PENDEKAR DEWA API BUMI TENGGARA

PENDEKAR DEWA API BUMI TENGGARA
PART 20


__ADS_3

La Mudu tersenyum dan menyadari apa yang menjadi keheranan Baojia. Dia melangkah masuk ke dalam warung, melewati Meilin, dan duduk kembali di meja makannya tadi. Baojia dan istrinya mengikuti dari belakang.


Setelah meminum air nira yang belum sempat diminumnya, La Mudu pun menceritakan sekilas tentang siapa dirinya.


“Jadi Jawara Muda ini dibesarkan dan diangkat murid oleh seorang pendekar pelarian dari Tiongkok?”bertanya Baojia.


  “Iya, benar. Tetapi siapa beliau saya tak bisa menceritakannya, karena nampaknya beliau sendiri tidak ingin orang lain tau siapa dirinya dan keberadaannya saat ini. Tetapi yang jelas, wajah Bapak Baojia memiliki kemiripan dengan guru saya itu.”


 “Ya, ya, ya, saya paham,”sahut Baojia. “Sekali lagi, saya sekeluarga mengucapkan terimakasih atas pertolongan Jawara Muda. Andai saja tak ada Jawara Muda, tentu kawanan jahat tadi akan berbuat lebih jauh kepada saya sekeluarga. Kau seorang jawara besar, Jawara…”


“Panggil saja saya Mudu, La Mudu,”La Mudu memperkenalkan namanya.


“Iya, Jawara Mudu. Kamu sangat bahagia karena Jawara Mudu datang pada waktu yang tepat,” lanjut Baojia.


“Tentu semuanya sudah diatur oleh Sang Dewata Agung, Tuan Baojia. Kewajiban kita manusia adalah saling menolong satu sama lain.”


“Benar Jawara Muda. Oh ya, sebenarnya Jawara Muda hendak ke manakah gerangan?”


La Mudu hendak menjawab pertanyaan Baojia, tetapi tidak jadi karena ia melihat Meilin sedang merapikan peralatan warung yang tadi berserakan oleh pimpinan kawanan jahat. Segera ia bangkit dan datang membantu untuk merapikannya. Meja yang sudah hancur di bawahnya keluar agar meja dan bangku bisa dirapikan kembali.


Saat La Mudu dan Meilin memungut satu-satu pecahan piring dan gelas keramik, tangan keduanya sempat bersentuhan yang membuat keduanya saling bertatapan.


“Sudah Kakak, biar saya yang merapikannya,” Meilin berkata pelan kepada La Mudu dengan wajah tersipu malu.


“Tak mengapa, Meilin. Biar tempat ini cepat rapi kembali dan pelanggan tidak merasakan kalau di tempat ini baru saja terjadi sesuatu,”La Mudu memberi alasan.


“Kakak ini dari manakah gerangan dan hendak pergi ke mana?”

__ADS_1


“Oh saya berasal dari wilayah barat dan hendak menuju….”   


Belum sempat La Mudu melanjutkan ucapannya, di luar terdengar suara ringkihan beberapa ekor kuda. Lalu beberapa saat kemudian empat pemuda masuk ke dalam warung, untuk makan. Mereka seumuran dengan La Mudu. Dilihat dari penampilannya yang bersih dan sopan, keempatnya adalah pemuda biasa, dan bukan kawanan jahat.


“Masih adakah makanan dan minumannya, Tuan?” bertanya salah seorang dari keempatnya kepada Baojia.


“Tentu masih. Silakan tuan-tuan duduk, kami akan segera menyiapkannya.”


La Mudu mengikuti Baojia dan Meilin ke dalam dapur untuk menyiapkan makan dan minuman pesanan. “Maaf, Bapak Baojia, Meilin, biar saya bantu untuk membawakan makanan dan minuman pesanan mereka. Meilin di sini saja, ya?”


Rupanya La Mudu khawatir jika Meilin yang membawakan akan mendapatkan perilaku tak terpuji dari keempat laki-laki di depan seperti yang dilakukan oleh ketujuh kawanan jahat tadi. Dan Baojia tak keberatan.


Saat ia membawakan nasi dan lauk pauknya kepada keempat orang itu, La Mudu berkata dengan ramah, “Selamat menikmati makanannya, lenga berempat.”


“Terima kasih,” sahut keempat pemuda bersahutan.


 Kelimanya saling bersalaman sembari memperkenalkan nama masing-masing. Nama mereka adalah La Rangga Jo, La Tunggara, La Lewamori, dan La Pabisa.


“Kami berempat dari wilayah Wawo, dan tujuan kami hendak menuju Pulau Sangia,”menjawab pemuda yang bernama La Pabise mewakili ketiga temannya.


Saat mendengar Pulau Sangia, La Mudu merasa sangat tertarik, dan bertanya, “Maaf, dalam rangka apa lenga berempat menuju pulau itu?”


“Kami hendak mendaftarkan diri sebagai anggota pasukannya Paduka Sandaka Dana. Sekarang sedang ada penerimaan anggota pajuri besar-besaran,”yang menjawab adalah La Rangga Jo.


“Paduka Sandaka Dana? Siapa dia?” bertanya La Mudu.


Mendapat pertanyaan itu, keempat pemuda saling berpandangan, merasa heran dengan pertanyaan La Mudu.

__ADS_1


 “Paduka Sandaka Dana adalah pemimpin besar di Pulau Sangia, yang terkenal dengan sebutan La Afi Sangia,” La Lewamori menerangkan. “Dia punya rencana untuk mendirikan sebuah kerajaan yang terpisah dari Kerajaan Babuju. Karena itu dia menerima angora pajuri besra-besar sebagai calon pajuri kerajaannya.”


“Waaw, saya justru baru mendengar kabar ini,” berucap La Mudu. Mendengar nama La Afi Sangia, mendadak amarahnya bergolak dalam dadanya. Akan tetapi ia menyembunyikannya dan bersikap biasa saja. Namun dalam hatinya ia merasa bahwa perbuatan manusia iblis yang bernama La Afi Sangia itu sudah melampaui batas, lebih-lebih karena ia hendak mendirikan sebuah kerajaan sendiri. Itu artinya ia hendak mendirikan sebuah kerajaan dalam sebuah kerajaan yang sudah ada. Ini tidak boleh terjadi, dan harus dicegah!


“Lenga Mudu ini bukan orang wilayah sini?” bertanya La Tunggara.


“Oh bukan, aku dari wilayah sekitar Pegunungan Sorowua. Aku lagi bertualang saja. Oh Ya, syarat menjadi anggota pajuri (prajurit) Afi Sangia apa saja? Maaf, tidak  apa-apa kan aku nanya-nanya sembari lenga berempat makan? Siapa tahu saya jadi berminat juga nih?”


 “Tak ada syarat khusus sih, hanya diperuntukkan kepada para pemuda saja. Jika diterima, kelak akan dididik menjadi prajurit yang tangguh dan memiliki ilmu persilatan yang mumpuni seperti kebanyakan seluruh anak buahnya La Afi Sangia,” jawab La Pabise.


“Oh seperti itu…?”ucap La Mudu sembari manggut-manggut. “Baiklah, aku akan ikut lenga berempat, kalau boleh.”


 “Ya tentu saja boleh. Kita akan menjadi lima sekawan!” sambut La Rangga Jo.


 La Mudu sangat gembira dan menyalami keempat teman barunya itu satu persatu.


La Mudu yang memang sebenarnya akan menuju Pulau Sangiang, dengan bersama rombongan empat teman barunya akan dengan mudah masuk ke pulau itu tanpa mengundang kecurigaan apa-apa. La Afi Sangia akan menerima anggota prajurit baru merupakan hal yang sangat kebetulan sekali baginya untuk memasuki wilayah kekuasaan si iblis itu dengan aman!


Menurut Baojia, perahu yang datang dan pergi dari dan ke Pulau Sangiang tidak setiap hari, dan itu pun hanya perahu khusus milik kelompok Teratai Merah. Karena memang tak siapa pun masyarakat biasa dari daratan yang berani ke pulau itu dengan tujuan apa pun.


"Hanya lima hari sekali kapal dari Pulau Sangiang itu masuk daratan," cerita Baojia. "Mereka bersandar di la'bu (pelabuhan) Wadu Mbolo. Biasanya mereka berlabuh pada pagi hari dan berlayar kembali pada sore harinya. Dua hari yang lalu mereka datang, berarti tiga hari ke depan mereka masuk daratan lagi."


"Pelabuhan Wadu Mbolo itu jauhkan dari sini?" bertanya La Mudu kepada Baojia.


                                                     


                                   

__ADS_1


__ADS_2