
“Pilih saja apa
yang kamu mau,’’ kata Erland.
“Ngapain kita ke
sini sih? Mas, mending kita pulang …,’’ ucap Vivian yang kesal karena Erland
mengajaknya ke toko baju.
“Kamu tidak mau
pilih-pilih bajunya sayang?” tanya Erland mengerutkan matanya.
“Nggak, lagian
baju yang kamu belikan masih banyak dan semuanya belum aku pakai,’’ jawab
Vivian.
Memang baju dan
kebutuhan Vivian lainnya masih banyak. Sedangkan Vivian, dia hanya memakai
beberapa saja karena bingung mau pakai yang mana duluan. Erland baru kali ini
melihat wanita yang menolak di ajak ke toko baju yang mahal.
‘Memang beda dari yang lain,’ gumam Erland dalam hati.
“Tas nya juga
bagus-bagus loh, sayang …,’’ sambung Erland.
“No, no, no …
Ayo pulang, mending kita makan saja tapi aku yang tentuin mau makan dimana?”
ucap Vivian.
“Baiklah, kita
pergi ya,’’ kata Erland mengalah.
“Nah, gitu dong,’’
ucap Vivian yang langsung sumringah. ‘Daripada
buat beli beginian mahal, mending uangnya gue donasikan ke panti asuhan,’ batin
Vivian dalam hati.
Vivian tidak
tahu kalau mall tersebut adalah milik Erland. Para pegawai toko baju itu pun
hanya diam dan bingung karena biasanya Erland datang bersama dengan Bella
sedangkan hari ini, Erland datang bersama dengan wanita lain dan nampaknya
Erland begitu menyayangi wanita tersebut.
Vivian ingin di
warung langganannya dan Fika ketika jalan berdua. Erland hanya menurut saja
karena dia tidak mau membuat Vivian bosan lagi.
“Kita mau makan
dimana?” tanya Erland kepada Vivian.
“Nanti aku
tunjukkan tempatnya,’’ jawab Vivian.
“Baiklah,’’ ucap
Erland tersenyum.
“Oh iya, Mas
Erland nggak kerja hari ini?” tanya Vivian.
“Untuk hari ini
aku akan menemanimu kemanapun kamu mau,’’ jawab Erland.
“Memangnya,
Bosnya Mas nggak marah?” tanya Vivian dengan polosnya membuat Erland tergelak.
“Kamu belum tahu
siapa aku, sayang?” Erland pun balik bertanya sama Vivian karena bingung dengan
ucapan dari Vivian.
“Kan aku hilang
ingatan jadi, mana aku tahu …,’’ jawab Vivian berdusta.
‘Iya juga sih, kan aku baru satu kali ketemu Vian. Dan
kedua kalinya ketika kecelakaan,’ batin Erland dalam hati.
“Kamu benar juga
sayang, Bos aku nggak bakalan marah,’’ sambung Erland.
__ADS_1
“Jangan gitu,
besok Mas harus berangkat kerja,’’ucap Vivian yang hanya diangguki sama Erland.’Kalau Om arrogant ini cuma karyawan, gimana
aku mau membalas perbuatan Paman Khoi?Tapi, kalau dilihat-lihat Mama Lola
penampilannya mewah banget,’ lanjut Vivian dalam hati.
“Kamu kenapa
sayang?” tanya Erland membuyarkan lamunan Vivian.
“Ah iya, aku
tidak apa-apa Mas. Mungkin aku kangen sama kedua orang tuaku saja,’’ jawab
Vivian yang mengalihkan pembicaraan.
“Kamu mau aku
anterin ketemu sama kedua orang tua mu,’’ ucap Erland.
“Memangnya
boleh?” tanya Vivian dengan mata yang berbinar-binar.
“Tentu saja,
setelah makan kita pergi ketemu kedua orang tuamu,’’ jawab Erland.
Vivian pun
mengangguk, dia memang belum puas datang ke makam kedua orang tuanya karena
kemarin takut jika Erland menemukan dirinya. Dan sekarang dia akan datang lagi
ke makam untuk bertemu dengan mama dan papanya.
Tak butuh waktu
lama mereka pun sudah sampai ditempat yang Vivian kasih tunjuk, betapa
terkejutnya Erland ketika melihat tempat yang Vivian rekomendasikan.
“Sayang, kita
nggak salah tempat kan?” tanya Erland.
“Iya benar,
memangnya kenapa?” jawab Vivian.
“Kok tempatnya
kayak gini sayang, nggak higenis ini. Mending kita pindah saja deh,’’ ucap
Erland.
tetap mau makan disini. Kalau Mas nggak mau ya sudah,’’ ucap Vivian kemudian
turun dari mobil.
“Vian … Vian
tunggu!” teriak Erland yang terpaksa ikut turun.
Semua orang yang
melihat siapa yang datang pun langsung pada terkejut dan menyambut kedatangan
Erland. Sedangkan Vivian, dia heran kepada semua orang yang ada di warung
tersebut karena melihat Erland seperti ketakutan tersendiri.
“Tuan Erland,
silahkan duduk,’’ ucap Pemilik warung tersebut.
“Bisa kalian
hidangkan makanan yang higenis untuk wanita saya?” tanya Erland dengan wajahnya
yang datar dan dingin.
“Tentu saja
bisa, Tuan …,’’ jawab Pemilik warung.
“Dan satu lagi,
saya tidak suka jika ada yang mengambil foto atau video ketika saya dan wanita
saya sedang makan,’’ ucap Erland membuat semua orang yang ada disitu langsung
menurunkan ponselnya serta menghapus gambar yang mereka ambil.
Sedangkan Vivian
dia semakin bingung dibuatnya. Padahal menurut dirinya Erland itu biasa saja,
pemilik warung pun mempersilahkan Vivian dan Erland untuk duduk ketika kursi
serta meja yang sudah dibersihkan.
“Mas, kok mereka
pada takut sama Mas Erland sih?” tanya Vivian dengan nada yang sangat pelan
tapi masih bisa didengar sama Erland.
__ADS_1
“Mana aku tahu,
sayang. Sudah kamu jangan pikirkan itu, mending kamu pesan makanan yang kamu
suka,’’ jawab Erland mengusap rambut Vivian dengan lembut.
“Haish, aku kan
kepo. Ya sudahlah, aku pesan saja,’’ kata Vivian mengerucutkan bibirnya.
Erland hanya
tersenyum tipis. ‘Andai saja kau tahu
siapa aku, Vian. Apa kamu masih akan tetap disampingku?’ gumam Erland dalam
hati.
Vivian dan
Erland pun memesan makanan, sambil menunggu makanan datang mereka mengobrol
sebentar. Semua orang yang ada disitu juga pada baper sendiri karena perlakuan
Erland kepada Vivian.
**
Disisi lain,
seorang pria sedang menatap sebuah foto dengan kakinya yang dinaikkan di atas
meja. Pria itu adalah Paman Khoi, dia sedang melihat foto keluarganya.
“Lihatlah Ayah,
Ibu. Aku sudah berhasil membunuh anak dan menantu dari orang yang tega membunuh
kalian,’’ kata Om Khoi. “Tapi aku belum berhasil membunuh cucunya,’’ sambung Om
Khoi.
“Aku berjanji
akan membunuh cucunya juga, tapi tidak sekarang,’’ kata Om Khoi tersenyum
menyeringai.
Benar, Om Khoi
bukan adik kandung dari Papanya Vivian. Dulunya kakek serta neneknya Vivian menemukan
Om Khoi ini terlantar di jalanan saat berusia 10 tahun dan kakek memutuskan
untuk mengadopsi Om Khoi. Dan usia Om Khoi juga sekarang baru sekitaran 33
tahun tapi belum menikah karena sibuk merancang rencana untuk menghabisi
keluarga Vivian.
“Permisi, Bos …,’’
kata Luke yang baru saja datang.
“Katakan,’’
“Saya baru saja
mendapatkan informasi kalau Nona Vivian saat ini dekat dengan Tuan Erland,’’
jawab Luke.
Om Khoi pun
mengalihkan pandangan ke Luke. “Tuan Erland, pemilik Perusahan Wijaya Corp itu
kah?” tanya Om Khoi.
“Benar, Bos,’’
jawab Luke.
“Pintar sekali
gadis kecil itu, pasti dia ingin menyerangku dengan cara meminta bantuan ke
Tuan Erland. Benar-benar gadis nakal,’’ ucap Om Khoi menyeringai.
“Bisa jadi
begitu, Bos. Lalu, kita harus gimana?” tanya Luke.
“Kau awasi saja,
jangan sampai gadis kecil itu curiga. Karena dia sangat cerdik,’’ jawab Om
Khoi.
“Baik, Bos,’’
ucap Luke.
Luke pun
akhirnya pamit pergi. Sedangkan Om Khoi, dia masih tidak habis dengan Vivian
yang begitu cerdik otaknya. Pasalnya Erland terkenal didunia perbisnisan,
bahkan banyak perusahaan lain ingin mengajak kerja sama dengan Erland.
__ADS_1