
Keesokan harinya....
Dilla masih terbaring lemah diatas ranjang, seorang tabib tengah memeriksa tubuhnya dan mengobati luka tusuk itu. Di ruangan sempit itu tidak hanya ada tabib melainkan ada seorang pria yang mengenakan pakaian mewah, rapi, dan terlihat sangat berwibawa. Pria itu duduk manis sambil menatap tajam ke arah Dilla.
"Bagaimana kondisinya tabib?"tanya pria itu dengan dingin dan wajah datarnya.
"Ampun tuan besar, Puteri Ke Tiga nona Sayurri keadaan sudah mulai pulih."jawab sang tabib dengan hormat.
"Oh! kau boleh pergi"pria itu memerintahkan sang tabib untuk pergi.
"Baik tuan besar, hamba ijin undur diri"tabib itu memberi hormat, lalu ia bangkit dan berdiri berlalu dari ruangan itu.
"Ck! anak sialan"pria itu berdecih sambil menatap tajam wanita yang tergulai lemas diatas ranjang itu.
Tak lama kemudian mata indah Dilla terbuka perlahan-lahan, kepalanya masih pusing, dia megerjapkan matanya dan menelusuri setiap sudut ruangan itu. Lalu didapati pria paruh baya yang tengah menatapnya tajam.
Karena tak percaya dengan apa yang dilihatnya, Dilla menutup matanya kembali dan berharap jika itu semua hanya mimpi belaka.
__ADS_1
"Semoga aja yang tadi gue liat cuma halusinasi aja, gue kan gak mau kembali lagi, kalau gue pindah dimensinya ke kerajaan Inggris dan jadi Queen ya gue bakal betah Dan semoga pada saat gue buka mata, gue udah ada di rumah"Batinnya dengan sangat yakin.
Alon-alon Dilla membuka matanya kembali, dan jduarr tidak sesuai dengan harapannya. Dilla berdecak frustasi, sebanyak apapun ia menutup mata tetap saja Tuhan menakdirkan dirinya untuk menjelajahi dunia ini, apa mungkin ini karma karena ia telah membunuh banyak orang?
"Tuhan Lo gak adil tau gak, gue gak mau tinggal di sini! gue gak betah! bagaimana nanti uang, mobil, rumah mewah gue di zaman modern?"rengek Dilla mengacak-acak rambutnya frustasi dan masih saja memikirkan harta bendanya di abad 21.
"Hei, Lo siapa? gue nggak kenal?"tanya Dilla, dia bangkit dari kasur dan berdiri sambil menatap pria itu.
"Oh iya gue lupa, gue kan masih hidup di zaman kuno. Lo pasti kakeknya nih anak kan?"tanya Dilla sambil meletakkan jari telunjuk ke bibirnya.
"Awwww!"
"KAMU TAHU APA YANG KAU LAKUKAN, HAH? KAU INI ANAK TIDAK TAHU DIUNTUNG! SUDAH DIHUKUM TINGGAL DI AULA AWAM DAN KINI KAU BERULAH? ENYAHLAH!!"Maki pria itu dengan nada yang amat menakutkan.
"KAU LEBIH BAIK MATI SAJA! DARIPADA HANYA BISA MEMBAWA SIAL BAGI KEDIAMAN KELUARGA INI!"Makinya lagi, suara pria ini memecah keheningan ruangan sempit itu.
Dilla yang merasakan sakit seketika sirna, kala mendengar perkataan dingin pria itu. Ia mengalihkan pandangannya menatap tajam wajah si pria tua. Tangannya mengepal kuat, wajahnya memerah sudah tak sanggup lagi menahan emosi dengan deru napas memburu. Pria ini benar-benar membuat Dilla sangat muak!
__ADS_1
Dilla menatapnya horor, lalu ia berjalan ke arah pria itu walau perutnya masih sakit . "Lo pikir gue mau hah, tinggal di sini? dan Lo berani-beraninya bentak gue? Lo gak tau siapa gue? gue BISA AJA BUNUH LO DETIK INI JUGA!!"pekik Dilla tak kalah horor.
"Sialan!"umpat pria itu. Dia bangkit dengan tiba-tiba melayangkan tamparan keras yang didapatkan ke pipi mulus Dilla.
Plakk!!
Dilla meludah ke lain tempat, lalu ibu jarinya menyusut sudut bibirnya yang terluka dan mengeluarkan darah.
"Bang*t!"umpat Dilla berdecih sebal. Jika tubuhnya sedang lemas mungkin ia akan membogem wajah si pria.
"Kau!!"pekik pria itu kesal, ia hendak melayangkan tamparan kembali namun ditahannya. Ia mendengus dingin lalu pergi dengan menggibaskan jubahnya. pergi dengan wajah yang merah padam.
"Cih! tua bangka bau tanah!"pekik Dilla, lalu ia berjalan namun tiba-tiba kepalanya terasa sangat pusing.
Pria paruh baya itu adalah Xianzuw Loiw, seorang menteri instana. Dia seorang ayahanda gadis yang bernama Sayurri Xianyu.
Sudah tak aneh lagi jika melihat Menteri Xianzuw memperlakukan kasar putrinya ini, ia bahkan tega mencambuk, melarangnya makan selama beberapa hari, tinggal di tempat sempit dan kotor. Puteri ke tiga nona Sayurri, di juluki pecundang dari tanah Tundo.
__ADS_1
*Bersambung*