Pelita Di Ujung Asa

Pelita Di Ujung Asa
Part 8. Erland Membawa Vivian Pergi


__ADS_3

“Tuan


Erland,’’ kata Hana yang langsung menunduk hormat kepada Erland.


“Mama,


dimana?” tanya Eland.


“Nyonya


Besar lagi di ruang keluarga bersama dengan Nona Vivian,’’ jawab Hana.


Erland pun


langsung bergegas menemui mamanya. Dan ketika sampai di ruang keluarga Erland


melihat mamanya sedang tertawa serta bercanda bersama Vivian. Erland baru kali


ini melihat sang mama kembali tersenyum dan tertawa lepas karena terakhir


Erland melihat itu sebelum papanya meninggal dunia.


“Mama, aku


suka sekali makan puding mangga. Dan dulu aku sering buat bareng Mamiku,’’ kata


Vivian.


“Benarkah?


Erland juga sangat suka sama puding mangga tapi Mama tidak bisa membuatnya,’’


kata Mama Lola.


“Mama mau


Vian bikini? Tapi sayang kaki Vian masih sakit,’’ kata Vivian.


“Nanti saja


kalau kamu sudah sembuh,’’ kata Mama Lola sambil mengusap-usap rambut Vivian.


“Ehem …,’’


Erland pun berdehem membuat Mama Lola dan Vivian langsung menoleh kearah


Erland.


“Erland,


ngapain kamu kesini? Tumben banget, oh Mama tahu, kamu mau bertemu sama Vian


bukan?” tanya Mama Lola.


“Aku mau


bicara penting sama, Mama …,’’ jawab Erland dengan wajah yang datar.


“Kalau Mama


mau ngobrol penting sama Mas Erland silahkan saja. Biar aku ke kamar,’’ sahut


Vivian yang merasa tidak enak dengan Erland apalagi dia tahu kalau Erland sudah


punya istri.


Erland yang


mendengar panggilan itu sedikit terkejut karena baru kali ini ada yang


memanggilnya dengan sebutan itu. Ketika Vivian ingin memundurkan kursi rodanya,


Erland pun reflek berjalan kearah Vivian dan menggedongnya.


“Aku bisa


ke kamar sendiri,’’ kata Vivian yang kini sudah canggung kepada Erland.


“Kenapa?


Bukankah kau itu kekasihku, sayang …,’’ kata Erland dengan penuh penekanan.


“Tapi nggak


digendong juga, kan ada Mama. Malulah aku,’’ ucap Vivian dengan wajah yang


sudah memerah seperti kepiting rebus.


Mama Lola


terkekeh. “Tidak apa-apa, Vian. Erland, antarkan Vian ke kamar dulu Mama tunggu


di ruang kerja,’’ kata Mama Lola.


Erland pun


langsung mengantarkan Vivian ke kamar untuk istirahat. Sedangkan Vivian hanya


bisa diam tanpa banyak bicara seperti sebelumnya dan hal itu membuat Erland


karena biasanya Vivian begitu cerewet.


“Istirahat


saja, jangan terlalu banyak gerak …,’’ kata Erland.

__ADS_1


“Iya,


terima kasih,’’ kata Vivian menundukkan kepalanya.


Erland yang


merasa aneh dengan sikap Vivian pun tak begitu menghiraukan hal itu. Setelah


kepergian Erland, Vivian bernafas lega dia sangat merutuki kebodohannya karena


sudah salah orang untuk membantu dirinya.


“Aku harus


segera pergi dari sini sebelum semuanya semakin rumit,’’ kata Vivian yang kini


bertekad untuk membatalkan niatnya untuk memanfaatkan Erland.


Di ruang


kerja, Erland dan Mama Lola pun membahas semua tentang masalah Vivian. Karena


Erland tidak mau mamanya salah paham dan berpikir kalau dirinya selingkuh.


Sebab, dari dulu kedua orang tuanya untuk tidak menyakiti seorang wanita.


“Erland,


kenapa menyembunyikan Vivian dari Mama?” tanya Mama Lola.


“Jangan


salah sangka dulu, Ma. Aku nggak kenal sama Vivian,” jawab Erland.


“Benarkah?


Terus kenapa kamu menemani Vivian di rumah sakit? Dan Mama dengar kamu juga


begitu perhatian sama Vivian.’’ Kata Mama Lola.


Erland pun


langsung menjelaskan semuanya kepada mamanya tentang kejadian yang sebenarnya.


Dan Mama Lola pun hanya mendengar dengan seksama semua apa yang diceritakan.


Namun, Mama Lola sudah tahu akan hal itu tapi, dan memang Mama Lola ingin


menjodohkan Vivian dengan Erland harus tercapai.


“Vivian gadis


yang baik, Erland. Dan Mama yakin kalau kamu akan serasi jika bersanding dengan


Vivian,’’ kata Mama Lola.


“Jangan


sama Vivian,’’ ucap Erland menolak dengan tegas.


“Erland,


mau sampai kapan kamu begini? Kalau Bella itu wanita yang baik, pasti dia akan


mau memberikan keturunan untukmu,’’ kata Mama Lola yang sudah kesal dengan


putranya itu.


“Sudahlah,


Ma. Aku tidak mau berdebat lagi tentang anak, dan biarkan aku membawa Vivian


pergi …,’’ kata Erland.


“Tidak bisa


begitu dong, Vian akan tetap tinggal disini. Suka nggak suka kamu harus


menerima keputusan, Mama,’’ tegas Mama Lola.


“Please,


Ma. Jangan memperkeruh suasana, aku nggak mau kalau Bella tahu tentang Vivian …,’’


kata Erland yang benar-benar frustasi dengan mamanya.


Mama Lola


tidak menggubris perkataan dari Erland, karena mama Lola sangat yakin kalau


memang Vivian wanita yang cocok untuk Erland. Walaupun jarak umur Erland dan


Vivian sangat jauh berbeda.


“Tapi Ma-”


“Keputusan


Mama tidak bisa diganggu gugat, dan suatu saat nanti kamu akan tahu, sifat asli


dari istrimu yang paling kamu sayangi itu …,’’ Mama Lola memotong perkataan


putranya itu.


Mama Lola

__ADS_1


pun meninggalkan putranya dan Erland pun mendengus kesal karena dia gagal


membawa Vivian pergi dari rumah mamanya itu. Sedangkan di kamar Vivian hanya


diam sambil membaca buku yang memang sudah ada di dalam kamarnya.


Ketika


sedang asik membaca buku, terlihat Erland kembali masuk dengan mendorong pintu


sedikit keras membuat Vivian terkejut.


“Vian, ayo


kiata pergi dari sini …,’’ kata Erland.


“Mau pergi


kemana, Mas? Bukankah, kau ini tidak menginginkan kehadiranku?” tanya Vivian


yang kembali harus berperan dengan karakternya.


“Bisa nggak


sih kamu nurut apa kata aku?” Erland membentak Vivian membuat sang empu


mematung serta kaget. “Aku mohon, jangan mempersulit keadaan lagi Vian …,’’


sambung Erland.


“Aku tidak


mempersulit keadaan kok Mas. Kalau kamu tidak mau aku hadir dikehidupanmu, maka


aku akan pergi,’’ kata Vivian dengan suara bergetar menahan air matanya.


Erland


langsung tersadar karena sudah membentak Vivian. “Bu-bukan begitu, Vian. Kita


tinggal di apartemen ku saja. Biar aku bisa memantaumu …,’’


“Tidak


perlu, aku tinggal sama sahabatku saja. Jangan pedulikan aku lagi, urus saja


istrimu saja Tuan …,’’ kata Vivian yang kemudian mengambil ponselnya untuk


menghubungi Fika.


Dengan


cepat Erland pun langsung mengambil ponsel Vivian dan membantingnya. Sontak hal


itu membuat Vivian semakin terkejut serta takut jika Erland melukai dirinya.


Vivian langsung terdiam tanpa berbicara sepatah katapun.


‘Gila ternyata Om Arogant galak juga, jadi


takut gue. Tapi, kenapa mendadak kepalaku pusing ya?’ gumam Vivian dalam hati.


“Kita


pulang ke apartemen,’’ kata Erland dengan wajah yang masih merah.


Vivian


tidak menjawab perkataan dari Erland. Dengan cepat Erland pun langsung


menggendong Vivian dan keluar dari kamar. Mama Lola yang melihat hal itu pun


langsung menghampiri Erland dan segera mencegah Erland membawa Vivian pergi.


“Erland,


kamu ini apa-apaan sih? Biarkan Vivian tinggal bareng Mama …,’’ kata Mama Lola.


“Maaf, Ma.


Aku akan tetap membawa Vivian pergi dan tinggal bersamaku …,’’ kata Erland


dengan tegas kemudian langsung bergegas pergi keluar rumah.


Mama Lola


mengejar putranya karena takut Vivian kenapa-napa. Akan tetapi, percuma saja


karena Erland sudah pergi meninggalkan rumahnya. Sedangkan di mobil, Vivian dan


Erland saling diam tanpa ada pembicaraan di antara mereka berdua.


‘Astaga, kalau seperti ini pasti akan susah gue


keluarnya. Mana ponsel gue sudah hancur lagi, gimana gue bisa ngabarin Fika?’


batin Vivian dalam hati.


Beberapa


menit kemudian, mereka sudah sampai di sebuah gedung yang menjulang tinggi dan


dengan cepat Erland turun lalu dia kembali menggedong Vivian untuk menuju ke


unit apartemen miliknya dan tadi Erland juga sudah memerintahkan Sekretaris

__ADS_1


Deni untuk menyiapkan semua kebutuhan Vivian selama berada di apartemen.


__ADS_2