
Tetua Gak Houw tahu bagaimana dekatnya hubungan anak didiknya
yang satu ini dengan Han sin guru nya. Karena itu dia merasa
heran ketika tetua Han sin tidak pernah menengok Kim Lian di rumah tabib.
Mengapa tetua Han sin enggan menjenguk murid
kesayangannya? Mengapa dia seolah-olah malah menyingkir?
Menjauhkan diri? Apakah...ada
hubungannya dengan bayi itu? Diakah yang harus bertanggung
jawab?
"Kamu tidak usah mengatakan siapa laki-laki
itu kalau kamu tidak mau mengatakannya, Kim lian," kata tetua Gak houw sambil menghela napas
panjang ketika dia membawa Kim Lian ke rumahnya.
"Bapak tidak akan memaksa. Tidak ada
orang yang berhak memaksamu."
"Ayah selalu mendesak saya untuk mengatakan
siapa laki-laki itu, Pak," desah Kim Lian lirih.
"Jika kamu tidak mau mengatakan siapa laki-laki itu, kamu
harus siap mempertanggung jawabkan sendiri perbuatanmu.
Anak itu akan menjadi
bebanmu. Sanggupkah kamu menanggungnya seorang diri?"
"Saya ingin merawatnya, Pak," air mata Kim Lian meleleh tak
tertahankan lagi. "Tapi Ayah malah mengusir saya!"
"Jangan menyalahkan ayahmu. Anak itu memang bukan
tanggung jawabnya."
"Ayah saya ingin mengenyahkan anak itu! Tapi kemana saya
harus membuangnya? Seumur hidupnya saya telah berusaha
melenyapkannya.
__ADS_1
Tapi dia menempel terus pada saya!"
"Dia anakmu, Kim Lian !" Dia ada karena perbuatanmu!"
"Saya merasa berdosa padanya, Pak Sayalah yang telah
membuat dia cacat! Saya ingin menebus dosa saya
dengan merawatnya. Melindunginya. Tapi saya tidak punya
rumah. Tidak punya
uang. Tidak punya pekerjaan."
"Di mana sekarang bayimu?"
"Masih di rumah tabib, Pak.tabib melarang
saya membawanya pulang sampai dia cukup kuat
untuk hidup di luar ."
"Jika kamu mau, bawalah dia nanti ke rumah
Bapak Untuk sementara, kamu dan anakmu
dapat tinggal di sini. Bapak juga punya sedikit
tabungan untuk melunasi biaya perawatan anakmu.
tidak percaya. Dia seperti mendengar sesuatu
yang tidak disangka-sangka. Yang tidak masuk akal!
"Semuanya terserah kamu," sambung tetua Gak houw
sabar ketika dilihatnya Kim Lian hanya tertegun bengong.
"Pikirkan saja dulu."
"Bapak sudi menolong orang seperti saya?"
desis Kim lian bingung. "Pada saat semua orang
menjauhi saya seperti sampah?"
"Bapak cuma ingin menolongmu. Memberi
kamu dan anakmu yang malang itu tempat berteduh. Tapi kamu
juga harus tahu risikonya."
__ADS_1
"Risiko apa, Pak?"
"Bapak seorang duda. Tidak punya anak. Tidak
punya siapa-siapa. Mungkin kita bakal memancing gunjingan
orang. Apa kamu tahan?"
"Apa Bapak tahan?"
tetua Gak houw tersenyum lugu. Dalam senyum itu,
kim Lian membaca ketulusan hati yang tidak ter-nilai. Dan dia
merasa sangat terharu.
"Untuk menolong orang, kadang-kadang kita perlu berkorban,"
sahut tetua Gak houw tulus. "Tuhan
tahu Bapak benar-benar hanya ingin menolongmu. Kepada -Nyalah kita wajib mempertanggung-jawabkan perbuatan kita di
dunia."
Ternyata gunjingan orang muncul lebih hebat
dan lebih kejam dari yang mereka sangka.
Tetua Gak houw bukan hanya digunjingkan karena
menampung seorang wanita yang bukan istrinya
di rumahnya. Dia malah dituduh sebagai bapak
anak haram muridnya!
"Tadi tetua Gak houw dipanggil kepala sekte ."
kata giok nio ketika kebetulan mereka bertemu di warung dekat
rumah. "Katanya dia ditanya-tanya soal kamu."
"Tetua Gak houw tahu apa? Dia hanya ingin menolong saya pada saat
semua orang sudah memalingkan muka karena menganggap saya
sampah busuk!"
"Kasihan tetua Gak houw. Gara-gara kamu, dia jadi
korban. Semua orang bertanya padanya."
__ADS_1
"Bertanya apa? Dia tidak tahu apa-apa! Mereka
harus bertanya pada saya!"