Pelita Di Ujung Asa

Pelita Di Ujung Asa
Part 9. Vivian Gagal Kabur


__ADS_3

Malam


harinya, Erland masih berada di apartemen karena dia tidak mau jika mamanya


datang dan membawa Vivian kembali. Walaupun Erland harus memberikan alasan


kepada sang istri agar tidak marah dan curiga. Erland bangun dari duduknya dan


berjalan menuju ke kamar Vivian, dan Erland pun melihat kalau Vivian masih


terlelap tidur.


“Sepertinya


aku tadi terlalu keras dan membentak Vian, astaga kenapa aku jadi begini sih?


Perasaan aneh apa ini?” kata Erland pelan.


Erland


merasa menyesal karena dia sudah membentak Vivian sampai membanting ponselnya.


Dan ketika sedang melihat Vivian, terdengar suara bel pintu yang berbunyi


dengan cepat Erland pun langsung membukakan pintu. Dan ternyata itu Sekretaris


Deni yang datang memang Erland sengaja menyuruh Sekretaris Deni untuk


membelikan makan malam untuk Vivian dan dirinya.


“Kamu


siapkan saja makanannya, aku mau membangunkan Vian dulu …,’’ kata Erland kepada


Sekretaris Deni.


“Baik, Tuan


muda …,’’


Erland pun


bergegas ke kamar Vivian untuk membangunkan Vivian. “Vian, bangun. Kita makan


malam dulu …,’’ kata Erland membangunkan Vivian.


Vivian


mengerjap. “Iya …,’’ jawab Vivian dengan singkat karena takut kalau Erland


masih marah.


“Aku bantu


ke kamar mandi,’’ kata Erland.


“Tidak


usah, Tuan. Aku bisa sendiri,’’ jawab Vivian dengan datar dan dia mengambil


tongkatnya.


Erland


menatap Vivian yang sedang berusaha untuk ke kamar mandi. Karena tidak sabar,


Erland pun langsung menggendong Vivian dan membuat Vivian terbelalak.


“Aku kan


bisa sendiri, Tuan …,’’ kata Vivian.


“Stop,


panggil aku dengan sebutan itu. Telingaku sakit mendengarnya,’’ kata Erland.


“Serba


salah,’’ kata Vivian pelan.


“Apa kamu


bilang?” tanya Erland.


“Aku nggak


ngomong apa-apa …,’’ jawab Vivian.


Erland


hanya tertawa dalam hati, jelas-jelas dia mendengar apa yang di katakana sama


Vivian. Dan dia juga tidak menyangka kalau ternyata Vivian bisa ngeles juga.


Setelah selesai cuci muka, mereka pun bergegas menuju ke ruang makan.


“Sekretaris


Deni, anda disini juga? Wah, aku tahu pasti anda mau nemenin aku disini bukan?”


tanya Vivian dengan santainya.


“Saya-”


“Anda


memang paling, tahu saja kalau aku tidak suka sendirian atau kesepian …,’’


Vivian pun memotong perkataan Sekretaris Deni.


“Kenapa kau


berharap kalau Deni akan tinggal disini? Yang kekasihmu itu aku bukan Deni,’’


sahut Erland.


“Ya terus,


aku harus berharap Mas Erland tidur disini menemani aku gitu?” tanya Vivian


yang asal nyeplos.


“Iya,


kenapa nggak boleh?” jawab Erland.

__ADS_1


Vivian


terbelalak mendengar jawaban dari Erland. Sedangkan Sekretaris Deni, dia hanya


senyum-senyum melihat tingkah Vivian dan Tuan mudanya itu. Dengan cepat mereka


pun langsung menyantap makanan mereka masing-masing.


“Aku


kenyang sekali,’’ kata Vivian.


“Kenyang


darimananya, itu makananmu masih banyak …,’’ kata Erland.


“Tapi aku


sudah kenyang, Mas,’’ kata Vivian yang memasang wajah memelasnya.


Saat ingin


menjawab perkataan dari Vivian. Tiba-tiba ponsel Erland bordering dan ternyata


itu dari Bella, dengan cepat Erland langsung menjauh dan mengangkat teleponnya.


Vivian tahu kalau itu istrinya Erland, namun Vivian tidak menggubris itu dia


pun melanjutkan makan malamnya.


“Nona Vian


nggak cemburu?” tanya Sekretaris Deni.


“Aku?


Cemburu? Kayak nggak deh, lagian buang-buang waktu …,’’ jawab Vivian dengan


begitu santainya.


“Yakin


nggak cemburu?” Sekretaris Deni pun bertanya kembali kepada Vivian.


“Iyalah,


ngapain cemburu. Kan masih ada Sekretaris Deni,’’ ucap Vivian sambil menaik


turunkan alisnya.


Sekretaris


Deni tergelak, dia baru kali ini melihat wanita modelan Vivian yang tidak


cemburu melihat kekasihnya telepon dengan wanita lain.


‘Kenapa gue harus cemburu? Kan Om arrogant


bukan laki gue, mending gue nyari cara buat kabur daripada cemburu,’ batin


Vivian dalam hati.


 “Deni, aku ada urusan sebentar. Apa kau bisa


“Aku berani


sendiri, jadi kalian pergi saja …,’’ ucap Vivian.


“Kamu masih


sakit, mana bisa sendirian,’’ ucap Erland.


“Kan aku


sudah sembuh, nggak usah khawatir,’’ kata Vivian.


“Aku bilang


nggak ya nggak, jangan ngeyel …,’’ ucap Erland.


Vivian


hanya bisa diam, mau ngomong pun percuma. Erland pun langsung bergegas untuk


pulang ke rumah karena memang tadi yang telepon itu Bella. Setelah kepergian


Erland, Vivian berjalan ke ruang tamu untuk menonton televisi.


“Sekretaris


Deni, apa aku boleh meminjam ponselmu? Aku kangen sama Fika,’’ kata Vivian.


“Tentu


saja, Nona …,’’ kata Sekretaris Deni seraya memberikan ponselnya.


“Terima


kasih, anda memang terbaik tidak kayak Om arrogant itu. Sudah membanting


ponselku, nggak mau ganti pula …,’’ gerutu Vivian membuat Sekretaris Deni


terkekeh.


Vivian pun


langsung mengirim pesan kepada Fika. Dia meminta agar Fika untuk menjemputnya


di apartemen milik Erland, Vivian akan pergi jauh agar Erland tidak bisa


menemukan dirinya lagi.


“Nona Vian,


sepertinya saya tidak bisa menemani anda. Tapi saya akan menyuruh anak buah


saya untuk menjaga di depan,’’ kata Sekretaris Deni.


“Nggak


apa-apa, lagian aku sudah besar ngapain ditunggu …,’’ kata Vivian. “Tapi, apa


boleh aku meminjam ponselnya dulu?” sambung Vivian.


“Tentu

__ADS_1


saja, pakailah sesuka hati anda, Nona. Besok saya akan kembali kesini …,’’


jawab Sekretaris Deni.


Vivian


hanya mengangguk. ‘Pergilah, kan aku


nggak repot-repot ngasih alasan nanti …,’ gumam Vivian dalam hati.


Sekretaris


Deni pun bergegas untuk pergi, dia sebenarnya nggak enak jika harus tinggal


satu apartemen dengan wanita yang saat ini menjadi kekasihnya tuan mudanya itu.


Dan setelah itu, Vivian langsung menelepon Fika sahabatnya itu.


“Fika


kemana sih? Apa dia sudah molor?”


“Kalau gue


nungguin dia pasti nanti lama, dan keburu pagi lagi,’’ sambung Vivian.


Tanpa


menunggu lama Vivian pun bergegas untuk pergi. Akan tetapi, ketika membuka


pintu ternyata sudah ada dua bodyguard yang stay di depan pintu. Awalnya Vivian


terkejut namun, dia harus bersikap biasa saja karena tidak mau kalau para


bodyguard itu pada curiga.


“Nona muda


mau kemana?” tanya Bodyguard 1.


“Saya ingin


makan di restoran bawah, kenapa? Kalian mau ikut juga?” jawab Vivian dengan


santainya.


“Benar,


Nona. Karena kami ditugaskan untuk menjaga Nona,” ucap Bodyguard 2.


“Ya sudah,


kalau mau ikut ayo. Tapi, kalian jangan dekat-dekat malu saya di ikutin kayak


anak kecil,’’ kata Vivian.


Kedua


Bodyguard itu hanya mengangguk, dengan pelan-pelan Vivian pun berjalan menuju


ke lift. Dia terus memikirkan bagaimana caranya dia bisa kabur dari kedua


bodyguard itu namun sialnya, baru saja lift terbuka Vivian terbelalak ketika


melihat Erland yang berada di lift tersebut.


“Vian, kau


mau kemana?” tanya Erland.


‘Mampus gue … Kenapa dia pakai balik lagi sih?


Astaga, aku harus pakai alasan apa? Biar Om arrogant ini nggak curiga sama gue …,’


batin Vivian dalam hati.


“Vian …


Kenapa diam saja?” tanya Erland lagi.


“A-aku mau


ke restoran bawah perutku lapar lagi,’’ jawab Vivian dengan gugup.


“Kenapa


tidak suruh bodyguard saja? Kakimu kan masih sakit …,’’ kata Erland.


“Tapi aku


mau makan dibawah, sambil menikmati suasana malam,’’ kata Vivian.


 “Biar Bodyguard saja yang beli, kita balik ke


apartemen lagi ya,’’ Erland pun menggendong Vivian tanpa menunggu jawaban dari


Vivian.


Vivian


tidak berani membantah karena dia takut kalau sampai Erland marah besar lagi


kepadanya. Dan setelah sampai di apartemen Erland membawa Vivian ke kamar. Akan


tetapi, ketika Vivian sudah ada ditempat tidur Erland pun ikut merebahkan


dirinya dan memeluk Vivian membuat jantung Vivian berdegup kencang.


‘Gila ini Om-om, selain galak dia juga mesum


juga. Bikin jantung gue deg-degan aja,’ batin Vivian dalam hati.


“Biarkan


seperti ini dan jangan banyak tanya,’’ kata Erland seolah tau tentang apa yang


ada di pikiran Vivian.


Vivian


tidak bisa bergerak karena tubuhnya yang kecilnya di peluk dengan raksasa. Namun,


Vivian merasa kalau Erland sedang ada masalah dan karena tidak mau ikut campur


Vivian hanya diam tanpa banyak bertanya.

__ADS_1


__ADS_2