PEMBALASAN SANG PECUNDANG

PEMBALASAN SANG PECUNDANG
Episode 13


__ADS_3

Di ruangan itu, pelayan Mila berjalan mondar-mandir mengelilingi ruangan dengan menampilkan raut serius. Meskipun demikian, ia kelihatan agak cemas. Sedangkan Dilla yang duduk di tepi kasur mengerutkan kening melihat yang dilakukan pelayannya itu. Lantas ia pun menegurnya.


"Kenapa? Apa yang membuatmu begitu khawatir?"


Pelayan Mila menoleh lalu menghela napas, ia pun berjalan menghampiri Dilla berada sambil berucap sesaat sampai."Nona, aku sangat cemas sekali... Aku takut yang nona lakukan pada pelayan Mey akan membuat nona dihukum. Apa lagi pelayan Mey itu orang terdekat permaisuri. Aku yakin permaisuri tidak akan menerimanya begitu saja. Ia pasti akan merencanakan sesuatu yang jahat kepadamu. Tapi melihatmu yang seperti ini, tampaknya kamu tidak merasa cemas?"


"Aku cemas? Kamu bercanda?"Dilla terkekeh. "Untuk apa aku harus cemas karena ini? Tidak penting."


Pelayan Mila menghela nafas melihatnya."Meskipun kamu tidak khawatir. Tapi aku sangat khawatir padamu, nona. Melihat sikap aneh permaisuri Han, aku selalu cemas... Pasti ada yang mereka rencanakan. Terutama pelayan Mey, dia pasti akan dendam sekali. Hidup kita akan semakin sulit saja, huh!"


"Ohh."Dilla mengangguk santai, lalu kembali pada aktivitasnya.


Melihat sikap acuh nona-nya, Dilla memutar mata jengah. "Dulu saat anda masih kecil, pelayan Mey selalu memberi makanan busuk ke kediaman putri. Aku takut, dia membalas lebih dari itu."


"Kenapa kau tidak mengatakan dari awal."ucap Dilla dengan gelagat terkejut.


"Apa?"Alis pelayan Mila berkerut.


"Seharusnya kamu memberitahuku dari awal. Dengan begitu aku akan menghukum pelayan Mey lebih berat lagi."kata Dilla sambil beranjak. Melangkah ia menghampiri meja dimana pakaian dan perhiasan yang diberikan permaisuri Han diletakkan.


"Nona, apa kau tidak takut?"


Dilla menoleh, menatap wajah polos pelayan-nya itu. Terlihat jelas kecemasan bercampur kesedihan dari rautnya. Menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis.


"Takut hanyalah sifat orang lemah. Dan, sekarang aku bukan orang yang bisa dianggap enteng lagi, aku bukan Dil.. eh maksudnya Sayurri yang lemah. Aku sudah berubah. Lagi pula hanya seorang pelayan rendahan saja berani berlaku tidak sopan, huh! Benar-benar cari mati."


Pelayan Mila tertegun. Ia kagum sekali dengan apa yang baru saja nona-nya katakan. Benar-benar kalimat yang luar biasa. Ia berjanji akan terus mengikuti putri Sayurri sampai kapan pun. Bila perlu sampai titik darah penghabisan.


"... Lain kali jika dia memperlakukan mu tidak sopan, tampar wajahnya. Bila perlu beri racun pada makanannya. Itu jauh lebih bagus."Dilla membalikkan badan, menatap pelayan Mila yang diam seperti tidak paham.


Kemudian Dilla beralih, melihat pakaian dan perhiasan yang diberikan permaisuri Han kepadanya di atas meja.


"Gaun yang sederhana tapi sangat mahal, agar semua orang tahu putri Sayurri hidup dengan nyaman di kediaman menteri. Bagus sekali. Mereka menyogok ku agar aku tutup mulut. Rencana yang lumayan bagus, heh!"


"Mereka ingin bermain denganku. Baiklah, ayo kita main. Aku akan meladeni. Dan lihat sampai kapan mereka akan bertahan."gumam Dilla sembari menyunggingkan senyum simpul.


Melihat ekspresi tak biasa nona-nya pelayan Mila menjadi bingung.


*****


"Heyaaaah, haiiighh!!"infanteri Liu Kong meloncat ke udara. Lantas menyerang pangeran Shen.

__ADS_1


Traaangg...!! Pangeran Shen cepat menahan serangan anak buahnya dengan pedang. Lalu mendorongnya hingga terjungkal karena tidak memperkirakan serangan balik itu.


"Skak mat."seringai pangeran Shen, pedang tanpa mata yang memancarkan aura haus darah mentereng di leher infanteri Liu Kong.


"Kemampuan pangeran berada di atas kemampuanku."puji infanteri Liu Kong mendongak.


Pangeran Shen tertawa sembari menarik pedangnya. "Kau pun begitu."


"Pangeran terlalu memuji."


"Bagaimana? Apa ada masalah di perbatasan?"pangeran Shen menoleh pada Liu Kong.


"Ternyata dugaan pangeran, benar. Sekelompok pemberontak di perbatasan adalah instruksi dari pangeran keempat. Dan juga penyerangan di tenda komando pun atas perintahnya. Pemberontak itu mati dengan bunuh diri meminum racun. Tampaknya pangeran keempat sangat berhati-hati."Ucap infanteri Liu Kong memberi informasi.


Pangeran Shen mengangkat sudut bibirnya. "Benar-benar mengejutkan. Apa ada pergerakan lainnya?"


"Kami sedang menyelidikinya. Dari arah barat terdapat desa baru yang mencurigakan. Beberapa anggota sudah di sebar untuk mencari informasi."


"Bagus sekali."


Daun telinga infanteri Liu Kong bergerak, insting pendengaran tajamnya merasakan ada sesuatu yang aneh. Ada musuh! Kalimat itu hampir tercetak di pita suaranya. Sementara tangannya bergerak menyentuh pedang. Dan ....


Sreeeett...!!


"A-apa yang kau lakukan?"ucapnya terbata-bata.


Ternyata itu pengawal Chu lantas Liu Kong menarik pedangnya sambil berucap;"Aku pikir kau musuh."


"Musuh apanya. Kau buta?"ketus pengawal Chu, menyentuh lehernya. Hampir saja mati.


"Oh."


"Apa? Aku hampir mati oleh pedangmu, kau cuma bilang oh? Orang ini benar-benar...."


Lama tidak bertemu, Liu Kong ini masih saja tingkat kewaspadaannya tak tertandingi. Bikin ngeri, gumam pengawal Chu melihatnya.


Pangeran Shen menggelengkan kepala menyaksikan kedua pengawalnya. Dua orang dengan kepribadian berbeda. Liu Kong memiliki kesan datar dan dingin, sementara pengawal Chu sangat ekspresif dan ceria.


"Kau boleh pergi."kata pangeran Shen. Liu Kong mengangguk, balik badan dan meloncat pergi.


"Apa yang kau dapat?"tanya pangeran Shen pada pengawal Chu.

__ADS_1


"Oh, pangeran, aku ingin memberikan ini."pengawal Chu memberikan tusuk konde perak yang dia sembunyikan dari bajunya kepada sang pangeran.


Alis pangeran Shen berkerut menerima tusuk konde perak dari pengawal Chu.


Menyadari ketidak mengertian pangeran Shen pengawal Chu kemudian menceritakan apa yang dia alami dan dia lihat di kediaman putri Sayurri pada pangeran dengan antusias. Pangeran Shen mendengarkan, dan mencerna setiap kata yang keluar dari mulut pengawalnya itu. Mendadak ia menjadi sangat terkejut saat pengawal Chu mengatakan kehebatan yang dimiliki putri Sayurri.


Pangeran mengerutkan kening. Setahunya, putri Sayurri tidak pernah belajar ilmu bela diri. Tapi, mengapa kepekaan terhadap sekitarnya begitu tinggi? Dia sangat waspada. Bahkan untuk pengawalnya yang mempelajari ilmu pun dapat disadari olehnya? Hmm... Sangat menarik.


Senyum pangeran pun terbit sembari menatap tusuk konde perak kupu-kupu hitam milik putri Sayurri.


Benar-benar membuat orang terkejut. Aku tidak sabar kejutan apa lagi yang akan dia berikan selanjutnya.


Pengawal Chu bingung melihatnya. Ia tidak pernah melihat senyum pangeran seperti itu. Senyum pembawa bahagia atau senyum pembawa petaka...? Pikirnya.


*****


Sementara itu di paviliun teratai, kediaman milik permaisuri Han yang indah nan menakjubkan. Di mana di tempat itu terdapat beragam jenis tanaman bunga, sedangkan pada bagian belakangnya terdapat kolam ikan emas cantik-cantik yang menghadap langsung ke kediaman para putri.


Di kamar yang dua kali lebih luas dan lebih mewah dari kediaman yang Dilla tempati itu jauh berbanding terbalik. Di kamar permaisuri Han ini disuguhkan dengan kemewahan, mulai dari guci langka, barang-barang mewah, dan ukiran naga berlapis emas pada bagian dindingnya membuat orang berdecak dan miris saat melihatnya. Kemewahan itu bukanlah semata-mata uang halal yang di dapatkan dari keringat mereka melainkan hasil penggelapan dana negara yang Mentri dkk lakukan selama ini. Dan, hingga kini perilaku tak terpuji itu belum diketahui orang luar— ralat mungkin sebentar lagi akan dibongkar oleh Dilla. Mengingat sifatnya yang pendendam dan tak kenal lelah.


Bergeser ke halaman belakang, di mana permaisuri Han dan pelayan lain berada. Yang membuat menarik adalah, permaisuri Han di halaman bukan untuk bersantai melainkan ia sedang menghukum pelayan muda yang tak sengaja menjatuhkan gelas teh milik permaisuri dihukum pukul sebanyak 20 kali. Dan itu dilakukan di hadapan pelayan lain untuk memperingatkan pelayan-pelayan lain agar tak macam-macam kepadanya.


Sebenarnya, permaisuri melakukan itu dilandasi kekesalannya terhadap putri Sayurri yang tiba-tiba berubah sifatnya. Ia tak menduga Sayurri yang lemah sekarang membangkangnya. Sungguh ia dibuat kesal.


"Nyonya... Ampuunh! Ampunilah hamba... Aaaaahh!!"


Penjaga itu kembali memberi pukulan kayu keras di punggung si pelayan wanita. Kain putih itu berubah warna, menjadi kemerahan. Bukan sembarang merah, melainkan merah darah yang keluar dari punggung si pelayan wanita yang terluka. Jerit beserta rintihan menjadi pilu. Pelayan yang melihat tak bisa melakukan apa-apa, mereka hanya bisa diam sembari menundukkan pandangan. Meski hati kecil berteriak ingin menolong itu hanya ilusi semata yang tak mungkin dilakukan. Sekarang kehidupan mereka sangat tak berarti bagi orang kaya yang berjabat. Diam mungkin adalah cara terbaik melindungi diri dan orang sekitar sekarang ini.


"Nyonyaaahhh... Akhh! Toloo...nghhh! Akhh... Maafkan hamba nyonya. Jangan bunuh hamba... Hamba memohon ampuun... Akh!"


Tutur pelayan itu memohon ampun. Akan tetapi, permaisuri Han tampaknya tak mau memaafkan maupun menghentikan. Ia nampak tak peduli dan berbalik pergi.


"Jangan berhenti sampai 20 kali pukulan."permaisuri Han tiba-tiba berhenti dan menoleh sekilas. Selanjutnya melangkah pergi.


"Baik, nyonya."


"Tidaaaak! Nyonyaaahhh! Tungguuhh!! Jangan bunuh hamba... Akhh! Sakiiiit!"teriak pelayan itu sesaat melihat permaisuri Han melenggang dari halaman belakang. Tapi sayang. Ucapannya tidak berarti.


Bugh... Bugh... Bugh!!!


"Seharusnya kau tahu diri. Inilah akibatnya menyinggung permaisuri. Untungnya dia tak menyuruhku membunuhmu. Kau sangat beruntung saat ini."penjaga itu menyeringai, lalu berjalan meninggalkannya sendirian.

__ADS_1


Pelayan muda itu mengigit bibir, menahan rasa sakit. Rasanya punggungnya saat ini remuk sudah. Dengan mata melihat nanar punggung penjaga itu, ia mengepalkan tangan. Dadanya terasa sesak. Sakit yang ia rasa kali ini tak akan ia biarkan begitu saja. Ia akan membalas semua perbuatan mereka dengan setimpal, tak akan membiarkan mereka lolos begitu saja.


__ADS_2