
"Tapi Bapak tidak tahan mendengar cercaan orang, kan?"
"Kamu tahan?"
"Apa bedanya lagi bagi saya?"
"Suatu hari anakmu akan menjadi besar, Kim Lian . Dia akan ikut
merasakan hinaan itu."
"Dia sudah merasakannya sejak masih dalam kandungan, Pak."
"Tapi kamu tidak mau dia terus-menerus dihina, kan?"
"Dia akan menjadi seorang lelaki yang tabah.
Penghinaan tidak akan menghancurkannya."
"Tapi Bapak tidak rela dia dihina terus."
"Bapak sayang padanya?"
"Bapak sudah menganggapnya anak sendiri."
"Kalau begitu, saya mohon, jangan usir kami, Pak!"
"Bapak idak pemah mengusir kalian. Kamu
dan anakmu boleh tinggal di sini sampai kapan
pun. Bapak hanya ingin memberimu kesempatan
untuk memilih. Jika kamu ingin bebas dari gunjingan orang, Pak kepala sekte sudah membuka pintu rumahnya."
"Pernahkah seorang gadis yang hamil sebelum
menikah terbebas dari gunjingan orang, Pak? Yang
saya pikirkan cuma Bapak. Bapak orang yang sangat baik.
Dan Bapak tidak bersalah. Bapak tidak pantas dihukum karena
kesalahan saya!"
"Bagamaimana, Pak?" tanya Kepala sekte keesokan harinya.
"Sudah ada keputusan?"
"Kim Lian masih memikirkannya," sahut gak houw lirih.
"Jangan terlalu lama. Nanti istri saya keburu
mengubah pendiriannya. Tadi pagi dia bilang,
tetangga sebelah menyebutnya bodoh karena mau
__ADS_1
membiarkan perempuan macam Kim Lian tinggal
serumah dengan suaminya."
Dan prasangka seperti itu pasti akan terus mengejar Kim Lian .
ke mana pun dia pergi, pikir Gak houw sedih. Kasihan dia.
Berapa lama dia
tahan didera kecurigaan istri kepala sekte? Sampai kapan dia
sanggup bertahan hidup di rumah mereka?
"Saya tidak bisa memaksanya pergi, Pak," keluh gak houw
sedih.
"pak Gak houw harus memaksanya. Kalau perlu
mengusirnya! Demi kebaikan pak gak houw sendiri."
"Saya tidak sampai hati."
"Nama Pak gak houw akan rusak karena menolongnya."
"Apa arti sebuah nama dibandingkan nyawa
dua orang manusia?"
karena tidak ada orang yang mau memberikan
tumpangan. Sekarang sudah ada orang yang mau
menolong mereka. Apa lagi alasan Pak gak houw menahan mereka?"
"Pak kepala sekte,"
suara Pak gak houw berubah dingin. Bapak tidak mencurigai saya,
kan?"
Saya kenal Pak gak houw -seperti saya kenal diri saya sendiri! Tapi
orang-orang di luar sana tidak!"
"Begitu pentingkah pendapat mereka?"
"Tidak kalau Pak gak houw bukan seorang guru,
Seorang tokoh yang harus dihormati dan ditiru!"
"Justru karena saya seorang guru, saya wajib
menolong muid saya! Sebagai guru, kitalah pengganti orangtua
__ADS_1
mereka! Ke mana lagi mereka harus minta tolong kalau bukan
kepada kita, Pak?"
"Pak gak houw boleh menolong semua murid Bapak Tapi bukan
tinggal bersama mereka! Masyarakat akan mencela seorang
guru pria yang tinggal bersama murid wanitanya!"
"Kecuali saya mengambilnya sebagai istri."
Terlepas begitu saja kata-kata itu dari mulut Pak gak houw .
"Jangan, Pak!"
cetus pak kepala sekte kaget. "Tindakan itu malah tambah merusak
nama Bapak.
Orang-orang akan mengira Pak gak houw benar-benar
ayah bayi itu! Siapa lagi yang mau menikahi ibu
seorang bayi haram kecuali ayah bayi itu sendiri?"
"Ya Tuhan!" Pak gak houw menebah dadanya yang tiba-tiba terasa
sakit.
"Mengapa niat baik saya selalu dicurigai?"
"Demi kebaikan Pak gak houw sendiri, saya keberatan dengan niat
baik Bapak."
Suara Pak kepala sekolah terdengar sangat tegas dan berwibawa.
"Jika Bapak berkeras melakukannya juga, saya tidak dapat
menolong Bapak lagi."
"Dan mempersilakan saya mencari pekerjaan di sekolah lain?"
sambung Pak gak houw tawar.
"Saya jamin tidak ada sekolah yang mau menerima guru yang
menikah dengan muridnya
yang punya anak gelap."
"Kalau begitu dunia benar-benar kejam terhadap Kim Lian "
desah Pak gak houw pilu.
__ADS_1