
Dilla berhasil melarikan diri dari kejaran prajurit kediaman perdana menteri. Emas hasil curiannya tidaklah banyak. Dan emas tersebut dibelikan satu buah cincin ruang seharga 30 keping emas, ia juga membeli obat-obatan untuk memulihkan tubuhnya.
Di tanah Tundo, mata uang resmi yang digunakan adalah keping emas, keping perak, dan keping perunggu.
100 keping perunggu \= 10 keping perak \= 1 keping emas.
Dilla sudah berada di dalam kamar, tidak ada pelayan Milla di sana. Dia duduk dengan bersila kaki dilantai, kedua matanya terpejam, menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan. Dilla konsentrasi untuk memperbaiki tenaga dalamnya.
Brakk!
Terdengar suara pintu terbuka lebar yang memperlihatkan pelayan Milla berjalan masuk ke dalam. Puteri Dilla menyudahi meditasi nya.
"Puteri, apakah anda baik-baik saja? pelayan sangat khawatir...."tanya Pelayan Milla terdengar cemas.
Dilla tersenyum senang, ternyata masih ada yang peduli disaat keluarganya sendiri belum tentu peduli padanya.
"apakah kau sangat peduli padaku?"Dilla balik bertanya.
"Mengapa gerangan menanyakan hal semacam itu, wahai Puteri?"
"jawab saja"
Pelayan Milla mengembangkan senyumnya. "Pelayan menjawab, tentu saja hamba sangat cemas terhadap keadaan Puteri. Hamba sudah berjanji pada ibunda anda."
Dilla hanya tersenyum kecut, balas Budi. pikirnya. Pelayan Milla yang merasakan reaksi wajah Puteri Sayurri, merasa tidak enak hati.
"Maafkan hamba, wahai Puteri. Bilamana perkataan hamba telah menyakiti hati Puteri...."pelayan Milla meminta maaf dengan wajah tertunduk.
"Sudahlah, kau tidak perlu meminta maaf padaku."
"... apakah terjadi sesuatu di kediaman ini?"lanjut Dilla memastikan.
Pelayan Milla terkejut dengan pertanyaan sang Puteri. "Benar sekali, Puteri. Tadi siang ada pencuri di kediaman ini yang berhasil lolos dari kejaran para prajurit. Dan tuan besar sekarang sedang memaki-maki para prajurit."
Dilla menyunggingkan senyuman aneh. Dan membuat pelayan Milla bertanya-tanya di benaknya.
"Senyuman Puteri, sangat aneh. Apakah ... pencuri itu ....?"ucap Pelayan Milla sambil menutup mulut menggunakan kedua tangan.
Dilla bangkit. "Yap. Kau benar sekali, aku memang yang telah mencuri emas kediaman ini."
"Tetapi bagaimana mungkin, Puteri. Anda sama sekali tidak bisa bela diri?"tanya Pelayan Milla tak percaya.
Dilla memutar tubuhnya menghadap Pelayan Milla. "Sudah kukatakan. Aku bukanlah Puteri Sayurri yang dulu, aku sudah berubah. Apakah kau masih tidak percaya, hah?."
Pelayan Milla mengangguk-angguk paham. "Hamba sangat percaya sekali pada Puteri"
"Oh ya. Aku ingin pergi keluar,"cetus Puteri Sayurri. Dia sangat tidak sabar untuk melihat emosi si tua bangka akibat kehilangan sedikit emasnya.
__ADS_1
*****
"Kalian semua tidak berguna! hanya menangkap satu pencuri saja tidak becus! untuk apa aku memperkerjakan kalian, hah?!"maki perdana menteri Xianzuw pada para prajuritnya di depan mansion.
Para prajurit hanya tertunduk takut mendengar perkataan perdana menteri. Tidak ada yang berani berkomentar untuk membela diri.
"Sudahlah ayah, jangan sampai kesehatanmu memburuk hanya karena ini. Pencurinya pun tidak mengambil banyak keping emas."pangeran Xuan melerai keadaan yang menegangkan ini.
"Benar sekali, ayah. yang dikatakan kakak pertama."sahut Puteri Zu sambil merangkul pundak perdana menteri.
"Kalian semua pergi!!"perintah Puteri Zu menggetarkan mereka.
"Baiklah, kami permisi"para prajurit segera pergi sebelum mereka terkena semprotan pangeran Xuan.
"Sebaiknya ayah istirahat di dalam"ucap Puteri Xiao menyarankan.
"Silakan suamiku"permaisuri Lou mengajak suaminya untuk memasuki ruangan istirahat.
"Huh. Keluarga kikir, kehilangan sedikit uang sampai semarah itu."pekik Dilla memperhatikan mereka dari kejauhan, dia sedang duduk di taman depan.
"Mereka pantas mendapatkannya!!"timpal Pelayan Milla dengan geram.
"Hhh! kau pandai sekali"sahut Dilla sambil memakan potongan apel merah.
"Itu belum seberapa!"batin Dilla menyeringai dengan menyunggingkan senyuman devil.
****
Lalu masuklah pangeran Shen ke dalam ruangan megah itu. Di sana ada yang mulia kaisar, Liu Zhi Xiang Qin duduk di singgasananya. Di sampingnya ada wanita cantik yang tak lain permaisuri, Liu Hua Yu. Dan beberapa pangeran dan Puteri duduk berjajar rapi.
Pangeran Shen memasuki ruangan tersebut. Dia membungkuk memberi hormat. "Pangeran memberi hormat pada yang mulia kaisar dan permaisuri, semoga kalian diberi umur panjang dan kesejahteraan."
Permaisuri dan yang mulia kaisar tersenyum.
"Salam pangeran, diterima."kata keduanya.
"Kau baru saja tiba. Dengan membawa kemenangan. Alangkah baiknya bila kau istirahat, pangeran"yang mulia kaisar, Liu memerintahkan.
"Terima kasih yang mulia, pangeran ijin undurkan diri"pangeran Shen memberi hormat dan ia pun melenggang dari ruangan tersebut.
Pangeran Shen berjalan menyusuri koridor kediamannya yang berada di Aula Bintang. Dia masuk ke dalam sana, untuk istirahat.
Malam pun tiba.
"Chu!"panggil pangeran Shen. Dan beberapa saat kemudian terdengar ketukan pintu.
Tok ! Tok !
__ADS_1
"Masuklah"
orang yang diluar sana, masuk ke dalam ruangan pangeran. Pria yang memakai pakaian hitam dan sembilah pedang di tangannya memberi hormat.
"Hormat pada pangeran."
Pangeran bangkit dari duduknya. Dia berjalan mendekati jendela yang terbuka dan terlihat di langit gelap itu bulan bersinar terang.
"Ada gerangan apa, pangeran memanggil hamba?"pria itu tak lain adalah kepercayaan sang pangeran, bernama Chu Xitian bertanya.
"Apakah kau tahu Puteri perdana menteri, yang bernama Puteri Sayurri?"entah mengapa pangeran Shen sangat ingin tahu.
Chu Xitian mengerutkan kening, dia bingung. Tidak biasanya pangeran menanyakan tentang seorang wanita.
"Ya. Pangeran. Semua orang tahu tentangnya, dia terkenal sebagai pecundang sejati. Memangnya mengapa engkau menanyakan perihal Puteri perdana menteri??"
"Apakah kau tidak salah mendengar informasi, Chu?"pangeran Shen berbalik badan melihat Chu Xitian yang bingung.
"Maksud, pangeran?"
"Sehabis pulang berperang. Aku beserta rombongan mampir sejenak ke kedai, untuk beristirahat. Aku melihat para prajurit Menteri Xianzuw menggeledah tempat-tempat yang beralasan mencari seorang pencuri."ucap pangeran Shen.
"Lalu apa hubungannya dengan pertanyaan pangeran, mengenai Puteri Sayurri? hamba sungguh bingung"
"Semua itu saling berhubungan. Sebab, pencuri tersebut yang tak lain Puteri Sayurri sendiri."
Chu Xitian tampak syok mendengarnya. Setahu dirinya, Puteri Sayurri adalah wanita yang bodoh dan lemah.
"Apa mungkin pangeran, salah mengenali orang?"pendapat Chu Xitian.
Pangeran Shen melirik pada pria itu tajam. "Apakah kau meragukan penglihatan ku, hah?"
Chu Xitian menelan ludahnya kasar. Bagaimana bisa dia mengatakan hal semacam itu. Tatapan pangeran Shen sangat menakutkan dan mengintimidasi.
"Maafkan atas kelancangan hamba, pangeran"Chu Xitian langsung bersungkur dengan meminta maaf.
"Lalu apa yang bisa hamba bantu, pangeran?"tambahnya.
"Tidak perlu, kau boleh pergi. Dan aku hanya ingin kau mencari tahu tentang Puteri ketiga."
Chu Xitian memberi hormat. "Baik, pangeran. Hamba, akan mengerjakan perintah anda. Hamba mohon undur diri."
"Ya."
Chu Xitian langsung pergi dari sana. Dia segera mencari informasi tentang Puteri Sayurri di kediaman menteri.
"Aku sangat penasaran pada gadis itu"gumam pangeran Shen.
__ADS_1
*Bersambung*