
“Tuan
Erland,’’ kata Hana yang langsung menunduk hormat kepada Erland.
“Mama,
dimana?” tanya Eland.
“Nyonya
Besar lagi di ruang keluarga bersama dengan Nona Vivian,’’ jawab Hana.
Erland pun
langsung bergegas menemui mamanya. Dan ketika sampai di ruang keluarga Erland
melihat mamanya sedang tertawa serta bercanda bersama Vivian. Erland baru kali
ini melihat sang mama kembali tersenyum dan tertawa lepas karena terakhir
Erland melihat itu sebelum papanya meninggal dunia.
“Mama, aku
suka sekali makan puding mangga. Dan dulu aku sering buat bareng Mamiku,’’ kata
Vivian.
“Benarkah?
Erland juga sangat suka sama puding mangga tapi Mama tidak bisa membuatnya,’’
kata Mama Lola.
“Mama mau
Vian bikini? Tapi sayang kaki Vian masih sakit,’’ kata Vivian.
“Nanti saja
kalau kamu sudah sembuh,’’ kata Mama Lola sambil mengusap-usap rambut Vivian.
“Ehem …,’’
Erland pun berdehem membuat Mama Lola dan Vivian langsung menoleh kearah
Erland.
“Erland,
ngapain kamu kesini? Tumben banget, oh Mama tahu, kamu mau bertemu sama Vian
bukan?” tanya Mama Lola.
“Aku mau
bicara penting sama, Mama …,’’ jawab Erland dengan wajah yang datar.
“Kalau Mama
mau ngobrol penting sama Mas Erland silahkan saja. Biar aku ke kamar,’’ sahut
Vivian yang merasa tidak enak dengan Erland apalagi dia tahu kalau Erland sudah
punya istri.
Erland yang
mendengar panggilan itu sedikit terkejut karena baru kali ini ada yang
memanggilnya dengan sebutan itu. Ketika Vivian ingin memundurkan kursi rodanya,
Erland pun reflek berjalan kearah Vivian dan menggedongnya.
“Aku bisa
ke kamar sendiri,’’ kata Vivian yang kini sudah canggung kepada Erland.
“Kenapa?
Bukankah kau itu kekasihku, sayang …,’’ kata Erland dengan penuh penekanan.
“Tapi nggak
digendong juga, kan ada Mama. Malulah aku,’’ ucap Vivian dengan wajah yang
sudah memerah seperti kepiting rebus.
Mama Lola
terkekeh. “Tidak apa-apa, Vian. Erland, antarkan Vian ke kamar dulu Mama tunggu
di ruang kerja,’’ kata Mama Lola.
Erland pun
langsung mengantarkan Vivian ke kamar untuk istirahat. Sedangkan Vivian hanya
bisa diam tanpa banyak bicara seperti sebelumnya dan hal itu membuat Erland
karena biasanya Vivian begitu cerewet.
“Istirahat
saja, jangan terlalu banyak gerak …,’’ kata Erland.
__ADS_1
“Iya,
terima kasih,’’ kata Vivian menundukkan kepalanya.
Erland yang
merasa aneh dengan sikap Vivian pun tak begitu menghiraukan hal itu. Setelah
kepergian Erland, Vivian bernafas lega dia sangat merutuki kebodohannya karena
sudah salah orang untuk membantu dirinya.
“Aku harus
segera pergi dari sini sebelum semuanya semakin rumit,’’ kata Vivian yang kini
bertekad untuk membatalkan niatnya untuk memanfaatkan Erland.
Di ruang
kerja, Erland dan Mama Lola pun membahas semua tentang masalah Vivian. Karena
Erland tidak mau mamanya salah paham dan berpikir kalau dirinya selingkuh.
Sebab, dari dulu kedua orang tuanya untuk tidak menyakiti seorang wanita.
“Erland,
kenapa menyembunyikan Vivian dari Mama?” tanya Mama Lola.
“Jangan
salah sangka dulu, Ma. Aku nggak kenal sama Vivian,” jawab Erland.
“Benarkah?
Terus kenapa kamu menemani Vivian di rumah sakit? Dan Mama dengar kamu juga
begitu perhatian sama Vivian.’’ Kata Mama Lola.
Erland pun
langsung menjelaskan semuanya kepada mamanya tentang kejadian yang sebenarnya.
Dan Mama Lola pun hanya mendengar dengan seksama semua apa yang diceritakan.
Namun, Mama Lola sudah tahu akan hal itu tapi, dan memang Mama Lola ingin
menjodohkan Vivian dengan Erland harus tercapai.
“Vivian gadis
yang baik, Erland. Dan Mama yakin kalau kamu akan serasi jika bersanding dengan
Vivian,’’ kata Mama Lola.
“Jangan
sama Vivian,’’ ucap Erland menolak dengan tegas.
“Erland,
mau sampai kapan kamu begini? Kalau Bella itu wanita yang baik, pasti dia akan
mau memberikan keturunan untukmu,’’ kata Mama Lola yang sudah kesal dengan
putranya itu.
“Sudahlah,
Ma. Aku tidak mau berdebat lagi tentang anak, dan biarkan aku membawa Vivian
pergi …,’’ kata Erland.
“Tidak bisa
begitu dong, Vian akan tetap tinggal disini. Suka nggak suka kamu harus
menerima keputusan, Mama,’’ tegas Mama Lola.
“Please,
Ma. Jangan memperkeruh suasana, aku nggak mau kalau Bella tahu tentang Vivian …,’’
kata Erland yang benar-benar frustasi dengan mamanya.
Mama Lola
tidak menggubris perkataan dari Erland, karena mama Lola sangat yakin kalau
memang Vivian wanita yang cocok untuk Erland. Walaupun jarak umur Erland dan
Vivian sangat jauh berbeda.
“Tapi Ma-”
“Keputusan
Mama tidak bisa diganggu gugat, dan suatu saat nanti kamu akan tahu, sifat asli
dari istrimu yang paling kamu sayangi itu …,’’ Mama Lola memotong perkataan
putranya itu.
Mama Lola
__ADS_1
pun meninggalkan putranya dan Erland pun mendengus kesal karena dia gagal
membawa Vivian pergi dari rumah mamanya itu. Sedangkan di kamar Vivian hanya
diam sambil membaca buku yang memang sudah ada di dalam kamarnya.
Ketika
sedang asik membaca buku, terlihat Erland kembali masuk dengan mendorong pintu
sedikit keras membuat Vivian terkejut.
“Vian, ayo
kiata pergi dari sini …,’’ kata Erland.
“Mau pergi
kemana, Mas? Bukankah, kau ini tidak menginginkan kehadiranku?” tanya Vivian
yang kembali harus berperan dengan karakternya.
“Bisa nggak
sih kamu nurut apa kata aku?” Erland membentak Vivian membuat sang empu
mematung serta kaget. “Aku mohon, jangan mempersulit keadaan lagi Vian …,’’
sambung Erland.
“Aku tidak
mempersulit keadaan kok Mas. Kalau kamu tidak mau aku hadir dikehidupanmu, maka
aku akan pergi,’’ kata Vivian dengan suara bergetar menahan air matanya.
Erland
langsung tersadar karena sudah membentak Vivian. “Bu-bukan begitu, Vian. Kita
tinggal di apartemen ku saja. Biar aku bisa memantaumu …,’’
“Tidak
perlu, aku tinggal sama sahabatku saja. Jangan pedulikan aku lagi, urus saja
istrimu saja Tuan …,’’ kata Vivian yang kemudian mengambil ponselnya untuk
menghubungi Fika.
Dengan
cepat Erland pun langsung mengambil ponsel Vivian dan membantingnya. Sontak hal
itu membuat Vivian semakin terkejut serta takut jika Erland melukai dirinya.
Vivian langsung terdiam tanpa berbicara sepatah katapun.
‘Gila ternyata Om Arogant galak juga, jadi
takut gue. Tapi, kenapa mendadak kepalaku pusing ya?’ gumam Vivian dalam hati.
“Kita
pulang ke apartemen,’’ kata Erland dengan wajah yang masih merah.
Vivian
tidak menjawab perkataan dari Erland. Dengan cepat Erland pun langsung
menggendong Vivian dan keluar dari kamar. Mama Lola yang melihat hal itu pun
langsung menghampiri Erland dan segera mencegah Erland membawa Vivian pergi.
“Erland,
kamu ini apa-apaan sih? Biarkan Vivian tinggal bareng Mama …,’’ kata Mama Lola.
“Maaf, Ma.
Aku akan tetap membawa Vivian pergi dan tinggal bersamaku …,’’ kata Erland
dengan tegas kemudian langsung bergegas pergi keluar rumah.
Mama Lola
mengejar putranya karena takut Vivian kenapa-napa. Akan tetapi, percuma saja
karena Erland sudah pergi meninggalkan rumahnya. Sedangkan di mobil, Vivian dan
Erland saling diam tanpa ada pembicaraan di antara mereka berdua.
‘Astaga, kalau seperti ini pasti akan susah gue
keluarnya. Mana ponsel gue sudah hancur lagi, gimana gue bisa ngabarin Fika?’
batin Vivian dalam hati.
Beberapa
menit kemudian, mereka sudah sampai di sebuah gedung yang menjulang tinggi dan
dengan cepat Erland turun lalu dia kembali menggedong Vivian untuk menuju ke
unit apartemen miliknya dan tadi Erland juga sudah memerintahkan Sekretaris
__ADS_1
Deni untuk menyiapkan semua kebutuhan Vivian selama berada di apartemen.