Pelita Di Ujung Asa

Pelita Di Ujung Asa
Part 3. Meminta Saran Sekretaris Deni


__ADS_3

“Jadi, elo


di usir sama Paman Khoi?” tanya Fika.


“Hum, dan


gue sekarang tinggal di rumah mantan bodyguard gue,’’ jawab Vivian dengan wajah


yang lesu.


“Alamak,


tega kali Paman lo itu. Awas saja, kalau gue ketemu sama itu manusia gue gampar


congornya,’’ kata Fika emosi melihat tingkah Paman Khoi.


“Halah,


kayak berani aja lo. Oh iya, elo mau nggak tinggal bareng gue? Daripada elo


ngontrak sendirian, mending tinggal sama gue …,’’ ucap Vivian.


“Bolehlah,


lagian gue juga harus hemat. Soalnya, Emak dan Bapak gue lagi kesusahan,’’ ucap


Fika.


Vivian pun


tersenyum setidaknya dia tidak akan kesepian lagi. Fika memang sahabat Vivian


satu-satunya,memang ngomongnya suka ceplas-ceplos kayak rem blong tapi hal itu


malah membuat Vivian senang karena sangat menghibur.


“Sudah, elo


jangan khawatir … Sekarang gue yang akan menjaga elo, jika Paman ikan Khoi itu


berani mengganggumu. Nanti gue tonjok mulutnya, biar giginya patah semua,’’


ucap Fika membuat Vivian tertawa terbahak-bahak.


“Sudah ah,


kita makan dulu. Keburu dingin ini bakso,’’ ucap Vivian.


“Ah, iya.


Waktunya isi bensin dulu,” ucap Fika terkekeh.


Kelas


mereka pun sudah selesai. Fika pun mengajak Vivian kekantin untuk makan bakso


karena cuaca begitu panas hari ini, ketika sedang asyik makan bakso Leon pun


datang menghampiri Vivian serta Fika.


“Boleh aku


gabung?’’ tanya Leon.


“Haih,


ngapain elo kesini? Mending pergi deh, gue nggak mau kalau sampai wanita iblis


itu tahu elo gabung dengan kita berdua …,’’ jawab Fika dengan nada ketus namun


langsung di senggol sama Vivian.


“Boleh kok,


Kak. Jangan dengerin omongan Fika, dia memang suka asal kalau ngomong …,’’


sahut Vivian yang merasa tidak enak dengan Leon.


Leon pun


tersenyum. “Tak apa, terima kasih sebelumnya,’’ ucap Leon kemudian duduk di


depan Vivian dan Fika.


Fika memang


tidak suka dengan Leon. Karena jika ada Leon pasti nanti ada wanita yang


terobsesi sama Leon melabrak Vivian dan Fika. Namun, Vivian tidak enak jika


harus melarang Leon karena mau bagaimanapun Leon sudah menolongnya tadi.


Sedangkan


di tempat lain, Erland duduk di kursi kebesarannya karena dari pagi dia sudah


uring-uringan bahkan karyawan yang tidak salah pun ikut diomeli.


“Deni …


Nanti siang kau kosongkan jadwal ku. Kepalaku terasa sedikit pusing,’’ kata


Erland.


“Baik,


Tuan. Apa mau saya panggilkan Dokter, Tuan?” tanya Sekretaris Deni.


“Tidak


usah, mungkin aku hanya kelelahan saja,’’ jawab Erland menyandarkan kepalanya

__ADS_1


di kursi.


Sekretaris


Deni pun mengangguk dan pamit untuk kembali ke ruangannya. Erland sendiri masih


kepikiran dengan saran dari sang istri. Dan dia juga bingung harus mencari


wanita seperti apa serta dimana. Karena Erland sendiri tidak pernah dekat


dengan wanita selain mama dan istrinya itu.


‘Aku harus mencari wanita dimana? Apa masih


wanita yang mau menyewakan rahimnya untuk wanita lain?’ gumam Erland dalam


hati.


“Kalau aku


nggak menuruti kemauan Bella. Pasti dia akan sangat sedih akan tetapi, kalau


aku mengikuti saran dari Bella, apa aku bisa bersikap adil kepada kedua istriku


nanti?” kata Erland yang berbicara pada dirinya sendiri.


“Sial,


kenapa aku harus berada di posisi ini sih?” lanjut Erland.


Akhirnya,Erland


pun langsung mengambil ponselnya dan membuka aplikasi biro jodoh. Dia


melihat-lihat wanita yang ada di aplikasi itu dan ketika ada yang cocok Erland


pun memulai untuk menawarkan sejumlah uang jika para wanita itu mau menyewakan


rahimnya itu.


Namun,


tunggu demi tunggu tidak ada satu wanita yang membalas pesan dari Erland. Dan


ada satu wanita tapi malah mengajukan syarat yang tidak masuk akal. Erland


hanya menghela nafasnya dengan panjang dan dengan cepat dia pun memanggil


sekretaris Deni untuk dimintai pendapat.


“Tuan,


kenapa anda memanggil saya?” tanya Sekretaris Deni yang baru saja datang.


“Deni,


menurutmu ada nggak wanita yang mau menyewakan rahimnya?” Erland malah


Sekretaris


Deni hanya mengerutkan keningnya. “Memangnya, Tuan muda mau menyewa rahim


wanita lain?”


“Iya, Bella


menyuruhku untuk membayar wanita yang mau menyewakan rahimnya agar aku bisa


memiliki keturunan …,’’ kata Erland yang sontak membuat Sekretaris Deni


terkejut.


‘Bisa-bisanya wanita licik itu menyuruh Tuan


Erland untuk mencari wanita lain … Nggak bisa dibiarkan ini, aku harus


mencarikan wanita yang cocok untuk Tuan muda,’ batin Sekretaris Deni dalam


hati.


“Gimana menurutmu,


Deni?” tanya Erland.


“Menurut


saya sih anda harus menuruti kemauan Nona Bella. Karena nantinya Anda


membutuhkan penerus untuk mengurus dua perusahaan milik Anda dan keluarga


Anda,’’ jawab Sekretaris Deni.


“Tapi, aku


harus mencari wanita itu dimana? Tadi sempat aku mencari di aplikasi biro jodoh


yang ada mereka meminta bayaran yang banyak plus minta dinikahi secara sah,’’


kata Erland. “Kan itu nggak akan mungkin, karena aku cuma mencintai Bella,’’


sambung Erland.


‘Cih, anda saja yang terlalu bucin Tuan.


Sampai-sampai Anda tidak tahu gimana sifat asli istri kesayangan Anda itu,’


gerutu Sekretaris Deni dalam hati tentunya.


“Kalau soal


itu serahkan pada saya, Tuan. Nanti saya akan cari wanita yang pas untuk Anda

__ADS_1


…,’’ kata Sekretaris Deni.


Erland


hanya mengangguk, dia akan menyerahkan semuanya kepada sekretaris Deni karena


memang dari umur 10 tahun Ayahnya Erland sudah mempercayakan Sekretaris Deni


untuk menjaga dan membantu Erland untuk mengurus perusahaan. Akan tetapi,


Sekretaris Deni sudah mengetahui sifat asli dari istri dari tuan mudanya itu.


“Tapi, aku


mau wanita yang lebih muda dariku. Biar dia masih punya banyak tenaga untuk


melahirkan keturunanku …,’’ kata Erland.


“Wanita itu


bukan mesin pembuatan anak, Tuan. Jangan ngadi-ngadi, bukankah Nona Bella tidak


suka sama anak kecil, jadi cukup satu saja biar nggak repot nantinya …,’’ kata


Sekretaris Deni menggeleng kepalanya mendengar perkataan dari Tuan mudanya itu.


“Siapa tahu


kan? Cuma apa nanti aku harus menikahi wanita itu?” tanya Erland.


“Iya Tuan,


saya akan mengatur semuanya. Anda tinggal terima beres saja, dan saya akan


mencari wanita dari kalangan baik-baik agar dia bisa menjaga rahasia ini …,’’


jawab Sekretaris Deni.


“Ck, kau


memang sat set kalau soal memberikan solusi. Kalau kayak gini kan aku nggak


perlu pusing lagi,’’ kata Erland.


“Tentu


saja, yang penting bonus buat saya jangan lupa Tuan …,’’ ledek Sekretaris Deni.


“Cih, kau


itu kalau soal duit aja langsung merah itu mata,’’ kata Erland mendengus kesal.


Sekretaris


Deni hanya terkekeh, karena sudah tidak ada yang dibahas ia pun langsung pamit


untuk kembali ke ruangannya sebab, pekerjaannya begitu numpuk. Sedangkan


Erland, dia mengirim pesan kepada istrinya karena dari pagi istrinya tidak


membalas pesannya.


**


Di tempat


lain, Vivian dan Fika ingin pulang karena kegiatan di kampus sudah selesai


semua akan tetapi, ketika diparkiran Leon pun mendekati Fika serta Vivian yang


sedang mengambil motor Fika.


“Vian …


Gimana? Katanya mau pulang sama aku?” tanya Leon.


“Eh, kenapa


elo masih ngikutin kita sih? Mending elo jauh-jauh deh …,’’ bukan Vivian yang


menjawab melainkan Fika.


“Fika,


jangan galak-galak gitu. Nanti Kak Leon jantungan dan tertekan gimana?” bisik


Vivian merasa tidak enak sama Leon.


“Ya biarin


aja, memang begitu faktanya. Emangnya elo mau dibully sama wanita gila itu?”


tanya Fika membuat Vivian menepuk keningnya.


“Kak Leon,


sepertinya aku pulang sama Fika saja. Soalnya, mau bantu dia beres-beres


barangnya di kost,’’ kata Vivian.


“Baiklah,


kalau begitu aku pulang duluan …,’’ kata Leon yang saja tersenyum sama Vivian


dan Fika.


Fika pun


langsung mengajak Vivian untuk pergi dari parkiran dan langsung pergi


meninggalkan Leon yang masih berada di tempat parkir.

__ADS_1


__ADS_2