
"Kamu hamil,"
katanya mantap. "Dua puluh empat minggu.
Hamil! Ya Tuhan! Dia mengandung bayi Han Sin! Dan gurunya yang biasanya selalu bersikap ramah dan
baik itu pasti tidak mau bertanggung jawab!
"Kamu tidak mungkin hamil," katanya mantap.
"Kita tidak melakukan apa-apa."
Jadi tidak mungkin memaksanya untuk mengakui anaknya.
Bukankah menurut pendapatnya
mereka tidak melakukan apa-apa? Padahal umur
kehamilannya cocok dengan saat mereka melakukan hubungan
intim di rumah Han sin....
Dengan panik Kim Lian memohon agar kandungannya digugurkan.
Tetapi tabib itu menolak
"Kandunganmu memang kelihatan kecil. Tidak
sesuai dengan umur kehamilan. Tapi sudah terlambat untuk di
gugurkan."
Sejak itu Kim Lian tidak berani lagi muncul di sekte.
Dari rumah dia memang pergi setiaphari.
Tetapi bukan ke sekte. Kalaupun dia nekat ke sana pagi ini,
dia hanya berani menunggu di kejauhan. Mencari kesempatan
untuk menemui Han sin.
Ketika melihatnya datang dari kejauhan,
Kim Lian melompat untuk menghadangnya.
Tetapi melihat Kim Lian , Han sin malah membelok melarikan dirinya. Dan cepat-cepat memiiih jalan lain untuk
menghindar.
Dengan putus asa Kim lian mengejarnya dan memanggil-manggil
gurunya. Tetapi Han sin
__ADS_1
malah makin cepat memacu larinya.
Dia tidak mau menoleh. Apalagi berhenti.
Seorang lelaki yang melihat seorang gadis berlari lari mengejar seorang lelaki, sempat memburu gan sin. Dan memaksanya
untuk berhenti.
"Bapak menganiaya anak itu, ya?" bentak lelaki itu jengkel.
"Jangan lari! Bapak harus bertanggung jawab!"
"Dia murid saya!" balas Han sin sama kesalnya.
"Tidak usah ikut campur!"
Ketika lelaki itu telah berlalu, baru Han sin menoleh ke
arah Kim lian yang sudah tiba di dekatnya dengan napas
tersengal-sengal dan keringat bercucuran.
"Dari mana saja kamu?" tegurnya marah.
"Mengapa sudah sebulan tidak ke sekte?"
"Bagaimana saya harus ke sekte dengan membawa perut ini?"
balas Kim Lian setengah menangis.
guru bilang saya pasti tidak hamil!"
Karena mereka mulai menarik perhatian orang-orang
di jalan kecil itu, terpaksa Han sin mengantarkan
kim Lian meninggalkan tempat
itu.
"Orangtuamu belum tahu?" tanya Han sin
Nadanta datar dan suaranya kering. Berbeda sekali dengan dulu. Dulu
dia selalu ramah.
"Bagaimana saya harus memberitahu mereka?"
"Obat-obat yang saya berikan selalu diminum?
Tiap hari?"
"Saya sudah meminum semua"
__ADS_1
Saat itu barulah Kim Lian sadar, obat apa yang
dibeikan Han sin. Obat itu pasti bukan
vitamin!
"Bagaimana, guru?" tangis Kim lian ketakutan.
"Saya harus berbuat apa?"
Tetapi Han sin juga sama takutnya.
Belum pernah Kim Lian melihat guru yang sangat
dikaguminya itu bersikap seperti ini.
Sekarang mereka tidak ada bedanya dengan
sepasang ikan yang terperangkap dalam jaia.
Tidak ada guru, tidak ada murid. Tidak ada
suami, tidak ada gadis. Tidak ada bapak, tidak ada anak.
Meeka sama bingungnya. Sama takutnya. Saat
itu hancurlah respek Kim Lian terhadap gurunya.
Ternyata dia cuma manusia biasa! Tidak ada bedanya dengan
dirinya!
"Guru punya anak. Dang," suara Han sin
sudah sampai ke nada memohon. Mengiba-iba.
"Punya istri. Tak mungkin mengawinimu. Cobalah mengerti
keadaan guru."
Tetapi mengapa hanya aku yang harus me-ngerti keadaannya,
pikir Kim Lian getir ketika dia sedang melangkah gundah ke
sekte. Tidakkah
dia juga harus mengerti kesulitanku?
Kepala sekte telah mengirim surat kepada
ayahnya. Kim Lian sudah sebulan tidak masuk sekolah. Dan Ayah
sangat marah.
__ADS_1
"Awas kalau kau berani bolos lagi!" geram ayah Kim Lian gusar. "Kuusir kau dari rumah ini!"