PEMBALASAN SANG PECUNDANG

PEMBALASAN SANG PECUNDANG
Hadiah Kecil Dari Dilla


__ADS_3

Keesokan harinya. Kabar mengenai pencurian di kediaman perdana menteri sudah menyeruak ke penjuru negeri Deviar. Akibat kelalaian dan ketidak becusan dari para prajurit yang membiarkan pencuri lolos begitu saja. Membuat menteri Xianzuw beserta keluarganya mendapat olok-olokan dari masyarakat sekitar.


Prankk!!!


Perdana menteri, Xianzuw. Melempar cawan berisi air hingga tumpah ke lantai.


Pelayan yang berada di sana pun terperanjat kaget. Mereka serentak menundukkan kepala.


"Salam permaisuri, Xixian' Lou Han"ucap para pelayan kepada permaisuri seraya menundukkan kepala.


"Ada apa, mengapa tuan besar sangat marah. Hingga melemparkan benda?"tanya permaisuri Han terlihat cemas.


Para dayang tak ada yang menjawab. mereka hanya saling pandang. Sikap pelayan membuat permaisuri Han marah, lalu ia pun berjalan masuk ke dalam sana melihat sang suami.


"Mengapa suamiku. Kau terlihat sangat marah?"permaisuri Han mendekati menteri Xianzuw.


"Apakah kau bodoh! Han?"pekik Menteri Xianzuw terdengar membentak karena masih dalam mode marah.


Permaisuri Han langsung bersungkur meminta maaf pada menteri atas kelancangan nya. "Maafkan aku, wahai suamiku. Aku tidak bermaksud begitu"


"Ayah! ibu! ada apa?"pangeran Xuan memasuki ruangan setelah mendengar keributan di dalam sana.


"Ibu...."pekik Puteri Zu. Ia mendekati permaisuri Han dan membantunya berdiri.


"Ayah, ada apa dengan dirimu ini? mengapa kau memarahi ibu habis-habisan?"tanya Puteri Zu sedikit keras.


Xianzuw mendengus kesal, ia bangkit lalu maju satu langkah dan Plakk! ditamparnya pipi Puteri Zu.


"Puteriku. / Zu!!"teriak permaisuri Han dan pangeran Xuan bersamaan.


"Kau! berani sekali meninggikan nada bicaramu pada ayahmu, sendiri! Hah?! di mana, sopan santun kau!"pekik menteri Xianzuw sambil menunjuk wajah putera Zu geram.


Puteri Zu mendengus sebal, tangan kanannya masih memegang pipi yang telah ditampar oleh ayahnya.


Permaisuri Han langsung menghampiri Puteri Zu. Dan memeriksa pipi kanan Puteri Zu yang sedikit kemerahan.


"Kau baik-baik saja, puteriku?"histeris permaisuri Han, ia sangat menyayangi Puteri satu-satunya ini.


Puteri Zu menepis tangan permaisuri Han. "Huh!!"Puteri Zu mendengus kesal, ia pun berlari meninggalkan ruangan tersebut dengan menangis.


"Suamiku, mengapa kau sampai memukul puterimu sendiri?"tangis permaisuri Han menatap ke arah menteri Xianzuw.


Menteri Xianzuw terdiam dengan napas yang masih tidak beraturan. Pangeran Xuan yang melihat ibunya menangis, dengan segera membawa permaisuri Han pergi dari sana. Memberi waktu agar menteri Xianzuw menenangkan diri.


"Hhh!!"


Tawa senang itu berasal dari kediaman Puteri Sayurri.


"Puteri. memang hebat, sekali mendayung dua gunung terlewati"ucap pelayan Milla membanggakan puteri nya itu.


"Tadi, hamba melihat Puteri Zu keluar dari ruangan menteri dengan menangis tersedu-sedu. Hamba, sangat kasihan. Hehehe...."kata pelayan Milla terdengar mengejek.


Dilla duduk sambil menikmati secangkir teh. "Itu belum seberapa aku membalas mereka. Apakah kau melihat marahnya tuan besar??"


"Benar, Puteri. menteri Xianzuw sangat marah ! apalagi saat mendengar cemoohan dari rakyat, karena tidak becus menangkap satu orang pencuri saja!"


Dilla meletakkan cangkir teh tersebut ke meja. Dia menatap ke depan diiringi senyuman aneh. "Hhh! Aku benar-benar menikmati pertunjukan ini. Aku akan membalaskan dendam Puteri Sayurri secara perlahan-lahan. Huh!"


Faviliun Teratai.


Adalah kediaman Puteri Zu berada. Faviliun ini sangat mewah bahkan sangat luas, dindingnya diukir dengan sempurna dan berlapis emas.


Semua yang berkaitan dengan Puteri Zu sangat mewah dan istimewa. Tidak seperti kediaman Puteri Sayurri. yang sempit dan kotor.

__ADS_1


Prankk!!


Klontang !!!


"Argh!"desis Puteri Zu marah. Dia melemparkan benda-benda yang berada di meja.


"AAAAAA !! Baru kali ini ayah menampar wajahku!!"frustasi Puteri Zu marah dengan napas yang menderu-deru.


Klontang !!!


Pelayan yang mendengar suara benda jatuh, langsung berlari menuju faviliun teratai. Saat mereka masuk, dilihatnya seorang gadis yang tengah mengamuk dengan pakaian sedikit berantakan dan ruangan sudah seperti kapal pecah.


"Tuan, Puteri. Ada apa? apa ada yang bisa kami bantu?"tanya salah satu pelayan dengan kepala tertunduk.


"Benar, Puteri"timpal pelayan lainnya dengan wajah yang juga tertunduk.


Puteri Zu mengepalkan tangan. Dia geram mendengar para pelayan yang sibuk bertanya padanya.


"DIAM!!!"Teriak Puteri Zu dengan emosi. "Kalian semua ! jangan membuatku semakin pusing!!"


Para pelayan tertegun.


"Ampun Puteri. Maafkan atas kelancangan kami ini"ucap mereka meminta maaf sambil bersungkur di kaki Puteri Zu.


"Kalian semua, bangun!"perintah Puteri Zu. "AKU BILANG BANGUN!!!"


Sontak para pelayan langsung bangkit. Mereka berdiri dengan berbaris rapi menghadap Puteri Zu dengan kepala tertunduk takut.


"Kalian semua bersihkan ruangan ini, segera!!"pekik Puteri Zu dengan emosi memerintah.


"Baik, puteri"mereka langsung membersihkan ruangan tersebut, tak ingin mendapat semprotan keganasan Puteri Zu lagi.


Puteri Zu yang melihat salah satu pelayan yang masih tertunduk takut langsung menggeram kesal.


"Kau! angkat kepalamu !"


Plakkk!!


pelayan Miyu kaget mendapat tamparan keras. Air matanya menetes bersamaan dengan wajah yang semakin merah karena sakit dan sudut bibirnya mengeluarkan darah.


"Pergi! Aku bilang pergi!!!"perintah Puteri Zu pada pelayan yang di pukul olehnya itu.


"Huh! seorang Puteri yang paling disayangi oleh perdana menteri. Ternyata seorang gadis tempramental!"


Suara seseorang di ambang pintu mengejutkan Puteri Zu. Dia berbalik badan menatapnya. Kedua tangan Puteri Zu mengepal kuat, ia tidak menyukai suara itu.


"Huh ! aku kira siapa, ternyata hanya seorang pecundang yang diberkati Tuhan hidup kembali!"suara itu terdengar biasa saja namun nadanya mengejek.


Puteri Zu melangkah mendekati pintu dengan wajah angkuhnya. Yang di sana ada Puteri Sayurri bersama pelayan setianya, Pelayan Milla.


"Apakah kau ingin bergabung dengan para pelayan rendahan itu? pecundang! "Puteri Zu menunjuk dada Puteri Sayurri dengan telunjuknya namun tak membuat gadis itu gentar.


Kini malah Puteri Zu yang tertegun saat melihat mata biru Puteri Sayurri yang mengintimidasi dan menakutkan.


"Sial !, mengapa tatapan si pecundang sangat menakutkan? hingga tubuhku merasakan aura pembunuh berantai darinya. Tenang, Zu. Pecundang ini bisa apa? selain menangis dan menangis saja" Sungut si Puteri Zu ketakutan, namun berusaha menyembunyikannya.


Dilla melipat kedua tangan di dada. Sorot matanya tajam, dia melangkahkan kakinya mendekati Puteri Zu hingga membuat si empunya mundur ke belakang.


"Sial ! mengapa aku sangat ketakutan! Bahkan kekuatan di tubuhku seakan-akan menciut!"geram Puteri Zu dalam hati.


"Mau apa kau!"pekik Puteri Zu ketakutan hingga tubuhnya gemetar.


Dilla menyunggingkan senyuman aneh, hingga membuat Puteri Zu menggidik ngeri. senyuman itu tak bertahan lama saat keadaan benar-benar mencekam.

__ADS_1


"Zu. Kau jangan takut, kau adalah anugerah Tuhan yang memiliki kekuatan hebat" sombong Puteri Zu, membanggakan apa yang ia miliki.


Plakkk!


Suara tamparan menggelegar. Memenuhi isi ruangan itu. Para pelayan sontak terkejut, melihat apa yang dilakukan oleh Puteri Sayurri. Mulut mereka menganggap dengan mata melotot.


"Satu tamparan ini balasan dari pelayan Miyu!"pekik Dilla.


Puteri Zu memekik tidak percaya, bagaimana mungkin si pecundang berhasil memukul wajahnya??


Plakkk!


Tamparan kedua kembali Dilla melayangkan. "Tamparan kedua ini, sebagai penghargaan atas kelancangan kau memukul pelayan ku!"


Puteri Zu geram. Ia menoleh pada Dilla dengan tangan kanan masih memegangi pipinya yang ditampar oleh Dilla.


"Kau ! berani menamparku?!"Puteri Zu berteriak keras sambil menunjuk wajah Dilla.


Plakkk!!


Tamparan ketiga Dilla layangkan kembali. Hingga membuat gadis itu terpental sampai menabrak dinding kamar. Puteri Zu meringis kesakitan, wajahnya sudah merah.


"Dan tamparan yang ketiga ini ! karena kau berani-beraninya menunjuk wajahku ! kau seharusnya berbangga hati, aku belum membunuhmu saat ini juga!"geram Dilla.


"Maka nikmatilah hari-hari mu sebelum ajal menjemput mu!"lanjut Puteri Sayurri, mengagetkan setiap orang yang berada di ruangan ini.


"Huh ! waktuku terbuang sia-sia hanya untuk menampar orang tidak berguna! sepertimu!"Dilla melirik ke arah di mana Puteri Zu berada.


Setelah mengucapkan kalimat itu. Dilla melangkah keluar.


"Rasakan itu!"sahut pelayan Milla mengejek.


"Dasar pelayan rendahan!"teriak Puteri Zu marah.


"Kau berani mengancam pelayan ku?!"Dilla menoleh sekilas hingga membuat Puteri Zu terperanjat kaget.


Puteri Zu dibantu berdiri oleh para pelayannya dan pelayan Miyu yang ditampar olehnya tadi, kini mengikuti Dilla keluar.


"Aku akan memberi tahu ayah. Kau telah menamparku ! nantikan hukumanmu Sayurri!!"teriak Puteri Zu histeris.


"Silahkan! aku tidak takut!"balas Dilla yang belum pergi jauh dari sana.


Brukk!


Pelayan Miyu bersungkur di kaki Dilla.


"Terima kasih, Puteri. Anda telah menampar wajah Puteri Zu, hamba sangat-sangat berterima kasih...."ucapnya.


"Bangkitlah!"


Pelayan Miyu pun bangun. "Terimalah hamba untuk mengabdi kepada anda. Wahai Puteri"


"Hmm."


Srett !!


Dilla merasakan ada seseorang yang mengawasinya sejak tadi. Dilla berhenti, lalu menoleh ke arah atap kediaman Puteri Zu. Sekelebat bayangan yang tak terlihat akibat gelapnya malam melintas.


"Siapa itu?"batin Dilla.


"Ada apa Puteri??"tanya pelayan Milla bingung.


Dilla menatap satu persatu wajah kedua wanita itu. "Tidak" jawabnya singkat. Lalu ia kembali melanjutkan berjalan meninggalkan pelayan Milla dan pelayan Miyu yang masih bengong.

__ADS_1


"Ada apa dengan Puteri?"pelayan Milla dan pelayan Miyu bergumam.


*Bersambung*


__ADS_2