PENDEKAR CACAD

PENDEKAR CACAD
9.MERASA IBA


__ADS_3

martabat lebih inggi harganya dari kasih sayang.


Bahkan dari sepercik rasa iba melihat anak yang


tidak diinginkan itu terlelap tak berdaya dalam


gendongan ibunya.


"Saya harus pergi ke mana?"


tangis Kim Lian pilu.


Dia benar-benar sudah putus asa. Umurnya


belum genap enam belas tahun. Tidak punya


keluarga. Tidak punya pekerjaan. Tidak punya


tempat tinggal. Dan dia punya seorang bayi cacat. Ke mana dia


harus pergi?


Sudah terlintas di benaknya untuk membawa


bayinya membunuh diri. Tetapi tetua Gak houw muncul pada saat


yang tepat. Hatinya yang mulia tersentuh melihat nasib


muridnya yang malang itu.


Kim Lian memang bersalah namun juga korban. Tetapi tak adakah


jalan kembali bagi seorang pendosa?


Dan bukan cuma Kim Lian . Dia punya seorang


bayi yang tidak berdosa. Bayi malang yang


sudah ditolak sejak masih dalam kandungan ibunya.


tetua Gak houw membawa mereka ke rumahnya


yang sempit. Rumah sederhana yang untuk pertama kalinya


menawarkan pada bayi itu sebuah tempat yang disebut rumah.


Dan pada saat kedamaian mulai menjamahnya, badai menerpa


dari luar.


Gunjingan demi gunjingan melanda ketenangan


mereka.gak houw dapat tidak mengacuhkan gunjingan itu.

__ADS_1


Kecuali ketika kepala sekte memanggilnya. Sekarang bukan


hanya nama baiknya yang


dipertaruhkan. Sekaligus pekerjaannya.


gak houw menghela napas berat. Ditatapnya


bayi dalam gendongan Kim Lian .


Sembilan bulan mereka tinggal bersama. Selama itu, mereka


telah menjadi bagian dari hidupnya.


Tangis bayi cacat itu telah menyemarakkan rumahnya yang


sepi. Tawanya yang lucu mengusir kekosongan hidup gak houw


Dia tidak merasa


bosan lagi hidup sendirian di rumah.


Sekarang dia harus kehilangan mereka. Harus


kembali ke dunianya yang sepi. Hanya karena dia


seorang duda dan mereka bukan keluarganya!


"Pak kepala sekte menawarkan yang terbaik untukmu, Kim Lian "


"Jangan salah mengerti. Beliau hanya ingin menolong."


"Tapi kami ingin tetap di sini, Pak! Biarlah saya


jadi pembantu, asal tetap boleh tinggal di sini!"


"Untuk tinggal di sini kamu tidak perlu jadi pembantu.


Bapak tidak keberatan kamu dan anakmu


tetap tinggal di rumah ini. Sampai kapanpun."


"Kalau begitu jangan usir saya, Pak!"


"Pikirkan baik-baik tawaran saya, Kim Lian ,"


potong pak kepala sekte dengan hati tawar.


"Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali."


Dengan agak tersinggung kepala sekte meninggalkan rumah gak houw .Dia menyimpan kekesalannya. Bekas muridnya itu benar benar tidak


tahu diri! Anugerah apa lagi yang diharapkannya?

__ADS_1


Dia boleh tinggal di rumahnya sampai kapan


pun. Bersama anak haramnya yang cacat itu. Tapi tawarannya


ditolak mentah-mentah!


"Kita tidak mungkin tinggal bersama, Kim Lian ," desah gak houw murung.


"Orang baik-baik di luar sana keberatan kalau seorang duda


seperti Bapak tinggal serumah dengan seorang


wanita yang bukan istrinya...."


"Apa yang dilakukan orang baik-baik itu ketika saya


membutuhkan atap untuk berteduh bersama bayi saya, Pak?"


"Jangan sesinis itu, Kim Lian . Tidak baik. Masyarakat kita


memang masih kuat terikat oleh adat-istiadat.


Mau tidak mau kita harus patuh kalau ingin menjadi anggota


masyarakat yang baik."


"Saya memang bukan orang baik-baik, Pak.


Saya orang hina. Punya anak gelap. Kalau saya


keluar dari rumah ini pun, mereka tetap menganggap saya


bukan perempuan baik-baik. Apa


bedanya lagi bagi saya? Ke mana pun saya pergi,


cap itu sudah melekat pada saya. Dan semua


orang tetap menghina saya."


"Setiap orang sekali dalam hidupnya bisa berbuat salah. Tapi


itu tidak berarti kita harus terus berbuat salah."


"Bapak anggap kita bersalah karena tinggal serumah?"


"Kita memang salah karena belum menikah."


"Bapak ingin saya pergi?"


"Kalau boleh memilih, Bapak ingin kamu dan anakmu tetap


tinggal di sini."

__ADS_1


"Bapak akan kehilangan pekerjaan kalau saya tetap di sini?"


"kepala sekolah tidak membicarakan pekerjaan."


__ADS_2