Pelita Di Ujung Asa

Pelita Di Ujung Asa
Part 10. Perubahan Sikap Erland


__ADS_3

Pagi harinya, Vivian mengerjapkan matanya dan dia melihat Erland masih


terlelap tidur dengan posisi yang sama yaitu memeluk Vivian. Sebenarnya, Vivian


kasihan juga dengan Erland karena sudah ia bohongi. Namun, mau gimana lagi? Vivian


sudah terlanjur masuk dalam kehidupan Erland yang kini statusnya suami orang.


“Mas … Bangun! Ini sudah pukul 09.00 pagi, kamu nggak mau ke kantor kah?”


Vivian pun mencoba membangunkan Erland yang masih terlelap tidur.


Erland pun menggerakkan tubuhnya tapi matanya tetap terpejam. Vivian


merasa lega karena pelukan Erland tidak sekencang tadi, namun Vivian kesal  sebab Erland belum bangun padahal Vivian


sudah ingin ke kamar mandi buat buang air kecil.


“Ganteng-ganteng tapi tidurnya kayak kebo, susah kali di banguninnya.


Gak tau apa kalau aku sudah kebelet pipis,’’ gerutu Vivian yang menunggu Erland


bangun. “Mas Erland, sayang. Bangun yok, sudah siang jangan ngebo mulu,’’


lanjut Vivian yang kembali membangunkan Erland.


Sebenarnya Erland sudah bangun namun, dia ingin melihat tingkah asli


dari Vivian. Dan Erland juga merasa aneh karena sangat nyaman tidur sama Vivian


dibandingkan dengan Bella istrinya. Ketika Vivian terdiam, Erland pun langsung


mengecup bibir Vivian sampai yang empun pun terkejut.


“Morning kiss, sayang …,’’


“Mas Erland, mesum kali …,’’ kata Vivian.


“Why? Kamu kan kekasihku, jadi aku berhak memberikan ciuman selamat


pagi,’’ kata Erland.


‘Tapi nggak gitu juga


kali, Om,’ batin Vivian dalam hati.“Tapi kan kita belum


menikah. Jadi, belum boleh,’’ ucap Vivian.


“Ya sudah, hari ini kita menikah,’’ kata Erland membuat Vivian tergelak.


“Eh, mana boleh begitu? Kan, Mas Erland sudah punya istri. Jangan nikah


lagi dong, kasihan istrinya nanti …,’’ kata Vivian yang sudah panik duluan.


“Kalau aku mau nikah lagi kenapa? Kan nggak masalah?” tanya Erland


dengan santainya.


“Iya juga, tapi- ”


“Kita bangun, dan nanti aku akan mengajakmu beli gaun pengantin …,’’kata


Erland memotong perkataan dari Vivian.


“Jangan bercanda, Mas. Mending Mas siap-siap mandi dan berangkat ke


kantor,’’ kata Vivian.


“Baiklah, tapi ingat kita akan menikah …,’’ kata Erland kemudian bangun


dari tidurnya.


Sedangkan Vivian, dia masih mencerna semua perkataan dari Erland. Mana


mungkin dia bisa menikah dengan pria yang tidak ia cintai dan Erland pun sudah


menikah, Vivian tidak tega menyakiti wanita lain demi rencananya untuk membalas


dendam ke pamannya.


“Paling Om arrogant itu hanya bercanda, sudahlah aku bangun dulu


sekalian bikin sarapan,’’ kata Vivian bangun lalu mengambil tongkatnya.


Setelah sampai dapur, Vivian melihat isi kulkas dan mencari bahan

__ADS_1


makanan yang bisa ia masak untuk dirinya sarapan. Dan ternyata hanya ada roti,


buah, dan telur saja jadi mau tidak mau Vivian harus sarapan sama roti.


“Rotinya aku panggang saja deh, sama goreng telur enak kali ya,’’ kata


Vivian.


Tak butuh waktu lama, roti panggang isi telur mata sapi dan sayuran pun


sudah siap. Tak lupa, Vivian membuatkan susu hangat untuk Erland karena dia


tidak tahu minuman kesukaan Erland. Terlihat Erland yang baru saja keluar dari


kamar, dia melihat Vivian yang sedang mencuci penggorengan yang bekas dia


nyeplok telur.


“Eh, Mas. Kamu sudah selesai? Kita sarapan dulu, aku sudah buatin


sarapan untukmu. Tapi seadanya, karena cuma ada ini,’’ kata Vivian.


“Kau yang buat ini semua?” tanya Erland.


“Iya, Mas nggak suka ya?” jawab Vivian.


“Bukan begitu, aku suka kok. Kita sarapan bareng saja,’’ kata Erland.


Vivian bernafas lega dan mengangguk. Mereka pun langsung menyantap


makanan mereka masing-masing. Entah kenapa Erland sangat senang ketika Vivian


membuatkan sarapan untuknya, sedangkan kalau dirumah. Erland selalu sarapan di


kantor karena jam segitu Bella belum bangun dari tidurnya.


Ketika sedang sarapan, ponsel Erland pun bordering dan Vivian melihat


kalau yang menghubungi Erland itu Bella.


“Angkat saja, Mas. Aku akan diam,’’ kata Vivian.


“Biarkan saja, lagian nggak penting juga …,’’ ucap Erland kemudian


kembali menyantap makanannya.


“Vian, sayang. Kamu nggak usah banyak omong mending habiskan makanannya


sekarang …,’’ kata Erland menatap tajam kearah Vivian.


“Oke-oke,’’ jawab Vivian dan meneruskan sarapannya. ‘Sebenarnya, apa yang sedang terjadi? Kenapa Om arrogant ini gak


mengangkat telepon dari Istrinya?’ batin Vivian dalam hati yang kepo.


Setelah selesai sarapan, Erland pun langsung pamit untuk pergi ke kantor


karena memang dia biasanya jam segitu sudah berada di kantor.


“Sayang, kamu jangan kemana-mana. Kalau perlu apa-apa panggil saja


bodyguard yang di depan itu,” kata Erland. “Dan satu lagi, ini kartu black card


untuk mu. Beli apapun yang kamu mau pakai kartu ini,’’ sambung Erland sembari


memberikan kartu berwarna hitam kepada Vivian.


“Aku nggak butuh ini, Mas. Lagian mau jalan-jalan kemana? Kan kakiku masih


sakit,’’ jawab Vivian.


‘Apa? Gadis ini


menolak kartu yang aku kasih, sepertinya baru kali ini aku menemukan wanita


yang menolak di kasih kartu tanpa batas,’ batin Erland dalam hati.


“Kamu pegang saja, kalau begitu aku berangkat dulu,’’ sambungnya seraya


mencium kening Vivian.


Vivian yang mendapat perlakuan itu pun hanya mematung. Dia malah bingung


dengan sikap Erland yang berubah seperti saat ini. Dan Vivian juga tidak pernah


pegang kartu begituan walaupun orang tuanya kaya raya karena dia lebih suka

__ADS_1


uang cash.


“Kalian jangan sampai lengah, awasi terus Nona muda kalian …,’’ kata


Erland kepada kedua bodyguard yang jaga di depan pintu apartemennya.


“Baik, Tuan muda …,’’ kata kedua Bodyguard tersebut.


“Jika Bella datang, kalian langsung usir saja,’’ kata Erland yang


diangguki sama para bodyguard itu.


Erland kemudian berangkat ke kantor. Sepanjang perjalanan Erland hanya


membiarkan telepon dari Bella tanpa ada rasa ingin mengangkatnya. Padahal


biasanya Erland selalu mengangkat telepon dari istrinya itu walaupun sedang


meeting sekalipun.


Beberapa menit kemudian, Erland pun sudah sampai di kantor dan dengan


cepat dia turun lalu bergegas menuju ke lantai 20 dimana ruangannya berada.


Para Karyawan pun menyapa Erland dengan ramah, Erland sendiri hanya mengangguk


untuk menjawab sapaan dari karyawannya.


“Tuan muda, anda tidak apa-apa kan?” tanya Sekretaris Deni yang terlihat


panik.


“Memangnya aku kenapa?” Erland malah bertanya balik kepada Sekretaris


Deni.


“Saya khawatir saja, soalnya dari semalam anda susah dihubungi …,’’ ucap


Sekretaris Deni.


“Nggak usah dibahas, Deni tolong pesankan gaun pengantin yang cocok


untuk Vian …,’’ kata Erland.


“Jadi, Anda beneran mau menikahi Nona Vian?” tanya Sekretaris Deni yang


langsung sumringah.


“Iya,’’


“Baik, saya akan menyiapkan semuanya. Tapi, gimana dengan Nyonya Bella?”


tanya Sekretaris Deni.


“Biarkan saja dia, bukankah kau sudah tahu dari lama Deni? Tapi kenapa


kau tidak jujur padaku?” jawab Erland menatap tajam kearah Sekretaris Deni.


Sekretaris Deni pun tergelak, dia tidak tahu kalau tuan mudanya ternyata


sudah mengetahui semuanya tentang nyonya mudanya itu.


“Saya hanya tidak ingin ikut campur dengan urusan rumah tangga Anda,


Tuan. Bukankah, waktu itu Anda masih bucin banget sama Nyonya Bella?” ucap


Sekretaris Deni dengan nada meledek.


“Cih, menyebalkan. Ingat, jangan sampai Bella datang ke kantor atau membuat


kekacauan di kantor ini,’’ kata Erland.


“Siap, Tuan. Nanti saya akan memberitahu penjaga untuk tidak mengizinkan


Nyonya Bella masuk,’’ jawab Sekretaris Deni.


Erland mengangguk, lalu sekretaris Deni pun langsung pamit untuk kembali


ke ruangannya dan begitu juga Erland memulai pekerjaannya. Akan tetapi, Erland


mendadak tidak konsen karena dia masih terbayang-bayang dengan kejadian


semalam.


“Bella, kenapa kau tega mengkhianatiku? Apa kurangnya aku? Selama ini

__ADS_1


aku memang bodoh dan dibutakan dengan mulut manis Bella,’’ gumam Erland yang


merutuki kebodohannya.


__ADS_2