Pelita Di Ujung Asa

Pelita Di Ujung Asa
Part 6. Erland Menemani Vivian


__ADS_3

“Sayang,


terima kasih. Kamu sudah mau merawat aku,’’ kata Vivian tersenyum manis kepada


Erland.


“Iya,’’


jawab Erland dengan singkat yang memang terpaksa tetap berada di situ.


“Jangan


cuek gitu dong, aku tau kamu pasti marah kan gara-gara aku pergi tanpa izin?”


tanya Vivian dengan sekuat tenaga agar bar-barnya tidak muncul dulu.


Vivian


harus bisa meyakinkan Erland kalau dirinya memang hilang ingatan agar Vivian


bisa mewujudkan semua keinginannya untuk menyingkirkan Paman Khoi. Vivian sadar


dengan apa yang sekarang ia lakukan itu salah akan tetapi, untuk menghadapi


pamannya itu Vivian harus mencari lawan yang seimbang agar bisa membantu


dirinya itu.


“Tuh, kan


kamu diam saja. Kalau kamu nggak mau ngomong mending aku mati saja,” sambung Vivian


dengan mata yang berkaca-kaca.


Erland


menghela nafasnya dengan panjang. “Saya harus berangkat kerja, gimana kalau


kamu ditemani sama sahabat kamu dulu?”


“Ya sudah,


kamu berangkat kerja saja. Aku nggak penting bagimu, seharusnya aku sadar dari


awal kalau memang kamu nggak cinta sama aku …,’’ ucap Vivian tersenyum kecut.


Entah


kenapa hati Erland merasa sakit ketika melihat wajah Vivian yang berubah sedih.


Namun, Erland langsung membuang jauh perasaan itu. Sedangkan Fika dan


Sekretaris Deni hanya diam sambil menatap dua insan yang sedang berbincang itu.


“Jangan


bicara seperti itu,” kata Erland.


“Nggak


apa-apa, aku paham kok sayang. Pergilah, aku mau istirahat …,’’ kata Vivian


kemudian merebahkan dirinya.


Ketika


Erland ingin membantu untuk merebahkan tubuh Vivian. Dengan cepat Vivian


langsung menolak, padahal aslinya Vivian sangat was-was kalau rencananya akan


gagal. Erland yang berada diposisi itu pun jadi serba salah. Sekretaris Deni


hanya tersenyum tipis karena dia tahu kalau sebenarnya tuan mudanya itu hatinya


lembut dan penyayang.


“Ya sudah,


saya temani kamu hari ini. Jadi, jangan ngambek lagi,’’ kata Erland yang


akhirnya mengalah.


Vivian


langsung berbinar. “Terima kasih, sayang …,’’ kata Vivian tersenyum senang. ‘Yes, akhirnya aku berhasil juga, tinggal


langkah yang kedua. Eh, tapi ngomong-ngomong Om Arogant ini bisa jadi baik juga


ya,’ sambung Vivian dalam hati tentunya.


“Deni, kau


langsung ke kantor saja dan antarkan gadis itu pulang. Karena aku akan menemani


kekasihku disini,’’ kata Erland kepada Sekretaris Deni.


“Siap, Tuan


muda. Saya dengan senang hati akan melaksanakan perintah dari Tuan muda,’’ ucap


Sekretaris Deni.


Dengan


cepat Sekretaris Deni pun langsung bergegas mengantarkan Fika pulang. Dan


memang ia sengaja meninggalkan tuan mudanya bersama dengan Vivian. Agar tuan


mudanya bisa lebih dekat dengan Vivian yang nantinya akan menjadi nyonya muda

__ADS_1


kedua di keluarga William.


“Kamu


istirahat saja, biar cepat pulih,’’ ucap Erland.


“Boleh,


tapi sun aku dulu,’’ ucap Vivian membuat Erland terbelalak.


‘Elah, ngapain sih gadis aneh ini minta di cium


segala? Istriku saja nggak pernah minta di cium kalau mau tidur,’ gerutu Erland


dalam hati.


“Sudah


tidur saja, kening kamu masih diperban gitu. Nanti saja kalau sudah sembuh,


baru aku kiss,’’ kata Erland.


“Sungguh?”


“Hum,


sekarang istirahatlah. Aku akan menemanimu disini,’’ ucap Erland.


“Baiklah,


kalau begitu aku tidur dulu,’’ ucap Vivian. ‘Nggak


apa-apalah aku jatuhkan harga diriku di depan Om Arrogant ini. Yang penting dia


sudah masuk dalam perangkapku,’ sambung Vivian dalam hati.


Benar saja,


Vivian pun memejamkan matanya dan beristirahat karena kaki serta tangannya


masih nyeri. Sedangkan Erland, dia mengambil laptopnya untuk memulai pekerjaan.


Erland juga bingung kenapa dia sangat tidak tega melihat Vivian sedih padahal


dia tidak mengenal Vivian sama sekali, dan ketika Erland menatap mata Vivian.


Erland seperti merasa tidak asing dan pernah melihat tatapan teduh itu.


Hari pun


tak terasa sudah sore, Erland melihat Vivian yang belum bangun pun berdiri dari


tempat duduknya lalu menghampiri ranjang Vivian.


“Vian,


bangun …,’’ kata Erland membangunkan Vivian.


Vivian


suara khas orang bangun tidur dan memang masih mengantuk karena efek dari obat.


“Ini sudah


sore, dan kamu harus bersih-bersih …,’’ kata Erland yang sangat berusaha


menahan kesabarannya.


Sebab, baru


kali ini Erland menghadapi atau merawat dan bersikap lembut kepada wanita lain.


Karena biasanya Erland hanya bersikap lembut kepada Ibu dan istrinya saja,


sekarang Erland harus menahan emosinya hanya demi gadis yang menurutnya aneh


dan bar-bar seperti Vivian.


“Iya-iya,


kamu bawel banget sih sayang. Padahal aku masih mengantuk,’’ kata Vivian yang


terus menggerutu.


Tak lama


suster pun datang karena tadi Erland sudah memanggil suter untuk membantu


Vivian bersih-bersih. Ketika Vivian sedang dibersihkan tubuhnya dengan suster,


Erland pun keluar ruangan dan menuju ke kantin untuk membeli kopi dan cemilan


untuk Vivian.


“Bella


kemana? Chat aku Cuma di read doang.’’ Kata Erland yang saat ini sedang


mengecek ponselnya. “Apa dia masih sibuk syuting?” lanjut Erland kemudian dia


memasukan ponselnya kembali lalu ketika sampai kantin Erland pun langsung


memesan kopi.


Di ruangan


Vivian sudah selesai bersih-bersih dan memakai baju. Kini dia sedang ganti


perban karena lukanya yang dibagian kening masih basah.

__ADS_1


“Nona Vian,


kekasih Anda sangat setia menemani, Nona. Sudah ganteng, mapan, dan penyayang


juga, Nona sangat beruntung bisa memiliki kekasih seperti itu,’’ kata Suster.


‘Memang ganteng, tapi kau tidak saja suster


kalau Om arrogant itu sangat galak,’ batin Vivian dalam hati.


“Iya benar,


saya sangat beruntung memiliki kekasih seperti dia. Tapi Sus, dia nggak menyayangi


aku, mungkin dia malu punya kekasih bocil kayak aku. Atau mungkin dia hanya


kasihan sama aku,’’ ucap Vivian yang semakin dalam memerankan karakternya.


“Tapi, tadi


sepertinya Tuan Erland sangat perhatian sama Nona,’’ kata Suster.


“Benar kah?


Saya harap juga begitu, tapi nggak apa-apa yang penting dia masih bersamaku,’’


kata Vivian.


Tanpa


mereka tahu kalau sebenarnya Erland sudah datang dan mendengar semua perkataan


dari Vivian. Erland sangat heran kenapa Vivian begitu sangat yakin kalau Erland


itu memang beneran kekasihnya Vivian. Padahal setahu Erland, kalau dirinya baru


dua kali ini bertemu dengan Vivian.


“Sudah


selesai, Nona. Kalau begitu saya permisi dulu,’’ kata Suster.


“Terima


kasih, Suster,’’ ucap Vivian tersenyum ramah kepada suster yang sudah


membantunya untuk bersih-bersih.


Suster yang


melihat Erland sudah datang pun hanya menunduk hormat. Sedangkan Erland, dia


langsung menghampiri Vivian.


“Sayang,


kamu darimana saja. Aku pikir kamu pergi ninggalin aku …,’’ kata Vivian yang


aslinya sudah tahu kalau Erland dari tadi mendengarkan percakapan antara


dirinya dan Suster.


“Aku habis


beli kopi sama cemilan untukmu. Makanlah ini, biar tenagamu cepat pulih …,’’


kata Erland menyodorkan sebuah kantong plastic yang berisi beberapa cemilan.


“Terima


kasih, sayang. Kamu memang yang terbaik, tahu aja kalau aku ini sedang lapar …,’’


kata Vivian.


Erland


hanya mengangguk, lalu dia pun duduk disamping ranjang Vivian sambil melihat


Vivian membuka kantong plastic tersebut.


“Vian, apa


kau benar-benar tidak ingat apa-apa?” tanya Erland dengan tatapan menelisik.


“Tentu saja


aku ingat, sayang. Kamu pikir aku melupakanmu?” Vivian malah balik bertanya


kepada Erland.


“Bukan itu,


siapa tahu kau ingat sama kedua orang tuamu? Biar aku bisa hubungi mereka untuk


bisa menemanimu disini selama aku kerja,’’ kata Erland.


Mata Vivian


langsung berkaca-kaca. “Sayang, kamu lupa kalau kedua orang tuaku sudah


meninggal? Aku kan sudah nggak punya siapa-siapa lagi,’’


Erland pun


merasa tidak enak karena sudah bertanya seperti itu. Sekarang yang ia pikirkan


adalah bagaimana caranya agar semua orang tidak tahu kalau dirinya sedang


bersama dengan wanita lain, karena Erland takut kalau sampai Bella salah paham

__ADS_1


dan menuduhnya selingkuh. Padahal Vivian sendiri juga tidak tahu kalau


sebenarnya Erland sudah punya istri.


__ADS_2