
“Saya mau bertemu dengan suami saya,
kenapa kalian melarang saya?” tanya seorang wanita yang tak lain adalah Bella.
“Maaf, Nyonya. Tapi saya hanya
melaksanakan perintah saja, jadi saya mohon jangan mempersulit,’’ jawab Satpam.
“Cih, saya akan memecat kalian
karena sudah melarang saya masuk,’’ ketus Bella.
Kedua satpam itu hanya diam, mereka
juga tidak mau mengengkang perintah dari tuan mudanya. Karena jika itu terjadi
keluarganya akan kelaparan, dan mereka juga akan kehilangan pekerjaannya. Bella
yang geram pun mencoba menelepon Erland tapi tetap saja tidak diangkat, hal itu
membuat Bella semakin kesal.
“Sial, kenapa Erland tidak
mengangkat teleponku? Berani sekali dia …,’’ kata Bella.
Karena kesal akhirnya Bella pun
memutuskan untuk pergi saja, dan dia akan mencari cara untuk bisa bertemu
dengan suaminya. Sedangkan Erland, dia malah sibuk kerja tanpa memikirkan
telepon dari Bella.
“Deni, kau terus awasi Bella. Jangan
sampai dia datang ke apartemen,’’kata Erland.
“Tenang saja Tuan Muda, saya akan
mengatur semuanya,’’ kata Sekretaris Deni.
“Karena aku nggak mau wanita lair
itu mencelakai Vian,’’ kata Erland.
“Heleh, dulu aja bucinnya minta
ampun …,’’ ucap Sekretaris Deni pelan.
“Apa kau bilang?” tanya Erland
membuat Sekretaris Deni tergelak.
“Ti-tidak bilang apa-apa kok, Tuan …,’’
jawab Sekretaris Deni yang sudah gugup karena takut bonusnya melayang karena
salah ngomong.
“Bagus, jika kau salah ngomong maka
aku akan memotong bonusmu …,’’ kata Erland.
“Jangan Tuan … Kan saya tidak bilang
apa-apa,’’ kata Sekretaris Deni yang berdusta padahal tadi dia sudah mengejek
tuan mudanya itu.
Lalu Sekretaris Deni pun langsung
pamit untuk kembali ke ruangannya karena ada pekerjaan yang harus di
selesaikan.
**
Di apartemen Vivian sedang siap-siap
untuk pergi karena Fika sudah menunggu di bawah. Dia akan mencari alasan agar
para bodyguard itu bisa dikelabui. Ketika sudah selesai, Vivian langsung keluar
dan benar saja sudah ada empat bodyguard yang berjaga di depan pintu.
“Aku ingin ke nongkrong di kafe
bawah, kalian bertiga jaga saja. Biar Om plontos ini yang ikut aku,’’ kata
Vivian.
“Baik, Nona Muda …,’’ ucap ketiga
Bodyguard itu tanpa merasa curiga sama sekali.
‘Kena kalian, ternyata mengibuli mereka gampang juga,’
batin Vivian tersenyum dalam hati.
Vivian pun langsung bergegas jalan
menuju lift. Selama di lift Vivian terus mengirim pesan kepada Fika agar
siap-siap karena dia sudah mau sampai di bawah. Ketika lift terbuka dan saat
ingin keluar tak sengaja Vivian menabrak seorang wanita.
“Maaf-maaf, Kak …,’’ kata Vivian.
“Kau buta ya? Jalan lebar gini masih
__ADS_1
saja nyenggol-nyenggol. Atau kau memang sengaja mau bikin saya terjatuh?” ketus
seorang wanita yang tak lain adalah Bella.
“Mana ada begitu. Eh, Kak, aku kan
sudah minta maaf. Kenapa Kakak baper sekali?” jawab Vivian tidak mau kalah
dengan Bella.
“Gadis ingusan, kau bilang apa tadi?
Saya baperan? Kau nggak tahu saya siapa?” tanya Bella dengan nada sinis.
“Nggak tahu dan nggak mau tahu.
Sudahlah, aku sibuk … Lagian aku terlalu malas untuk ribut dengan wanita
keriput seperti Kakak ini,’’ jawab Vivian begitu santainya kemudian pergi
meninggalkan Bella yang sedang kesal dibuatnya.
“What keriput? Gadis sialan … Enak
sekali kau bilang saya keriput!” teriak Bella namun tidak digubris sama Vivian.
Vivian pun sudah sampai di kafe dan
dia melihat sahabatnya sudah berada disitu. Dan Vivian pura-pura duduk sambil
membuka buku menu yang ada di meja.
“Om Pelontos, tolong pesankan
makanan dan minuman ini dong. Aku malas mengantri,’’ kata Vivian kemudian
menunjukkan makanan yang ia mau.
“Tapi Nona muda-”
“Apa Om tidak kasihan sama aku?
Lihat kaki ku yang sakit ini …,’’ kata Vivian memotong perkataan dari Vivian.
Pria pelontos itu pun merasa tidak
tega ketika melihat kaki nona mudanya yang memang sedang sakit itu. Akhirnya,
mau tidak mau dia pun memesankan makanan untuk Vivian. Dan pria pelontos itu
sedang mengantri Vivian mengode Fika untuk membantu dirinya untuk berjalan,
karena kalau Vivian berjalan sediri pasti akan lama sampai depan parkiran.
“Buruan Fik …,’’ kata Vivian.
“Iya, pegangan lo … Nanti kejedak
“Beres,’’ ucap Vivian.
Fika bergegas melajukan motor
kesayangannya itu dengan kecepatan tinggi. Sedangkan pria pelontos itu terkejut
ketika mendapati nona mudanya sudah tidak ada di tempat duduknya.
“Astaga,aku tertipu …,’’ gerutu Pria
Pelontos itu dan segera menghubungi teman-temannya untuk memberitahu kalau nona
mudanya kabur.
Sedangkan disisi lain, Vivian dan
Fika bernafas lega karena mereka tidak dikejar sama para pria pelontos itu.
“Ini kita mau kemana?” tanya Fika.
“Ya pulang ke rumahlah. Emang elo
mau tidur di jalanan?” jawab Vivian terkekeh.
“Ck, elo itu memang lemot kali.
Kalau kita pulang, gue takut itu Tuan Erland datang ke rumah …,’’ ucap Fika.
“Benar juga, tapi nggak mungkin sih.
Kan dia nggak tahu rumah gue, sudah kita keliling saja dulu baru nanti malam
kita pulang,’’ kata Vivian.
“Oke deh, gue juga gabut mau ngapain
dirumah,’’ ucap Fika.
Vivian mengajak Fika ke makam kedua
orang tuanya terlebih dahulu. Dan setelah itu baru mereka akan pergi ke danau
favorit Vivian serta Fika ketika sedang capek dengan kehidupan mereka.
**
Disisi lain, Sekretaris Deni pun
terkejut ketika mendengar jika nona mudanya kabur serta Bella juga datang ke apartemen
milik Erland. Dengan cepat Sekretaris Deni pun langsung ke ruangan Tuan mudanya
untuk memberitahu tentang hal ini.
__ADS_1
“Tuan muda …,’’ ucap Sekretaris Deni
ketika sudah sampai di ruangan Erland.
“Kenapa? Jangan bilang Bella datang kesini
lagi,’’ kata Erland yang masih fokus dengan laptopnya.
“Anu Tuan …,’’ kata Sekretaris Deni.
“Anu-anu apa? Apa anu mu mau di
potong?” tanya Erland yang kesal dengan tangan kanannya itu.
Sekretaris Deni pun langsung menutup
benda pamungkasnya itu. “Itu Tuan. Nona Vian kabur …,’’ jawab Sekretaris Deni
membuat Erland menghentikan ketikannya.
“Kau bilang apa, Deni?” tanya Erland
lagi.
“Nona Vian kabur, Tuan muda,” jawab
Sekretaris Deni.
Erland yang mengetahui itu langsung
marah besar. Padahal dia sudah menyuruh keempat bodyguardnya untuk menjaga
Vivian agar tidak bisa kabur.
“Suruh mereka cari Vivian sampai
ketemu. Jika tidak? Maka mereka harus menanggung akibatnya karena lalai menjaga
wanitaku,’’ ucap Erland penuh penekanan dengan sorot matanya yang begitu
menakutkan.
“Siap, Tuan muda …,’’ kata
Sekretaris Deni dan bergegas menghubungi anak buahnya untuk mencari keberadaan
Vivian.
‘Vian, beraninya kau kabur. Lihat saja, aku akan
mencarimu dan setelah itu maka kau tidak akan bisa lepas lagi dari jeratank,’
batin Erland dalam hati.
**
Malam pun tiba, Vivian dan Fika pun
sudah sampai rumah. Vivian sangat kelelahan dan dia memutuskan untuk mandi lalu
beristirahat. Memang di rumah itu ada tiga kamar, dan Vivian tidur sendiri
karena dia tidak mau mengganggu privasi Fika.
“Fika, gue nanti mau langsung molor,’’
kata Vivian.
“Iya, gue belum mengantuk. Mau
nonton tv dulu,’’ jawab Fika.
“Terserah elo saja,’’ kata Vivian
lalu masuk kedalam kamarnya.
Ketika pukul 21.00 Fika mendengar
ada yang mengetuk pintu. Dan tanpa merasa curiga Fika pun bangun dari duduknya
lalu berjalan kearah pintu untuk lalu membukanya. Betapa terkejutnya Fika
ketika tahu siapa yang malam-malam datang ke rumah.
“Dimana Vian?” tanya seseorang yang
tak lain adalah Erland.
“Dia tidak ada disini, lebih baik
kalian pergi saja,’’ jawab Fika.
Erland pun menatap anak buahnya
untuk memegangi tangan Fika, lalu Erland sendiri yang masuk mencari ke
kamar-kamar itu. Kamar pertama Erland tidak menemukan Vivian begitu juga dengan
kamar kedua, dan saat dia masuk ke kamar ketika Erland melihat seorang gadis
yang sedang terlelap tidur.
“Ternyata kau disini kelinci
kecilku,’’ kata Erland tersenyum menyeringai.
Dengan cepat Erland pun menggendong
Vivian dan keluar dari kamar. Fika yang melihat sahabatnya dibawa sama Erland
pun langsung menghalangi langkah Erland tapi sayang, anak buah Erland lebih
__ADS_1
dulu menghalangi Fika.