
“Sayang,
terima kasih. Kamu sudah mau merawat aku,’’ kata Vivian tersenyum manis kepada
Erland.
“Iya,’’
jawab Erland dengan singkat yang memang terpaksa tetap berada di situ.
“Jangan
cuek gitu dong, aku tau kamu pasti marah kan gara-gara aku pergi tanpa izin?”
tanya Vivian dengan sekuat tenaga agar bar-barnya tidak muncul dulu.
Vivian
harus bisa meyakinkan Erland kalau dirinya memang hilang ingatan agar Vivian
bisa mewujudkan semua keinginannya untuk menyingkirkan Paman Khoi. Vivian sadar
dengan apa yang sekarang ia lakukan itu salah akan tetapi, untuk menghadapi
pamannya itu Vivian harus mencari lawan yang seimbang agar bisa membantu
dirinya itu.
“Tuh, kan
kamu diam saja. Kalau kamu nggak mau ngomong mending aku mati saja,” sambung Vivian
dengan mata yang berkaca-kaca.
Erland
menghela nafasnya dengan panjang. “Saya harus berangkat kerja, gimana kalau
kamu ditemani sama sahabat kamu dulu?”
“Ya sudah,
kamu berangkat kerja saja. Aku nggak penting bagimu, seharusnya aku sadar dari
awal kalau memang kamu nggak cinta sama aku …,’’ ucap Vivian tersenyum kecut.
Entah
kenapa hati Erland merasa sakit ketika melihat wajah Vivian yang berubah sedih.
Namun, Erland langsung membuang jauh perasaan itu. Sedangkan Fika dan
Sekretaris Deni hanya diam sambil menatap dua insan yang sedang berbincang itu.
“Jangan
bicara seperti itu,” kata Erland.
“Nggak
apa-apa, aku paham kok sayang. Pergilah, aku mau istirahat …,’’ kata Vivian
kemudian merebahkan dirinya.
Ketika
Erland ingin membantu untuk merebahkan tubuh Vivian. Dengan cepat Vivian
langsung menolak, padahal aslinya Vivian sangat was-was kalau rencananya akan
gagal. Erland yang berada diposisi itu pun jadi serba salah. Sekretaris Deni
hanya tersenyum tipis karena dia tahu kalau sebenarnya tuan mudanya itu hatinya
lembut dan penyayang.
“Ya sudah,
saya temani kamu hari ini. Jadi, jangan ngambek lagi,’’ kata Erland yang
akhirnya mengalah.
Vivian
langsung berbinar. “Terima kasih, sayang …,’’ kata Vivian tersenyum senang. ‘Yes, akhirnya aku berhasil juga, tinggal
langkah yang kedua. Eh, tapi ngomong-ngomong Om Arogant ini bisa jadi baik juga
ya,’ sambung Vivian dalam hati tentunya.
“Deni, kau
langsung ke kantor saja dan antarkan gadis itu pulang. Karena aku akan menemani
kekasihku disini,’’ kata Erland kepada Sekretaris Deni.
“Siap, Tuan
muda. Saya dengan senang hati akan melaksanakan perintah dari Tuan muda,’’ ucap
Sekretaris Deni.
Dengan
cepat Sekretaris Deni pun langsung bergegas mengantarkan Fika pulang. Dan
memang ia sengaja meninggalkan tuan mudanya bersama dengan Vivian. Agar tuan
mudanya bisa lebih dekat dengan Vivian yang nantinya akan menjadi nyonya muda
__ADS_1
kedua di keluarga William.
“Kamu
istirahat saja, biar cepat pulih,’’ ucap Erland.
“Boleh,
tapi sun aku dulu,’’ ucap Vivian membuat Erland terbelalak.
‘Elah, ngapain sih gadis aneh ini minta di cium
segala? Istriku saja nggak pernah minta di cium kalau mau tidur,’ gerutu Erland
dalam hati.
“Sudah
tidur saja, kening kamu masih diperban gitu. Nanti saja kalau sudah sembuh,
baru aku kiss,’’ kata Erland.
“Sungguh?”
“Hum,
sekarang istirahatlah. Aku akan menemanimu disini,’’ ucap Erland.
“Baiklah,
kalau begitu aku tidur dulu,’’ ucap Vivian. ‘Nggak
apa-apalah aku jatuhkan harga diriku di depan Om Arrogant ini. Yang penting dia
sudah masuk dalam perangkapku,’ sambung Vivian dalam hati.
Benar saja,
Vivian pun memejamkan matanya dan beristirahat karena kaki serta tangannya
masih nyeri. Sedangkan Erland, dia mengambil laptopnya untuk memulai pekerjaan.
Erland juga bingung kenapa dia sangat tidak tega melihat Vivian sedih padahal
dia tidak mengenal Vivian sama sekali, dan ketika Erland menatap mata Vivian.
Erland seperti merasa tidak asing dan pernah melihat tatapan teduh itu.
Hari pun
tak terasa sudah sore, Erland melihat Vivian yang belum bangun pun berdiri dari
tempat duduknya lalu menghampiri ranjang Vivian.
“Vian,
bangun …,’’ kata Erland membangunkan Vivian.
Vivian
suara khas orang bangun tidur dan memang masih mengantuk karena efek dari obat.
“Ini sudah
sore, dan kamu harus bersih-bersih …,’’ kata Erland yang sangat berusaha
menahan kesabarannya.
Sebab, baru
kali ini Erland menghadapi atau merawat dan bersikap lembut kepada wanita lain.
Karena biasanya Erland hanya bersikap lembut kepada Ibu dan istrinya saja,
sekarang Erland harus menahan emosinya hanya demi gadis yang menurutnya aneh
dan bar-bar seperti Vivian.
“Iya-iya,
kamu bawel banget sih sayang. Padahal aku masih mengantuk,’’ kata Vivian yang
terus menggerutu.
Tak lama
suster pun datang karena tadi Erland sudah memanggil suter untuk membantu
Vivian bersih-bersih. Ketika Vivian sedang dibersihkan tubuhnya dengan suster,
Erland pun keluar ruangan dan menuju ke kantin untuk membeli kopi dan cemilan
untuk Vivian.
“Bella
kemana? Chat aku Cuma di read doang.’’ Kata Erland yang saat ini sedang
mengecek ponselnya. “Apa dia masih sibuk syuting?” lanjut Erland kemudian dia
memasukan ponselnya kembali lalu ketika sampai kantin Erland pun langsung
memesan kopi.
Di ruangan
Vivian sudah selesai bersih-bersih dan memakai baju. Kini dia sedang ganti
perban karena lukanya yang dibagian kening masih basah.
__ADS_1
“Nona Vian,
kekasih Anda sangat setia menemani, Nona. Sudah ganteng, mapan, dan penyayang
juga, Nona sangat beruntung bisa memiliki kekasih seperti itu,’’ kata Suster.
‘Memang ganteng, tapi kau tidak saja suster
kalau Om arrogant itu sangat galak,’ batin Vivian dalam hati.
“Iya benar,
saya sangat beruntung memiliki kekasih seperti dia. Tapi Sus, dia nggak menyayangi
aku, mungkin dia malu punya kekasih bocil kayak aku. Atau mungkin dia hanya
kasihan sama aku,’’ ucap Vivian yang semakin dalam memerankan karakternya.
“Tapi, tadi
sepertinya Tuan Erland sangat perhatian sama Nona,’’ kata Suster.
“Benar kah?
Saya harap juga begitu, tapi nggak apa-apa yang penting dia masih bersamaku,’’
kata Vivian.
Tanpa
mereka tahu kalau sebenarnya Erland sudah datang dan mendengar semua perkataan
dari Vivian. Erland sangat heran kenapa Vivian begitu sangat yakin kalau Erland
itu memang beneran kekasihnya Vivian. Padahal setahu Erland, kalau dirinya baru
dua kali ini bertemu dengan Vivian.
“Sudah
selesai, Nona. Kalau begitu saya permisi dulu,’’ kata Suster.
“Terima
kasih, Suster,’’ ucap Vivian tersenyum ramah kepada suster yang sudah
membantunya untuk bersih-bersih.
Suster yang
melihat Erland sudah datang pun hanya menunduk hormat. Sedangkan Erland, dia
langsung menghampiri Vivian.
“Sayang,
kamu darimana saja. Aku pikir kamu pergi ninggalin aku …,’’ kata Vivian yang
aslinya sudah tahu kalau Erland dari tadi mendengarkan percakapan antara
dirinya dan Suster.
“Aku habis
beli kopi sama cemilan untukmu. Makanlah ini, biar tenagamu cepat pulih …,’’
kata Erland menyodorkan sebuah kantong plastic yang berisi beberapa cemilan.
“Terima
kasih, sayang. Kamu memang yang terbaik, tahu aja kalau aku ini sedang lapar …,’’
kata Vivian.
Erland
hanya mengangguk, lalu dia pun duduk disamping ranjang Vivian sambil melihat
Vivian membuka kantong plastic tersebut.
“Vian, apa
kau benar-benar tidak ingat apa-apa?” tanya Erland dengan tatapan menelisik.
“Tentu saja
aku ingat, sayang. Kamu pikir aku melupakanmu?” Vivian malah balik bertanya
kepada Erland.
“Bukan itu,
siapa tahu kau ingat sama kedua orang tuamu? Biar aku bisa hubungi mereka untuk
bisa menemanimu disini selama aku kerja,’’ kata Erland.
Mata Vivian
langsung berkaca-kaca. “Sayang, kamu lupa kalau kedua orang tuaku sudah
meninggal? Aku kan sudah nggak punya siapa-siapa lagi,’’
Erland pun
merasa tidak enak karena sudah bertanya seperti itu. Sekarang yang ia pikirkan
adalah bagaimana caranya agar semua orang tidak tahu kalau dirinya sedang
bersama dengan wanita lain, karena Erland takut kalau sampai Bella salah paham
__ADS_1
dan menuduhnya selingkuh. Padahal Vivian sendiri juga tidak tahu kalau
sebenarnya Erland sudah punya istri.