PENDEKAR CACAD

PENDEKAR CACAD
12.KASUS PEMERKOSAAN


__ADS_3

"Beliau ingin menolongmu..."


"Sebenamya Pak patriak hanya ingin menolong Bapak."


"Bagaimanapun lebih balk tinggal di rumahnya


daripada merantau entah ke mana!"


"Saya tidak mau tinggal di rumah pak patriak"


"Kalau begitu kamu tidak boleh pergi!"


Kim Lian menoleh. Matanya yang berlinang air


mata menatap Gak Houw dengan pilu.


"Kalau boleh memilih, saya juga ingin tetap


tinggal di sini sambil membesarkan anak saya,


Pak. Tapi masyarakat beradab di luar sana tidak


mengizinkannya. Karena itu saya terpaksa pergi."


"Kamu mau pergi ke mana. Dang?" gumam Gak houw cemas."


"Ke mana kamu mau membawa bayimu?"


"Kalau Bapak sayang pada anak saya,


maukah Bapak merawatnya demi saya? Jika suatu waktu


dia membutuhkan saya, saya pasti akan datang


menolongnya."


MUNGKINKAH gadis berumur lima betas tahun yang manis


tapi lugu itu merayu gurunya,


pikir tetua Ling Ling , ketika dia sedang termenung menekuni berkas berkas perkara Ai Lie.


Ling Ling masih ingat pertemuan nya yang pertama dengan gadis itu. Dia datang diantar oleh seorang


polisi wanita. Terbenam dalam ketakutan dalam


rangkulan ibu nya.


Wajahnya yang polos menyirat kan rasa malu.


Takut. Sekaligus bingung.

__ADS_1


Sejak peristiwa yang membuat nya shock itu.


dia terus-menerus ditanya-tanya, dipaksa dan Dibentak-bentak. Diperiksa.


Mula-mula di rumahnya. Ayahnya memaksa nya mengakui siapa


yang melakukan hal itu.


Ketika Ai Lie masih menangis kebingungan,


Ayah nya sudah membentak-bentak nya dengan


Begitu pengakuan keluar dari mulutnya. Ayah nya


langsung membawanya ke polisi. Di sana dia


dipaksa menceritakan lagi pengalaman pahitnya.


Kali ini pengakuan nya dicatat oleh seorang polisi.


Lalu dia dibawa ke seorang tabib, yang memperlakukan


tubuh nya seperti sebuah barang bukti. Tidak kasar. Tapi tidak


berperasaan.


Meskipun terus-menerus didampingi ibunya,


sangat menusuk perasaannya sebagai seorang gadis yang baru


berumur lima belas tahun.


Lalu pengakuan nya yang telah diceritakannya


entah berapa kali itu harus diulanginya lagi. Kali


ini di depan seorang petugas yang mencatat pengakuan nya


dengan lebih cermat. Setelah dibacakan, pengakuan itu harus


ditandatangani nya.


Dalam keadaan takut dan lemah, dia diperbolehkan


pulang setelah disuntik dan dibekali beberapa macam obat.


"Kasus Ai Lie lagi?"


tegur tetua Kim Tan , salah seorang rekannya yang baru masuk ke


kamar

__ADS_1


kerjanya.


Ling Ling hanya mengagguk.


"Kamu sudah berhasil menjebloskan pemerkosa


nya ke dalam penjara. Mau apa lagi? Masih penasaran?"


"Cuma tujuh bulan," sahut Ling Ling tanpa mengangkat wajahnya.


Diembuskannya napasnya dengan jengkel. Dadanya terasa


panas. Dan tetap pengap sekalipun dia telah menarik napas


dalam-dalam dan mengembuskannya lagi.


"Ingin dia dihukum sesuai tuntutanmu?" Kim tan tersenyum


tipis.


"Barangkali hakimnya harus wanita."


"Coba bayangkan," desis Ling Ling kesal.


"Tujuh bulan untuk perbuatan sekeji itu! Merusak masa


depan seorang gadis. Muridnya sendiri! Bahkan


sesudah dia keluar dari penjara nanti, gadis itu


belum pulih dari shocknya!"


"Ya, memang kelihatannya trauma psikisnya


cukup berat. Di persidangan dia selalu gemetaran


dan pucat pasi seperti orang ketakutan."


"Menurut tabib, sindroma trauma perkosaan


yang menimpa Ai Lie cukup berat. Sampai sekarang dia tidak


bisa tidur kalau tidak minum


obat.


Tidak berani ditinggal sendirian di rumah.


Sekaligus tidak berani meninggalkan rumah. Sudah dua kali


mencoba membunuh diri pula.

__ADS_1


__ADS_2