
Beberapa hari kemudian, Vivian sudah bisa pulang
karena kondisinya semakin membaik. Erland sangat setia menunggu Vivian selama
di rumah sakit. Dan hari ini, Erland menyuruh sekretaris Deni untuk menyiapkan
apartemen agar Vivian bisa tinggal disitu.
“Sekretaris Deni, ngomong-ngomong Erland kemana?”
tanya Vivian.
“Tuan Erland, sedang ada pekerjaan yang tidak bisa
ditinggalkan …,’’ jawab Sekretaris Deni yang sengaja berbohong karena
sebenarnya Erland sedang jalan-jalan bersama dengan Bella.
“Oh begitu, dia sibuk banget ya. Tapi nggak apa-apa,
yang penting Erland masih mau menemani aku …,’’ kata Vivian.
Sekretaris Deni merasa tidak tega denga Vivian, bahkan
Sekretaris Deni pun sudah tahu latar belakang keluarga Vivian. Dan ketika
Vivian sedang duduk sambil menunggu suster datang karena kakinya masih sakit
dan butuh waktu untuk bisa jalan seperti semula, tiba-tiba ada seseorang yang
datang ke ruangan Vivian.
“Nyonya besar,’’ Sekretaris Deni yang terkejut melihat
Mama Lola datang.
“Jadi, ini calon menantuku? Cantik sekali,’’ kata Mama
Lola yang tidak menggubris ucapan Sekretaris Deni dan malah langsung
menghampiri Vivian yang sedang duduk di atas ranjang rumah sakit.
“Maaf, anda siapa?” tanya Vivian yang bingung.
“Kenalin saya Mama Lola, Mamanya Erland kekasih kamu ,
Nak …,’’ jawab Mama Lola yang tersenyum kepada Vivian seraya mengusap rambut
Vivian dengan lembut.
Vivian tergelak. ‘Astaga,
kenapa Mamanya Erland tahu aku? Apa dia cerita sama Mamanya?’ batin Vivian dalam
hati.
“Gimana keadaan kamu, Nak? Apa kakinya masih sakit?”
tanya Mama Lola lagi.
“Su-sudah mendingan sih Nyonya. Tapi kakinya yang
sedikit nyeri …,’’ jawab Vivian yang gugup dan takut dengan Mama Lola.
“Haish, jangan panggil Nyonya. Panggil saya, Mama,
seperti Erland memanggil saya dengan sebutan itu,’’ kata Mama Lola kepada
Vivian.
“I-iya Mama,’’ kata Vivian yang lidahnya masih keluh
karena belum terbiasa.
“Deni … Jangan pulang ke apartemen. Kita pulang ke
rumah saya,’’ kata Mama Lola.
“Tapi Nyonya-”
“Saya tidak suka dibantah, Deni. Kau ini sama saja
kayak Erland, sama-sama menyebalkan,’’ Mama Lola pun memotong perkataan
Sekretaris Deni.
Vivian terbelalak, mana mungkin dia harus satu rumah
dengan mama Lola. Sedangkan Vivian, dia hanya pura-pura hilang ingatan dan
hanya ingin membalas dendam ke pamannya. Sekretaris Deni pun mengangguk dan
dengan cepat mama Lola membantu Vivian untuk duduk di kursi roda lalu mendorong
Vivian keluar dari ruangannya.
__ADS_1
Sekretaris Deni pun langsung melajukan mobilnya menuju
ke rumah mama Lola. Vivian hanya diam dan bingung harus ngapain.
“Oh iya, siapa namamu cantik?” tanya Mama Lola.
“Vivian, Nyonya eh Mama …,’’ jawab Vivian.
“Nama yang sangat bagus, orangnya juga cantik. Kenapa
Erland menyembunyikan wanita secantik kamu? Memang dasar nggak ada akhlak anak
itu,’’ Mama Lola terkekeh.
“Mungkin Erland malu punya kekasih seperti aku, Ma.
Kan aku masih bocil …,’’ ucap Vivian tersenyum.
“Astaga, jangan bilang seperti itu cantik. Erland
mungkin belum siap saja cerita tentang kamu,’’ ucap Mama Lola.
‘Iyalah, kan
aku hanya mengarang cerita saja. Tapi kasihan juga sama Mamanya Erland,’ gumam
Vivian dalam hati.
Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka pun sudah
selesai dan dengan cepat Sekretaris Deni turun lalu membantu Vivian untuk
turun. Vivian terkejut ketika melihat rumah Mama Lola yang begitu besar dan
megah.
‘Amazing,
rumahnya besar sekali. Lebih besar dari rumahku,’ batin Vivian dalam hati yang
sangat kagum dengan rumah milik Mama Lola.
“Vivian, ayo
masuk …,’’ ajak Mama Lola.
“Em, iya Ma,’’ ucap Vivian.
Mama Lola sudah menyiapkan kamar khusus untuk Vivian.
lagi Mama Lola akan mendapatkan seorang cucu. Memang dari dulu Mama Lola tidak
menyukai Bella karena sifatnya yang sangat sombong dan suka bicara kasar.
Namun, mau gimana lagi? Putranya sudah sangat bucin dengan Bella walaupun Mama
Lola tahu keburukan Bella seperti apa.
“Nah, ini rumah Mama. Mudah-mudahan kamu betah tinggal
disini ya cantik …,’’ kata Mama Lola.
“Tapi nanti aku ngerepotin nggak, Ma?” tanya Vivian
yang merasa tidak enak.
“Nggak sama sekali, malah Mama senang karena ada teman
mengobrol …,’’ jawab Mama Lola tersenyum kepada Vivian.
“Terima kasih, Ma …,’’ ucap Vivian.
“Hana, tolong antarkan menantu saya ke kamar. Vian,
kamu istirahat saja kalau Erland telepon nggak usah diangkat biar tahu rasa
dia,’’ kata Mama Lola.
“Ba-baik, Ma …,’’ ucap Vivian.
Hana pun mengantarkan Vivian ke kamarnya. Akan tetapi,
ketika ingin menuju ke kamarnya tak sengaja Vivian melihat sebuah foto
pernikahan dan yang paling mengejutkannya Vivian baru tahu kalau ternyata
Erland sudah menikah.
‘Jadi, Om arrogant
ini sudah menikah. Ya Tuhan, kenapa aku malah salah sasaran sih? Pasti kalau
istrinya Om arrogant tahu dia akan sedih banget,’ gumam Vivian dalam hati.
Vivian pun sudah berada di kamarnya. Hana yang selaku
__ADS_1
kepala pelayan di rumah Mama Lola pun melayani Vivian dengan baik.
“Nona muda kenapa? Apa Nona membutuhkan sesuatu?”
tanya Hana membuyarkan lamunan Vivian.
“Tidak apa-apa, mungkin aku hanya kelelahan saja,’’
jawab Vivian.
“Kalau begitu Nona muda istirahat saja, biar cepat
pulih …,’’ kata Hana yang diangguki sama Vivian.
Hana pun pamit untuk kembali melakukan pekerjaannya.
Sedangkan Vivian, dia masih terdiam dan memikirkan tentang rencananya. Namun,
Vivian tidak mau jika istrinya Erland salah sangka lalu menuduh Erland
selingkuh.
“Aku harus cari orang lain untuk membantuku merebut
harta Mama dan Papa, sepertinya aku pergi saja dari sini. Lagian kaki ku sudah
nggak terlalu sakit lagi,’’ kata Vivian yang sudah memutuskan untuk
mengurungkan niatnya untuk memanfaatkan Erland.
“Bodohnya kamu, Vivian. Kenapa nggak nyari tahu dulu?
Kalau kayak gini kan repot sendiri,’’ lanjut Vivian.
**
Sedangkan di tempat lain, Erland dan Bella baru saja
pulang dari mall. Bella pun berpamitan kepada suaminya untuk membersihkan diri
karena badannya sudah lengket semua. Sedangkan Erland, dia mengambil ponselnya
dan mengirim pesan kepada Sekretaris Deni untuk menanyakan tentang Vivian.
(Den, gimana? Apa Vivian sudah berada di apartemen?)
(Nona Vivian di jemput sama Nyonya Lola, Tuan Muda)
balas Sekretaris Deni yang sontak membuat Erland terkejut ketika melihat balasan
dari tangan kanannya itu.
“Sial, darimana Mama tahu tentang Vivian? Bisa tambah
ribet kalau sudah begini,’’ gerutu Erland yang kepalanya cenat-cenut memikirkan
masalahnya.
“Aku harus segera pergi ke rumah, Mama. Tapi tunggu
sampai Bella selesai mandi, karena aku nggak mau kalau sampai dia curiga,’’
lanjut Erland.
Benar saja beberapa menit kemudian Bella sudah selesai
mandi dan dia melihat suaminya sedang duduk di sofa sambil sibuk dengan
laptopnya.
“Honey, kamu masih banyak kerjaan? Mending mandi dulu
deh,’’ kata Bella kemudian duduk di samping Erland.
“Nanti saja, honey. Aku mau ke rumah Mama dulu,” kata
Erland.
“Ck, kenapa lagi Mama kamu itu? Pasti dia menuntutku
untuk hamil lagi kan?” tanya Bella yang mendadak kesal.
“Bukan itu, honey. Aku hanya ingin membahas kerjaan
saja Mama, mau bagaimanapun Mama kan pemilik Perusahaan yang aku kelola,’’
jawab Erland tersenyum kemudian mencium bibir Bella dengan singkat.
“Baiklah, tapi jangan lama-lama. Karena aku takut
sendirian,’’ kata Bella yang diangguki sama Erland.
Erland pun langsung bergegas pergi karena dia sudah
tidak sabar untuk menjelaskan semuanya kepada sang mama. Agar nantinya Mama
__ADS_1
Lola tidak mendesak dirinya untuk menikah lagi.