang …,’’ sambung Erland.


“No, no, no …


Ayo pulang, mending kita makan saja tapi aku yang tentuin mau makan dimana?”


ucap Vivian.


“Baiklah, kita


pergi ya,’’ kata Erland mengalah.


“Nah, gitu dong,’’


ucap Vivian yang langsung sumringah. ‘Daripada


buat beli beginian mahal, mending uangnya gue donasikan ke panti asuhan,’ batin


Vivian dalam hati.


Vivian tidak


tahu kalau mall tersebut adalah milik Erland. Para pegawai toko baju itu pun


hanya diam dan bingung karena biasanya Erland datang bersama dengan Bella


sedangkan hari ini, Erland datang bersama dengan wanita lain dan nampaknya


Erland begitu menyayangi wanita tersebut.


Vivian ingin di


warung langganannya dan Fika ketika jalan berdua. Erland hanya menurut saja


karena dia tidak mau membuat Vivian bosan lagi.


“Kita mau makan


dimana?” tanya Erland kepada Vivian.


“Nanti aku


tunjukkan tempatnya,’’ jawab Vivian.


“Baiklah,’’ ucap


Erland tersenyum.


“Oh iya, Mas


Erland nggak kerja hari ini?” tanya Vivian.


“Untuk hari ini


aku akan menemanimu kemanapun kamu mau,’’ jawab Erland.


“Memangnya,


Bosnya Mas nggak marah?” tanya Vivian dengan polosnya membuat Erland tergelak.


“Kamu belum tahu


siapa aku, sayang?” Erland pun balik bertanya sama Vivian karena bingung dengan


ucapan dari Vivian.


“Kan aku hilang


ingatan jadi, mana aku tahu …,’’ jawab Vivian berdusta.


‘Iya juga sih, kan aku baru satu kali ketemu Vian. Dan


kedua kalinya ketika kecelakaan,’ batin Erland dalam hati.


“Kamu benar juga


sayang, Bos aku nggak bakalan marah,’’ sambung Erland.

__ADS_1


“Jangan gitu,


besok Mas harus berangkat kerja,’’ucap Vivian yang hanya diangguki sama Erland.’Kalau Om arrogant ini cuma karyawan, gimana


aku mau membalas perbuatan Paman Khoi?Tapi, kalau dilihat-lihat Mama Lola


penampilannya mewah banget,’ lanjut Vivian dalam hati.


“Kamu kenapa


sayang?” tanya Erland membuyarkan lamunan Vivian.


“Ah iya, aku


tidak apa-apa Mas. Mungkin aku kangen sama kedua orang tuaku saja,’’ jawab


Vivian yang mengalihkan pembicaraan.


“Kamu mau aku


anterin ketemu sama kedua orang tua mu,’’ ucap Erland.


“Memangnya


boleh?” tanya Vivian dengan mata yang berbinar-binar.


“Tentu saja,


setelah makan kita pergi ketemu kedua orang tuamu,’’ jawab Erland.


Vivian pun


mengangguk, dia memang belum puas datang ke makam kedua orang tuanya karena


kemarin takut jika Erland menemukan dirinya. Dan sekarang dia akan datang lagi


ke makam untuk bertemu dengan mama dan papanya.


Tak butuh waktu


lama mereka pun sudah sampai ditempat yang Vivian kasih tunjuk, betapa


terkejutnya Erland ketika melihat tempat yang Vivian rekomendasikan.


“Sayang, kita


nggak salah tempat kan?” tanya Erland.


“Iya benar,


memangnya kenapa?” jawab Vivian.


“Kok tempatnya


kayak gini sayang, nggak higenis ini. Mending kita pindah saja deh,’’ ucap


Erland.


tetap mau makan disini. Kalau Mas nggak mau ya sudah,’’ ucap Vivian kemudian


turun dari mobil.


“Vian … Vian


tunggu!” teriak Erland yang terpaksa ikut turun.


Semua orang yang


melihat siapa yang datang pun langsung pada terkejut dan menyambut kedatangan


Erland. Sedangkan Vivian, dia heran kepada semua orang yang ada di warung


tersebut karena melihat Erland seperti ketakutan tersendiri.


“Tuan Erland,


silahkan duduk,’’ ucap Pemilik warung tersebut.


“Bisa kalian


hidangkan makanan yang higenis untuk wanita saya?” tanya Erland dengan wajahnya


yang datar dan dingin.


“Tentu saja


bisa, Tuan …,’’ jawab Pemilik warung.


“Dan satu lagi,


saya tidak suka jika ada yang mengambil foto atau video ketika saya dan wanita


saya sedang makan,’’ ucap Erland membuat semua orang yang ada disitu langsung


menurunkan ponselnya serta menghapus gambar yang mereka ambil.


Sedangkan Vivian


dia semakin bingung dibuatnya. Padahal menurut dirinya Erland itu biasa saja,


pemilik warung pun mempersilahkan Vivian dan Erland untuk duduk ketika kursi


serta meja yang sudah dibersihkan.


“Mas, kok mereka


pada takut sama Mas Erland sih?” tanya Vivian dengan nada yang sangat pelan


tapi masih bisa didengar sama Erland.

__ADS_1


“Mana aku tahu,


sayang. Sudah kamu jangan pikirkan itu, mending kamu pesan makanan yang kamu


suka,’’ jawab Erland mengusap rambut Vivian dengan lembut.


“Haish, aku kan


kepo. Ya sudahlah, aku pesan saja,’’ kata Vivian mengerucutkan bibirnya.


Erland hanya


tersenyum tipis. ‘Andai saja kau tahu


siapa aku, Vian. Apa kamu masih akan tetap disampingku?’ gumam Erland dalam


hati.


Vivian dan


Erland pun memesan makanan, sambil menunggu makanan datang mereka mengobrol


sebentar. Semua orang yang ada disitu juga pada baper sendiri karena perlakuan


Erland kepada Vivian.


**


Disisi lain,


seorang pria sedang menatap sebuah foto dengan kakinya yang dinaikkan di atas


meja. Pria itu adalah Paman Khoi, dia sedang melihat foto keluarganya.


“Lihatlah Ayah,


Ibu. Aku sudah berhasil membunuh anak dan menantu dari orang yang tega membunuh


kalian,’’ kata Om Khoi. “Tapi aku belum berhasil membunuh cucunya,’’ sambung Om


Khoi.


“Aku berjanji


akan membunuh cucunya juga, tapi tidak sekarang,’’ kata Om Khoi tersenyum


menyeringai.


Benar, Om Khoi


bukan adik kandung dari Papanya Vivian. Dulunya kakek serta neneknya Vivian menemukan


Om Khoi ini terlantar di jalanan saat berusia 10 tahun dan kakek memutuskan


untuk mengadopsi Om Khoi. Dan usia Om Khoi juga sekarang baru sekitaran 33


tahun tapi belum menikah karena sibuk merancang rencana untuk menghabisi


keluarga Vivian.


“Permisi, Bos …,’’


kata Luke yang baru saja datang.


“Katakan,’’


“Saya baru saja


mendapatkan informasi kalau Nona Vivian saat ini dekat dengan Tuan Erland,’’


jawab Luke.


Om Khoi pun


mengalihkan pandangan ke Luke. “Tuan Erland, pemilik Perusahan Wijaya Corp itu


kah?” tanya Om Khoi.


“Benar, Bos,’’


jawab Luke.


“Pintar sekali


gadis kecil itu, pasti dia ingin menyerangku dengan cara meminta bantuan ke


Tuan Erland. Benar-benar gadis nakal,’’ ucap Om Khoi menyeringai.


“Bisa jadi


begitu, Bos. Lalu, kita harus gimana?” tanya Luke.


“Kau awasi saja,


jangan sampai gadis kecil itu curiga. Karena dia sangat cerdik,’’ jawab Om


Khoi.


“Baik, Bos,’’


ucap Luke.


Luke pun


akhirnya pamit pergi. Sedangkan Om Khoi, dia masih tidak habis dengan Vivian


yang begitu cerdik otaknya. Pasalnya Erland terkenal didunia perbisnisan,


bahkan banyak perusahaan lain ingin mengajak kerja sama dengan Erland.

__ADS_1


__ADS_2