Pelita Di Ujung Asa

Pelita Di Ujung Asa
Part 5. Vivian Hilang Ingatan


__ADS_3

“Gimana keadaan gadis


itu, Dokter?” tanya Erland kepada Dokter yang menangani Vivian dan Fika.


“Begini Tuan muda,


gadis yang berambut pendek tidak apa-apa hanya luka ringan saja dan yang


satunya harus mengalami patah tulang di bagian kaki dan tangan,’’ jawab Dokter


Wira.


“Kau berikan perawatan


yang terbaik saja, untuk biaya nanti Deni yang akan mengurusnya …,’’ kata


Erland dengan wajahnya yang datar.


“Baik, Tuan muda,’’


kata Dokter Wira.


Erland pun memutuskan


untuk pergi dari rumah sakit karena memang dia tidak ada urusan lagi.


Sekretaris Deni lah yang akan mengurus keperluan Vivian dan Fika, sebab Erland


sudah janji sama sang istri untuk menjemput Bella di lokasi syuting.


“Ck, kenapa aku yang


harus yang jadi korbannya? Padahal aku sudah menghayal ingin mandi air hangat


dan minum secangkir susu hangat,’’ gerutu Sekretaris Deni.


**


Pagi harinya, Vivian


pun mengerjapkan matanya dan dia melihat sekelilingnya terlihat Fika serta


Sekretaris Deni sedang duduk di sampingnya. Vivian menangis kencang karena


ternyata dia masih berada di dunia, Sekretaris Deni dan Fika pun terkejut


melihat  Vivian yang menangis


tersedu-sedu.


“Vivian … Kamu


kenapa?” tanya Fika yang panik takut Vivian kenapa-napa.


“Kok aku masih di


dunia sih. Kenapa aku nggak meninggal saja?” Vivian masih menangis sesegukan


karena dia belum bisa bertemu dengan kedua orangnya.


Plak!


Fika pun menabok


kening Vivian dengan keras agar sahabatnya ini sadar dan tidak nangis lagi.


Sekretaris Deni yang melihat hal itu pun terbelalak karena dia baru saja


melihat wanita seganas Fika.


‘Astaga,kasar sekali gadis ini. Main tabok saja, mudah-mudahan nanti


istriku gak kayak gitu modelannya,’ batin Sekretaris Deni dalam hati.


Vivian yang


mendapatkan tabokan dari sahabatnya pun langsung diam dan mengaduh kesakitan


karena memang Fika menggunakan tenaga yang sangat kuat seperti samsonwati.


“Nah, gimana? Sudah


sadar lo?” tanya Fika tanpa merasa berdosa.


“Gila, tabokan elo


keras juga pasti merah nih jidat gue …,’’ jawab Vivian sambil mengusap-usap


keningnya.


“Biarin aja, lagian


elo nangis histeris. Ditanya bukannya jawab malah tambah kencang nangisnya,’’


ucap Fika terkekeh. “Elo kenapa, Vian? Apa masih ada yang sakit?” sambung Fika.


Vivian terdiam. “Gue


mau nyusul Mama dan Papa, Fik. Gue capek kalau harus begini terus,’’ jawab


Vivian yang nampak murung.


“Elo ngomong apaan


sih? Kan ada gue, kalau soal Paman Khoi nanti kita pikirkan cara untuk


menghajar dia,” jawab Fika sambil mengusap pundak sahabatnya itu.


Sekretaris Deni yang

__ADS_1


tidak paham dengan apa yang dibicarakan Vivian dan Fika hanya diam. Dan dia pun


kembali duduk di sofa karena Sekretaris Deni tidak mau mengganggu para gadis


itu mengobrol.


“Dia siapa?” tanya


Vivian yang baru sadar kalau ada orang lain di ruangan itu.


“Dia itu Sekretarisnya


Tuan Erland, namanya aku lupa. Sudah abaikan manusia kaku itu,” jawab Fika yang


nampak kesal sama Sekretaris Deni.


“Tangan sama kakiku


ngapain di bungkus gini kayak lontong? Siapa yang berani melakukan ini?” tanya


Vivian yang kembali menangis membuat Fika kelabakan.


“Ck, diamlah. Suara cemprengmu


bikin telingaku sakit saja,’’ Fika pun langsung membekap mulut Vivian agar dia


bisa berhenti menangis.


Pasalnya dari kecil


Vivian tidak suka dengan namanya di perban ataupun disuntik. Kalau sakit


ataupun luka kedua orang tua Vivian harus ekstra sabar menenangkan Vivian agar


mau diobati. Sedangkan Sekretaris Deni, dia hanya menggeleng kepalanya melihat


tingkah aneh kedua gadis yang ada di depannya ini.


Vivian pun sudah


terdiam, dan ketika sudah hening terdengar suara seseorang yang membuka pintu


sontak membuat ketiga orang yang ada diruangan itu pun langsung menoleh kearah


pintu. Dan terlihat seorang pria tampan yang memasuki ruangan itu, siapa lagi


kalau bukan Erland.


‘Itu kan pria songong yang kemarin. Ternyata dia memang beneran kaya,


apa aku manfaatin aja ya? Siapa tahu dia mau membantuku untuk melawan Paman


Khoi,’ gumam Vivian dalam hati.


“Selamat pagi, Tuan


Muda …,’’ sapa Sekretaris Deni yang menunduk hormat kepada Erland.


mengangguk dan dia melihat wanita yang tadi malam menabrak mobilnya sudah


siuman semua. Vivian pun memutar otaknya untuk bisa masuk ke kehidupannya


Erland dan dia pun sudah menemukan caranya.


“Sayang, kamu sudah


datang?” tanya Vivian yang membuat semua orang yang ada disitu terbelalak.


“Dasarbodoh … Ngapain


lo panggil Tuan Erland sayang? Sok kenal kali lo …,’’ bisik Fika namun tidak


dihiraukan sama Vivian.


“Sayang, kok kamu diam


saja sih. Lihat tangan dan kakiku dibungkus macam lontong,’’ adu Vivian dengan


begitu manjanya.


“Deni, apa yang


terjadi dengan gadis itu?” tanya Erland dengan raut wajah datarnya.


“Mungkin otak Nona itu


sudah ilang, Tuan. Sebentar saya panggilkan Dokter dulu,” jawab Sekretaris Deni


yang diangguki sama Erland.


“Sayang, sini. Kamu


nggak kangen sama aku?” Vivian pun merengek-rengek agar Erland menghampirinya.


“Vian, kamu kenapa?


Apa kepalamu terbentur tadi malam?” tanya Fika yang khawatir dengan tingkah


Vivian yang sangat aneh.


Erland hanya diam


mematung sampai Dokter masuk ke dalam ruangan Vivian dan Fika. Erland yang tahu


Dokter sudah datang pun dia keluar karena penasaran dengan kondisi gadis yang


selama dia tabrak itu.


“Deni, sebenarnya apa

__ADS_1


yang terjadi sama gadis itu?” tanya Erland.


“Saya juga tidak tahu,


Tuan. Memang, dari pagi Nona Vian sudah menangis histeris,’’ jawab  Sekretaris Deni.


‘Oh, jadi namanya Vian. Kayak nama laki-laki saya, atau memang dia ini


waria?’ batin Erland dalam hati.


“Tapi, beneran Tuan


tidak kenal sama Nona Vian?” tanya Sekretaris Deni.


“Tidak!” tegas Erland.


Ketika Sekretaris Deni


ingin bertanya lagi, tiba-tiba Dokter pun keluar dengan cepat Erland pun


langsung menghampiri Dokter tersebut.


“Bagaimana keadaan


gadis itu?” tanya Erland.


“Nona Vian mengalami


gagar otak ringan, dan dari tadi Nona Vian menyebutkan kalau Anda ini


kekasihnya …,’’ jawab Dokter. “Saya harap Anda bisa membantu Nona Vian agar


cepat pulih, karena hanya dukungan orang tersayanglah yang mampu menyembuhkan


ingatan Nona Vian,’’ sambung Dokter.


“Tapi saya-‘’ kata


Erland terhenti.


“Tentu saja, Tuan muda


Erland akan menyembuhkan Nona Vian. Kan Tuan Erland sangat menyayangi Nona


Vian, iyakan Tuan?” sela Sekretaris Deni memotong pembicaraan Erland.


Erland hanya


mengangguk karena bingung dan kesal dengan sekretaris Deni yang mengatakan hal


itu kepada sang Dokter. Setelah Dokter pergi, Erland langsung menatap tajam


kearah Sekretarisnya yang tidak punya akhlak itu. Sedangkan Sekretaris Deni,


dia hanya nyengir kuda sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.


“Jangan menatapku


seperti itu, Tuan muda. Ini malah sangat menguntungkan untuk Anda,’’ kata


Sekretaris Deni.


Erland pun mengerutkan


keningnya. “Maksudmu apa?” tanya Erland.


“Begini Tuan, Anda kan


sedang mencari wanita untuk menanam benih cebong milik Anda? Nah, saya


menyarankan kalau wanita itu Nona Vian saja,” jawab Sekretaris Deni.


“What! Apa aku nggak


salah dengar?” Erland terkejut mendengar perkataan dari sekretarisnya itu.


“Tidak dong, Tuan.


Nona Vian itu gadis yang baik, saya rasa Tuan sangat cocok kalau menjadikan


Nona Vian istri kedua,’’ ucap Sekretaris Deni dengan begitu santainya.


“Baik apanya? Dia itu


gadis bar-bar dan aneh, bisa-bisa aku stress menghadapi tingkahnya yang sangat


luar biasa itu,’’ kata Erland.


“Memangnya, Tuan sudah


pernah bertemu dengan Nona Vian?” tanya Sekretaris Deni.


“Sudah, dan sejak saat


itu aku berdoa agar tidak bertemu dengan wanita aneh seperti dia …,’’ jawab


Erland.


Sekretaris Deni pun


tersenyum menyeringai, dia semakin yakin untuk menjodohkan Tuan mudanya dengan


Vivian. Karena Sekretaris Deni tahu kalau Vivian pasti akan mau menikah dengan


Tuan mudanya.


‘Aku akan mencari latar belakang Nona Vian, dan aku juga akan terus


membujuk Tuan Erland untuk menikahi Nona Vian,’ gumam Sekretaris Deni dalam

__ADS_1


hati.


__ADS_2