PENDEKAR CACAD

PENDEKAR CACAD
7.


__ADS_3

Tetua Gak Houw tahu bagaimana dekatnya hubungan anak didiknya


yang satu ini dengan Han sin guru nya. Karena itu dia merasa


heran ketika tetua Han sin tidak pernah menengok Kim Lian di rumah tabib.


Mengapa tetua Han sin enggan menjenguk murid


kesayangannya? Mengapa dia seolah-olah malah menyingkir?


Menjauhkan diri? Apakah...ada


hubungannya dengan bayi itu? Diakah yang harus bertanggung


jawab?


"Kamu tidak usah mengatakan siapa laki-laki


itu kalau kamu tidak mau mengatakannya, Kim lian," kata tetua Gak houw sambil menghela napas


panjang ketika dia membawa Kim Lian ke rumahnya.


"Bapak tidak akan memaksa. Tidak ada


orang yang berhak memaksamu."


"Ayah selalu mendesak saya untuk mengatakan


siapa laki-laki itu, Pak," desah Kim Lian lirih.


"Jika kamu tidak mau mengatakan siapa laki-laki itu, kamu


harus siap mempertanggung jawabkan sendiri perbuatanmu.


Anak itu akan menjadi


bebanmu. Sanggupkah kamu menanggungnya seorang diri?"


"Saya ingin merawatnya, Pak," air mata Kim Lian meleleh tak


tertahankan lagi. "Tapi Ayah malah mengusir saya!"


"Jangan menyalahkan ayahmu. Anak itu memang bukan


tanggung jawabnya."


"Ayah saya ingin mengenyahkan anak itu! Tapi kemana saya


harus membuangnya? Seumur hidupnya saya telah berusaha


melenyapkannya.

__ADS_1


Tapi dia menempel terus pada saya!"


"Dia anakmu, Kim Lian !" Dia ada karena perbuatanmu!"


"Saya merasa berdosa padanya, Pak Sayalah yang telah


membuat dia cacat! Saya ingin menebus dosa saya


dengan merawatnya. Melindunginya. Tapi saya tidak punya


rumah. Tidak punya


uang. Tidak punya pekerjaan."


"Di mana sekarang bayimu?"


"Masih di rumah tabib, Pak.tabib melarang


saya membawanya pulang sampai dia cukup kuat


untuk hidup di luar ."


"Jika kamu mau, bawalah dia nanti ke rumah


Bapak Untuk sementara, kamu dan anakmu


dapat tinggal di sini. Bapak juga punya sedikit


tabungan untuk melunasi biaya perawatan anakmu.


tidak percaya. Dia seperti mendengar sesuatu


yang tidak disangka-sangka. Yang tidak masuk akal!


"Semuanya terserah kamu," sambung tetua Gak houw


sabar ketika dilihatnya Kim Lian hanya tertegun bengong.


"Pikirkan saja dulu."


"Bapak sudi menolong orang seperti saya?"


desis Kim lian bingung. "Pada saat semua orang


menjauhi saya seperti sampah?"


"Bapak cuma ingin menolongmu. Memberi


kamu dan anakmu yang malang itu tempat berteduh. Tapi kamu


juga harus tahu risikonya."

__ADS_1


"Risiko apa, Pak?"


"Bapak seorang duda. Tidak punya anak. Tidak


punya siapa-siapa. Mungkin kita bakal memancing gunjingan


orang. Apa kamu tahan?"


"Apa Bapak tahan?"


tetua Gak houw tersenyum lugu. Dalam senyum itu,


kim Lian membaca ketulusan hati yang tidak ter-nilai. Dan dia


merasa sangat terharu.


"Untuk menolong orang, kadang-kadang kita perlu berkorban,"


sahut tetua Gak houw tulus. "Tuhan


tahu Bapak benar-benar hanya ingin menolongmu. Kepada -Nyalah kita wajib mempertanggung-jawabkan perbuatan kita di


dunia."


Ternyata gunjingan orang muncul lebih hebat


dan lebih kejam dari yang mereka sangka.


Tetua Gak houw bukan hanya digunjingkan karena


menampung seorang wanita yang bukan istrinya


di rumahnya. Dia malah dituduh sebagai bapak


anak haram muridnya!


"Tadi tetua Gak houw dipanggil kepala sekte ."


kata giok nio ketika kebetulan mereka bertemu di warung dekat


rumah. "Katanya dia ditanya-tanya soal kamu."


"Tetua Gak houw tahu apa? Dia hanya ingin menolong saya pada saat


semua orang sudah memalingkan muka karena menganggap saya


sampah busuk!"


"Kasihan tetua Gak houw. Gara-gara kamu, dia jadi


korban. Semua orang bertanya padanya."

__ADS_1


"Bertanya apa? Dia tidak tahu apa-apa! Mereka


harus bertanya pada saya!"


__ADS_2