
Di Sekte, sikap Penatua Han sin akan selalu wajar kepada siapa pun ,dia memang selalu ramah.
Sikap ramah nya bukan hanya kepada Kim lian murid nya, tapi juga kepada semua orang , sebaliknya sikap Kim Lian pun tidak berlebihan.
Kim Lian sejak kecil memang agak manja pada siapapun. Tetapi kemanjaan itu
diperlihatkannya kepada semua guru dan teman.
Laki-laki ataupun perempuan. Tua ataupun muda. Dan Kim Lian memang punya modal untuk itu. Dia cantik. Dia jenius pula.
Tidak heran kalau dia terpilih menjadi ketua murid yang membawahi ratusan murid. Dan hubungannya dengan Han sin tentu saja bertambah dekat.
Mereka sering terlihat bersama-sama mendekorasi aula kalau ada perayaan lomba pemilihan murid dalam di sekte.
Sering bersama pula sebagai panitia
bila ada perlombaan sekte.
Han sin juga sering mengantarkan Kim lian pulang kalau kegiatan itu menyita waktu
mereka sampai malam.
Dan rumah mereka searah, sebagai murid elit Rumah Kim Lian dekat rumah para penatua, kebetulan rumah Han Sin paling ujung.
Jadi apa salahnya kalau diantar oleh gurunya? Tidak ada yang curiga, kan?
Pada suatu hari Kim Lian mengadu ke Han Sin bahwa dia hamil.
"Kamu tidak mungkin hamil,"
kata Han sin mantap ketika Kim Lian akhirnya memberanikan diri untuk mengadu.
Sudah dua bulan Kim lian . tidak mendapat haid. Padahal biasanya haidnya selalu lancar. Tidak pernah terlambat datang.
Apalagi absen. Dan ingatannya kembali ke
rumah gurunya.
Ketika suatu malam dia diantarkan pulang.
Malam itu, berbeda dengan malam-malam sebelumnya,
Han sin tidak langsung mengantarkannya pulang. Katanya dia harus menengok rumahnya dulu.
Saat itu istrinya tidak ada di
rumah karena sedang melahirkan. Jadi dia khawatir kalau ada pencuri masuk ke rumahnya yang kosong.
Tentu saja itu hanya alasan. Karena sesampainya disana Han Sin tidak memeriksa pintu maupun jendela.
Dia langsung mengajak
Kim lian mengobrol dan membaca buku silat di ruang tamu.
Dan bertambah malam, obrolan mereka bertambah hangat. Han Sin pun membuatkan
Kim Lian minum.
Akhimya bukan hanya kata-katanya saja yang semakin hangat Belaian tangan Han Sin pun semakin hangat.
Saat iru Kim Lian merasa sangat bahagia, mungkin karena pengaruh minuman. Dia
merasa tersanjung. Merasa dimanja. Merasa dikasihi dan tanpa sadar tertidur sampai pagi.
Tetap sekarang... apa tanggapan Han sin ?
"Kamu tidak mungkin hamil. Kita tidak melakukan apa-apa."
Kim Lian jadi bingung. Apa sebenarnya yang
harus dilakukan oleh seorang laki-Iaki dan seorang perempuan supaya hamil?
Tidak cukupkah seperti apa yang mereka lakukan malam itu di saat dia tertidur?
Mengapa gurunya begitu mantap? Begitu yakin?
Tapi hansin seorang guru. Seorang
suami. Seorang bapak Dia pasti serba tahu.
Pengetahuannya jauh di atas muridnya.
Jadi dia pasti benar, kim lian tidak bakal hamil! mungkin Han Sin memberi minum obat anti hamil, maka nya bilang begitu.
Tetapi... mengapa perut ini kian hari kian membesar juga? Dan
menstruasinya tak kunjung datang?
__ADS_1
Han sin tidak menyuruhnya berobat. Tidak menganjurkan memeriksakan diri ke tabib.
Kelihatannya dia menganggap enteng saja.
Dia hanya memberikan dua macam obat.
Tablet-tablet yang dikatakannya vitamin.
"Supaya haidmu lancar,"
katanya tenang.
Tetapi menjelang bulan kelima, perutnya semakin membukit. Dan haidnya belum datang juga.
Kim Lian semakin gelisah. Dia mulai panik. Bingung bagaimana cara menyembunyikan perutnya.
Dia tidak berani pulang kerumah orang tua nya, waktu pulang dirumah karena di panggil orang tua nya, dia dapat memakai daster longgar.
Orangtuanya terlalu sibuk bekerja untuk memerhatikan-nya. Ayah dan
ibunya sama-sama sibuk berdagang di pasar.
Saudara dia tidak punya. jadi di rumah dia aman.
Tetapi di sekte? Bagaimana menyembunyikan
perutnya dari tatapan curiga gurunya?
Teman-temannya?
Kim Lian sudah melakukan apa saja untuk me-ngeluarkan haidnya.
Dia melompat-Iompat.
Mempelajari ilmu meringankan tubuh.
Mengangkat benda-benda berat.
Tetapi haidnya tidak muncul juga,Akhirnya
Kim Lian putus asa. Dia mencari seorang tabib, Yang jauh dari rumah dan sektenya.
Tentu saja dengan harapan tabib itu
tidak mengenalnya, Dan kata-kata tabib itu hampir membuatnya pingsan.
katanya mantap. "Dua puluh empat minggu.
Hamil! Ya Tuhan! Dia mengandung bayi Han Sin!
Dan gurunya yang biasanya selalu bersikap ramah dan baik itu pasti tidak mau bertanggung jawab!
"Kamu tidak mungkin hamil," katanya mantap.
"Kita tidak melakukan apa-apa."
Jadi tidak mungkin memaksanya untuk mengakui anaknya.
Bukankah menurut pendapatnya
mereka tidak melakukan apa-apa? Padahal umur kehamilannya cocok dengan saat dia
tertidur dirumah nya, dan disaat tidur mungkin melakukan hubungan
intim di rumah Han sin....
Dengan panik Kim Lian memohon agar kandungannya digugurkan.
Tetapi tabib itu menolak
"Kandunganmu memang kelihatan kecil. Tidak sesuai dengan umur kehamilan.
Tapi sudah terlambat untuk di
gugurkan."
Sejak itu Kim Lian tidak berani lagi muncul di sekte.
Dari rumah dia memang pergi setiaphari.
Tetapi bukan ke sekte. Kalaupun dia nekat ke sana pagi ini, dia hanya berani menunggu di kejauhan.
Mencari kesempatan untuk menemui Han sin. Ketika melihatnya datang dari kejauhan,
Kim Lian melompat untuk menghadangnya.
Tetapi disaat melihat Kim Lian , Han sin malah membelok melarikan dirinya. Dan cepat-cepat memiiih jalan lain untuk
__ADS_1
menghindar.
Dengan putus asa Kim lian mengejarnya dan memanggil-manggil gurunya.
Tetapi Han sin malah makin cepat memacu larinya. Dia tidak mau menoleh. Apalagi berhenti.
Seorang lelaki yang melihat seorang gadis berlari lari mengejar seorang lelaki, sempat memburu Han sin. Dan memaksanya
untuk berhenti.
"Bapak menganiaya anak itu, ya?" bentak lelaki itu jengkel.
"Jangan lari! Bapak harus bertanggung jawab!"
"Dia murid saya!" balas Han sin sama kesalnya.
"Tidak usah ikut campur!"
Ketika lelaki itu telah berlalu, baru Han sin menoleh ke arah Kim lian yang sudah tiba di dekatnya dengan napas tersengal-sengal dan keringat bercucuran.
"Dari mana saja kamu?" tegurnya marah.
"Mengapa sudah sebulan tidak ke sekte?"
"Bagaimana saya harus ke sekte dengan membawa perut ini?"
balas Kim Lian setengah menangis.
"Saya sudah hamil tujuh bulan, guru! guru jahat! guru bilang saya pasti tidak hamil!"
Karena mereka mulai menarik perhatian orang-orang di jalan kecil itu, terpaksa Han sin mengantarkan kim Lian meninggalkan tempat
itu.
"Orangtuamu belum tahu?" tanya Han sin
Nadanya datar dan suaranya kering. Berbeda sekali dengan dulu. Dulu dia selalu ramah.
"Bagaimana saya harus memberitahu mereka?"
"Obat-obat yang saya berikan selalu diminum?
"Tiap hari?"
"Saya sudah meminum semua"
Saat itu barulah Kim Lian sadar, obat apa yang dibeikan Han sin. Obat itu pasti bukan
vitamin!
"Bagaimana, guru?" tangis Kim lian ketakutan.
"Saya harus berbuat apa?"
Tetapi Han sin juga sama takutnya ,takut di keluarkan dari sekte.
Belum pernah Kim Lian melihat guru yang sangat dikaguminya itu bersikap seperti ini.
Sekarang mereka tidak ada bedanya dengan
sepasang ikan yang terperangkap dalam jaia.
Tidak ada guru, tidak ada murid. Tidak ada
suami, tidak ada gadis. Tidak ada bapak, tidak ada anak.
Meeka sama bingungnya. Sama takutnya. Saat itu hancurlah respek Kim Lian terhadap gurunya.
Ternyata dia cuma manusia biasa! Tidak ada bedanya dengan dirinya!
"Guru punya anak. muridku," suara Han sin
sudah sampai ke nada memohon. Mengiba-iba.
"Punya istri. Tak mungkin mengawinimu. Cobalah mengerti keadaan guru."
Tetapi mengapa hanya aku yang harus me-ngerti keadaannya, pikir Kim Lian getir ketika dia sedang melangkah gundah ke
sekte.
Tidakkah dia juga harus mengerti kesulitanku? Kepala sekte telah mengirim surat kepada ayahnya.
Kim Lian sudah sebulan tidak masuk sekte. Dan Ayah sangat marah.
"Awas kalau kau berani bolos lagi!" geram ayah Kim Lian gusar.
"Kuusir kau dari rumah ini!"
__ADS_1