
Paduka Sangaji tersenyum bahagia menyambut calon pemangku panglima angkatan perang kerajaannya. Beliau merentangkan kedua tangannya lalu memeluk tubuh Hongli dengan penuh keyakinan. Sang Jenateke (putra mahkota), yang duduk setengah berbaring di sebuah kursi kebesarannya karena masih sakit di sebelah kursi kebesaran ayahnya, menyambutnya dengan senyuman mengembang sambil mengangkat jempolnya kepada calon penggantinya sementara sebelum merentangkan kedua tangannya. Hongli membungkukkan badanya dan memeluk tubuh sang Jenateka. Mungkin karena terlalu erat pelukan itu dan Hongli tak mengerti di bagian tubuh mana Sang Jenateke terluka, sehingga menjadikan sang pewaris tahta Kerajaan Tambora itu terdengar menjerit tertahan.
"Oh, maafkan hamba, Yang Mulia Raja Muda," berucap Hongli terkejut dan merasa bersalah.
"Tidak apa-apa...."
"Hongli. Nama hamba Hongli…”
"Iya, Hongli. Terima kasih,” sahut Jenateke, sembari meletakkan telapak tangannya pada dada kirinya yang terbebat dengan sejenis perban putih yang sudah tampak berubah merah karena rembesan darah segar.
Hongli melihat itu nampak sedikit tercekat kaget. "Maaf, Yang Mulia Raja Muda, apakah hamba boleh melihat lukanya?"
"Oh, iya. Silakan, Hongli."
__ADS_1
Hongli dengan hati-hati menyingkirkan bagian baju kebesaran Jenateke ke samping, untuk kemudian membuka kain perban. Tampak luka bekas anak panah menganga dengan warna menghitam. Dan warna hitam tersebut telah merambat ke hampir seluruh tubuh Jenateke. Wajah Hongli menyiratkan keprihatinannya. "Ini bekas panah beracun yang sangat kuat, Yang Mulia Raja Muda. Dan tampaknya racunnya sudah mulai menyerang ke bagian tubuh lain dan urat saraf. Maaf, Yang Mulia Raja Muda, sudah berapa tabib yang mengobatinya?"
"Sudah puluhan tabib, " menyahutkan Paduka Sangaji. "Tapi belum ada perubahan. Malah tambah parah."
"Iya, Paduka Yang Mulia. Karena pengobatannya hanya di luarannya saja sementara racunnya belum tersedot. Ampun, Paduka, apakah boleh hamba untuk memberikan pengobatan awal?"
"Oh, iya, silakan, Hongli. Saya sangat berterima kasih sekali," jawab Jenateke.
Hongli segera menegakkan jari manis dan telunjuknya di bawah dagu sembari memejamkan mata dan mengumpulkan tenaga murninya. Secara kasat mata, tenaga murni yang berwana putih kemilau itu mengalir dan terkumpul pada kedua jari tangannya itu. Lalu dengan satu gerakan refleks, ia menyentuhkan kedua jarinya itu ke permukaan luka Jenateke. Tubuh pendekar agung dari negeri Tiongkok itu pun bergetar akibat kekuatan pengerahan tenaga dalamnya. Dan secara kasat mata pula, wana kehitam-hitaman yang ada pada seluruh tubuh Jenateke mengalir ke inti luka, tersedot oleh kedua jari Hongli. Setelah semua semua racun tersedot habis, tubuh Jenateke pun menampakkan warna alami aslinya, kuning langsat. Hongli menarik kembali kedua jari tangannya yang telah berubah menghitam itu secara refleks pula. Warna hitam yang terkumpul di kedua jari tangannya itu lenyap setelah ia usah-usah dengan jari-jari tangan kirinya.
Jenateke mencoba menggerak-gerakkan tubuhnya secara bebas. Pelan-pelan wajahnya memancarkan sinar kegembiraan. Rasa sakit yang selama ini ia rasakan dan sangat menyiksanya, kini lenyap tiada tersisa. "Oh, demi Dewata Agung, sakit yang selama ini menyerang seluruh urat sarafku kini benar-benar telah lenyap, Ayahanda Sangaji. Ananda benar-benar merasa sehat sekarang. Hanya sakit pada lukanya ini saja yang tersisa. Terima kasih Hongli. Kausungguh seorang pendekar sekaligus tabib yang luar biasa hebat! Terima kasih, terima kasih..!"
Paduka Sangaji (Baginda Raja) ikut gembira dan bersyukur demi menyaksikan sebuah keajaiban yang tersaji di depan matanya. Beliau beranjak dari kursi kebesarannya lalu memeluk sang Putra Mahkotanya. "Selamat, Anandaku. Ayahanda pun sangat berbahagia dan bersyukur atas kesembuhanmu." Lalu memalingkan wajahnya kepada Hongli dan berucap, "Atas nama diriku sebagai seorang Sangaji dan atas nama rakyat Tambora aku menyampaikan ucapan terima kasih yang amat besar kepadamu, Tuan Hongli!"
__ADS_1
Hongli bertabik hormat. "Lebih-lebih hamba, Paduka Yang Mulia. Besar ucapan terima kasih hamba atas penerimaan tuanku terhadap hamba untuk mengabdikan diri di kerajaan Paduka Yang Mulia ini. Kebahagiaan tersendiri bagi hamba karena Yang Mulia Raja Muda bisa tersenyum kembali. Pintu luka Yang Mulia Raja Muda akan pulih dalam waktu yang tak lama lagi, hamba rasa."
Jenateke beranjak dari kursi pembaringannya lalu berdiri mengapit Hongli. Dan kepada seluruh rakyat Tambora yang menyaksikan peristiwa itu, beliau bersabda dengan suaranya yang lantang berwibawa, "Wahai seluruh rakyatku yang kucintai. Dengarkan sabdaku. Mulai saat ini, Tuan Hongli aku angkat sebagai pendampingku. Panglima pendamping. Artinya, perintahnya adalah sama sahnya dengan perintahku! Menentang perintahnya sama halnya dengan menentang perintahku!"
"Dan..." Ndai Sangaji melanjutkan sabda putra mahkotanya, "mulai hari ini, kepada Tuan Hongli, atas namaku selaku Sangaji dan atas nama Kerajaan Tambora yang kupimpin, aku memberi gelas atasnya dengan gelar Dato, seorang yang besar pembawa kebaikan demi kejayaan kerajaan yang kita cintai ini!"
Sabda kedua manusia agung itu disambut gegap-gembita oleh seluruh rakyat Kerajaan Tambora yang hadir di tempat itu. Dan sambutan gegap-gempita itu kembali berlangsung ketika Hongli, yang kini telah bergelar Dato Hongli, diberi kesempatan bersabda dan mengahiri sabdanya: "Kepada sulurh rakyat Tambora yang saya hormati. Perkenalkan nama saya Honglli, dan sekarang dianugeri gelar Dato Hongli. Saya adalah pendatang dari sebuah negeri yang amat jauh yang benama Dataran Tiongkok. Sejak hari ini telah dipercayakan oleh Paduka Jenateka sebagai pendamping beliau dalam tugas kepanglimaan, dan demi Dewata Agung saya mengucapkan sumpah untuk memberikan kesetiaan sejati dan pengabdian terbaik saya demi kejayaan Kerajaan Tambora yang tercinta ini. Saya adalah orang yang sangat memegang teguh kalimat bijak: Di mana bumi dipijak, maka di situ langit dijunjung!"
Maka sejak itu Dato Hongli benar-benar memenuhi janjinya untuk memberikan pengabdian terbaiknya kepada kepada kerajaan sanggar. Setelah Jenateke pulih sepenuhnya, Dato Hongli dengan setia mendampingi dalam setiap tugas kepanglimaan. Musuh-musuh Kerajaan Tambora ditaklukkan. Ada yang ditaklukkan lewat penyerangan balik, ada juga yang dilakukan dengan misi damai. Namun ada pula kerajaan-kerajaan kecil yang secara suka rela menyatakan diri tunduk dan berada di bawah kekuasaan Kerajaan Tambora sebagai kerajaan pelindung. Berkat bekal ilmunya sebagai mantan seorang jenderal penakluk di sebuah kemaharajaan, Dato Hongli dengan mudah membantu untuk membangun sebuah angkatan perang yang sangat tangguh dan menggetarkan nyali angkatan perang di kerajaan-kerajaan lain. Puncaknya, Kerajaan Tambora pun berubah sebagai sebuah kerajaan yang disegani dan mampu menciptakan kedamaian dan kemakmuran bagi seluruh rakyatnya.
Ada pun keluarga barunya, La Mbila dan La Hiri, diangkat derajat kehidupannya. Oleh Dato Hongli mereka ditarik ke dalam lingkungan kerajaan dan tetap hidup bersamaannya sebagai keluarganya sendiri, dan La Gunta Marunta yang sudah dianggapnya sebagai akemenakannya ia angkat sebagai orang kepercayaannya setelah ia gembleng dengan ilmu kedigdayaan yang sangat mumpuni.
Dato Hongli bersahabat baik dengan Jenateke dari kerajaan lain, termasuk dengan Jenateke dari Kerajaan Mbojo. Oleh Jenateke Sangaji Mbojo ia pun dimintai untuk ikut membantu membangun pasukan perang yang kuat dengan memberikan pelatihan ilmu olah kanuragan kepada segenap prajurit kerajaan.
__ADS_1
* * *