Pelita Di Ujung Asa

Pelita Di Ujung Asa
Part 2. Pertemuan Pertama


__ADS_3

Keesokan harinya, Vivian pun bangun


pagi-pagi karena dia harus berangkat ke kampus. Dan Vivian juga harus


membiasakan diri karena kali ini dirinya sudah tinggal sendirian. Untungnya


Vivian bukan gadis yang manja, dia sudah terbiasa bersih-bersih dan sering


membantu mamanya memasak di dapur. Pagi ini, Vivian membuat roti bakar karena


Pak Jos sudah menyiapkan semuanya untuk kebutuhan Vivian.


“Ternyata Pak Jos sangat baik, tahu aja


kalau pagi aku nggak biasa sarapan nasi …,’’ kata Vivian tersenyum senang.


Dengan cepat, Vivian pun langsung membuka


bungkusan roti itu dan mengolesi dengan selai coklat kesukaannya itu. Lalu,


setelah selesai dia menyantap roti itu dengan lahap karena dari semalam  Vivian belum makan sama sekali.


“Pokoknya aku harus semangat, karena


mengalahkan Paman Khoi itu butuh banyak tenaga …,’’ ucap Vivian menyemangati


dirinya sendiri. “Lihat saja, Paman Khoi.  Aku akan membalas semua perbuatan Paman,’’ sambung Vivian.


Vivian akan mengatur keuangannya dan dia


juga mau nyari kerjaan sampingan agar uang tabungannya tidak terpakai banyak.


Setelah sarapan, Vivian pun langsung bergegas untuk berangkat ke kampus. Dia


memesan ojek online agar tidak terjebak macet.


Benar saja, jalanan pagi itu pun macet.


Vivian hanya bisa mendengus kesal, percuma dia buru-buru berangkat pagi kalau


sekarang saja dia terjebak macet.


“Mang, memangnya nggak ada jalan


lain,apa?” tanya Vivian kepada mas ojeknya.


“Ada sih, Mbak. Tapi kita harus putar


balik, nanti malgah tambah jauh lagi …,’’ jawab Mas Ojek.


“Elah, sama aja kalau gitu …,’’ kata


Vivian. “Kalau begitu,  saya turun saja


deh, Mas. Lagian, sudah lumayan dekat kok …,’’ sambung Vivian kemudian memilih


turun dari motor.


“Nggak usah turun, Mbak. Biar saya


antarkan sampai tujuan, nggak tega saya nurunin wanita di pinggir jalan …,’’


kata Mas Ojek.


“Tidak apa-apa, Mas. Ini ongkosnya dan


terima kasih, nanti saya kasih bintang lima …,’’ kata Vivian tersenyum.


“Kalau begitu, terima kasih Mbak,’’ jawab


Mas Ojek yang diangguki sama Vivian.


Vivian pun berjalan menelusuri jalanan


yang padat akan kendaraan. Vivian jadi teringat sama Papanya yang sering


mengantarkan dirinya ketika Vivian ada kelas pagi. Hal itu, membuat Vivian


kembali meneteskan air mata sebab, dia tidak menyangka kalau nasibnya akan


seperti ini.


‘Ma, Pa. Aku kangen, kenapa Tuhan mengambil kalian dengan begitu cepat?


Aku ragu, Pa. Apa aku bisa menjalani hidup ini?’ batin Vivian.


Dengan langkah pelan, akhirnya Vivian pun


sampai di pertigaan. Dan ketika ingin menyeberang terdengar suara klakson yang


membuat Vivian terkejut dan berjongkok menutup wajahnya.

__ADS_1


“Ya Tuhan, aku tidak mau meninggal dulu.


Umurku masih muda, mana belum nikah pula, kasihani aku, Tuhan …,’’ gumam Vivian


dengan sangat pelan.


Seseorang yang berada di dalam mobil mewah


itu pun hanya bisa mendengus kesal. Orang itu adalah Erland yang harus mengerem


dadakan agar tidak menabrak Vivian.


“Siapa gadis gila itu?” Erland pun


langsung turun dari mobilnya dan menghampiri Vivian.


“Hei, gadis gila! Apa kau sudah bosan


hidup?” bentak Erland membuat Vivian tersentak.


“Astaga, pasti ini suara malaikat maut.


Tuhan tolong aku, jangan biarkan malaikat maut mendekatiku …,’’ Vivian masih


saja memejamkan matanya dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


“Dasar, gadis aneh. Bangun woy … Apa kau


ingin bertelur jongkok begitu?” bentak Erland.


Vivian pun mengintip disela jari-jarinya


dan dia melihat seorang pria tampan dengan tubuhnya yang tegap dan tinggi. Vivian


yang melihat hal itu sontak langsung terpesona, ia pun berdiri dan tersenyum


kepada Erland. Sedangkan Erland, dia hanya mengerutkan keningnya melihat


tingkah aneh wanita yang ada di depannya itu.


“Ngapain kau senyum-senyum begitu?


Minggirlah, saya mau lewat …,’’ ketus Erland sembari mendorong Vivian ke


pinggir jalan.


“Apakah aku sudah berada di surga?” kata


Vivian dengan senyum yang merekah.


ucap Erland yang kesal dibuatnya.


“Aku memang gila, Om. Tergila-gila padamu


maksudnya …,’’ kata Vivian membuat Erland tergelak.


“Hei, bangun! Jangan ngelantur kau …,’’


bentak Erland dengan kencang.


Vivian kembali terkejut dan sadar. Dia


melihat sekelilingnya dan ternyata dirinya masih berada di dunia. Vivian


bernafas lega karena dia masih berada di dunia ini, Vivian juga melihat pria


yang sedang berada di depannya itu.


“Eh, ada om ganteng …,’’ kata Vivian.


“Cih, jangan banyak basa-basi. Minggirlah,


kau mengganggu jalan saya!” bentak Erland membuat  Vivian terbelalak.


“Elah, Om. Biasa saja kali, nggak usah


ngegas,’’ kata Vivian dengan santainya. “lagian, jangan galak-galak dong. Nanti


cepat mati …,’’ sambung Vivian.


“Ck, jaga ucapanmu bocah ingusan. Mimpi


apa aku semalam? Pagi-pagi harus bertemu dengan gadis gila ini,’’ kata Erland.


“Jadi, tadi malam Om mimpiin aku?” tanya


Vivian dengan percaya dirinya.


“Diam kau! Lebih baik kau minggir, karena


saya sangat malas meladeni tingkah gilamu,’’ jawab Erland dengan ketus.

__ADS_1


“Oke-oke, silahkan lewat saja Om …,” kata


Vivian yang memilih mengalah karena dia juga takut telat masuk kelas. ‘Ganteng-ganteng tapi galak kali,’ sambung


Vivian dalam hati.


“Minggir …,’’ ketus Erland.


“Ini sudah minggir loh, Om …,’’ kata


Vivian.


Erland pun


langsung bergegas menuju ke mobilnya lagi dan masuk ke dalam. Sedangkan Vivian,


dia masih diam berdiri sambil menatap mobil milik Erland. Dan


ketika melewati Vivian, Erland membunyikan klaksonnya dengan kencang.


“Dasar … Om-om galak. Heran kali aku sama itu orang,


dulu emaknya ngidam apaan? Sampai punya anak modelan Om itu,’’ gerutu Vivian.


Karena tidak mau ambil pusing akhirnya Vivian pun


langsung berjalan menuju ke kampus. Karena jaraknya sudah dekat dan Vivian pun


berjalan dengan santai sambil menikmati udara di pagi hari. Ketika sedang


berjalan, ada seseorang yang menghampiri Vivian.


“Vian,’’ panggil seseorang yang tak lain adalah Leon.


“Eh, Kak Leon,’’ ucap Vivian dengan ramah.


“Kok kamu jalan kaki? Biasanya naik ojek online …,’’


ucap Leon.


“Iya, Kak. Tadi sih naik ojek, tapi kejebak macet jadi


aku turun aja. Lagian sudah dekat ini,’’ jawab Vivian.


“Astaga, ya sudah naik gih,’’ ucap Leon.


Vivian mengerutkan keningnya. “Naik kemana, Kak?”


tanya Vivian dengan polosnya dan membuat Leon terkekeh.


“Ya, naik ke motorku dong Vian. Masa mau naik ke


langit kan nggak mungkin,’’ jawab Leon yang gemas dengan tingkah Vivian.


“Oh iya juga. Kenapa aku nggak kepikiran ya?” Vivian


pun hanya nyengir kuda.


Leon hanya tertawa kecil. Dan Vivian pun langsung naik


ke motor Leon, lalu dengan cepat pun langsung melajukan motornya menuju ke


kampus. Leon sangat baik sama Vivian, bahkan ketika Vivian di bully Leon lah


yang menolongnya. Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka pun sudah sampai di


area kampus semua mahasiswa cewek pada iri sama Vivian karena diboncengin sama


pria terpopuler di kampus tersebut.


“Vian, kamu langsung ke kelas saja,’’ kata Leon.


“Iya Kak. Terima kasih tumpangannya,’’ kata Vivian.


“Santai saja, gimana kalau pas pulang nanti aku antar


lagi?” tanya Leon.


“Memangnya, nggak merepotkan Kak?” Vivian pun bertanya


balik kepada Leon.


“Tidak sama sekali, ya sudah nanti kita ketemu disini


lagi. Kamu yang semangat belajarnya …,’’ kata Leon tersenyum manis kepada


Vivian.


“Oke siap,’’ ucap Vivian.


Vivian pun bergegas menuju ke kelasnya karena sebentar

__ADS_1


lagi pelajaran akan segera di mulai dan dosennya pun killer. Sedangkan Leon,


dia hanya tersenyum karena senang bisa berangkat bareng sama Vivian.


__ADS_2