PENDEKAR CACAD

PENDEKAR CACAD
5.INGIN MEMBUANGNYA ATAU MEMBUNUHNYA


__ADS_3

Itukah hasil perbuatannya? Dia ingin mengenyahkan anak itu.


Ingin membunuhnya! Tapi


dia tidak mati! Dia hidup... meski cacat!


Ibunyalah yang membuatnya cacat. Ibunya


yang ingin mengenyahkannya. Membunuhnya!


Bayi itu telah diteror. Diusik. Diganggu. Diusir. Tapi dia tidak


mau pergi juga. Dia bertahan dalam rahim ibunya. Meski harus


lahir tanpa lengan, Itukah akibat ulah ibunya? Akibat obat obatan yang diberikan ayahnya?


Ya Tuhan, betapa mahal harga yang harus dibayarnya untuk


sebuah kehidupan yang tak pernah dimintanya. Betapa mahal


harga helaan napas yang harus ditebusnya!


"Daya tahannya luar biasa," komentar sang TABIB kagum.


"Kelak dia akan menjadi KELAKI penyandang cacat yang hebat!"


Tapi... apa hebatnya seorang penyandang cacat


bagaimanapun kuatnya dia?


"Kenapa dia tidak dibiarkan mati saja?" kata-kata ibunya


kembali menikam telinga dan hati KIM LIAN . "Buat apa dia hidup


kalau hanya untuk


memberi malu keluarganya? Tidak punya lengan!


Tidak punya ayah!"


Tidak punya lengan. Tidak punya ayah.


Kata-kara itu terus-menerus menggedor gendang telinganya.


Tidak punya lengan. Tidak punya ayah. Tapi dia masih punya ibu!


Dia masih


punya seseorang....


Tiba-iba saja ada keinginan yang mahakuat di


hati Kim Lian untuk melindungi anaknya.

__ADS_1


"Kenapa dia tidak dibiarkan mati saja?"


Tapi... mengapa anaknya tidak boleh hidup?


Dia cacat. Dia haram. Tapi bukan berarti dia tidak boleh hidup!


Jika Tuhan sudah memberinya kehidupan, kata


siapa manusia boleh mencabutnya? Tidak seorang


pun berhak melarangnya hidup!


Dia telah kehilangan kedua belah lengannya.


Tetapi dia tidak kehilangan semangatnya untuk


bertahan dan hidup!


Kim Lian harus membantu anaknya untuk tetap


hidup. Barangkali dengan begitu dia dapat menebus dosanya.


Menebus kesalahannya karena telah berusaha membunuhnya.


Telah menyebabkan anaknya cacat!


"Membawanya pulang?" geram ayah Kim Lian gusar. Belum cukup


"Tapi dia harus dikemanakan, Ayah?" keluh Kim Lian getir.


"Dia sudah ada! Dan dia ada karena perbuatan saya! Dia harus


disingkirkan ke


mana lagi?"


"Barangkali ada orang yang mau mengadopsi anakmu."


"Siapa yang mau mengadopsi anak cacat?"


"Kalau begitu buat apa kau bawa pulang dia?"


"Sepanjang hidupnya saya telah berusaha menyingkirkannya.


Ayah. Sekarang saya ingin memilikinya. Karena di dunia ini, dia


hanya punya


saya. Ibu kandungnya!"


"Memiliki seorang anak haram?" belalak ibunya


kesal. "Anak yang tak punya ayah? Cacat pula!

__ADS_1


Tidak, Kim Lian . Sudah cukup kau corengkan


arang di kening orangtuamu!"


"Harus saya buang ke mana anak saya, Bu?"


desah Kim Lian putus asa.


"Kau boleh memiliki anak itu kalau ayahnya


mau mengawinimu. Kalau tidak, kau boleh pilih.


Tinggalkan anak itu. Atau orangtuamu."


"Bapak punya istri. Punya anak." Terbayang


kembali wajah Han sin gurunya yang mengerut ketakutan. "Cobalah


mengerti keadaan Bapak...."


"Kenapa menemui saya di sini?"


keluh Han sin gelisah. Matanya berkeliaran resah ke


sekeliling mereka.


halaman di samping gedung sekolah sudah mulai


sepi. Tapi masih ada beberapa orang tetua yang belum


mengambil istirahat mereka. Sebentar lagi mereka pasti kemari.


Apa kata mereka kalau melihat rekannya berbincang-bincang


dengan Kim Lian di tempat sepi ini?


Akhir-akhir ini nama Kim Lian memang sudah terkenal, terkenal karena


rusak berat, . Dia dijauhi semua orang seperi wabah.


"Saya perlu uang, guru."


"Uang?"


"Untuk merawat anak kita."


"Kim lian!" cetus Han sin antara kaget dan ngeri,


seolah-oiah dia baru saja mengucapkan kata-kata berbahaya


yang akan menggiringnya ke


penjara. "Jangan bicara seperti itu!"

__ADS_1


__ADS_2