PEMBALASAN SANG PECUNDANG

PEMBALASAN SANG PECUNDANG
Pakaian aneh!


__ADS_3

"Sudah lupakan semua itu, aku muak mendengarnya. Dan kau mulai sekarang jangan pernah menangis hanya karena mereka, ini perintah."pekik Dilla.


"Oh ya ngomong-ngomong aku tidak sadarkan diri berapa lama?"


"Hamba menjawab--"


"To the points! oke"potong Dilla, dia memang tak suka basa basi.


"To the points, itu apa nona?"tanya Pelayan Milla dengan polos.


Dilla menepuk dahinya, lagi-lagi ia lupa jika dirinya sedang berada di zaman kuno yang pasti tidak mengerti bahasa Inggris?


"Lupakan saja!"kata Dilla sangat gereget.


"Oh to the points itu artinya lupakan saja? Puteri sangat cerdas, Puteri belajar bahasa itu dari planet mana?"Pelayan Milla bertanya dengan wajah penasarannya.


Dilla menatap cengo wajah pelayan Milla, bisa-bisa dia mati stres meladeni sifat nih anak. "Haduehh Dilla, Lo beg* banget sih! udah tau orang kuno kaga paham bahasa Lo, pakai ngomong bahasa Inggris pula."batin Dilla mengutuki dirinya sambil tersenyum kaku.


"Sudah kau jawab saja, berapa hari aku tidak sadarkan diri?!"dingin Dilla dengan wajah datarnya.


"hehe...."bukannya menjawab pertanyaan Dilla, pelayan Milla malah tertawa sendiri. Sontak Dilla mendelik tajam dengan wajah aneh.


"Mengapa kau tertawa? apakah ada yg lucu, hah?"ketus Dilla, ya sudah kebiasaannya berkata begitu.


"Ampun Puteri, hamba tertawa karena ... karena Puteri sangat menawan bila sedang marah, hehe...."sahut pelayan Milla mensudahi tertawanya itu.


"Hhhh! benarkah?"pekik Dilla sambil melipat kedua tangan di dada. dijawab anggukkan kepala oleh pelayan Milla.


Dilla kemudian melangkah mendekati jendela kamarnya, dia melihat ke arah luar tempat yang Dilla singgahi sangat indah, ada kolam ikan, bunga-bunga teratai putih bermekaran, dan disana pun ada pohon-pohon tinggi. Kini tatapan matanya beralih ke arah gunung tinggi yang berada di arah barat. Gunung besar itu terselimuti kabut tebal dan hutan belantara.


"Kau tahu itu gunung apa?"tanya Dilla pada pelayan Milla. pelayan Milla yang berada di belakang tubuhnya pun sontak menoleh ke arah pandangan Dilla.


"Gunung itu bernama Gunung Leangpu, gunung yang tak pernah dikunjungi oleh penduduk negeri Deviar karena, disana banyak sekali hewan mematikan dan konon katanya gunung itu telah dijaga oleh Naga Emas beribu-ribu tahun lalu."Pelayan Milla segenap hati menceritakan tentang gunung tersebut.


"Naga Emas? bukankah itu hanya ada di novel-novel legenda saja? hmm... aku penasaran sekali."celah Dilla dalam hati, tersirat keinginan untuk mengetahui tentang Naga Emas itu.


"Memangnya gerangan apa Puteri menanyakan tentang gunung Leangpu?"tambahnya sambil bertanya.


Tatapan mata Dilla masih dibuat penasaran, "Kau tahu aku bermimpi akan mengunjungi gunung itu dan ... menemukan sang mitos Legenda Naga Emas."sahut Dilla seraya menatap wajah Pelayan Milla. "Menaklukannya!"ambisi Dilla dan menunjuk gunung tersebut.

__ADS_1


Ting!


Tiba-tiba saja saat Dilla menunjuk gunung tersebut tersirat cahaya putih terang yang timbul di bagian tengah gunung dan sedetik kemudian lenyap.


"Cahaya apakah itu? terang sekali? apakah aku berhalusinasi, tapi mana mungkin."batin Dilla gundah, dia bertanya-tanya kepada dirinya demi meyakinkan bahwa itu nyata.


Pelayan Milla terkejut, semua orang pun pasti tidak ingin mempunyai mimpi singgah di gunung itu apalagi ingin menaklukkan sang naga emas dan yg dipikirkan oleh Puteri Sayurri malah sebaliknya.


"Milla, apakah kau melihat cahaya putih yang hanya beberapa detik itu di gunung Leangpu?"tanya Dilla masih belum yakin.


"Ah hamba tidak melihat apa-apa Puteri ku."


"Ahh mana mungkin, tadi aku sendiri melihatnya!"ucap Dilla kekeh pada pendiriannya.


"Hamba bersumpah demi sang pencipta, jika hamba tidak melihat apa-apa, selain kabut tebal yang menyelimuti gunung itu saja."jujur pelayan Milla.


"Apa aku mimpi? akhh masa bodo, aku tidak mau peduli!"batin Dilla pasrah.


"Sudah lupakan saja. Milla apakah aku tidak memiliki pakaian lain lagi?"tanya Dilla seraya menatap hanfu miliknya ini.


Pelayan Dilla tersenyum. "Ada Puteri, hanya saja ...."ucapnya terjeda.


"Pakaian yang dimiliki Puteri tidak semewah seperti yang di miliki oleh para Puteri di kediaman Loiw ini."ucap Pelayan Milla seraya bersedih.


"oh!"


Dilla tidak peduli.


"mereka semua seperti itu Puteri, anda jangan bersedih ya...."


"Dih siapa yang bersedih, sudah ambilkan pakaian yang bersih."perintah Dilla.


Milla mengangguk dan beberapa saat kemudian Milla datang lagi dengan membawa pakaian yang dipesan Dilla. Dilla langsung mengambilnya.


"Puteri mau aku bantu?"pelayan Milla menawarkan bantuan.


"Tidak perlu."Dilla langsung bergegas pergi.


"Baik"

__ADS_1


Dan ....


"MILLA!!!" teriak Dilla memanggil nama pelayannya.


Pelayan Milla yang khawatir langsung berlari menemui Puteri Sayurri dan mengecek keadaannya.


"Ada apa Puteri!? apakah Puteri Zu menjahilimu??"panik Milla dengan berteriak. Milla mengecek tubuh Dilla dengan cara digoyang-goyang.


Dilla tercengang melihat yang dilakukan pelayan itu. "Hei apa yang kau lakukan? mengapa kau menggoyangkan tubuhku?"pekik Dilla.


"Lalu apa yang membuat Puteri berteriak keras??"


"Lihatlah pakaian ini? bagaimana mungkin aku bisa mengenakannya! pakaian kok susah banget di pakai!"keluh Dilla sambil mencebikkan bibirnya dan menunjuk hanfu yang berantakan.


"Hufttt! Puteri sangat lucu, bagiamana anda lupa cara menggunakan pakaian ini?"Milla tertawa geli dan dia mengambil pakaian tersebut.


"Berhenti tertawa, dan sekarang bantu aku memakainya."cemberut Dilla memintanya.


Pelayan Milla mengangguk lalu ia membantu Dilla mengenakan hanfu berwarna Latte, memang terlihat sederhana tetapi bagi Dilla ini sangat cocok untuk wajah polosnya. Seusai itu, Pelayan Milla menata rambut sang Puteri Sayurri dengan indah.


"Cantik"gumam Dilla saat melihat dirinya di cermin, sangat anggun tidak seperti ia di zaman modern yang selalu tampil molek.


"sudah selesai Puteri, anda terlihat sangat cantik. Tapi Puteri bukankah Anda dulu tidak menyukai memperindah diri?"tanya Milla.


"emm... itu kan dulu, tapi aku hanya ingin tampil berbeda saja."jawab Dilla.


"Baiklah, aku mau keluar."kata Dilla mulai bosan berada di dalam ruangan itu.


"Puteri, sebaiknya Anda jangan menyebut dirimu 'aku' lagi. Karena itu bertentangan dengan tata Krama kediaman ini."kata Milla memberi tahu.


"Terus gue harus ngomong apa?!"pekik Dilla garang.


Pelayan Milla mendekati Dilla. "jika dihadapan menteri Xian dan permaisuri maupun keluarga tertua lagi, anda harus menyebut dirimu 'Puteri' "katanya.


"Oh, masa bodo gue gak peduli."Dilla tidak peduli, dia berjalan mendekati pintu dan membukanya.


"Wah udara paginya seger banget."tukas Dilla sambil menghirup udara segar di luar ruangan.


"Puteri sangat aneh, dia berkata sangat dingin kadang-kadang terdengar galak.Apakah Tuhan berhasil merubah sang Puteri? syukurlah aku sangat senang dan kemungkinan Puteri tidak akan mudah dihina lagi."batin pelayan Milla tersenyum lembut sambil memandang punggung Dilla yang berdiri di ambang pintu.

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2