PEMBALASAN SANG PECUNDANG

PEMBALASAN SANG PECUNDANG
Kebenaran dan mencuri


__ADS_3

Dilla melangkah ke luar ruangan, dia berjalan untuk melihat-lihat sekitar tempat ini. Di depan jalan kediaman perdana menteri, terlihat banyak orang sedang berlatih bela diri. Dilla memperhatikannya di depan teras kamarnya.


Hiaaat!


Heaaat!


Hiaakk!


Mereka berlatih dengan sempurna, mulai dari gerakan kuda-kuda, menendang dan bermain pedang.


"Puteri, bukankah Anda sangat takut melihat mereka yang bermain pedang?"pelayan Milla bingung.


"sejak kapan, aku takut?"


"Puteri ... anda dulu selalu takut melihat pedang bahkan digigit semut pun anda langsung menangis."kata Pelayan Milla.


"Apa! setakut itukan aku pada semut? digigit pun langsung menangis? ... pantas saja dia disebut pecundang, memang panggilan itu cocok untuknya."batin Dilla.


"itu dulu bukan sekarang"pekik Dilla sombong.


"syukurlah"pelayan Milla menghela napas tenang.


Kini mata Dilla tertuju pada orang-orang yang sedang duduk dengan memperhatikan para prajurit berlatih dilantai dua.


"Siapa mereka?"Dilla menunjuk ke arah lantai dua. sontak pelayan Milla langsung menurunkan tangan Dilla.


Dilla mengerutkan kening, ia menatap wajah pelayannya yang agak ketakutan itu. "Ada apa? mengapa kau terlihat takut saat aku menunjuk mereka?"


pelayan Milla yang masih menggenggam tangan Dilla, lalu ia mendongak.


"Puteri, anda jangan lakukan hal seperti tadi, jika tidak ingin di hukum."


"maksud kau, aku dilarang menunjuk orang itu?"pelayan Milla menjawab dengan anggukan kepala.


"Tapi kenapa? bagiku sah-sah saja!"ucap Dilla tidak habis pikir.


"baiklah Puteri, karena anda mengalami hilang ingatan. pelayanmu ini akan menceritakan semuanya."kata Pelayan Milla, ia berdiri sambil memegang pagar teras rumah.


Dilla menatapnya bingung.


Milla mulai bercerita tentang sosok Puteri Sayurri. "Dahulu saat Puteri masih kecil, Puteri menunjuk ke arah permaisuri dan tuan besar tidak suka, lalu menghukum anda dengan 20 cambukan."


"astaga! tua bangka sialan!"gumam Dilla menatap miris nasib si Puteri Sayurri yang dihukum.


"Lalu mengapa aku terus disiksa? bukankah aku juga Puteri kediaman ini?"tanya Dilla penasaran.


pelayan Milla berbalik badan dengan wajah yang sedih.


"ada apa? aku hanya ingin tahu mengapa aku bisa disiksa terus menerus dan dianggap pecundang? jawab aku ini perintah!"sentak Dilla hingga membuat pelayan Milla terkejut.


"Puteri, sebaiknya kita bicarakan di dalam saja, karena takut ada yang mendengarnya."


Dilla diam, tetapi dengan tiba-tiba pelayan Milla menariknya kembali masuk ke dalam kamar.


"buruan ceritakan"tagih Dilla sambil melipat kedua tangan di dada.

__ADS_1


"Permaisuri dan tuan besar, maupun saudara-saudara anda membenci dan selalu menghukum anda, karena ..."pelayan Milla menjeda perkataannya.


"karena apa?"


"karena anda bukanlah Puteri kandung perdana menteri Xianzuw."celetuk Pelayan Milla.


Dada Dilla merasakan sesak yang menyakitkan, walaupun ia bukan Puteri Sayurri tetapi jantungnya merespon sangat besar. ada kesedihan yang melanda.


"lanjutkan"suara itu terdengar berat, dengan tenggorokan serasa terjegal.


"Ibunda anda, selir Amekia berselingkuh dengan pria yang tidak diketahui identitasnya. Sebenarnya, selir Amekia dipaksa menjadi selir dan menikah dengan perdana menteri yang tidak pernah dicintainya itu. Tuan besar sangat marah saat mengetahui selir Amekia melahirkan, padahal dirinya tidak pernah menyentuhnya. Anda adalah aib keluarga ini, ditambah lagi anda sangat tidak berguna dan mudah sekali ditindas."cerita Pelayan Milla sebenarnya, dia adalah gadis kecil yang dulu diselamatkan selir Amekia dan dijadikannya seperti Puteri sendiri. Pelayan Milla bersumpah akan selalu melindungi dan membela Puteri Sayurri di hadapan selir Amekia.


Sesak tenggorokannya dan jantungnya yang seakan-akan ditabrak kereta, benar-benar menyedihkan kehidupan Puteri Sayurri. "aku tidak menyangka hidupmu menyedihkan, dibandingkan dengan kehidupan ku"batin Dilla.


"maafkan hamba, bila kebenaran ini menyakitkan hati Puteri."pelayan Milla langsung bersungkur di kaki Dilla.


"Bangunlah, aku tidak suka melihat orang kuno seperti kalian bersujud di kaki manusia! bersujud lah di hadapan sang pencipta!"


kagum. satu kata untuk Dilla yang terlintas di benak pelayan Milla, dia pun bangkit.


"apakah anda tidak sedih, wahai Puteri..."


"Kebenaran memanglah menyakitkan, tapi apalah daya itu semua takdirNya. Berkat kebenaran aku bisa belajar kebohongan tidak akan menyelesaikan masalah."


Pelayan Milla tersenyum, Puteri nya ini tidaklah pecundang lagi, kata-katanya sekarang sangat bijak pantas diberi hadiah.


"apakah aku punya uang?"tukas Dilla bertanya.


"jangankan uang, makan saja masih kekurangan. Mereka semua jahat tidak memberikan Puteri makanan yang enak!"ucap Pelayan Milla kesal, terdengar sedang mengutuki seseorang.


"Baiklah, jika mereka pelit aku sendiri yang akan mencuri uangnya!"


saat Dilla hendak keluar tangannya ditahan oleh pelayan Milla. "tidak semudah itu Puteri, gudang penyimpanan harta benda di jaga oleh para penjaga yang tangguh."


Dilla berbalik badan menatap pelayan Milla. "Lalu apa masalahnya, apakah kau mempunyai cincin ruang?"


pelayan Milla menggeleng.


"Carikan aku cadar"


pelayan Milla mengangguk, dia segera mengambil yang diperintahkan oleh Dilla.


"ini Puteri yang ada inginkan"pelayan Milla kembali dan memberikan cadar berwarna hitam tersebut.


Dilla langsung memakainya, dan menatap dirinya di cermin.



"perfek"kata Dilla.


"Puteri untuk apa anda memakai cadar ini?"pelayan Milla mendekati Dilla dan bertanya.


"ya buat merampok lah, Lo pea bangettttttt!"greget Dilla sangat dingin.


"tapi ..."ragu Pelayan Milla khawatir.

__ADS_1


"Sudah jangan banyak tapi tapian, ingat jika ada yang ingin bertemu denganku katakan saja aku sedang sakit dan memiliki penyakit yang menular."perintah Dilla tanpa penolakan.


Setelah itu dia keluar melewati jendela kamar yang tertuju langsung ke arah kediaman Mentri Xianzuw, yang pastinya gudang penyimpanan harta benda di sekitar sana.


" Ada gunanya juga nih pakaian jelek."gumam Dilla, ia berjalan mengendap-endap.


Saat terdengar suara langkah kaki hendak menghampiri dimana Dilla sembunyi di balik tembok kediaman Loiw.


Wussss!


Dilla menghentakkan kakinya ke tanah dan ia pun melayang naik ke atap kediaman Mentri Xianzuw. Dilla melihat beberapa prajurit melintas dan saat keadaan sudah aman, dia mulai beraksi.


Dia menengok ke belakang, tidak ada siapapun. Dilla mengambil kerikil dan melemparkannya ke arah lain untuk mengelabui prajurit yang menjaga ruangan harta benda kediaman Loiw.


Plettakk!!


"Siapa disana?!"sergas prajurit.


"Mari kita periksa!"


Dengan bodohnya dua prajurit itu langsung meninggalkan ruangan tersebut demi mencari tahu suara tersebut.


"Bodoh!"gumam Dilla, tanpa ba-bi-bu lagi Dilla menghampiri pintu tersebut dan sialnya pintu digembok kuat.


"pintu digembok gak akan bisa hentikan gue!"pekik Dilla, dia langsung melompat ke atap ruangan tersebut dan membongkar atapnya.


Brukk!


Dilla sudah didalam sana, ia melihat banyak sekali peti-peti besar.


"wah, banyak sekali peti-peti disini."Dilla menghampiri salah satu peti yang tak jauh darinya dan ia membukanya.


Clinggg!!!


kepingan emas dan permata bersinar menyilaukan mata, Dilla berdecak kagum.


"emas Dilla datang, sayang"dengan gercep Dilla mengantongi kepingan emas yang dia masukkan ke dalam kain berwarna hitam, berhubungan tidak ada cincin ruang.


"jangan salahkan aku mencuri emasmu tua bangka! salahkan dirimu mengapa membiarkan Puteri Sayurri hidup miskin!"gerutu Dilla dalam hati.


Tap! Tap! Tap!


Terdengar suara langkah kaki yang mendekat, Dilla menyudahi mengantongi kepingan emas tersebut. Jantungnya berdetak cepat, ada perasaan cemas jika ketahuan dan kemungkinan ia akan dihukum mati.


Tap! Tap!


langkah kaki itu semakin mendekat, Dilla mundur ke belakang dan Prankk!! Dilla tidak sengaja menyenggol guci antik hingga pecah.


"Siapa didalam?!!"teriak prajurit, dan langsung membuka gembok pintu ruang penyimpanan harta.


"ada pencuri!!!"


Dilla semakin khawatir kala terdengar teriakan para prajurit yang menyerukan nama ' Pencuri '


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2