
martabat lebih inggi harganya dari kasih sayang.
Bahkan dari sepercik rasa iba melihat anak yang
tidak diinginkan itu terlelap tak berdaya dalam
gendongan ibunya.
"Saya harus pergi ke mana?"
tangis Kim Lian pilu.
Dia benar-benar sudah putus asa. Umurnya
belum genap enam belas tahun. Tidak punya
keluarga. Tidak punya pekerjaan. Tidak punya
tempat tinggal. Dan dia punya seorang bayi cacat. Ke mana dia
harus pergi?
Sudah terlintas di benaknya untuk membawa
bayinya membunuh diri. Tetapi tetua Gak houw muncul pada saat
yang tepat. Hatinya yang mulia tersentuh melihat nasib
muridnya yang malang itu.
Kim Lian memang bersalah namun juga korban. Tetapi tak adakah
jalan kembali bagi seorang pendosa?
Dan bukan cuma Kim Lian . Dia punya seorang
bayi yang tidak berdosa. Bayi malang yang
sudah ditolak sejak masih dalam kandungan ibunya.
tetua Gak houw membawa mereka ke rumahnya
yang sempit. Rumah sederhana yang untuk pertama kalinya
menawarkan pada bayi itu sebuah tempat yang disebut rumah.
Dan pada saat kedamaian mulai menjamahnya, badai menerpa
dari luar.
Gunjingan demi gunjingan melanda ketenangan
mereka.gak houw dapat tidak mengacuhkan gunjingan itu.
__ADS_1
Kecuali ketika kepala sekte memanggilnya. Sekarang bukan
hanya nama baiknya yang
dipertaruhkan. Sekaligus pekerjaannya.
gak houw menghela napas berat. Ditatapnya
bayi dalam gendongan Kim Lian .
Sembilan bulan mereka tinggal bersama. Selama itu, mereka
telah menjadi bagian dari hidupnya.
Tangis bayi cacat itu telah menyemarakkan rumahnya yang
sepi. Tawanya yang lucu mengusir kekosongan hidup gak houw
Dia tidak merasa
bosan lagi hidup sendirian di rumah.
Sekarang dia harus kehilangan mereka. Harus
kembali ke dunianya yang sepi. Hanya karena dia
seorang duda dan mereka bukan keluarganya!
"Pak kepala sekte menawarkan yang terbaik untukmu, Kim Lian "
"Jangan salah mengerti. Beliau hanya ingin menolong."
"Tapi kami ingin tetap di sini, Pak! Biarlah saya
jadi pembantu, asal tetap boleh tinggal di sini!"
"Untuk tinggal di sini kamu tidak perlu jadi pembantu.
Bapak tidak keberatan kamu dan anakmu
tetap tinggal di rumah ini. Sampai kapanpun."
"Kalau begitu jangan usir saya, Pak!"
"Pikirkan baik-baik tawaran saya, Kim Lian ,"
potong pak kepala sekte dengan hati tawar.
"Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali."
Dengan agak tersinggung kepala sekte meninggalkan rumah gak houw .Dia menyimpan kekesalannya. Bekas muridnya itu benar benar tidak
tahu diri! Anugerah apa lagi yang diharapkannya?
__ADS_1
Dia boleh tinggal di rumahnya sampai kapan
pun. Bersama anak haramnya yang cacat itu. Tapi tawarannya
ditolak mentah-mentah!
"Kita tidak mungkin tinggal bersama, Kim Lian ," desah gak houw murung.
"Orang baik-baik di luar sana keberatan kalau seorang duda
seperti Bapak tinggal serumah dengan seorang
wanita yang bukan istrinya...."
"Apa yang dilakukan orang baik-baik itu ketika saya
membutuhkan atap untuk berteduh bersama bayi saya, Pak?"
"Jangan sesinis itu, Kim Lian . Tidak baik. Masyarakat kita
memang masih kuat terikat oleh adat-istiadat.
Mau tidak mau kita harus patuh kalau ingin menjadi anggota
masyarakat yang baik."
"Saya memang bukan orang baik-baik, Pak.
Saya orang hina. Punya anak gelap. Kalau saya
keluar dari rumah ini pun, mereka tetap menganggap saya
bukan perempuan baik-baik. Apa
bedanya lagi bagi saya? Ke mana pun saya pergi,
cap itu sudah melekat pada saya. Dan semua
orang tetap menghina saya."
"Setiap orang sekali dalam hidupnya bisa berbuat salah. Tapi
itu tidak berarti kita harus terus berbuat salah."
"Bapak anggap kita bersalah karena tinggal serumah?"
"Kita memang salah karena belum menikah."
"Bapak ingin saya pergi?"
"Kalau boleh memilih, Bapak ingin kamu dan anakmu tetap
tinggal di sini."
__ADS_1
"Bapak akan kehilangan pekerjaan kalau saya tetap di sini?"
"kepala sekolah tidak membicarakan pekerjaan."