PENDEKAR CACAD

PENDEKAR CACAD
3.INGIN MERANTAU


__ADS_3

"Dia sudah berbuat salah. Dia harus menanggung akibatnya dan menerima hukumannya."


"Dan anaknya yang tidak bersalah itu juga harus menanggung hukuman atas dosa yang tidak pernah dilakukannya?"


"Saya tidak ingin berdebat lagi, Pak,"


sahut Patriak jemu.


"Jika Bapak menolak tawaran


saya, rasanya tidak ada kesempatan kedua untuk Kim lian.."


akhir nya Gak houw pulang ke rumah dalam keadaan lesu.


Bukan hanya karena penat. Tapi karena pusing, bingung.


Mengapa sulit sekali menolong orang yang sedang berada dalam kesusahan? Mengapa niat baiknya selalu dicurigai?


Dan kemuramannya langsung hilang begitu


melihat Kim lian menyongsongnya di depan pintu.


Bayi mungil dalam gendongannya tiba-tiba menyeringai lebar seperti


mengenali siapa yang datang.


"Pa... pa... pa...." Bibir mungil bayi itu berkecap-kecap lucu seperti anak burung kedatangan induk nya.


"Hei, dia memanggil Bapak!" sorak Kim lian gembira.


"Betul?" Kelesuan Gak houw langsung sirna.


Matanya yang letih bersinar cemerlang.


"Dia memanggil Bapak?"


Diambilnya anak itu dari gendongan Kim Lian .


Dan bayi itu bukan saja tidak menolak. Dia malah seperti melonjak ke dalam rangkulan Gak houw .


Bibirnya merekah. Menyunggingkan senyum lucu yang sangat menggemaskan.


Gak houw menyodorkan mainan yang baru saja dibelinya. Dengan gesit bayi itu menangkapnya dengan mulutnya.

__ADS_1


"Dia sudah mulai belajar memanfaatkan mulutnya sebagai pengganti tangan,"


desah Gak houw terharu.


Diciumnya pipinya. Digendongnya anak itu


sambil bersenandung. Diajaknya bercanda sambil menunggu Kim Lian menyiapkan makanan.


Dia begitu menyayangi anakku, pikir Kim Lian


terharu. Bagaimana aku harus memisahkan me-reka?


Gak houw pasti merasa sangat kehilangan. Kasihan sekali kalau dia harus kembali


ke dunianya yang sepi....


Ketika Gak houw belum muncul juga di meja


makan setelah makanan siap, Kim Lian mencarinya ke kamar.


Dan dia melihat bayinya sedang ter-lelap dalam pelukan Gak houw yang juga sedang tertidur.


Tak terasa menitik air mata Kim Lian melihat


Dengan lembut disentuhnya bahu Gak houw. Digoyangkannya dengan hati-hati.


Gak houw membuka matanya. Dan dia terse-nyum ketika menyadari telah ketiduran bersama bayi Kim Lian .


"Bapak pasti bukan perawat bayi yang baik,"


guraunya sambil meletakkan bayi itu dengan


hati-hati agar tidak terjaga.


"Tapi Bapak guru yang baik," sahut Kim Lian menahan haru.


"Dan manusia paling baik yang


pernah saya kenal."


"Itu karena kamu belum banyak mengenal


orang, Kamu masih sangat muda."

__ADS_1


"Penderitaan sudah mendewasakan saya. Pak."


"Tiap penderitaan pasti ada hikmahnya, Lian'er."


Kim Lian berbalik untuk menyembunyikan


air matanya.


"Mari makan, Pak. Nanti makanannya keburu dingin."


Mereka melangkah bersama-sama ke meja makan. Dan mata Gak houw terbuka lebar ketika melihat hidangan yang tersaji di atas meja.


"Wah, hebat nian makanan hari ini. Lian'er!"


cetus Gak houw heran.


"Anggap saja sebagai perpisahan kita, Pak," sahut Kim Lian menahan haru.


"Perpisahan?" belalak Gak houw bingung.


Dia tidak jadi duduk di depan meja makan.


Matanya mengawasi Kim Lian dengan cemas.


"Barangkall ini kesempatan terakhir saya dapat memasak untuk Bapak." Kim Lian memalingkan wajahnya yang telah penuh berlinang air mata.


"Kamu mau ke mana? Ke rumah Feng liang ?"


"Saya sudah memutuskan untuk pergi, Pak.


Tapi bukan ke rumah Feng liang atau patriak. Saya ingin merantau."


"Merantau bersama seorang bayi? Kamu pasti mimpi"


"Saya tidak mau menyusahkan Bapak lagi."


"Kata siapa kamu menyusahkan?"


"Karena saya Bapak dihina orang."


"Feng liang tidak menghina."


"Bukan dia"

__ADS_1


__ADS_2