
Malam
harinya, Erland masih berada di apartemen karena dia tidak mau jika mamanya
datang dan membawa Vivian kembali. Walaupun Erland harus memberikan alasan
kepada sang istri agar tidak marah dan curiga. Erland bangun dari duduknya dan
berjalan menuju ke kamar Vivian, dan Erland pun melihat kalau Vivian masih
terlelap tidur.
“Sepertinya
aku tadi terlalu keras dan membentak Vian, astaga kenapa aku jadi begini sih?
Perasaan aneh apa ini?” kata Erland pelan.
Erland
merasa menyesal karena dia sudah membentak Vivian sampai membanting ponselnya.
Dan ketika sedang melihat Vivian, terdengar suara bel pintu yang berbunyi
dengan cepat Erland pun langsung membukakan pintu. Dan ternyata itu Sekretaris
Deni yang datang memang Erland sengaja menyuruh Sekretaris Deni untuk
membelikan makan malam untuk Vivian dan dirinya.
“Kamu
siapkan saja makanannya, aku mau membangunkan Vian dulu …,’’ kata Erland kepada
Sekretaris Deni.
“Baik, Tuan
muda …,’’
Erland pun
bergegas ke kamar Vivian untuk membangunkan Vivian. “Vian, bangun. Kita makan
malam dulu …,’’ kata Erland membangunkan Vivian.
Vivian
mengerjap. “Iya …,’’ jawab Vivian dengan singkat karena takut kalau Erland
masih marah.
“Aku bantu
ke kamar mandi,’’ kata Erland.
“Tidak
usah, Tuan. Aku bisa sendiri,’’ jawab Vivian dengan datar dan dia mengambil
tongkatnya.
Erland
menatap Vivian yang sedang berusaha untuk ke kamar mandi. Karena tidak sabar,
Erland pun langsung menggendong Vivian dan membuat Vivian terbelalak.
“Aku kan
bisa sendiri, Tuan …,’’ kata Vivian.
“Stop,
panggil aku dengan sebutan itu. Telingaku sakit mendengarnya,’’ kata Erland.
“Serba
salah,’’ kata Vivian pelan.
“Apa kamu
bilang?” tanya Erland.
“Aku nggak
ngomong apa-apa …,’’ jawab Vivian.
Erland
hanya tertawa dalam hati, jelas-jelas dia mendengar apa yang di katakana sama
Vivian. Dan dia juga tidak menyangka kalau ternyata Vivian bisa ngeles juga.
Setelah selesai cuci muka, mereka pun bergegas menuju ke ruang makan.
“Sekretaris
Deni, anda disini juga? Wah, aku tahu pasti anda mau nemenin aku disini bukan?”
tanya Vivian dengan santainya.
“Saya-”
“Anda
memang paling, tahu saja kalau aku tidak suka sendirian atau kesepian …,’’
Vivian pun memotong perkataan Sekretaris Deni.
“Kenapa kau
berharap kalau Deni akan tinggal disini? Yang kekasihmu itu aku bukan Deni,’’
sahut Erland.
“Ya terus,
aku harus berharap Mas Erland tidur disini menemani aku gitu?” tanya Vivian
yang asal nyeplos.
“Iya,
kenapa nggak boleh?” jawab Erland.
__ADS_1
Vivian
terbelalak mendengar jawaban dari Erland. Sedangkan Sekretaris Deni, dia hanya
senyum-senyum melihat tingkah Vivian dan Tuan mudanya itu. Dengan cepat mereka
pun langsung menyantap makanan mereka masing-masing.
“Aku
kenyang sekali,’’ kata Vivian.
“Kenyang
darimananya, itu makananmu masih banyak …,’’ kata Erland.
“Tapi aku
sudah kenyang, Mas,’’ kata Vivian yang memasang wajah memelasnya.
Saat ingin
menjawab perkataan dari Vivian. Tiba-tiba ponsel Erland bordering dan ternyata
itu dari Bella, dengan cepat Erland langsung menjauh dan mengangkat teleponnya.
Vivian tahu kalau itu istrinya Erland, namun Vivian tidak menggubris itu dia
pun melanjutkan makan malamnya.
“Nona Vian
nggak cemburu?” tanya Sekretaris Deni.
“Aku?
Cemburu? Kayak nggak deh, lagian buang-buang waktu …,’’ jawab Vivian dengan
begitu santainya.
“Yakin
nggak cemburu?” Sekretaris Deni pun bertanya kembali kepada Vivian.
“Iyalah,
ngapain cemburu. Kan masih ada Sekretaris Deni,’’ ucap Vivian sambil menaik
turunkan alisnya.
Sekretaris
Deni tergelak, dia baru kali ini melihat wanita modelan Vivian yang tidak
cemburu melihat kekasihnya telepon dengan wanita lain.
‘Kenapa gue harus cemburu? Kan Om arrogant
bukan laki gue, mending gue nyari cara buat kabur daripada cemburu,’ batin
Vivian dalam hati.
“Deni, aku ada urusan sebentar. Apa kau bisa
“Aku berani
sendiri, jadi kalian pergi saja …,’’ ucap Vivian.
“Kamu masih
sakit, mana bisa sendirian,’’ ucap Erland.
“Kan aku
sudah sembuh, nggak usah khawatir,’’ kata Vivian.
“Aku bilang
nggak ya nggak, jangan ngeyel …,’’ ucap Erland.
Vivian
hanya bisa diam, mau ngomong pun percuma. Erland pun langsung bergegas untuk
pulang ke rumah karena memang tadi yang telepon itu Bella. Setelah kepergian
Erland, Vivian berjalan ke ruang tamu untuk menonton televisi.
“Sekretaris
Deni, apa aku boleh meminjam ponselmu? Aku kangen sama Fika,’’ kata Vivian.
“Tentu
saja, Nona …,’’ kata Sekretaris Deni seraya memberikan ponselnya.
“Terima
kasih, anda memang terbaik tidak kayak Om arrogant itu. Sudah membanting
ponselku, nggak mau ganti pula …,’’ gerutu Vivian membuat Sekretaris Deni
terkekeh.
Vivian pun
langsung mengirim pesan kepada Fika. Dia meminta agar Fika untuk menjemputnya
di apartemen milik Erland, Vivian akan pergi jauh agar Erland tidak bisa
menemukan dirinya lagi.
“Nona Vian,
sepertinya saya tidak bisa menemani anda. Tapi saya akan menyuruh anak buah
saya untuk menjaga di depan,’’ kata Sekretaris Deni.
“Nggak
apa-apa, lagian aku sudah besar ngapain ditunggu …,’’ kata Vivian. “Tapi, apa
boleh aku meminjam ponselnya dulu?” sambung Vivian.
“Tentu
__ADS_1
saja, pakailah sesuka hati anda, Nona. Besok saya akan kembali kesini …,’’
jawab Sekretaris Deni.
Vivian
hanya mengangguk. ‘Pergilah, kan aku
nggak repot-repot ngasih alasan nanti …,’ gumam Vivian dalam hati.
Sekretaris
Deni pun bergegas untuk pergi, dia sebenarnya nggak enak jika harus tinggal
satu apartemen dengan wanita yang saat ini menjadi kekasihnya tuan mudanya itu.
Dan setelah itu, Vivian langsung menelepon Fika sahabatnya itu.
“Fika
kemana sih? Apa dia sudah molor?”
“Kalau gue
nungguin dia pasti nanti lama, dan keburu pagi lagi,’’ sambung Vivian.
Tanpa
menunggu lama Vivian pun bergegas untuk pergi. Akan tetapi, ketika membuka
pintu ternyata sudah ada dua bodyguard yang stay di depan pintu. Awalnya Vivian
terkejut namun, dia harus bersikap biasa saja karena tidak mau kalau para
bodyguard itu pada curiga.
“Nona muda
mau kemana?” tanya Bodyguard 1.
“Saya ingin
makan di restoran bawah, kenapa? Kalian mau ikut juga?” jawab Vivian dengan
santainya.
“Benar,
Nona. Karena kami ditugaskan untuk menjaga Nona,” ucap Bodyguard 2.
“Ya sudah,
kalau mau ikut ayo. Tapi, kalian jangan dekat-dekat malu saya di ikutin kayak
anak kecil,’’ kata Vivian.
Kedua
Bodyguard itu hanya mengangguk, dengan pelan-pelan Vivian pun berjalan menuju
ke lift. Dia terus memikirkan bagaimana caranya dia bisa kabur dari kedua
bodyguard itu namun sialnya, baru saja lift terbuka Vivian terbelalak ketika
melihat Erland yang berada di lift tersebut.
“Vian, kau
mau kemana?” tanya Erland.
‘Mampus gue … Kenapa dia pakai balik lagi sih?
Astaga, aku harus pakai alasan apa? Biar Om arrogant ini nggak curiga sama gue …,’
batin Vivian dalam hati.
“Vian …
Kenapa diam saja?” tanya Erland lagi.
“A-aku mau
ke restoran bawah perutku lapar lagi,’’ jawab Vivian dengan gugup.
“Kenapa
tidak suruh bodyguard saja? Kakimu kan masih sakit …,’’ kata Erland.
“Tapi aku
mau makan dibawah, sambil menikmati suasana malam,’’ kata Vivian.
“Biar Bodyguard saja yang beli, kita balik ke
apartemen lagi ya,’’ Erland pun menggendong Vivian tanpa menunggu jawaban dari
Vivian.
Vivian
tidak berani membantah karena dia takut kalau sampai Erland marah besar lagi
kepadanya. Dan setelah sampai di apartemen Erland membawa Vivian ke kamar. Akan
tetapi, ketika Vivian sudah ada ditempat tidur Erland pun ikut merebahkan
dirinya dan memeluk Vivian membuat jantung Vivian berdegup kencang.
‘Gila ini Om-om, selain galak dia juga mesum
juga. Bikin jantung gue deg-degan aja,’ batin Vivian dalam hati.
“Biarkan
seperti ini dan jangan banyak tanya,’’ kata Erland seolah tau tentang apa yang
ada di pikiran Vivian.
Vivian
tidak bisa bergerak karena tubuhnya yang kecilnya di peluk dengan raksasa. Namun,
Vivian merasa kalau Erland sedang ada masalah dan karena tidak mau ikut campur
Vivian hanya diam tanpa banyak bertanya.
__ADS_1