
Itukah hasil perbuatannya? Dia ingin mengenyahkan anak itu.
Ingin membunuhnya! Tapi
dia tidak mati! Dia hidup... meski cacat!
Ibunyalah yang membuatnya cacat. Ibunya
yang ingin mengenyahkannya. Membunuhnya!
Bayi itu telah diteror. Diusik. Diganggu. Diusir. Tapi dia tidak
mau pergi juga. Dia bertahan dalam rahim ibunya. Meski harus
lahir tanpa lengan, Itukah akibat ulah ibunya? Akibat obat obatan yang diberikan ayahnya?
Ya Tuhan, betapa mahal harga yang harus dibayarnya untuk
sebuah kehidupan yang tak pernah dimintanya. Betapa mahal
harga helaan napas yang harus ditebusnya!
"Daya tahannya luar biasa," komentar sang TABIB kagum.
"Kelak dia akan menjadi KELAKI penyandang cacat yang hebat!"
Tapi... apa hebatnya seorang penyandang cacat
bagaimanapun kuatnya dia?
"Kenapa dia tidak dibiarkan mati saja?" kata-kata ibunya
kembali menikam telinga dan hati KIM LIAN . "Buat apa dia hidup
kalau hanya untuk
memberi malu keluarganya? Tidak punya lengan!
Tidak punya ayah!"
Tidak punya lengan. Tidak punya ayah.
Kata-kara itu terus-menerus menggedor gendang telinganya.
Tidak punya lengan. Tidak punya ayah. Tapi dia masih punya ibu!
Dia masih
punya seseorang....
Tiba-iba saja ada keinginan yang mahakuat di
hati Kim Lian untuk melindungi anaknya.
__ADS_1
"Kenapa dia tidak dibiarkan mati saja?"
Tapi... mengapa anaknya tidak boleh hidup?
Dia cacat. Dia haram. Tapi bukan berarti dia tidak boleh hidup!
Jika Tuhan sudah memberinya kehidupan, kata
siapa manusia boleh mencabutnya? Tidak seorang
pun berhak melarangnya hidup!
Dia telah kehilangan kedua belah lengannya.
Tetapi dia tidak kehilangan semangatnya untuk
bertahan dan hidup!
Kim Lian harus membantu anaknya untuk tetap
hidup. Barangkali dengan begitu dia dapat menebus dosanya.
Menebus kesalahannya karena telah berusaha membunuhnya.
Telah menyebabkan anaknya cacat!
"Membawanya pulang?" geram ayah Kim Lian gusar. Belum cukup
"Tapi dia harus dikemanakan, Ayah?" keluh Kim Lian getir.
"Dia sudah ada! Dan dia ada karena perbuatan saya! Dia harus
disingkirkan ke
mana lagi?"
"Barangkali ada orang yang mau mengadopsi anakmu."
"Siapa yang mau mengadopsi anak cacat?"
"Kalau begitu buat apa kau bawa pulang dia?"
"Sepanjang hidupnya saya telah berusaha menyingkirkannya.
Ayah. Sekarang saya ingin memilikinya. Karena di dunia ini, dia
hanya punya
saya. Ibu kandungnya!"
"Memiliki seorang anak haram?" belalak ibunya
kesal. "Anak yang tak punya ayah? Cacat pula!
__ADS_1
Tidak, Kim Lian . Sudah cukup kau corengkan
arang di kening orangtuamu!"
"Harus saya buang ke mana anak saya, Bu?"
desah Kim Lian putus asa.
"Kau boleh memiliki anak itu kalau ayahnya
mau mengawinimu. Kalau tidak, kau boleh pilih.
Tinggalkan anak itu. Atau orangtuamu."
"Bapak punya istri. Punya anak." Terbayang
kembali wajah Han sin gurunya yang mengerut ketakutan. "Cobalah
mengerti keadaan Bapak...."
"Kenapa menemui saya di sini?"
keluh Han sin gelisah. Matanya berkeliaran resah ke
sekeliling mereka.
halaman di samping gedung sekolah sudah mulai
sepi. Tapi masih ada beberapa orang tetua yang belum
mengambil istirahat mereka. Sebentar lagi mereka pasti kemari.
Apa kata mereka kalau melihat rekannya berbincang-bincang
dengan Kim Lian di tempat sepi ini?
Akhir-akhir ini nama Kim Lian memang sudah terkenal, terkenal karena
rusak berat, . Dia dijauhi semua orang seperi wabah.
"Saya perlu uang, guru."
"Uang?"
"Untuk merawat anak kita."
"Kim lian!" cetus Han sin antara kaget dan ngeri,
seolah-oiah dia baru saja mengucapkan kata-kata berbahaya
yang akan menggiringnya ke
penjara. "Jangan bicara seperti itu!"
__ADS_1