
"Beliau ingin menolongmu..."
"Sebenamya Pak patriak hanya ingin menolong Bapak."
"Bagaimanapun lebih balk tinggal di rumahnya
daripada merantau entah ke mana!"
"Saya tidak mau tinggal di rumah pak patriak"
"Kalau begitu kamu tidak boleh pergi!"
Kim Lian menoleh. Matanya yang berlinang air
mata menatap Gak Houw dengan pilu.
"Kalau boleh memilih, saya juga ingin tetap
tinggal di sini sambil membesarkan anak saya,
Pak. Tapi masyarakat beradab di luar sana tidak
mengizinkannya. Karena itu saya terpaksa pergi."
"Kamu mau pergi ke mana. Dang?" gumam Gak houw cemas."
"Ke mana kamu mau membawa bayimu?"
"Kalau Bapak sayang pada anak saya,
maukah Bapak merawatnya demi saya? Jika suatu waktu
dia membutuhkan saya, saya pasti akan datang
menolongnya."
MUNGKINKAH gadis berumur lima betas tahun yang manis
tapi lugu itu merayu gurunya,
pikir tetua Ling Ling , ketika dia sedang termenung menekuni berkas berkas perkara Ai Lie.
Ling Ling masih ingat pertemuan nya yang pertama dengan gadis itu. Dia datang diantar oleh seorang
polisi wanita. Terbenam dalam ketakutan dalam
rangkulan ibu nya.
Wajahnya yang polos menyirat kan rasa malu.
Takut. Sekaligus bingung.
__ADS_1
Sejak peristiwa yang membuat nya shock itu.
dia terus-menerus ditanya-tanya, dipaksa dan Dibentak-bentak. Diperiksa.
Mula-mula di rumahnya. Ayahnya memaksa nya mengakui siapa
yang melakukan hal itu.
Ketika Ai Lie masih menangis kebingungan,
Ayah nya sudah membentak-bentak nya dengan
Begitu pengakuan keluar dari mulutnya. Ayah nya
langsung membawanya ke polisi. Di sana dia
dipaksa menceritakan lagi pengalaman pahitnya.
Kali ini pengakuan nya dicatat oleh seorang polisi.
Lalu dia dibawa ke seorang tabib, yang memperlakukan
tubuh nya seperti sebuah barang bukti. Tidak kasar. Tapi tidak
berperasaan.
Meskipun terus-menerus didampingi ibunya,
sangat menusuk perasaannya sebagai seorang gadis yang baru
berumur lima belas tahun.
Lalu pengakuan nya yang telah diceritakannya
entah berapa kali itu harus diulanginya lagi. Kali
ini di depan seorang petugas yang mencatat pengakuan nya
dengan lebih cermat. Setelah dibacakan, pengakuan itu harus
ditandatangani nya.
Dalam keadaan takut dan lemah, dia diperbolehkan
pulang setelah disuntik dan dibekali beberapa macam obat.
"Kasus Ai Lie lagi?"
tegur tetua Kim Tan , salah seorang rekannya yang baru masuk ke
kamar
__ADS_1
kerjanya.
Ling Ling hanya mengagguk.
"Kamu sudah berhasil menjebloskan pemerkosa
nya ke dalam penjara. Mau apa lagi? Masih penasaran?"
"Cuma tujuh bulan," sahut Ling Ling tanpa mengangkat wajahnya.
Diembuskannya napasnya dengan jengkel. Dadanya terasa
panas. Dan tetap pengap sekalipun dia telah menarik napas
dalam-dalam dan mengembuskannya lagi.
"Ingin dia dihukum sesuai tuntutanmu?" Kim tan tersenyum
tipis.
"Barangkali hakimnya harus wanita."
"Coba bayangkan," desis Ling Ling kesal.
"Tujuh bulan untuk perbuatan sekeji itu! Merusak masa
depan seorang gadis. Muridnya sendiri! Bahkan
sesudah dia keluar dari penjara nanti, gadis itu
belum pulih dari shocknya!"
"Ya, memang kelihatannya trauma psikisnya
cukup berat. Di persidangan dia selalu gemetaran
dan pucat pasi seperti orang ketakutan."
"Menurut tabib, sindroma trauma perkosaan
yang menimpa Ai Lie cukup berat. Sampai sekarang dia tidak
bisa tidur kalau tidak minum
obat.
Tidak berani ditinggal sendirian di rumah.
Sekaligus tidak berani meninggalkan rumah. Sudah dua kali
mencoba membunuh diri pula.
__ADS_1