
Kim Lian sangat takut sekali.
Diusir dari rumah adalah sungguh sungguh sebuah malapetaka yang mengerikan!
Ke mana dia harus pergi?
Tetapi datang ke sekte sama menakutkannya.
Apa yang harus dijawabnya kalau teman-teman menanyakan perutnya?
"Besok guru bawa kamu ke tabib" bujuk
Han sin kewalahan. Sekadar supaya Kim Lian
mau melepaskannya pergi.
Dan tidak membuntutinya lagi. Aduh,
anak ini benar-benar merepot-kan!
"tabib tidak mau menggugurkan kandungan
saya, guru!" rintih Kim Lian putus asa.
"Katanya kehamilan saya sudah terlalu besar. Buat apa guru mem bawa saya
ke tabib lagi?"
"Guru punya kenalan"
Kim Lian tidak tahu guru Han sin
berbohong atau tidak. Apa bedanya lagi?
Kalaupun dia berkata benar, Kim Lian sudah tidak memercayainya!
"Dia pasti bisa menolongmu. Sekarang biarkan guru pergi. Jangan mengikuti guru lagi. Nanti orang-orang curiga."
Nanti orang-orang curiga.
Hanya itu yang penting baginya sekarang.
Nama baiknya. Kehormatannya. Keluarganya.
Yang lain tidak penting!
Persetan dengan Kim Lian . Persetan
dengan kehamiiannya!
Begitu Kim Lian hampir sampai di sekte nya, cepat-cepat Han sin
kabur ke tempat lain. Supaya Mereka idak terlihat bersama sama ke sekte.
Kalau perlu, hari ini dia bolos saja. Tidak usah mengajar. Supaya tidak usah menyaksikan kegaduhan di sekte....
Kehamilan Kim Lian sudah tidak mungkin ditutupi lagi. Teman-temannya pasti tahu. para tetua pasti tahu.
Kepala sekte dan para penatua juga pasti akan tahu.
Dan kalau Kim Lian dipanggil menghadap, Han sin tidak ingin berada di sana...
Dengan sangat sedih Kim Lian melangkah gontai memasuki pintu gerbang sekte nya.
Hari masih terlalu Pagi Tetapi Giok nio sudah datang. Sahabatnya yang cerewet itu sudah menunggu di depan gerbang.
Dan mulutnya Pasti tidak bisa disumbat!
Tiba-tiba saja Kim Lian merasa perutnya mulas didera rasa takut.
Bagaimana menyembunyikan
kehamiiannya dari mata Giok nio yang tajam?
Barang yang didekapnya erat-erat di depan perutnya tidak mungkin lagi menyembunyikan perutnya yang sudah membukit.
Sebentar lagi Giok nio
pasti tahu. Sebentar lagi teman-temannya tahu.
Semua orang tahu... dia hamil!
Bergegas Kim Lian berlari ke WC.
Karena ter-buru-buru menghindari pandangan giok nio, dia menjadi kurang hati-hati. Tidak melihat lantai yang belum kering bekas dipel.
__ADS_1
Dia tergelincir dan jatuh terduduk.
Rasa sakit menikam pinggulnya. Perutnya te-rasa lebih sakit lagi seperti hendak buang air besar. Pasti akibat rasa takutnya.
Pasti
Tergopoh-gopoh Kim Lian merayap bangun.
Berdiri dengan limbung dan masuk ke dalam WC,
Tetapi yang dikeluarkannya di sana benar-benar sesuatu yang
di luar dugaan...
darah! Da-rah!
Dan bukan cuma itu saja... bukan cuma darah...
Dan Kim Lian pun langsung pingsan karena melihat darah.
Waktu bangun.
"TIDAK ingin melihat anaknya, Dik?" tegur
LAN lan murid tabib itu, satu-satunya perawat yang selalu bersikap ramah terhada Kim Lian .
Perawat yang lain kesal pada sikap orangtuanya.
Ada juga yang jijik kepada Kim Lian karena melahirkan anak gelap atau anak haram.
Tapi Suster lan lan berbeda.
Baginya setiap pasien sama berharganya.
Harus dirawat dan dilayani dengan baik.
Kim Lian menatap Suster lan lan dengan tatapan ngeri.
"Kenapa?" tanya Suster lan lan lembut. "Takut
melihat anakmu sendiri? Dia manis kok.
Meskipun cacat. Sekarang masih di dalam tempat tidur bayi."
Seperti ingin mengusir bayangan anaknya.
Anak yang hanya sekali pernah dilihatnya. Anak tanpa lengan.
"Kamu kan tidak mau bilang siapa bapak anakmu! Gara-gara kamu, tetua Gak houw jadi korban! Dia yang dituduh menghamili
kamu."
Ya Tuhan, keluh Kim Lian getir. Mengapa manusia sekejam itu?
Mereka tidak mau menolong sesamanya yang mendapat kesusahan.
Mengapa mereka masih sampai hati mencerca orang yang
dengan tulus ikhlas ingin menolong?
"Bapak ingin tahu siapa ayah anak saya?"
tanya Kim Lian gemas ketika keesokan paginya dia muncul di
sekolah dan minta izin menemui kepala sekte.
Dia tidak menghiraukan tatapan penuh penghinaan dan ejekan menyakitkan yang dialamatkan teman-temannya kepadanya.
Rasa malunya sudah hilang. Berganti dengan rasa marah atas ketidak adilan yang
menimpa tetua Gak houw..
Kepala sekte terkejut sekali melihat kedatangannya. Tetapi dia tidak menolak permintaan Kim Lian untuk bertemu.
Dia memang sudah menantikan pengakuan Kim Lian . Ingin tahu siapa
yang berani merusak nama baik sekte mereka.
"Kamu sudah siap mengatakannya?" tanya Kepala sekte dingin. "Mengapa baru sekarang?"
"Karena seorang guru yang tidak bersalah telah menjadi korban" sahut Kim Lian kesal.
"Saya ingin membersihkan nama tetua Gak houw . Beliau tidak bersalah!"
"Tidak perlu, Kim Lian ."
__ADS_1
Kepala sekte dan Kim Lian sama-sama menoleh ke pintu. Tetua Gak houw tegak di sana.
Menatap Kim Lian dengan tenang.
Sekali lihat saja, tetua Gak houw tahu, Kim Lian serius.
Dia benarbenar akan mengatakan siapa ayah anaknya. Untuk membersihkan nama orang
yang telah menolongnya.
Tetua Gak houw juga tahu nama siapa yang akan disebut Kim Lian .
Meskipun Kim Lian belum pernah mengatakannya. naluri tetua Gak houw telah dapat menduga siapa laki-laki itu.
"Kamu tidak perlu menyebut nama laki-laki itu untuk membela Bapak."
"Tapi tidak adil, Pak!" protes Kim Lian gemas.
"Bapak tidak bersalah! Ketika saya dalam keadaan pingsan, cuma Bapak yang mau menolong saya!
Apa hak mereka menuduh Bapak sekejam itu?"
"Tidak ada yang menuduh Bapak,"
sahut tetua Gak houw sabar. Dia menarik sebuah kursi dan duduk di samping Kim Lian .
"Kepala sekte hanya bertanya."
"Kenapa Bapak sudi menampung saya? Apa
hubungan Bapak dengan anak gelap saya?
Itu yang ditanyakan kepala sekte kan?"
"Bapak ingin bicara dengan kamu," sela kepala sekte datar.
"Kenapa baru sekarang Bapak mau bicara dengan saya?"
"Karena kamu tidak pernah mau membicarakannya."
"Buat apa saya bicara dengan orang yang menghina saya?"
"Itu hanya perasaanmu. Karena kamu merasa bersalah."
"Saya memang bersalah! Tapi saya tidak mau
membuat kesalahan yang kedua! Saya ingin merawat anak saya.
Tapi tidak ada tempat untuk kami!"
"Rumah saya selalu terbuka untuk kalian berdua, Kim Lian ,"
cetus tetua Gak houw lembut.
"Apapun pendapat orang, saya tidak akan pernah jera menolongmu."
Dua hari kemudian, kepala sekte memerlukan
datang ke rumah tetua Gak houw. Ketika melihat bayi tanpa lengan itu terlelap dalam gendongan ibunya,
Kepala sekte tidak dapat mengusir rasa iba-nya.
"Jika kamu mau, saya bersedia menampung kalian berdua di rumah saya,"
katanya setelah menghela napas panjang."
Istri dan anak-anak saya sudah setuju. Kamu boleh tinggal sementara waktu sampai kamu mampu hidup sendiri."
"Tidak," bantah Kim Lian tegas. "Saya mau tetap tinggal di sini.
Di sinilah pertama kalinya anak saya merasa punya tempat yang tidak menolaknya.
"Orangtua Kim Lian sendiri tidak mau menerima anak itu.
Ayah Kim Lian tetap pada ancamannya.Jika Kim Lian berkeras membawa anaknya puiang,
dia boleh mencari tempat tinggal lain.
Tidak boleh pulang ke rumah ayahnya.
Kim Lian sudah berlutut di depan orangtuanya
sambil menggendong anaknya yang cacat.
Memohon belas kasihan mereka.
__ADS_1