
Keesokan harinya, Vivian pun bangun
pagi-pagi karena dia harus berangkat ke kampus. Dan Vivian juga harus
membiasakan diri karena kali ini dirinya sudah tinggal sendirian. Untungnya
Vivian bukan gadis yang manja, dia sudah terbiasa bersih-bersih dan sering
membantu mamanya memasak di dapur. Pagi ini, Vivian membuat roti bakar karena
Pak Jos sudah menyiapkan semuanya untuk kebutuhan Vivian.
“Ternyata Pak Jos sangat baik, tahu aja
kalau pagi aku nggak biasa sarapan nasi …,’’ kata Vivian tersenyum senang.
Dengan cepat, Vivian pun langsung membuka
bungkusan roti itu dan mengolesi dengan selai coklat kesukaannya itu. Lalu,
setelah selesai dia menyantap roti itu dengan lahap karena dari semalam Vivian belum makan sama sekali.
“Pokoknya aku harus semangat, karena
mengalahkan Paman Khoi itu butuh banyak tenaga …,’’ ucap Vivian menyemangati
dirinya sendiri. “Lihat saja, Paman Khoi. Aku akan membalas semua perbuatan Paman,’’ sambung Vivian.
Vivian akan mengatur keuangannya dan dia
juga mau nyari kerjaan sampingan agar uang tabungannya tidak terpakai banyak.
Setelah sarapan, Vivian pun langsung bergegas untuk berangkat ke kampus. Dia
memesan ojek online agar tidak terjebak macet.
Benar saja, jalanan pagi itu pun macet.
Vivian hanya bisa mendengus kesal, percuma dia buru-buru berangkat pagi kalau
sekarang saja dia terjebak macet.
“Mang, memangnya nggak ada jalan
lain,apa?” tanya Vivian kepada mas ojeknya.
“Ada sih, Mbak. Tapi kita harus putar
balik, nanti malgah tambah jauh lagi …,’’ jawab Mas Ojek.
“Elah, sama aja kalau gitu …,’’ kata
Vivian. “Kalau begitu, saya turun saja
deh, Mas. Lagian, sudah lumayan dekat kok …,’’ sambung Vivian kemudian memilih
turun dari motor.
“Nggak usah turun, Mbak. Biar saya
antarkan sampai tujuan, nggak tega saya nurunin wanita di pinggir jalan …,’’
kata Mas Ojek.
“Tidak apa-apa, Mas. Ini ongkosnya dan
terima kasih, nanti saya kasih bintang lima …,’’ kata Vivian tersenyum.
“Kalau begitu, terima kasih Mbak,’’ jawab
Mas Ojek yang diangguki sama Vivian.
Vivian pun berjalan menelusuri jalanan
yang padat akan kendaraan. Vivian jadi teringat sama Papanya yang sering
mengantarkan dirinya ketika Vivian ada kelas pagi. Hal itu, membuat Vivian
kembali meneteskan air mata sebab, dia tidak menyangka kalau nasibnya akan
seperti ini.
‘Ma, Pa. Aku kangen, kenapa Tuhan mengambil kalian dengan begitu cepat?
Aku ragu, Pa. Apa aku bisa menjalani hidup ini?’ batin Vivian.
Dengan langkah pelan, akhirnya Vivian pun
sampai di pertigaan. Dan ketika ingin menyeberang terdengar suara klakson yang
membuat Vivian terkejut dan berjongkok menutup wajahnya.
__ADS_1
“Ya Tuhan, aku tidak mau meninggal dulu.
Umurku masih muda, mana belum nikah pula, kasihani aku, Tuhan …,’’ gumam Vivian
dengan sangat pelan.
Seseorang yang berada di dalam mobil mewah
itu pun hanya bisa mendengus kesal. Orang itu adalah Erland yang harus mengerem
dadakan agar tidak menabrak Vivian.
“Siapa gadis gila itu?” Erland pun
langsung turun dari mobilnya dan menghampiri Vivian.
“Hei, gadis gila! Apa kau sudah bosan
hidup?” bentak Erland membuat Vivian tersentak.
“Astaga, pasti ini suara malaikat maut.
Tuhan tolong aku, jangan biarkan malaikat maut mendekatiku …,’’ Vivian masih
saja memejamkan matanya dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
“Dasar, gadis aneh. Bangun woy … Apa kau
ingin bertelur jongkok begitu?” bentak Erland.
Vivian pun mengintip disela jari-jarinya
dan dia melihat seorang pria tampan dengan tubuhnya yang tegap dan tinggi. Vivian
yang melihat hal itu sontak langsung terpesona, ia pun berdiri dan tersenyum
kepada Erland. Sedangkan Erland, dia hanya mengerutkan keningnya melihat
tingkah aneh wanita yang ada di depannya itu.
“Ngapain kau senyum-senyum begitu?
Minggirlah, saya mau lewat …,’’ ketus Erland sembari mendorong Vivian ke
pinggir jalan.
“Apakah aku sudah berada di surga?” kata
Vivian dengan senyum yang merekah.
ucap Erland yang kesal dibuatnya.
“Aku memang gila, Om. Tergila-gila padamu
maksudnya …,’’ kata Vivian membuat Erland tergelak.
“Hei, bangun! Jangan ngelantur kau …,’’
bentak Erland dengan kencang.
Vivian kembali terkejut dan sadar. Dia
melihat sekelilingnya dan ternyata dirinya masih berada di dunia. Vivian
bernafas lega karena dia masih berada di dunia ini, Vivian juga melihat pria
yang sedang berada di depannya itu.
“Eh, ada om ganteng …,’’ kata Vivian.
“Cih, jangan banyak basa-basi. Minggirlah,
kau mengganggu jalan saya!” bentak Erland membuat Vivian terbelalak.
“Elah, Om. Biasa saja kali, nggak usah
ngegas,’’ kata Vivian dengan santainya. “lagian, jangan galak-galak dong. Nanti
cepat mati …,’’ sambung Vivian.
“Ck, jaga ucapanmu bocah ingusan. Mimpi
apa aku semalam? Pagi-pagi harus bertemu dengan gadis gila ini,’’ kata Erland.
“Jadi, tadi malam Om mimpiin aku?” tanya
Vivian dengan percaya dirinya.
“Diam kau! Lebih baik kau minggir, karena
saya sangat malas meladeni tingkah gilamu,’’ jawab Erland dengan ketus.
__ADS_1
“Oke-oke, silahkan lewat saja Om …,” kata
Vivian yang memilih mengalah karena dia juga takut telat masuk kelas. ‘Ganteng-ganteng tapi galak kali,’ sambung
Vivian dalam hati.
“Minggir …,’’ ketus Erland.
“Ini sudah minggir loh, Om …,’’ kata
Vivian.
Erland pun
langsung bergegas menuju ke mobilnya lagi dan masuk ke dalam. Sedangkan Vivian,
dia masih diam berdiri sambil menatap mobil milik Erland. Dan
ketika melewati Vivian, Erland membunyikan klaksonnya dengan kencang.
“Dasar … Om-om galak. Heran kali aku sama itu orang,
dulu emaknya ngidam apaan? Sampai punya anak modelan Om itu,’’ gerutu Vivian.
Karena tidak mau ambil pusing akhirnya Vivian pun
langsung berjalan menuju ke kampus. Karena jaraknya sudah dekat dan Vivian pun
berjalan dengan santai sambil menikmati udara di pagi hari. Ketika sedang
berjalan, ada seseorang yang menghampiri Vivian.
“Vian,’’ panggil seseorang yang tak lain adalah Leon.
“Eh, Kak Leon,’’ ucap Vivian dengan ramah.
“Kok kamu jalan kaki? Biasanya naik ojek online …,’’
ucap Leon.
“Iya, Kak. Tadi sih naik ojek, tapi kejebak macet jadi
aku turun aja. Lagian sudah dekat ini,’’ jawab Vivian.
“Astaga, ya sudah naik gih,’’ ucap Leon.
Vivian mengerutkan keningnya. “Naik kemana, Kak?”
tanya Vivian dengan polosnya dan membuat Leon terkekeh.
“Ya, naik ke motorku dong Vian. Masa mau naik ke
langit kan nggak mungkin,’’ jawab Leon yang gemas dengan tingkah Vivian.
“Oh iya juga. Kenapa aku nggak kepikiran ya?” Vivian
pun hanya nyengir kuda.
Leon hanya tertawa kecil. Dan Vivian pun langsung naik
ke motor Leon, lalu dengan cepat pun langsung melajukan motornya menuju ke
kampus. Leon sangat baik sama Vivian, bahkan ketika Vivian di bully Leon lah
yang menolongnya. Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka pun sudah sampai di
area kampus semua mahasiswa cewek pada iri sama Vivian karena diboncengin sama
pria terpopuler di kampus tersebut.
“Vian, kamu langsung ke kelas saja,’’ kata Leon.
“Iya Kak. Terima kasih tumpangannya,’’ kata Vivian.
“Santai saja, gimana kalau pas pulang nanti aku antar
lagi?” tanya Leon.
“Memangnya, nggak merepotkan Kak?” Vivian pun bertanya
balik kepada Leon.
“Tidak sama sekali, ya sudah nanti kita ketemu disini
lagi. Kamu yang semangat belajarnya …,’’ kata Leon tersenyum manis kepada
Vivian.
“Oke siap,’’ ucap Vivian.
Vivian pun bergegas menuju ke kelasnya karena sebentar
__ADS_1
lagi pelajaran akan segera di mulai dan dosennya pun killer. Sedangkan Leon,
dia hanya tersenyum karena senang bisa berangkat bareng sama Vivian.