
“Gimana keadaan gadis
itu, Dokter?” tanya Erland kepada Dokter yang menangani Vivian dan Fika.
“Begini Tuan muda,
gadis yang berambut pendek tidak apa-apa hanya luka ringan saja dan yang
satunya harus mengalami patah tulang di bagian kaki dan tangan,’’ jawab Dokter
Wira.
“Kau berikan perawatan
yang terbaik saja, untuk biaya nanti Deni yang akan mengurusnya …,’’ kata
Erland dengan wajahnya yang datar.
“Baik, Tuan muda,’’
kata Dokter Wira.
Erland pun memutuskan
untuk pergi dari rumah sakit karena memang dia tidak ada urusan lagi.
Sekretaris Deni lah yang akan mengurus keperluan Vivian dan Fika, sebab Erland
sudah janji sama sang istri untuk menjemput Bella di lokasi syuting.
“Ck, kenapa aku yang
harus yang jadi korbannya? Padahal aku sudah menghayal ingin mandi air hangat
dan minum secangkir susu hangat,’’ gerutu Sekretaris Deni.
**
Pagi harinya, Vivian
pun mengerjapkan matanya dan dia melihat sekelilingnya terlihat Fika serta
Sekretaris Deni sedang duduk di sampingnya. Vivian menangis kencang karena
ternyata dia masih berada di dunia, Sekretaris Deni dan Fika pun terkejut
melihat Vivian yang menangis
tersedu-sedu.
“Vivian … Kamu
kenapa?” tanya Fika yang panik takut Vivian kenapa-napa.
“Kok aku masih di
dunia sih. Kenapa aku nggak meninggal saja?” Vivian masih menangis sesegukan
karena dia belum bisa bertemu dengan kedua orangnya.
Plak!
Fika pun menabok
kening Vivian dengan keras agar sahabatnya ini sadar dan tidak nangis lagi.
Sekretaris Deni yang melihat hal itu pun terbelalak karena dia baru saja
melihat wanita seganas Fika.
‘Astaga,kasar sekali gadis ini. Main tabok saja, mudah-mudahan nanti
istriku gak kayak gitu modelannya,’ batin Sekretaris Deni dalam hati.
Vivian yang
mendapatkan tabokan dari sahabatnya pun langsung diam dan mengaduh kesakitan
karena memang Fika menggunakan tenaga yang sangat kuat seperti samsonwati.
“Nah, gimana? Sudah
sadar lo?” tanya Fika tanpa merasa berdosa.
“Gila, tabokan elo
keras juga pasti merah nih jidat gue …,’’ jawab Vivian sambil mengusap-usap
keningnya.
“Biarin aja, lagian
elo nangis histeris. Ditanya bukannya jawab malah tambah kencang nangisnya,’’
ucap Fika terkekeh. “Elo kenapa, Vian? Apa masih ada yang sakit?” sambung Fika.
Vivian terdiam. “Gue
mau nyusul Mama dan Papa, Fik. Gue capek kalau harus begini terus,’’ jawab
Vivian yang nampak murung.
“Elo ngomong apaan
sih? Kan ada gue, kalau soal Paman Khoi nanti kita pikirkan cara untuk
menghajar dia,” jawab Fika sambil mengusap pundak sahabatnya itu.
Sekretaris Deni yang
__ADS_1
tidak paham dengan apa yang dibicarakan Vivian dan Fika hanya diam. Dan dia pun
kembali duduk di sofa karena Sekretaris Deni tidak mau mengganggu para gadis
itu mengobrol.
“Dia siapa?” tanya
Vivian yang baru sadar kalau ada orang lain di ruangan itu.
“Dia itu Sekretarisnya
Tuan Erland, namanya aku lupa. Sudah abaikan manusia kaku itu,” jawab Fika yang
nampak kesal sama Sekretaris Deni.
“Tangan sama kakiku
ngapain di bungkus gini kayak lontong? Siapa yang berani melakukan ini?” tanya
Vivian yang kembali menangis membuat Fika kelabakan.
“Ck, diamlah. Suara cemprengmu
bikin telingaku sakit saja,’’ Fika pun langsung membekap mulut Vivian agar dia
bisa berhenti menangis.
Pasalnya dari kecil
Vivian tidak suka dengan namanya di perban ataupun disuntik. Kalau sakit
ataupun luka kedua orang tua Vivian harus ekstra sabar menenangkan Vivian agar
mau diobati. Sedangkan Sekretaris Deni, dia hanya menggeleng kepalanya melihat
tingkah aneh kedua gadis yang ada di depannya ini.
Vivian pun sudah
terdiam, dan ketika sudah hening terdengar suara seseorang yang membuka pintu
sontak membuat ketiga orang yang ada diruangan itu pun langsung menoleh kearah
pintu. Dan terlihat seorang pria tampan yang memasuki ruangan itu, siapa lagi
kalau bukan Erland.
‘Itu kan pria songong yang kemarin. Ternyata dia memang beneran kaya,
apa aku manfaatin aja ya? Siapa tahu dia mau membantuku untuk melawan Paman
Khoi,’ gumam Vivian dalam hati.
“Selamat pagi, Tuan
Muda …,’’ sapa Sekretaris Deni yang menunduk hormat kepada Erland.
mengangguk dan dia melihat wanita yang tadi malam menabrak mobilnya sudah
siuman semua. Vivian pun memutar otaknya untuk bisa masuk ke kehidupannya
Erland dan dia pun sudah menemukan caranya.
“Sayang, kamu sudah
datang?” tanya Vivian yang membuat semua orang yang ada disitu terbelalak.
“Dasarbodoh … Ngapain
lo panggil Tuan Erland sayang? Sok kenal kali lo …,’’ bisik Fika namun tidak
dihiraukan sama Vivian.
“Sayang, kok kamu diam
saja sih. Lihat tangan dan kakiku dibungkus macam lontong,’’ adu Vivian dengan
begitu manjanya.
“Deni, apa yang
terjadi dengan gadis itu?” tanya Erland dengan raut wajah datarnya.
“Mungkin otak Nona itu
sudah ilang, Tuan. Sebentar saya panggilkan Dokter dulu,” jawab Sekretaris Deni
yang diangguki sama Erland.
“Sayang, sini. Kamu
nggak kangen sama aku?” Vivian pun merengek-rengek agar Erland menghampirinya.
“Vian, kamu kenapa?
Apa kepalamu terbentur tadi malam?” tanya Fika yang khawatir dengan tingkah
Vivian yang sangat aneh.
Erland hanya diam
mematung sampai Dokter masuk ke dalam ruangan Vivian dan Fika. Erland yang tahu
Dokter sudah datang pun dia keluar karena penasaran dengan kondisi gadis yang
selama dia tabrak itu.
“Deni, sebenarnya apa
__ADS_1
yang terjadi sama gadis itu?” tanya Erland.
“Saya juga tidak tahu,
Tuan. Memang, dari pagi Nona Vian sudah menangis histeris,’’ jawab Sekretaris Deni.
‘Oh, jadi namanya Vian. Kayak nama laki-laki saya, atau memang dia ini
waria?’ batin Erland dalam hati.
“Tapi, beneran Tuan
tidak kenal sama Nona Vian?” tanya Sekretaris Deni.
“Tidak!” tegas Erland.
Ketika Sekretaris Deni
ingin bertanya lagi, tiba-tiba Dokter pun keluar dengan cepat Erland pun
langsung menghampiri Dokter tersebut.
“Bagaimana keadaan
gadis itu?” tanya Erland.
“Nona Vian mengalami
gagar otak ringan, dan dari tadi Nona Vian menyebutkan kalau Anda ini
kekasihnya …,’’ jawab Dokter. “Saya harap Anda bisa membantu Nona Vian agar
cepat pulih, karena hanya dukungan orang tersayanglah yang mampu menyembuhkan
ingatan Nona Vian,’’ sambung Dokter.
“Tapi saya-‘’ kata
Erland terhenti.
“Tentu saja, Tuan muda
Erland akan menyembuhkan Nona Vian. Kan Tuan Erland sangat menyayangi Nona
Vian, iyakan Tuan?” sela Sekretaris Deni memotong pembicaraan Erland.
Erland hanya
mengangguk karena bingung dan kesal dengan sekretaris Deni yang mengatakan hal
itu kepada sang Dokter. Setelah Dokter pergi, Erland langsung menatap tajam
kearah Sekretarisnya yang tidak punya akhlak itu. Sedangkan Sekretaris Deni,
dia hanya nyengir kuda sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
“Jangan menatapku
seperti itu, Tuan muda. Ini malah sangat menguntungkan untuk Anda,’’ kata
Sekretaris Deni.
Erland pun mengerutkan
keningnya. “Maksudmu apa?” tanya Erland.
“Begini Tuan, Anda kan
sedang mencari wanita untuk menanam benih cebong milik Anda? Nah, saya
menyarankan kalau wanita itu Nona Vian saja,” jawab Sekretaris Deni.
“What! Apa aku nggak
salah dengar?” Erland terkejut mendengar perkataan dari sekretarisnya itu.
“Tidak dong, Tuan.
Nona Vian itu gadis yang baik, saya rasa Tuan sangat cocok kalau menjadikan
Nona Vian istri kedua,’’ ucap Sekretaris Deni dengan begitu santainya.
“Baik apanya? Dia itu
gadis bar-bar dan aneh, bisa-bisa aku stress menghadapi tingkahnya yang sangat
luar biasa itu,’’ kata Erland.
“Memangnya, Tuan sudah
pernah bertemu dengan Nona Vian?” tanya Sekretaris Deni.
“Sudah, dan sejak saat
itu aku berdoa agar tidak bertemu dengan wanita aneh seperti dia …,’’ jawab
Erland.
Sekretaris Deni pun
tersenyum menyeringai, dia semakin yakin untuk menjodohkan Tuan mudanya dengan
Vivian. Karena Sekretaris Deni tahu kalau Vivian pasti akan mau menikah dengan
Tuan mudanya.
‘Aku akan mencari latar belakang Nona Vian, dan aku juga akan terus
membujuk Tuan Erland untuk menikahi Nona Vian,’ gumam Sekretaris Deni dalam
__ADS_1
hati.