Pelita Di Ujung Asa

Pelita Di Ujung Asa
Part 11. Tertangkap Lagi


__ADS_3

“Saya mau bertemu dengan suami saya,


kenapa kalian melarang saya?” tanya seorang wanita yang tak lain adalah Bella.


“Maaf, Nyonya. Tapi saya hanya


melaksanakan perintah saja, jadi saya mohon jangan mempersulit,’’ jawab Satpam.


“Cih, saya akan memecat kalian


karena sudah melarang saya masuk,’’ ketus Bella.


Kedua satpam itu hanya diam, mereka


juga tidak mau mengengkang perintah dari tuan mudanya. Karena jika itu terjadi


keluarganya akan kelaparan, dan mereka juga akan kehilangan pekerjaannya. Bella


yang geram pun mencoba menelepon Erland tapi tetap saja tidak diangkat, hal itu


membuat Bella semakin kesal.


“Sial, kenapa Erland tidak


mengangkat teleponku? Berani sekali dia …,’’ kata Bella.


Karena kesal akhirnya Bella pun


memutuskan untuk pergi saja, dan dia akan mencari cara untuk bisa bertemu


dengan suaminya. Sedangkan Erland, dia malah sibuk kerja tanpa memikirkan


telepon dari Bella.


“Deni, kau terus awasi Bella. Jangan


sampai dia datang ke apartemen,’’kata Erland.


“Tenang saja Tuan Muda, saya akan


mengatur semuanya,’’ kata Sekretaris Deni.


“Karena aku nggak mau wanita lair


itu mencelakai Vian,’’ kata Erland.


“Heleh, dulu aja bucinnya minta


ampun …,’’ ucap Sekretaris Deni pelan.


“Apa kau bilang?” tanya Erland


membuat Sekretaris Deni tergelak.


“Ti-tidak bilang apa-apa kok, Tuan …,’’


jawab Sekretaris Deni yang sudah gugup karena takut bonusnya melayang karena


salah ngomong.


“Bagus, jika kau salah ngomong maka


aku akan memotong bonusmu …,’’ kata Erland.


“Jangan Tuan … Kan saya tidak bilang


apa-apa,’’ kata Sekretaris Deni yang berdusta padahal tadi dia sudah mengejek


tuan mudanya itu.


Lalu Sekretaris Deni pun langsung


pamit untuk kembali ke ruangannya karena ada pekerjaan yang harus di


selesaikan.


**


Di apartemen Vivian sedang siap-siap


untuk pergi karena Fika sudah menunggu di bawah. Dia akan mencari alasan agar


para bodyguard itu bisa dikelabui. Ketika sudah selesai, Vivian langsung keluar


dan benar saja sudah ada empat bodyguard yang berjaga di depan pintu.


“Aku ingin ke nongkrong di kafe


bawah, kalian bertiga jaga saja. Biar Om plontos ini yang ikut aku,’’ kata


Vivian.


“Baik, Nona Muda …,’’ ucap ketiga


Bodyguard itu tanpa merasa curiga sama sekali.


‘Kena kalian, ternyata mengibuli mereka gampang juga,’


batin Vivian tersenyum dalam hati.


Vivian pun langsung bergegas jalan


menuju lift. Selama di lift Vivian terus mengirim pesan kepada Fika agar


siap-siap karena dia sudah mau sampai di bawah. Ketika lift terbuka dan saat


ingin keluar tak sengaja Vivian menabrak seorang wanita.


“Maaf-maaf, Kak …,’’ kata Vivian.


“Kau buta ya? Jalan lebar gini masih

__ADS_1


saja nyenggol-nyenggol. Atau kau memang sengaja mau bikin saya terjatuh?” ketus


seorang wanita yang tak lain adalah Bella.


“Mana ada begitu. Eh, Kak, aku kan


sudah minta maaf. Kenapa Kakak baper sekali?” jawab Vivian tidak mau kalah


dengan Bella.


“Gadis ingusan, kau bilang apa tadi?


Saya baperan? Kau nggak tahu saya siapa?” tanya Bella dengan nada sinis.


“Nggak tahu dan nggak mau tahu.


Sudahlah, aku sibuk … Lagian aku terlalu malas untuk ribut dengan wanita


keriput seperti Kakak ini,’’ jawab Vivian begitu santainya kemudian pergi


meninggalkan Bella yang sedang kesal dibuatnya.


“What keriput? Gadis sialan … Enak


sekali kau bilang saya keriput!” teriak Bella namun tidak digubris sama Vivian.


Vivian pun sudah sampai di kafe dan


dia melihat sahabatnya sudah berada disitu. Dan Vivian pura-pura duduk sambil


membuka buku menu yang ada di meja.


“Om Pelontos, tolong pesankan


makanan dan minuman ini dong. Aku malas mengantri,’’ kata Vivian kemudian


menunjukkan makanan yang ia mau.


“Tapi Nona muda-”


“Apa Om tidak kasihan sama aku?


Lihat kaki ku yang sakit ini …,’’ kata Vivian memotong perkataan dari Vivian.


Pria pelontos itu pun merasa tidak


tega ketika melihat kaki nona mudanya yang memang sedang sakit itu. Akhirnya,


mau tidak mau dia pun memesankan makanan untuk Vivian. Dan pria pelontos itu


sedang mengantri Vivian mengode Fika untuk membantu dirinya untuk berjalan,


karena kalau Vivian berjalan sediri pasti akan lama sampai depan parkiran.


“Buruan Fik …,’’ kata Vivian.


“Iya, pegangan lo … Nanti kejedak


“Beres,’’ ucap Vivian.


Fika bergegas melajukan motor


kesayangannya itu dengan kecepatan tinggi. Sedangkan pria pelontos itu terkejut


ketika mendapati nona mudanya sudah tidak ada di tempat duduknya.


“Astaga,aku tertipu …,’’ gerutu Pria


Pelontos itu dan segera menghubungi teman-temannya untuk memberitahu kalau nona


mudanya kabur.


Sedangkan disisi lain, Vivian dan


Fika bernafas lega karena mereka tidak dikejar sama para pria pelontos itu.


“Ini kita mau kemana?” tanya Fika.


“Ya pulang ke rumahlah. Emang elo


mau tidur di jalanan?” jawab Vivian terkekeh.


“Ck, elo itu memang lemot kali.


Kalau kita pulang, gue takut itu Tuan Erland datang ke rumah …,’’ ucap Fika.


“Benar juga, tapi nggak mungkin sih.


Kan dia nggak tahu rumah gue, sudah kita keliling saja dulu baru nanti malam


kita pulang,’’ kata Vivian.


“Oke deh, gue juga gabut mau ngapain


dirumah,’’ ucap Fika.


Vivian mengajak Fika ke makam kedua


orang tuanya terlebih dahulu. Dan setelah itu baru mereka akan pergi ke danau


favorit Vivian serta Fika ketika sedang capek dengan kehidupan mereka.


**


Disisi lain, Sekretaris Deni pun


terkejut ketika mendengar jika nona mudanya kabur serta Bella juga datang ke apartemen


milik Erland. Dengan cepat Sekretaris Deni pun langsung ke ruangan Tuan mudanya


untuk memberitahu tentang hal ini.

__ADS_1


“Tuan muda …,’’ ucap Sekretaris Deni


ketika sudah sampai di ruangan Erland.


“Kenapa? Jangan bilang Bella datang kesini


lagi,’’ kata Erland yang masih fokus dengan laptopnya.


“Anu Tuan …,’’ kata Sekretaris Deni.


“Anu-anu apa? Apa anu mu mau di


potong?” tanya Erland yang kesal dengan tangan kanannya itu.


Sekretaris Deni pun langsung menutup


benda pamungkasnya itu. “Itu Tuan. Nona Vian kabur …,’’ jawab Sekretaris Deni


membuat Erland menghentikan ketikannya.


“Kau bilang apa, Deni?” tanya Erland


lagi.


“Nona Vian kabur, Tuan muda,” jawab


Sekretaris Deni.


Erland yang mengetahui itu langsung


marah besar. Padahal dia sudah menyuruh keempat bodyguardnya untuk menjaga


Vivian agar tidak bisa kabur.


“Suruh mereka cari Vivian sampai


ketemu. Jika tidak? Maka mereka harus menanggung akibatnya karena lalai menjaga


wanitaku,’’ ucap Erland penuh penekanan dengan sorot matanya yang begitu


menakutkan.


“Siap, Tuan muda …,’’ kata


Sekretaris Deni dan bergegas menghubungi anak buahnya untuk mencari keberadaan


Vivian.


‘Vian, beraninya kau kabur. Lihat saja, aku akan


mencarimu dan setelah itu maka kau tidak akan bisa lepas lagi dari jeratank,’


batin Erland dalam hati.


**


Malam pun tiba, Vivian dan Fika pun


sudah sampai rumah. Vivian sangat kelelahan dan dia memutuskan untuk mandi lalu


beristirahat. Memang di rumah itu ada tiga kamar, dan Vivian tidur sendiri


karena dia tidak mau mengganggu privasi Fika.


“Fika, gue nanti mau langsung molor,’’


kata Vivian.


“Iya, gue belum mengantuk. Mau


nonton tv dulu,’’ jawab Fika.


“Terserah elo saja,’’ kata Vivian


lalu masuk kedalam kamarnya.


Ketika pukul 21.00 Fika mendengar


ada yang mengetuk pintu. Dan tanpa merasa curiga Fika pun bangun dari duduknya


lalu berjalan kearah pintu untuk lalu membukanya. Betapa terkejutnya Fika


ketika tahu siapa yang malam-malam datang ke rumah.


“Dimana Vian?” tanya seseorang yang


tak lain adalah Erland.


“Dia tidak ada disini, lebih baik


kalian pergi saja,’’ jawab Fika.


Erland pun menatap anak buahnya


untuk memegangi tangan Fika, lalu Erland sendiri yang masuk mencari ke


kamar-kamar itu. Kamar pertama Erland tidak menemukan Vivian begitu juga dengan


kamar kedua, dan saat dia masuk ke kamar ketika Erland melihat seorang gadis


yang sedang terlelap tidur.


“Ternyata kau disini kelinci


kecilku,’’ kata Erland tersenyum menyeringai.


Dengan cepat Erland pun menggendong


Vivian dan keluar dari kamar. Fika yang melihat sahabatnya dibawa sama Erland


pun langsung menghalangi langkah Erland tapi sayang, anak buah Erland lebih

__ADS_1


dulu menghalangi Fika.


__ADS_2