
"Potret Dilla Xianyu sewaktu di zaman modern"
"Puteri Sayurri Xianyu di zaman Kuno"
******
Dilla yang berusaha mengingat kembali namun tidak bisa, ia menggeleng polos. Tetapi tiba-tiba kepalanya terasa berat dan sangat sakit, bukan kah yang terluka perutnya mengapa kepalanya terus menerus sakit??
"Akhh! kepala gue kenapa sakit anjivvv!"pekik Dilla mencengkram erat rambutnya.
"Tu... tuan Puteri! Anda kenapa lagi? Puteri tunggu sebentar ya, pelayan Milla akan mencarikan tabib."pelayan Milla yang panik pun segera berlalu dari ruangan.
"Aih dasar bocah! dikit-dikit tabib!"
Tiba-tiba sekelebat bayangan muncul yang menampilkan gambar-gambar seseorang bak TV di zaman modern. Bayangan yang menjelaskan kejadian-kejadian yang sempat dialami sang pemilik tubuh asli.
"Aku adalah Puteri ketiga Puteri Sayurri Xianyu. Keluargaku adalah keluarga kaya raya yang disegani di tanah Tundo negeri Deviar"
"Hhhh! ternyata hidupku sangat menyenangkan terlahir dari keluarga kaya raya, menjadi seorang Puteri ya, walaupun tidak menjadi Queen Inggris. Tapi nama gue kok Sayurri? kaya iklan aja Sayurri saus tiram wkkk"tawa Dilla sangat bangga.
Ingatan selanjutnya muncul.
"Meskipun terlahir dari keluarga terhormat. Tetapi, ditertawakan oleh seluruh negeri Deviar karena seorang pecundang"
"What the fu*k!!"
"Penyakitan, lemah, penakut, sering ditindas dan tidak bisa bertarung"
"Anjirr! Bodoh kali nih anak? gue ... gue sekarang paham, di negeri Deviar tanah Tundo ilmu beladiri sangat penting dan menentukan segalanya."gumamnya.
"Sebagai seorang Puteri dia selalu ditindas oleh saudaranya, diperlakukan seperti pelayan bahkan melebihi pelayan hina dan lagi dia ... juga seorang yang bodoh. Ayahnya tidak peduli apalagi melihatnya, dia hidup seperti bayangan yang mencari tubuh. Sejak kematian ibunya, selir Amekia Xi'an Li pada saat dia berusia 5 tahun.
__ADS_1
Beberapa hari lalu, Sayurri tidak sengaja menyinggung Puteri Zu, yang merupakan Puteri kesayangan ayahnya. Menteri Xianzuw lalu memerintahkan kepada para penjaga untuk mengurung Puteri Sayurri di gudang, tidak boleh diberi makan, obat dan hanya boleh diberi minum satu kali saja, tidak boleh ada yang mengunjunginya eh ralat nggak ada yg mau.
Sejak dia berusia masih kecil tubuhnya memang terlahir lemah dan hukuman itulah yang merenggut nyawanya"
"Apa-apaan ini, gambaran kok menyedihkan banget!, tapi ... Kasian banget nasib Lo Puteri, tapi gue aneh banget. Gue si Eyes Ghost penembak jitu bisa-bisanya pindah Dimensi dan masuk ke tubuh gadis 15 tahun si pecundang, yang benar saja?"ucap Dilla memandang miris.
"Baiklah, gue akan ubah nasib Lo yang membosankan ini dan membalaskan dendam kepada orang-orang yang telah menyakitimu walau seujung kuku!"Angkuh Dilla, tangannya mengepal kuat dengan iris mata tajam tatapannya horor
Dilla melangkah mendekati cermin, dia berdiri dengan memandangi wajahnya. "Astaga! muka nih anak mirip banget sama gue? apakah ini takdirNya ya? au ah!"gumam Dilla sembari memegang kedua pipinya.
Brukk!!
Pintu terbuka dan pelayan Milla sudah tersungkur di lantai dengan menangis. Sontak Dilla terkejut dan mendekatinya, lalu ia membantu pelayan Milla bangun.
"Apa yang terjadi? mengapa kau datang dengan wajah lebam begini dan menangis? apa yang mereka lakukan padamu?"pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan Dilla, dia benar-benar terkejut.
"Hiks... Hiks... ma-maafkan hamba tuan Puteri, ha-hamba tidak bisa membawakan tabib."pelayan Milla berkata dengan tersedu-sedu.
"Hanya Pelayan Milla yang setia menemani Puteri Sayurri, dia bahkan rela terkena hukuman demi membela Puteri Sayurri. Aku sekarang Dilla yang kuat bukan Sayurri yang lemah."batin Dilla menyeringai sambil menyunggingkan senyum devil.
Pelayan Milla tertegun, dia melihat Puteri Sayurri tidak seperti biasanya yang penakut, kini tubuhnya memancarkan aura yang menakutkan.
"Hei! aku bertanya padamu!"dingin Dilla dengan wajah datarnya.
"Puteri Zu, dia melarang hamba untuk membawakan tabib dan Puteri Zu juga menampar wajah hamba. Hiks... Puteri jangan sedih, mereka memang seperti itu sangat jahat padamu Puteri...."kata Pelayan Milla khawatir.
"Brengsek! berani-beraninya dia memperlakukan pelayanku dengan keji!"pekik Dilla menakutkan.
"Ada apa dengan Puteri Sayurri? mengapa tingkah lakunya berbeda? dia tidak seperti penakut lagi?"batin pelayan Milla mengernyitkan keningnya bingung.
"Sudahlah tunggu tanggal mainnya saja, kau sini duduk biar aku obati lukamu itu."
"maafkan hamba Puteri, pelayanmu yang hina ini tidak pantas bersanding duduk denganmu."jawab pelayan Milla cepat seraya bersungkur di kaki Dilla. Dilla yang melihat itu terlonjak kaget, bagaimana bisa wanita ini bersujud di depannya.
"Terserah kau saja!"pekik Dilla, di duduk menghadap cermin. "Oh ya menurutmu gue cantik nggak??"
__ADS_1
"Nona ini bagaimana sih, dia sedang sakit dan kini melontarkan pertanyaan tentang kecantikannya?"batin Pelayan Milla.
"Hamba menjawab, nona memanglah wanita tercantik dan wajah Puteri sangat persis seperti kecantikan Selir Amexia, ibunda Puteri. Tapi..."jawab pelayan Milla terjeda sambil menyisir rambut Dilla.
"Ada apa?"Dilla menengok ke arah pelayan Milla.
"Nona kecantikan anda memanglah tiada tanding, tetapi anda...."
"Ya aku sudah tahu apa yang mau kau katakan, pasti kau mau bilang aku ini seorang yang bodoh, penakut. Benar kan??"Dilla langsung memotong perkataan pelayan Milla dengan menebak.
Pelayan Milla tertunduk, apakah hal itu akan membuat Puteri sedih lagi?
Dilla bangkit dan berdiri, lalu ia meraih kedua tangan Milla dan menggenggamnya dan mengatakan.
"Kau tidak perlu risau, aku sekarang bukanlah wanita yang gampang menangis dan lemah, kau lihatlah diriku baik-baik. Aku jauh lebih kuat dibandingkan dulu."kata Dilla penuh yakin.
Pelayan Milla mengangguk, tetapi ia merasa janggal dengan sifat Puteri yang berbeda. "Puteri...."
"Kenapa? kau tidak percaya dengan kata-kataku? ehh menyebalkan, kau kemari dan mendekatlah aku akan menceritakan rahasia."pinta Dilla.
Pelayan Milla pun mengangguk, ia mendekat karena ingin tahu apa yg akan dikatakan oleh Dilla. Dilla kemudian membisikkan sesuatu di telinga pelayan Milla.
"Sebenarnya aku bukanlah Puteri kalian, kami berbeda hanya berwajah sama dan satu hal yang perlu kau ketahui Puteri kalian sudah meninggal ketika masa hukumannya berlangsung."
Deg!
Pelayan Milla berjalan mundur dengan jantung yang berdetak kencang sangat menyesakkan. Ia menggeleng tak percaya.
"Puteri! hiks! hiks.... apa yang Puteri katakan? perkataan Puteri sungguh membuat pelayanmu bingung, jelas-jelas Puteri masih hidup, malah menyebut dirimu telah meninggal? hiks! hiks.... ini memang kesalahan pelayanmu yang bodoh! Selir Amexia maafkanlah pelayanmu ini yang tidak bisa menjaga Puteri. Hiks... hiks... hiks..."Bingung Milla dengan menangis tersedu-sedu dan memeluk tubuh Dilla dengan erat-erat.
"Akh! orang zaman dulu memang cengeng sekali, aku bicara jujur tidak percaya apalagi bohong? yang Entahlah."pekik Dilla sambil mencebikkan bibirnya.
Kemudian Pelayan Milla melepaskan pelukannya, dia menyeka air matanya lalu menatap sendu wajah Dilla.
"Puteri maafkanlah hamba, karena membiarkan mereka semua menindas anda sampai seperti ini, jika saja selir Amexia masih hidup beliaulah yang akan melindunginya anda."sesal Milla dengan wajah yang tertunduk. Air matanya sudah tak bisa lagi menahan tangis, kala mengingat masa-masa dimana Puteri Sayurri ditindas oleh para Puteri dan pangeran bahkan seorang pelayan pun.
__ADS_1
*Bersambung*