
Pagi harinya,
Vivian pun mengerjapkan matanya. Dia merasa tidurnya sangat nyenyak karena dia
sudah bisa lolos dari Erland dan nggak perlu bersandiwara lagi. Dengan senyum
yang merekah Vivian pun membalikkan badannya dan seketika Vivian melihat Erland
yang sedang terlelap tidur juga.
“Kok ada Mas
Erland sih. Apa gue cuma halu saja ya? Kan Mas Erland nggak tahu alamat rumah
ini,’’ kata Vivian yang belum sadar dengan semuanya. “Mending gue lanjut tidur
saja deh, daripada nanti gue halu lagi,” sambung Vivian.
“Kata siapa kamu
halu hm?” tanya Erland yang memang sedari tadi sudah bangun dan mendengar
celotehan Vivian.
Vivian terkejut
dan langsung membuka matanya dengan sempurna. Vivian pun melihat sekelilingnya
dan baru saja sadar kalau saat ini dirinya tidak lagi berada di kamarnya, dan
Vivian juga mendongak lalu menatap kearah Erland.
“Kenapa? Kamu
kaget ada di kamar ini lagi …,’’ kata Erland.
“Hehe … Eh
sayang. Mana ada aku kaget, malah aku senang bisa balik lagi,’’ jawab Vivian
nyengir kuda menunjukkan deretan gigi putihnya dan mencari aman agar Erland
tidak mengamuk.
“Jangan membual,
kalau kau senang disini. Kenapa kemarin kau melarikan diri?” tanya Erland
menatap tajam kearah Vivian.
Vivian pun
menelan ludahnya dengan kasar. Seharusnya kemarin dia mendengarkan saran dari
Fika untuk mengungsi terlebih dahulu. Jika seperti ini dirinya sudah tidak akan
bisa kabur lagi karena pasti Erland akan menjaga dengan ketat.
‘Gue harus mencari akal supaya Erland tidak marah
lagi,’ batin Vivian dalam hati.“Em … Maaf sayang, aku kemarin cuma bosan saja. Makanya aku kabur,
maafin aku …,’’ sambung Vivian sambil mengedip-ngedipkan matanya.
‘Sial, kenapa gadis ini sangat menggemaskan sekali?
Tapi, aku tidak boleh memaafkannya dengan mudah agar dia jera,’ batin Erland
dalam hati.
“Sayang, maafin
aku …,’’ kata Vivian.
“Tidak semudah
itu, karena kamu sudah berani pergi tanpa meminta izin sama aku. Maka aku akan
menghukummu …,’’ kata Erland membuat Vivian terbelalak.
“Hukumannya
jangan aneh-aneh ya, Mas. Kan, Mas tahu sendiri kalau aku sedang sakit kakinya,’’
kata Vivian.
“Nanti aku
pikirkan hukuman apa yang akan aku berikan padamu,’’ kata Erland. “Sekarang
bangunlah,” lanjut Erland.
“Nanti saja,
ngumpulin niat dulu,’’ jawab Vivian kemudian kembali menarik selimutnya.
Erland pun tersenyum
dan dia juga kembali mengeratkan pelukannya. Entah kenapa hatinya lebih tenang
ketika berdekatan dengan Vivian, memang ini salah secara Erland sudah menikah
walaupun Erland tahu kalau Bella sudah mengkhianatinya.
“Jangan terlalu
erat, Mas. Nanti aku sesak nafas ih,’’ kata Vivian.
“Makanya,
menghadap kesini biar bisa nafas,’’ jawab Erland menarik tubuh mungil Vivian.
“Nanti malah
nggak bisa-” belum juga Vivian melanjutkan omongannya. Erland sudah menyumpal
mulut Vivian dengan bibirnya.
Vivian
__ADS_1
terbelalak karena Erland menyerangnya dengan tiba-tiba. ‘Astaga ciuman pertama gue … Dasar Om-om mesum,’ gerutu Vivian dalam
hati.
“Bernafas Vian …,’’
kata Erland yang sudah melepaskan pagutannya itu.
Sedangkan
Vivian, dia mengatur nafasnya yang masih tersengal-sengal karena ulah Erland.
“Kenapa diam,
sayang? Kok diam saja? Oh aku tahu kamu pasti mau aku cium lagi kan?” tanya
Erland menyeringai sedangkan Vivian langsung terbelalak.
“Nggak mau …,’’
Vivian langsung menutup mulutnya menggunakan kedua telapak tangannya.
Erland terkekeh.
“Tapi, bibirmu manis. Aku jadi pengen nyoba lagi,’’
“Dasar mesum,’’
teriak Vivian menutupi tubuhnya menggunakan selimut.
Erland tertawa
terbahak-bahak melihat tingkah Vivian yang begitu menggemaskan. Dia pun ikut
masuk ke dalam selimut sambil memeluk tubuh mungil Vivian.
“Mas, mending
bangun deh. Kok meresahkan sekali,’’ kata Vivian.
“Kamu ngusir
aku, sayang,’’ tanya Erland.
“Iya, kenapa?
Daripada Mas aku kutuk jadi lumba-lumba,’’ jawab Vivian membuat Erland
terkekeh.
“Mana ada
lumba-lumba tampan seperti aku,’’ kata Erland.
“Ck, sok ganteng
kali anda, Tuan Erland,’’ kata Vivian.
“Aku ganteng
dari lahir, sayang. Kamunya aja yang nggak sadar-sadar,’’ ucap Erland dengan
Vivian hany
memutar bola mata malasnya, ketika sedang asyik berduaan. Tiba-tiba, pintu
kamar Erland ada yang mengetuk dan hal itu membuat Erland mendengus kesal.
Dengan cepat, Erland pun segera bangun dan membukakan pintu.
“Ada apa?” tanya
Erland kepada Sekretarisnya yang nggak ada akhlak itu.
“Anu Tuan, di
depan ada Nyonya Bella ..,’’ jawab Sekretaris Deni.
“Suruh dia
masuk,’’ kata Erland.
“Tapi gimana
dengan Nona Vian?” tanya Sekretaris Deni.
“Itu urusanku,
kau kerjakan saja apa yang aku suruh,’’ jawab Erland.
“Baik, Tuan muda
…,’’ kata Erland.
Setelah Sekretaris Deni pergi, Erland pun
kembali masuk dan mengunci kamarnya. Vivian yang melihat Erland kembali pun
langsung memasang kuda-kuda karena
waspada takut Erland menyerang secara dadakan.
“Sayang, kamu
jangan keluar dari kamar dulu. Di meja sudah ada makanan , aku ada mau menemui
tamuku dulu,’’ kata Erland.
“Em, baiklah.’’
“Nanti kita
lanjut lagi main dramanya,’’ ledek Erland.
“Hei, main drama
apa? Kan, Mas Erland yang nyosor duluan,’’ kata Vivian.
Erland tertawa,
__ADS_1
lalu dia pun memakai kaosnya dan segera keluar dari kamar. Tak lupa, dia
mengunci kamarnya agar Vivian tidak bisa keluar. Karena Erland tahu karakter
Vivian sekarang seperti apa.
“Honey, kamu
kemana aja? Aku kangen,’’ kata Bella memeluk Erland.
“Singkirkan
tubuhmu dari badanku,’’ ketus Erland.
“Maafkan aku,
honey. Waktu itu aku hanya khilaf saja, aku sangat mencintai kamu,’’ kata Bella
dengan wajah yang nanar.
“Apa kamu bilang
khilaf?” tanya Erland terkekeh.
“Erland, aku
tahu kalau apa yang aku lakukan ini sangat fatal. Tapi aku mohon, kasih
kesempatan aku untuk memperbaiki semuanya,’’ jawab Bella yang terus memohon
kepada suaminya itu.
“Kamu mau
memperbaiki apanya? Aku sudah muak dengan tingkahmu, dan mulai saat ini aku
talak kamu,’’ kata Erland sebisa mungkin menahan emosinya.
Bella terkejut
mendengar perkataan dari Erland. Dia merutuki kebodohannya karena tidak
berhati-hati waktu itu sampai Erland mengetahui perselingkuhannya dengan lawan
mainnya.
“Honey, pasti
kamu sedang bercanda kan? Aku mohon kasih kesempatan sekali lagi, aku janji
tidak akan mengkhianati kamu, Erland,’’ kata Bella.
“Bella,
sebenarnya apa kurangnya aku. Setiap kamu minta apapun aku selalu menurutinya,
bahkan kamu nggak mau hamil pun aku nggak pernah mempermasalahkan itu,’’ kata
Erland. “Tapi kenapa kau malah mengkhianati aku, Bella?” sambung Erland yang
sudah tidak bisa menahan emosinya.
“Erland, aku
mohon kasih kesempatan untukku,’’ Bella pun memohon-mohon kepada Erland agar
tidak menceraikan dirinya.
“Keputusanku
sudah bulat, sekarang menyingkirlah dari hadapanku,’’ kata Erland.
“Nggak mau, aku
akan tetap disini sampai kamu mau memberikan kesempatan untukku,’’ kata Bella
dengan tegas.
Erland menatap
Sekretaris Deni, dengan cepat Sekretaris Deni mengangguk seakan paham apa yang
ada dalam pikiran Tuan mudanya. Erland pun langsung kembali ke kamar akan
tetapi, Bella terus merengek kepada Erland untuk tidak menceraikannya.
Terlihat anak
buah Erland pun masuk ke dalam apartemen dan langsung menyeret Bella agar
keluar dari apartemen.
“Deni, pastikan
wanita gila itu tidak masuk ke dalam lagi,’’ kata Erland.
“Siap, Tuan
muda,’’ ucap Sekretaris Deni.
Erland menghela
nafasnya dengan panjang. Memang ini sangat berat, akan tetapi dia paling tidak
suka jika dikhianati. Erland pun masuk ke kamar dan melihat Vivian sedang makan
sambil nonton televisi.
“Gimana
masakannya, enak?” tanya Erland kemudian duduk disamping Vivian.
“Enak, tapi
makanannya kurang pedas,’’ jawab Vivian dengan mulutnya yang penuh makanan.
“Nggak boleh
makan pedas banyak-banyak sayang, habis ini siap-siap ya. Aku mau ajak kamu
__ADS_1
jalan-jalan,’’ ucap Erland lalu Vivian pun mengangguk.