PENDEKAR CACAD

PENDEKAR CACAD
8.REBUTAN MENOLONG


__ADS_3

"Kamu kan tidak mau bilang siapa bapak anakmu! Gara-gara


kamu, tetua Gak houw jadi korban! Dia yang dituduh menghamili


kamu."


Ya Tuhan, keluh Kim Lian getir. Mengapa manusia sekejam itu?


Mereka tidak mau menolong sesamanya yang mendapat


kesusahan. Mengapa


mereka masih sampai hati mencerca orang yang


dengan tulus ikhlas ingin menolong?


"Bapak ingin tahu siapa ayah anak saya?"


tanya Kim Lian gemas ketika keesokan paginya dia muncul di


sekolah dan minta izin menemui kepala sekte.


Dia tidak menghiraukan tatapan penuh penghinaan dan ejekan


menyakitkan yang dialamatkan teman-temannya kepadanya.


Rasa malunya sudah


hilang. Berganti dengan rasa marah atas ketidak adilan yang


menimpa tetua Gak houw..


Kepala sekte terkejut sekali melihat kedatangannya. Tetapi dia


tidak menolak permintaan Kim Lian untuk bertemu. Dia memang


sudah menantikan pengakuan Kim Lian . Ingin tahu siapa


yang berani merusak nama baik sekte mereka.


"Kamu sudah siap mengatakannya?" tanya Kepala sekte dingin. "Mengapa baru sekarang?"


"Karena seorang guru yang tidak bersalah telah


menjadi korban" sahut Kim Lian kesal. "Saya


ingin membersihkan nama tetua Gak houw . Beliau tidak bersalah!"


"Tidak perlu, Kim Lian ."


Kepala sekte dan Kim Lian sama-sama menoleh

__ADS_1


ke pintu. Tetua Gak houw tegak di sana. Menatap Kim Lian dengan


tenang.


Sekali lihat saja, tetua Gak houw tahu, Kim Lian serius. Dia benarbenar akan mengatakan siapa ayah anaknya. Untuk


membersihkan nama orang


yang telah menolongnya.


tetua Gak houw juga tahu nama siapa yang akan disebut Kim Lian .


Meskipun Kim Lian belum pernah mengatakannya. naluri tetua Gak houw telah dapat


menduga siapa laki-laki itu.


"Kamu tidak perlu menyebut nama laki-laki itu untuk membela


Bapak."


"Tapi tidak adil, Pak!" protes Kim Lian gemas.


"Bapak idak bersalah! Ketika saya dalam kesusahan, cuma


Bapak yang mau menolong saya! Apa hak mereka menuduh


Bapak sekejam itu?"


"Tidak ada yang menuduh Bapak,"


samping Kim Lian .


"Kepala sekte hanya bertanya."


"Kenapa Bapak sudi menampung saya? Apa


hubungan Bapak dengan anak gelap saya? Itu


yang ditanyakan kepala sekte kan?"


"Bapak ingin bicara dengan kamu," sela kepala sekte datar.


"Kenapa baru sekarang Bapak mau bicara dengan saya?"


"Karena kamu tidak pernah mau membicarakannya."


"Buat apa saya bicara dengan orang yang menghina saya?"


"Itu hanya perasaanmu. Karena kamu merasa bersalah."


"Saya memang bersalah! Tapi saya tidak mau

__ADS_1


membuat kesalahan yang kedua! Saya ingin merawat anak saya.


Tapi tidak ada tempat


untuk kami!"


"Rumah saya selalu terbuka untuk kalian berdua, Kim Lian ,"


cetus tetua Gak houw lembut.


"Apapun pendapat orang, saya tidak akan pernah jera


menolongmu."


Dua hari kemudian, kepala sekte memerlukan


datang ke rumah tetua Gak houw. Ketika melihat bayi


tanpa lengan itu terlelap dalam gendongan ibunya, Kepala sekte


tidak dapat mengusir rasa iba-nya.


"Jika kamu mau, saya bersedia menampung kalian berdua di


rumah saya,"


katanya setelah menghela napas panjang."


Istri dan anak-anak saya sudah setuju. Kamu boleh tinggal


sementara


waktu sampai kamu mampu hidup sendiri."


"Tidak," bantah Kim Lian tegas. "Saya mau tetap tinggal di sini.


Di sinilah pertama kalinya anak saya merasa punya tempat yang


tidak menolaknya.


"Orangtua Kim Lian sendiri tidak mau menerima anak itu.


Ayah Kim Lian tetap pada ancamannya.Jika Kim Lian berkeras


membawa anaknya puiang,


dia boleh mencari tempat tinggal lain. Tidak boleh pulang ke


rumah ayahnya.


Kim Lian sudah berlutut di depan orangtuanya

__ADS_1


sambil menggendong anaknya yang cacat.


Memohon belas kasihan mereka.


__ADS_2