PENDEKAR DEWA API BUMI TENGGARA

PENDEKAR DEWA API BUMI TENGGARA
PART 15


__ADS_3

 


        Desa La Kalimone dan La Alo Salaka tidaklah jauh dari kaki Gunung Sorowua. Hanya butuh waktu sepeminum kopi perjalanan ketiganya pun telah sampai. Desa itu bernama Kandunggu. Sebuah pemukiman yang cukup luas dan padat. Tentu saja kehadiran kembali La Kalimone dan La Alo Salaka menjadi perhatian hampir seluruh warga di desanya. Hal tidak lumrah sebenarnya sepasang kekasih yang baru melakukan selarian kembali lagi dalam waktu yang singkat. Namun demikian warga desa sudah bisa menerima baik, karena sudah tahu beritanya dari pihak keluarga La Alo Salaka yang pulang dari pengejaran tadi. Dan yang lebih menggembirakan lagi bagi pihak keluarga si gadis adalah La Mudu benar-benar telah menepati janjinya untuk mengantar kembali kedua kekasih itu. Sebagaimana adatnya, keduanya di antar kembali ke pihak keluarga si gadis. La Kalimone, sebagai pihak calon penganten pria, akan langsung tinggal di lingkungan keluarga calon istrinya, sampai hari pernikahan.


       Penyambutan yang sangat baik pun diberikan oleh kedua keluarga, keluarganya La Kalimone dan keluarga La Alo Salaka, terhadap La Mudu. Selama beberapa hari La Mudu dijamin segala keperluannya. Dan di perkampungan inilah La Mudu untuk pertama kalinya merasakan hidup di tengah-tengah manusia lain. Ada begitu banyak hal yang seumur-umurnya tak pernah ia lihat dan dengar, ia lihat dan dengar kini. Terutama yang menyangkut denyut kehidupan di desa ini, yang di antara warganya terlihat demikian rukun selayaknya sebuah keluarga besar. Dari sumber mata pencaharian terutama sebagai petani, desa ini harusnya makmur. Mereka memiliki kawasan persawahan yang demikian luas dan berair, menjadikan mereka bisa menanam dan memanen padi dan palawija sepanjang tahun. Maka tidaklah mengherankan jika lumbung padi yang berdiri di hampir setiap halaman rumah penduduk semua terlihat tidak tegak lagi akibat senantiasa tak pernah kosong oleh hasil pertanian, terutama padi.


       "Andaikata kami tidak dibebani oleh pajak dari dua arah, mungkin kehidupan kami memang sangatlah makmur, Jawara," cerita La Kalimone suatu sore kepada La Mudu, ketika keduanya sedang menikmati pemandangan di tepian hamparan persawahan yang luas menghijau oleh tanaman padi.


      "Pajak dua arah bagaimana maksudmu, Kalimone?" bertanya La Mudu dengan raut wajah keheranan.


       "Iya, Jawara," sahut La Kalimone. "Di samping pajak kepada kerajaan, kami juga terbebani lagi oleh pajak yang jauh lebih berat lagi kepala Penguasa Sangia. Sebenarnya pajak kepada penguasa Sangia itu pajak liar, karena mereka adalah kaum penyamun. Tapi ya mau apa lagi. Kami hanyalah rakyat yang lemah yang tak memiliki daya untuk menentang. Menentang mereka berarti nyawa akan hilang."


      Wajah La Mudu sontak terangkat ketika mendengar nama La Afi Sangia disebutkan oleh La Kalimone. Maka ia bertanya, "Apa penguasa Sangia yang kaumaksud adalah yang bernama Afi Sangia, manusia yang bergelar Sangaji Afi ?"

__ADS_1


      La Kalimone menengok ke daerah sekeliling terlebih dahulu sebelum menjawab dengan suara dipelankan. "Benar, Jawara. Itulah gelar penguasa Sangia itu. Tapi kami tak berani menyebut namanya keras-keras, karena di mana-mana ia mempunyai orang kepercayaan sebagai mata-matanya. Pihak kerajaan pun tak berdaya untuk memusnahkan mereka. Makanya kami menurut saja berapa pun besarnya pajak yang harus kami serahkan kepada mereka."


        Mendengar nama itu darah La Mudu langsung mendidih. Amarah di hatinya menggelegak. Tulang rahangnya menonjol bersamaan dengan suara giginya yang menggeretak. Ingat cerita gurunya, Dato Hongli, tentang kebiadaban tokoh hitam terhadap keluarganya, detik itu pun ia ingin segera membinasakannya.        Namun ia harus pula memegang nasihat gurunya, bahwa ia harus menggunakan perhitungan dalam setiap tindakan, dan tidak boleh bertindak gegabah, walau dalam urusan yang nampak sepele sekalipun. Sebab binasanya seseorang hanya karena suka bertindak gegabah, dan terkadang justeru hanya disebabkan oleh hal yang nampak sepele.


        Akan tetapi di sisi lain, sebagai bagian dari korban kebiadaban La Afi Sangia, La Mudu tetap jua manusia yang lemah untuk menahan diri dari dendam yang membara di hatinya. Sebuah dendam yang kelak harus ia tuntaskan! "Afi Sangia...!" tercetus ucapan di bibirnya. "Rupanya kau kian merajalela!" Ranting kayu yang dipegangnya tanpa sadar dipatahkan dan diremas-remasnya sampai hancur.


       Perilaku La Mudu itu pelan-pelan diperhatikan oleh La Kalimone. Saat itu pikiran pemuda kampung ini langsung bekerja, dan memperkirakan kalau pemuda sakti di sampingnya ini memiliki urusan dengan penguasa Pulau Sangiang itu. "Emm, maaf, Jawara..," berucap La Kalimone dengan suara ragu-ragu.


       "Eh, iya. Ada apa, Kalimone?" La Mudu menyahuti dengan sedikit kaget dan tersadar.


       La Mudu tidak langsung menjawab, melainkan menatap mata pemuda di sampingnya tanpa berkedip. Kemudian menghela nafas panjang sembari mengalihkan pandangannya ke depan, lantas balik bertanya, "Kau bisa memegang rahasia, Sahe?"


      "Saya, Jawara? Tentu. Jawara bertanya kepada orang yang tepat!"

__ADS_1


      "Saya tahu. Saya hanya ingin lebih memastikan saja," ucap La Mudu. "Kau juga punya bakat menjadi pemimpin yang hebat, Kalimone."


      "Jadi pemimpin, Jawara?" La Kalimone malah mesam-mesem sambil menggaruk-garuk kepalanya yang berambut panjang meriap. "Kalau soal itu saya sendiri sangat ragu, Jawara. Kalau hal pertama, nyawa saya bisa menjadi jaminannya."


      "Kadang untuk melihat dan menilai diri kita, kita butuh mata orang lain untuk melihatnya, Kalimone. Kau memiliki watak dan perawakan seorang pemimpin. Karena hanya pemimpin sejatilah yang mampu memegang rahasia!"


      Sekali lagi La Kalimone menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, seolah-olah ia terjebak oleh sisi pengakuannya sendiri. "Tapi, Jawara, mungkin… tidak cukup sifat itu saja untuk menjadi pemimpin atau calon pemimpin, masih ada satu hal yang harus dimiliki. Bahkan satu hal itu menjadi modal utama, apalagi dalam suasana negeri yang seperti saat ini."


      "Apa itu?"


      "Kekuatan diri. Eng, maksud saya, harus seorang yang memiliki kesaktian seperti Jawara ini."


       La Mudu menoleh dan tersenyum. "Benar katamu, Kalimone, walaupun sesungguhnya keliru," ucap La Mudu. "Watak adalah bawaan khusus pada setiap manusia, dan tidak bisa diubah. Seperti halnya paria dengan rasa pahitnya, atau cabai dengan pedasnya, dan tebu dengan rasa manisnya. Rasanya itulah watak mereka masing-masing yang mereka terima sejak awal hingga akhir. Artinya tidak bisa diubah lagi. Sementara kemampuan diri, ilmu, dan lain-lain bisa diubah dan dipelajari. Artinya kemampuan dan kekuatan diri yang kaumaksudkan itu bisa kau pelajari, Kalimone."

__ADS_1


        La Kalimone mengangguk-angguk pelan, meresapi apa yang diucapkan oleh pemuda sakti di sampingnya. "Karena kelemahan kami tidak mampu berbuat apa-apa terhadap kedzoliman yang terhadap kami, seperti yang dilakukan oleh orang-orangnya La Afi Sangia itu. Kami diperlakukan tak ubahnya terhadap binatang. Ya mau apa lagi, Jawara Mudu."


 


__ADS_2