Pelita Di Ujung Asa

Pelita Di Ujung Asa
Part 12. Ciuman Pertama


__ADS_3

Pagi harinya,


Vivian pun mengerjapkan matanya. Dia merasa tidurnya sangat nyenyak karena dia


sudah bisa lolos dari Erland dan nggak perlu bersandiwara lagi. Dengan senyum


yang merekah Vivian pun membalikkan badannya dan seketika Vivian melihat Erland


yang sedang terlelap tidur juga.


“Kok ada Mas


Erland sih. Apa gue cuma halu saja ya? Kan Mas Erland nggak tahu alamat rumah


ini,’’ kata Vivian yang belum sadar dengan semuanya. “Mending gue lanjut tidur


saja deh, daripada nanti gue halu lagi,” sambung Vivian.


“Kata siapa kamu


halu hm?” tanya Erland yang memang sedari tadi sudah bangun dan mendengar


celotehan Vivian.


Vivian terkejut


dan langsung membuka matanya dengan sempurna. Vivian pun melihat sekelilingnya


dan baru saja sadar kalau saat ini dirinya tidak lagi berada di kamarnya, dan


Vivian juga mendongak lalu menatap kearah Erland.


“Kenapa? Kamu


kaget ada di kamar ini lagi …,’’ kata Erland.


“Hehe … Eh


sayang. Mana ada aku kaget, malah aku senang bisa balik lagi,’’ jawab Vivian


nyengir kuda menunjukkan deretan gigi putihnya dan mencari aman agar Erland


tidak mengamuk.


“Jangan membual,


kalau kau senang disini. Kenapa kemarin kau melarikan diri?” tanya Erland


menatap tajam kearah Vivian.


Vivian pun


menelan ludahnya dengan kasar. Seharusnya kemarin dia mendengarkan saran dari


Fika untuk mengungsi terlebih dahulu. Jika seperti ini dirinya sudah tidak akan


bisa kabur lagi karena pasti Erland akan menjaga dengan ketat.


‘Gue harus mencari akal supaya Erland tidak marah


lagi,’ batin Vivian dalam hati.“Em … Maaf sayang, aku kemarin cuma bosan saja. Makanya aku kabur,


maafin aku …,’’ sambung Vivian sambil mengedip-ngedipkan matanya.


‘Sial, kenapa gadis ini sangat menggemaskan sekali?


Tapi, aku tidak boleh memaafkannya dengan mudah agar dia jera,’ batin Erland


dalam hati.


“Sayang, maafin


aku …,’’ kata Vivian.


“Tidak semudah


itu, karena kamu sudah berani pergi tanpa meminta izin sama aku. Maka aku akan


menghukummu …,’’ kata Erland membuat Vivian terbelalak.


“Hukumannya


jangan aneh-aneh ya, Mas. Kan, Mas tahu sendiri kalau aku sedang sakit kakinya,’’


kata Vivian.


“Nanti aku


pikirkan hukuman apa yang akan aku berikan padamu,’’ kata Erland. “Sekarang


bangunlah,” lanjut Erland.


“Nanti saja,


ngumpulin niat dulu,’’ jawab Vivian kemudian kembali menarik selimutnya.


Erland pun tersenyum


dan dia juga kembali mengeratkan pelukannya. Entah kenapa hatinya lebih tenang


ketika berdekatan dengan Vivian, memang ini salah secara Erland sudah menikah


walaupun Erland tahu kalau Bella sudah mengkhianatinya.


“Jangan terlalu


erat, Mas. Nanti aku sesak nafas ih,’’ kata Vivian.


“Makanya,


menghadap kesini biar bisa nafas,’’ jawab Erland menarik tubuh mungil Vivian.


“Nanti malah


nggak bisa-” belum juga Vivian melanjutkan omongannya. Erland sudah menyumpal


mulut Vivian dengan bibirnya.


Vivian

__ADS_1


terbelalak karena Erland menyerangnya dengan tiba-tiba. ‘Astaga ciuman pertama gue … Dasar Om-om mesum,’ gerutu Vivian dalam


hati.


“Bernafas Vian …,’’


kata Erland yang sudah melepaskan pagutannya itu.


Sedangkan


Vivian, dia mengatur nafasnya yang masih tersengal-sengal karena ulah Erland.


“Kenapa diam,


sayang? Kok diam saja? Oh aku tahu kamu pasti mau aku cium lagi kan?” tanya


Erland menyeringai sedangkan Vivian langsung terbelalak.


“Nggak mau …,’’


Vivian langsung menutup mulutnya menggunakan kedua telapak tangannya.


Erland terkekeh.


“Tapi, bibirmu manis. Aku jadi pengen nyoba lagi,’’


“Dasar mesum,’’


teriak Vivian menutupi tubuhnya menggunakan selimut.


Erland tertawa


terbahak-bahak melihat tingkah Vivian yang begitu menggemaskan. Dia pun ikut


masuk ke dalam selimut sambil memeluk tubuh mungil Vivian.


“Mas, mending


bangun deh. Kok meresahkan sekali,’’ kata Vivian.


“Kamu ngusir


aku, sayang,’’ tanya Erland.


“Iya, kenapa?


Daripada Mas aku kutuk jadi lumba-lumba,’’ jawab Vivian membuat Erland


terkekeh.


“Mana ada


lumba-lumba tampan seperti aku,’’ kata Erland.


“Ck, sok ganteng


kali anda, Tuan Erland,’’ kata Vivian.


“Aku ganteng


dari lahir, sayang. Kamunya aja yang nggak sadar-sadar,’’ ucap Erland dengan


Vivian hany


memutar bola mata malasnya, ketika sedang asyik berduaan. Tiba-tiba, pintu


kamar Erland ada yang mengetuk dan hal itu membuat Erland mendengus kesal.


Dengan cepat, Erland pun segera bangun dan membukakan pintu.


“Ada apa?” tanya


Erland kepada Sekretarisnya yang nggak ada akhlak itu.


“Anu Tuan, di


depan ada Nyonya Bella ..,’’ jawab Sekretaris Deni.


“Suruh dia


masuk,’’ kata Erland.


“Tapi gimana


dengan Nona Vian?” tanya Sekretaris Deni.


“Itu urusanku,


kau kerjakan saja apa yang aku suruh,’’ jawab Erland.


“Baik, Tuan muda


…,’’ kata Erland.


 Setelah Sekretaris Deni pergi, Erland pun


kembali masuk dan mengunci kamarnya. Vivian yang melihat Erland kembali pun


langsung memasang kuda-kuda  karena


waspada takut Erland menyerang secara dadakan.


“Sayang, kamu


jangan keluar dari kamar dulu. Di meja sudah ada makanan , aku ada mau menemui


tamuku dulu,’’ kata Erland.


“Em, baiklah.’’


“Nanti kita


lanjut lagi main dramanya,’’ ledek Erland.


“Hei, main drama


apa? Kan, Mas Erland yang nyosor duluan,’’ kata Vivian.


Erland tertawa,

__ADS_1


lalu dia pun memakai kaosnya dan segera keluar dari kamar. Tak lupa, dia


mengunci kamarnya agar Vivian tidak bisa keluar. Karena Erland tahu karakter


Vivian sekarang seperti apa.


“Honey, kamu


kemana aja? Aku kangen,’’ kata Bella memeluk Erland.


“Singkirkan


tubuhmu dari badanku,’’ ketus Erland.


“Maafkan aku,


honey. Waktu itu aku hanya khilaf saja, aku sangat mencintai kamu,’’ kata Bella


dengan wajah yang nanar.


“Apa kamu bilang


khilaf?” tanya Erland terkekeh.


“Erland, aku


tahu kalau apa yang aku lakukan ini sangat fatal. Tapi aku mohon, kasih


kesempatan aku untuk memperbaiki semuanya,’’ jawab Bella yang terus memohon


kepada suaminya itu.


“Kamu mau


memperbaiki apanya? Aku sudah muak dengan tingkahmu, dan mulai saat ini aku


talak kamu,’’ kata Erland sebisa mungkin menahan emosinya.


Bella terkejut


mendengar perkataan dari Erland. Dia merutuki kebodohannya karena tidak


berhati-hati waktu itu sampai Erland mengetahui perselingkuhannya dengan lawan


mainnya.


“Honey, pasti


kamu sedang bercanda kan? Aku mohon kasih kesempatan sekali lagi, aku janji


tidak akan mengkhianati kamu, Erland,’’ kata Bella.


“Bella,


sebenarnya apa kurangnya aku. Setiap kamu minta apapun aku selalu menurutinya,


bahkan kamu nggak mau hamil pun aku nggak pernah mempermasalahkan itu,’’ kata


Erland. “Tapi kenapa kau malah mengkhianati aku, Bella?” sambung Erland yang


sudah tidak bisa menahan emosinya.


“Erland, aku


mohon kasih kesempatan untukku,’’ Bella pun memohon-mohon kepada Erland agar


tidak menceraikan dirinya.


“Keputusanku


sudah bulat, sekarang menyingkirlah dari hadapanku,’’ kata Erland.


“Nggak mau, aku


akan tetap disini sampai kamu mau memberikan kesempatan untukku,’’ kata Bella


dengan tegas.


Erland menatap


Sekretaris Deni, dengan cepat Sekretaris Deni mengangguk seakan paham apa yang


ada dalam pikiran Tuan mudanya. Erland pun langsung kembali ke kamar akan


tetapi, Bella terus merengek kepada Erland untuk tidak menceraikannya.


Terlihat anak


buah Erland pun masuk ke dalam apartemen dan langsung menyeret Bella agar


keluar dari apartemen.


“Deni, pastikan


wanita gila itu tidak masuk ke dalam lagi,’’ kata Erland.


“Siap, Tuan


muda,’’ ucap Sekretaris Deni.


Erland menghela


nafasnya dengan panjang. Memang ini sangat berat, akan tetapi dia paling tidak


suka jika dikhianati. Erland pun masuk ke kamar dan melihat Vivian sedang makan


sambil nonton televisi.


“Gimana


masakannya, enak?” tanya Erland kemudian duduk disamping Vivian.


“Enak, tapi


makanannya kurang pedas,’’ jawab Vivian dengan mulutnya yang penuh makanan.


“Nggak boleh


makan pedas banyak-banyak sayang, habis ini siap-siap ya. Aku mau ajak kamu

__ADS_1


jalan-jalan,’’ ucap Erland lalu Vivian pun mengangguk.


__ADS_2