PEMBALASAN SANG PECUNDANG

PEMBALASAN SANG PECUNDANG
Episode 12


__ADS_3

Di taman belakang paviliun Dilla duduk bersantai ditemani pelayannya Milla. Dilla menghirup udara segar di pagi hari ini, sudah dua hari dirinya ada di tempat yang jauh sekali dari rumahnya. Tempat baru yang asing. Namun lumayan menarik.


Dilla bertanya-tanya dalam hati, bagaimana kondisinya di dunianya itu. Apakah ia baik-baik saja? Atau dia sudah meninggal? Ia juga merasa heran, mengapa harus dirinya yang berpindah dimensi dan masuk ke tubuh gadis ini? Kenapa tidak orang lain saja? Bisa kan? Apa mungkin karena dirinya ini wanita kuat? Makanya dia terpilih untuk merubah nasib gadis ini?


"Argh! Kepalaku pusing sekali!"gerutu Dilla, membuat pelayan Mila terkejut.


"Nona kenapa? Apakah kepala nona sakit lagi? Aku panggil tabib ya. Nona tunggu di sini."ujar pelayan Mila khawatir.


"Eh, jangan."Teriak Dilla.


"Tapi, nona...."


"Tidak ada tapi-tapian. Kau tidak boleh kemana-mana. Tetap di sini, temani aku. Lagi pula aku tidak sakit, aku hanya merasa bingung saja dengan semua ini."kata Dilla menghela napas berat.


"Nona tidak perlu khawatir, wajar jika nona merasa bingung dan terkejut dengan semua ini. Oh, apa nona mau aku pijat?"tanya pelayan Mila.


"Oh itu boleh juga."sambut Dilla dengan senyum cerah.


"Baiklah kalau begitu. Aku akan berikan pijatan tangan ajaibku."ucap pelayan Mila antusias. Dia pun bergerak ke belakang Dilla. Dan mulai melakukan pijatan di kepala.


"Ah~ enak sekali. Kau benar-benar memiliki tangan ajaib. Pijatan mu tidak jauh seperti tukang pijat di tempat spa."puji Dilla sambil mengeluarkan suara-suara katarsis keenakan.


"Hehehe, betulkah?"


"Ya tentu saja. Kau adalah jagoannya. Coba pijat di bagian tengkuk leherku."


"Baik, nona."


"Ah~ nah itu. Ah~ mantap sekali. Ke bawah sedikit. Benar sekali. Kau hebat dalam hal memijit."Dilla mengapresiasi pijatan pelayan Mila dengan memberinya jempol.


"Ahahaha terima kasih, nona."bicara sambil memijit.


"PERMAISURI HAN TIBA!!"


Teriakan itu mengejutkan Dilla dan pelayan Mila. Dilla berdecak kesal, istirahatnya benar-benar diganggu oleh wanita tua berpakaian mewah yang datang bersama dua pelayan di belakang mengikuti.


"Salam, permaisuri Han."pelayan Mila membungkuk hormat.


"Siapa wanita itu?"tanya Dilla tanpa beranjak dari tempatnya.


"Dia adalah permaisuri Han, istri sah dari tuan Mentri. Ibu kandung pangeran Xuan dan putri Zu."kata pelayan Mila. Dia mengangguk-angguk mengerti.


"Putri anda harus memberi hormat, jika tidak ingin dihukum."


Dilla berdecih, "jangan harap. Dia bukan ibu kandungku."Ucap Dilla, membuat dua pelayan permaisuri Han geram. Sementara pelayan Mila tampak khawatir mendengar ucapan nona-nya itu.


"Putri, anda lancang sekali tidak memberi hormat kepada nyonya. Kau harus dihukum."ketus salah satu pelayan permaisuri Han.


Dilla memicingkan mata.

__ADS_1


"Maafkan hamba, nyonya. Ini bukan kesalahan nona tapi kesalahan pelayan yang tidak mengingatkan. Tolong jangan hukum nona, hukum hamba saja."


Dilla terkejut. Tiba-tiba saja pelayan Mila bersujud di kaki permaisuri Han.


"Hei! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau meminta maaf padanya?"Dilla menarik tangan pelayan Mila untuk berdiri.


"Nona..."


"Lancang!"pelayan permaisuri Han bergerak untuk memukul Dilla. Namun, permaisuri Han menghentikan.


"Tidak masalah. Putri Sayurri baru saja bangun dari kematian, wajar jika sikapnya menjadi tidak sopan. Aku sebagai ibunya akan memaafkan. Putriku Sayurri, mau kah kau memaafkan sikap kurang ajar pelayanku?"ucap permaisuri Han dengan tersenyum lembut.


Dilla memicingkan mata. Dia tahu jelas senyum itu bukan senyum asli melainkan senyum palsu.


"Aku mau dia meminta maaf kepada pelayanku."ujar Dilla membuat permaisuri Han tersentak. "Bagaimana? Apa ibu keberatan?"


"Nona, ini berlebihan. Aku tidak apa-apa."sahut pelayan Mila sedikit khawatir mendengar permintaan nona-nya itu.


"Aku tidak minta pendapatmu."kata Dilla datar. Pelayan Mila hanya bisa terdiam mendengarnya.


"Bagaimana ibu?"Dila mengulangi pertanyaannya lagi.


Dengan senyum dipaksakan, permaisuri Han menjawab. "Tentu saja. Apa kau tidak mendengar yang putri katakan?"


"Nyonya...?"pelayan itu mengiba. Tapi sayang dia mendapat tatapan tajam permaisuri Han. Dilla menyunggingkan senyum melihatnya.


"Pelayan Mila, aku minta maaf atas perlakuan kasar ku."kata pelayan itu setengah hati.


"Ulangi. Aku tidak mendengarnya. Suaramu terlalu pelan. Dan, ya, lakukan seperti yang pelayanku lakukan"potong Dilla.


Pelayan Mey mengepalkan tangan, ekspresinya menjadi kelam. Dia keliatan kesal. Dia melirik permaisuri Han, tapi nyonya-nya acuh.


"Cepat."


Pelayan Mey bersungkur di hadapan Dilla dan pelayan-nya. Tangan mengepal, bibirnya bergetar saat ia berucap,"Pelayan Mila, tolong maafkan kesalahanku selama ini."ia bersujud di tanah.


Dilla menyunggingkan senyum. Puas sekali melihatnya, apa lagi melihat raut permaisuri Han yang menahan marah. Harga dirinya ikut terinjak ketika pelayan Mey menjatuhkan kepala, menunduk pada Dilla.


"Bangkitlah, cara meminta maafmu sangat membosankan. Pelayanku sudah memaafkan."kata Dilla, mengejek.


"Terima kasih, putri."pelayan Mey bangkit.


"Hmm, kedatangan ibuku tercinta sangat mengejutkan. Pasti ada sesuatu? Apa itu?"kata Dilla langsung. Tidak pakai sopan santun lagi.


"Apakah putri tidak berharap kedatangan ibumu sendiri?"permaisuri Han tiba-tiba merasa sedih. Dilla mau muntah darah melihat akting hebatnya.


"Padahal ibu datang ingin memastikan keadaanmu lho?"


"Dan, kau kecewa melihat aku hidup kembali"batin Dilla, tersenyum sinis.

__ADS_1


"Ah, mana mungkin aku tidak berharap kedatangan ibu. Aku justru sangat berharap ibu melihatku hidup kembali, ini semua pasti berkat dari ibu."Dilla memulai aktingnya dengan tiba-tiba memeluk tubuh permaisuri Han.


"Terima kasih, ibu, kau sangat baik. Aku pasti akan membayar semua perbuatan mu di masa depan dua kali lipat."bisik Dilla.


Bulu kuduk permaisuri Han seketika berdiri. Suara Putri Sayurri kenapa terdengar seperti iblis haus darah. Benar-benar mengerikan.


Dilla melepaskan pelukannya. Ia menatap raut pucat permaisuri Han sambil menyunggingkan senyum tipis.


"****** sialan. Tunggu saja aku akan membuatmu merangkak ampun untuk nyawamu."batin permaisuri Han.


"Ibu? Kau melamun?"tanya Dilla pura-pura polos, menyentuh tangan permaisuri Han.


Permaisuri Han tersadar. "Ah! Aku lupa memberikan ini padamu. Pelayan."


Pelayan satunya maju, tangannya membawa pakaian dan perhiasan.


"Sebentar lagi keluarga istana akan mengadakan pesta festival bunga bersamaan dengan pesta kemenangan perang pangeran ke-tiga. Maka dari pada itu, ibu dan kakak-kakak mu berharap kau hadir di pesta. Pakailah pakaian ini, ini dipilihkan khusus oleh ibu. Berikan pada putri."


Pelayan Mila menerimanya.


"Ibu berharap kau datang. Jangan kecewakan ibu, oke?"permaisuri Han membelai wajah Dilla dengan senyum penuh arti. Setelahnya, ia pun pergi bersama dua pelayan nya.


Dilla diam mematung menatap kepergian permaisuri Han dari taman belakang. Ia merasa ada yang sedang direncanakan olehnya.


"Permaisuri Han aneh sekali. Dia tidak seperti biasa, baik kepada nona. Padahal dulu, selalu menghukum nona. Permaisuri pasti punya maksud lain kepada nona. Dia pasti ingin mencelakai nona."seru pelayan Mila.


"Nona sebaiknya jangan datang. Ini pasti akal-akalan permaisuri dan putri-putri lainnya untuk mempermalukan nona dihadapan keluarga kerajaan. Dengan begitu, nona tidak akan pernah menikah."pelayan Mila merengek.


"Mereka akan kecewa jika aku tidak datang."sahut Dilla santai. Kembali duduk ke kursinya.


"Tapi, nona___"


"Usaha selama beberapa hari sudah direncanakan sayang sekali jika tidak diberi apresiasi."Dilla mencabut tusuk konde perak dari rambutnya.


Wussss!! Dilempar ke arah pohon besar di didepannya itu. Tak! Tusuk konde perak itu menancap di pohon. Ia merasa seperti ada yang mengawasinya.


"Nona, ada apa?"


"Tak apa-apa. Ayo kita masuk, aku merasa tidak aman."


"Baik."


Keduanya langsung berjalan masuk ke dalam.


Sementara itu, di pohon dengan daun-daun yang rimbun. Pengawal Chu berkeringat wajahnya, ia menyentuh dadanya yang berdebar melirik tusuk konde perak yang menancap di pohon. Ia bergidik ngeri, hampir saja tusuk konde itu mengenainya jika saja ia tidak segera menghindar dan bersembunyi.


Pengawal Chu berdecak kagum akan kepekaan putri Sayurri pada sekitarnya. Sepertinya dia sudah tahu ada yang memperhatikan. Jika tidak, mengapa melempar tusuk konde itu.


"Aku harus melaporkan pada pangeran."

__ADS_1


Chu meloncat dari pohon, dan menghilang begitu saja.


__ADS_2