
"Dasar orang tua sialan!"gerutu Dilla.
Dia tak sadar lukanya kembali terbuka dan mengeluarkan darah lagi, tubuhnya gemetar dengan keringat dingin yang membanjiri wajahnya. Brukk!! tiba-tiba Dilla tergeletak ke lantai dengan kondisi tak sadarkan diri. Pelayan yang baru saja memasuki ruangan itu, terperanjat kaget.
"Tu ... Tuan Puteri!!"teriaknya dan segera menghampiri Dilla. Ia menyentuh lembut dahi Dilla yang terasa sangat dingin.
"Aduh tuan Puteri, anda kenapa? tuan Puteri ... akh! apa yang harus aku lakukan? tuan Puteri tunggu sebentar, pelayan akan mencarikan seorang tabib."ucapnya, dia bangkit dan segera pergi dengan terburu-buru dari ruangan itu.
Tabib datang dan langsung memeriksa tubuh Dilla yang berbaring di ranjang. "Puteri Sayurri, keadaannya sekarang sedikit lemah akibat lukanya yang terbuka kembali. Untung saja Tuhan memberkatinya dan mempertahankan nyawanya."jelas tabib Luxian Lubayy.
"Hiks.... Puteri, kasihan sekali nasib anda."pelayan wanita itu menangis sedih dengan meratapi nasib wanita itu.
"Karena tidak ada keperluan lagi, saya permisi."Tabib Luxian permisi dan berlalu dari tempat itu.
Pelayan itu tersungkur di samping keranjang dimana Dilla sedang terbaring lemah. "Nona mengapa nasib anda sangat menyedihkan, hiks! Tuan besar tak sayang, saudara-saudara anda sangat membenci ... bahkan mereka selalu memperlakukan Anda bak seorang pelayan. Hiks ! Hiks !"ungkap Pelayan itu menatap miris nasib wanita ini.
Di ruangan Menteri Xianzuw Loiw.
prankk!!
klontankk!!!
Prankk!!!
Barang-barang yang ada disekitar menteri Xianzuw langsung dihempaskan nya, hingga berbenturan dengan lantai.
"Sinting!! mengapa anak sialan itu berlagak aneh dan sifatnya pun berbeda??"pekik menteri Xianzuw, ia mengepalkan tangannya kuat, emosinya memuncak kala mendengar perkataan tabib Luxian.
Pelayan yang berada disana menggidik ngeri melihat kemarahan sang tuan besar.
"Ayahanda, harap tenang dulu. Puteri rasa adik ketiga sudah menjadi gila karena, berlaga sangat aneh. Harap ampunan nya ayah atas kelancangan Puteri."ucap Puteri Ke Dua, Puteri Yuni'un Zu Loiw.
Puteri Zu, adalah Puteri kesayangan Sang menteri Xianzuw. Semua keinginan Puteri Zu langsung dikabulkan, tinggal di Faviluin Teratai. Faviluin ini mewah dan sangat luas, dindingnya terbuat dari ukiran-ukiran unik dan tercampur dengan emas, pakaian Puteri Zu terbuat dari benang emas dan kain sutra. Tidak seperti tempat tinggal Puteri Sayurri.
__ADS_1
"Benar suamiku, apa yang dikatakan Puteri Zu."Sahut permaisuri Xixian' Lou Han. Semakin membuat menteri Xianzuw sebal.
"Tabib Lu, anda sedang tidak membohongi menteri kan? jika kau berbohong maka kepala kau akan ku tebas!!"ancam pangeran Li Ning Xuan, pangeran pertama putera kandung permaisuri dengan menteri Xianzuw. Pangeran Li menjulurkan pedang tajam ke leher sang tabib.
Tabib Lu ketakutan, tubuhnya gemetar dengan mata yang melirik ke arah pedang, ia menelan ludahnya pun sangat sulit.
"A... ampun tuan besar, sa--saya tidak berani berkata bohong. Tubuh Puteri Sayurri, yang lemah kini menjadi sangat kuat dan bertenaga"jawab tabib Lu dengan bersungkur di kaki menteri Xianzuw.
"Argh! mengapa anak sialan itu belum juga mati, malah bikin susah saja. Dan ... apakah yang dikatakan tabib Lu benar? ahh aku sungguh tidak percaya!"batin permaisuri menggerutu kesal.
"Jalang! mengapa kau tidak mati saja, aku pikir kau akan mati ... akh Tuhan mengasihani dirinya!! Tapi, aku senang juga dia belum mati, aku akan punya kesibukan untuk menindasnya! hehe...."Batin Puteri Zu menyeringai dengan menyunggingkan senyuman aneh.
Menteri Xianzuw diam dengan menompangkan dagunya, ada rasa kesal yang terbesit di benaknya. Rahangnya mengeras tegas dengan satu tangan mengepal.
"Ayahanda maaf, Puteri ingin mengutarakan pendapat Puteri."tukas Puteri Xiao Lo Ciao, Puteri ke empat. Puteri kandung selir Miao Lo Que, selir kesayangan menteri Xianzuw. Puteri Xiao meminta ijin.
"Ya silahkan."menteri Xianzuw mengijinkan.
"Menurut Puteri, kakak ketiga berlaga sangat aneh setelah dihukum di gudang kemungkinan memasukkan roh roh jahat, mohon ampun bila Puteri salah bicara."ungkapnya seraya meminta maaf.
"Mohon ampun ayahanda, menurut putera tidaklah mungkin adik ketiga terkena roh jahat karena, tabib Lu tidak mungkin salah perkiraan. apalagi tabib Lu bekerja di istana Xi sudah bertahun-tahun. hmm ... jika mengenai kondisi adik ketiga kemungkinan dia terkena depresi berat yang mengakibatkan perubahan sifat dan kelakuannya. Mohon ayahanda perhitungkan."timpal pangeran Xuan tidak setuju dengan pendapat Puteri Xiao.
"Benar tuan besar, Puteri ketiga tidak ada gejala dirasuki oleh roh jahat."sahut tabib Lu tanpa permisi.
Sontak membuat Puteri Zu langsung menjulur pedangnya ke leher tabib Lu. "Berani sekali kau berbicara tanpa ijin dari menteri!! kau mau cari mati?!"ancamnya.
"Sudah cukup! ... dan kau, tabib Lu menyingkir dari hadapanku!!"bentak menteri Xianzuw marah hingga bangkit dari kursi.
Semua yang berada di ruangan itu langsung terperanjat kaget.
"Tunggu apalagi kau? cepat pergi sebelum pedangku menebas kepalamu!!"pekik pangeran Xuan.
"A... ampun, ba-baik saya akan pergi, permisi tuan, permaisuri."tabib Lu segera bangkit, lalu permisi dan langsung pergi terbirit-birit.
__ADS_1
"Ayahanda, apa yang harus kita lakukan??"tanya Puteri Xiao dengan wajah khawatir.
"Tenang saja, aku telah membuat rencana."sahut menteri Xianzuw sambil berjalan menghampiri jendela ruangan tersebut. Dia menyeringai devil.
Ke empat manusia itupun tersenyum devil, dengan wajah menanti-nanti kapan waktunya tiba untuk menyingkirkan Puteri Sayurri.
*****
Dilla mengerjap-ngerjapkan matanya, cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah jendela. Pertama yang Dilla lihat adalah wanita berpakaian aneh yang kira-kira seumuran dengannya. wanita itu tengah tertidur pulas dibawah ranjang milik Dilla.
"Akhh! Kampret! kenapa gue masih di zaman ini sih??"teriak Dilla frustasi sambil memukul-mukul kepalanya.
Pelayan yang bernama Milla Yoi'luow yang tertidur pun terbangun kala mendengar teriakkan Puteri Sayurri.
"Tu ... tuan Puteri, anda sudah bangun?"kaget pelayan Milla, pelayan itu bangkit lalu memeluk tubuh Dilla dan menangis sangking terharunya.
Dilla yang dipeluk tiba-tiba terperanjat kaget, tetapi ia merasakan jika pelukan wanita ini sangat hangat dan penuh kasih sayang.
"Eh tunggu dulu, Lo ini siapa ya? kok gue gak kenal?"Dilla melepaskan pelukan Pelayan itu.
Pelayan yang terisak tangis pun sontak kaget, tangis semakin menjadi-jadi.
"Heh Lo kenapa tambah nangis? gue kan nggak ngapa-ngapain lo? Tapi, ralat nama Lo siapa? apa hubungan gue sama orang-orang di rumah ini?"Dilla duduk diatas ranjang dengan bertongkak lutut sambil mengupil.
"Gue?"pelayan Milla mengernyitkan dahi. Tak mengerti dengan perkataan Dilla.
"Gue?"ulang Dilla. "Frtt! Lo gak ngerti arti kata 'Gue' ?"tanya Dilla tidak habis pikir. Astaga! dia manusia dari planet mana? masa tidak tahu kata 'Gue'
"Puteri mengapa perkataan anda, pelayan sama sekali tidak mengerti, 'Gue' dan 'Lo' itu bahasa dari kerajaan mana? negara mana?"pelayan Milla mengernyitkan dahinya bingung, tangisnya seketika usai.
"Astaga! gue lupa, kalau gue kan masih di zaman kuno!"gumam Dilla menepuk dahinya pelan. "Dan soal pertanyaan Lo, itu susah banget untuk dijelaskan!"
"Tapi Puteri apakah anda sudah lupa dengan pelayanmu dan keluarga ini?"pelayan Milla bertanya sambil sesenggukan.
__ADS_1
Dilla yang mendengarnya hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, sedikit aneh menurutnya.
*Bersambung*