
“Jadi, elo
di usir sama Paman Khoi?” tanya Fika.
“Hum, dan
gue sekarang tinggal di rumah mantan bodyguard gue,’’ jawab Vivian dengan wajah
yang lesu.
“Alamak,
tega kali Paman lo itu. Awas saja, kalau gue ketemu sama itu manusia gue gampar
congornya,’’ kata Fika emosi melihat tingkah Paman Khoi.
“Halah,
kayak berani aja lo. Oh iya, elo mau nggak tinggal bareng gue? Daripada elo
ngontrak sendirian, mending tinggal sama gue …,’’ ucap Vivian.
“Bolehlah,
lagian gue juga harus hemat. Soalnya, Emak dan Bapak gue lagi kesusahan,’’ ucap
Fika.
Vivian pun
tersenyum setidaknya dia tidak akan kesepian lagi. Fika memang sahabat Vivian
satu-satunya,memang ngomongnya suka ceplas-ceplos kayak rem blong tapi hal itu
malah membuat Vivian senang karena sangat menghibur.
“Sudah, elo
jangan khawatir … Sekarang gue yang akan menjaga elo, jika Paman ikan Khoi itu
berani mengganggumu. Nanti gue tonjok mulutnya, biar giginya patah semua,’’
ucap Fika membuat Vivian tertawa terbahak-bahak.
“Sudah ah,
kita makan dulu. Keburu dingin ini bakso,’’ ucap Vivian.
“Ah, iya.
Waktunya isi bensin dulu,” ucap Fika terkekeh.
Kelas
mereka pun sudah selesai. Fika pun mengajak Vivian kekantin untuk makan bakso
karena cuaca begitu panas hari ini, ketika sedang asyik makan bakso Leon pun
datang menghampiri Vivian serta Fika.
“Boleh aku
gabung?’’ tanya Leon.
“Haih,
ngapain elo kesini? Mending pergi deh, gue nggak mau kalau sampai wanita iblis
itu tahu elo gabung dengan kita berdua …,’’ jawab Fika dengan nada ketus namun
langsung di senggol sama Vivian.
“Boleh kok,
Kak. Jangan dengerin omongan Fika, dia memang suka asal kalau ngomong …,’’
sahut Vivian yang merasa tidak enak dengan Leon.
Leon pun
tersenyum. “Tak apa, terima kasih sebelumnya,’’ ucap Leon kemudian duduk di
depan Vivian dan Fika.
Fika memang
tidak suka dengan Leon. Karena jika ada Leon pasti nanti ada wanita yang
terobsesi sama Leon melabrak Vivian dan Fika. Namun, Vivian tidak enak jika
harus melarang Leon karena mau bagaimanapun Leon sudah menolongnya tadi.
Sedangkan
di tempat lain, Erland duduk di kursi kebesarannya karena dari pagi dia sudah
uring-uringan bahkan karyawan yang tidak salah pun ikut diomeli.
“Deni …
Nanti siang kau kosongkan jadwal ku. Kepalaku terasa sedikit pusing,’’ kata
Erland.
“Baik,
Tuan. Apa mau saya panggilkan Dokter, Tuan?” tanya Sekretaris Deni.
“Tidak
usah, mungkin aku hanya kelelahan saja,’’ jawab Erland menyandarkan kepalanya
__ADS_1
di kursi.
Sekretaris
Deni pun mengangguk dan pamit untuk kembali ke ruangannya. Erland sendiri masih
kepikiran dengan saran dari sang istri. Dan dia juga bingung harus mencari
wanita seperti apa serta dimana. Karena Erland sendiri tidak pernah dekat
dengan wanita selain mama dan istrinya itu.
‘Aku harus mencari wanita dimana? Apa masih
wanita yang mau menyewakan rahimnya untuk wanita lain?’ gumam Erland dalam
hati.
“Kalau aku
nggak menuruti kemauan Bella. Pasti dia akan sangat sedih akan tetapi, kalau
aku mengikuti saran dari Bella, apa aku bisa bersikap adil kepada kedua istriku
nanti?” kata Erland yang berbicara pada dirinya sendiri.
“Sial,
kenapa aku harus berada di posisi ini sih?” lanjut Erland.
Akhirnya,Erland
pun langsung mengambil ponselnya dan membuka aplikasi biro jodoh. Dia
melihat-lihat wanita yang ada di aplikasi itu dan ketika ada yang cocok Erland
pun memulai untuk menawarkan sejumlah uang jika para wanita itu mau menyewakan
rahimnya itu.
Namun,
tunggu demi tunggu tidak ada satu wanita yang membalas pesan dari Erland. Dan
ada satu wanita tapi malah mengajukan syarat yang tidak masuk akal. Erland
hanya menghela nafasnya dengan panjang dan dengan cepat dia pun memanggil
sekretaris Deni untuk dimintai pendapat.
“Tuan,
kenapa anda memanggil saya?” tanya Sekretaris Deni yang baru saja datang.
“Deni,
menurutmu ada nggak wanita yang mau menyewakan rahimnya?” Erland malah
Sekretaris
Deni hanya mengerutkan keningnya. “Memangnya, Tuan muda mau menyewa rahim
wanita lain?”
“Iya, Bella
menyuruhku untuk membayar wanita yang mau menyewakan rahimnya agar aku bisa
memiliki keturunan …,’’ kata Erland yang sontak membuat Sekretaris Deni
terkejut.
‘Bisa-bisanya wanita licik itu menyuruh Tuan
Erland untuk mencari wanita lain … Nggak bisa dibiarkan ini, aku harus
mencarikan wanita yang cocok untuk Tuan muda,’ batin Sekretaris Deni dalam
hati.
“Gimana menurutmu,
Deni?” tanya Erland.
“Menurut
saya sih anda harus menuruti kemauan Nona Bella. Karena nantinya Anda
membutuhkan penerus untuk mengurus dua perusahaan milik Anda dan keluarga
Anda,’’ jawab Sekretaris Deni.
“Tapi, aku
harus mencari wanita itu dimana? Tadi sempat aku mencari di aplikasi biro jodoh
yang ada mereka meminta bayaran yang banyak plus minta dinikahi secara sah,’’
kata Erland. “Kan itu nggak akan mungkin, karena aku cuma mencintai Bella,’’
sambung Erland.
‘Cih, anda saja yang terlalu bucin Tuan.
Sampai-sampai Anda tidak tahu gimana sifat asli istri kesayangan Anda itu,’
gerutu Sekretaris Deni dalam hati tentunya.
“Kalau soal
itu serahkan pada saya, Tuan. Nanti saya akan cari wanita yang pas untuk Anda
__ADS_1
…,’’ kata Sekretaris Deni.
Erland
hanya mengangguk, dia akan menyerahkan semuanya kepada sekretaris Deni karena
memang dari umur 10 tahun Ayahnya Erland sudah mempercayakan Sekretaris Deni
untuk menjaga dan membantu Erland untuk mengurus perusahaan. Akan tetapi,
Sekretaris Deni sudah mengetahui sifat asli dari istri dari tuan mudanya itu.
“Tapi, aku
mau wanita yang lebih muda dariku. Biar dia masih punya banyak tenaga untuk
melahirkan keturunanku …,’’ kata Erland.
“Wanita itu
bukan mesin pembuatan anak, Tuan. Jangan ngadi-ngadi, bukankah Nona Bella tidak
suka sama anak kecil, jadi cukup satu saja biar nggak repot nantinya …,’’ kata
Sekretaris Deni menggeleng kepalanya mendengar perkataan dari Tuan mudanya itu.
“Siapa tahu
kan? Cuma apa nanti aku harus menikahi wanita itu?” tanya Erland.
“Iya Tuan,
saya akan mengatur semuanya. Anda tinggal terima beres saja, dan saya akan
mencari wanita dari kalangan baik-baik agar dia bisa menjaga rahasia ini …,’’
jawab Sekretaris Deni.
“Ck, kau
memang sat set kalau soal memberikan solusi. Kalau kayak gini kan aku nggak
perlu pusing lagi,’’ kata Erland.
“Tentu
saja, yang penting bonus buat saya jangan lupa Tuan …,’’ ledek Sekretaris Deni.
“Cih, kau
itu kalau soal duit aja langsung merah itu mata,’’ kata Erland mendengus kesal.
Sekretaris
Deni hanya terkekeh, karena sudah tidak ada yang dibahas ia pun langsung pamit
untuk kembali ke ruangannya sebab, pekerjaannya begitu numpuk. Sedangkan
Erland, dia mengirim pesan kepada istrinya karena dari pagi istrinya tidak
membalas pesannya.
**
Di tempat
lain, Vivian dan Fika ingin pulang karena kegiatan di kampus sudah selesai
semua akan tetapi, ketika diparkiran Leon pun mendekati Fika serta Vivian yang
sedang mengambil motor Fika.
“Vian …
Gimana? Katanya mau pulang sama aku?” tanya Leon.
“Eh, kenapa
elo masih ngikutin kita sih? Mending elo jauh-jauh deh …,’’ bukan Vivian yang
menjawab melainkan Fika.
“Fika,
jangan galak-galak gitu. Nanti Kak Leon jantungan dan tertekan gimana?” bisik
Vivian merasa tidak enak sama Leon.
“Ya biarin
aja, memang begitu faktanya. Emangnya elo mau dibully sama wanita gila itu?”
tanya Fika membuat Vivian menepuk keningnya.
“Kak Leon,
sepertinya aku pulang sama Fika saja. Soalnya, mau bantu dia beres-beres
barangnya di kost,’’ kata Vivian.
“Baiklah,
kalau begitu aku pulang duluan …,’’ kata Leon yang saja tersenyum sama Vivian
dan Fika.
Fika pun
langsung mengajak Vivian untuk pergi dari parkiran dan langsung pergi
meninggalkan Leon yang masih berada di tempat parkir.
__ADS_1