PENDEKAR DEWA API BUMI TENGGARA

PENDEKAR DEWA API BUMI TENGGARA
PART 11


__ADS_3

Mengingat Kerajaan Tambora sudah menjadi sebuah kerajaan yang kuat, aman, dan tenteram. Ada pun antara Kerajaan Mbojo dan Kerajaan Tambora merupakan dua kerajaan sahabat, maka segenap prajurit dari kedua dari kedua kerajaan tersebut tak jarang mengadakan latihan perang bersama, sehingga kedua kerajaan dikenal memiliki angkatan perang yang tangguh di kala itu. Dan kedua kerajaan yang bersahabat itu pun pernah sama-sama mengalami masa-masa kejayaan, ketentraman, dan kemakmuran.


          Mungkin karena merasa tugas dan pengabdiannya harus diakhiri, maka sang Pendekar Besar ini pun mundur dari urusan kenegaraan dan sekaligus urusan keduniawian. Tanpa seorang pun tahu, kemudian ia lenyap bagai ditelan bumi. Pencarian dilakukan oleh kedua kerajaan,  yaitu Kerajaan Tambora dan Kerajaan Mbojo, pun tak pernah menemukan jejaknya. Bagaimana tidak, Dato Hongli telah memilih sebuah gua yang tersembunyi di balik dinding cadas curam yang sebuah gunung yang bernama Sorowua. Di situ dia mengasingkan diri, untuk menyucikan diri dari dosa-dosa keduniawiannya.


* * *


La Mudu mengakhiri latihan olah kanuragannya untuk menyerap energi alam. Kemudian pada sebuah daerah yang permukaannya tertutup kabut abadi, si bocah  lenyap. Ternyata ia menuruni dinding batu  yang merupakan mulut dari sebuah jurang sempit  dan curam. Di dasar jurang sempit itu terdapat sebuah ruangan yang sangat luas. Di situlah La Mudu dan gurunya, Dato Hongli, berdiam dan digembleng. Dalam dasar jurang itu mengalir sungai kecil bawah tanah yang berair sangat jernih. Persis di depan bagian jurang yang dijadikan beranda dan biasa juga tempat berlatih olah kanuragan La Mudu. Dan di sebelah beranda alam itu terdapat sebuah lubukan yang cukup luas dan dalam namun airnya demikian jernih. Karena demikian jernihnya seluruh dasar lubukan berikut beragam ikan yang hidup di dalamnya dapat dilihat dengan jelas. Dari pantulan permukaan air jernih itulah yang mampu menerima bias dan menyebarkan cahaya ke dalam dasar jurang. Namun tetap saja beberapa pelita yang terbuat dari kacang buah jarak pagar terpasang di beberapa dinding gua dan ruangan sehingga seluruh ruangan menjadi terang benderang.


        Saat berada dalam dasar jurang, La Mudu tak menemukan gurunya, Dato Hongli. Ia mencoba memanggil-manggil sang guru dengan menyebutnya Ato (kakek). Tetapi ia tidak mendengarkan sahutan dari orang yang dipanggilnya. Saat ia melongok ke bawah dasar lubukan yang berair jernih, ia melihat orang yang dipanggilnya. Ternyata Ato tampak sedang bersemedi di dasar lubuk. Semedinya aneh, yaitu dengan cara tidur telentang dengan melipat kedua tangannya di dadanya. Laki-laki tua itu seolah-olah tidak sedang tertidur di dalam air.


        "Sudah tua kisut, tapi menahan nafasnya masih sangat kuat," membatin La Mudu lalu cekikikan sendiri. Jika dihitung dengan keberadaannya di pinggir ruangan itu, aksi semedi aneh si kakek-kakek sudah cukup lama. "Atau jangan-jangan dia sudah…tewas?"


        Wajah La Mudu menyiratkan kekhawatiran. Sebuah kerikil sebesar biji kemiri ia pungut lalu ia dilemparkan ke dalam air. Dan kerikil itu tepat mengenai dengkul Dato Hongli. Tetapi si kakek-kakek masih tidak bergerak sama sekali.

__ADS_1


        La Mudu makin khawatir. Ia pun memungut sebuah batu sebesar kepalan tangannya, lalu hendak dilemparkannya lagi ke dasar lubuk. Namun sebelum sempat niatnya terlaksana, tiba-tiba...


       Bughh!!


       Satu gumpalan angin tiba-tiba menghantam punggungnya dan membuat ia tak mampu menjaga keseimbangan tubuhnya lalu tercebur ke dalam lubukan. Di dasar lubukan Dato Hongli tertawa sehingga menimbulkan gelembung air yang susul-menyusul di permukaan.


         Tubuh Dato Hongli  melesat ke atas. Di pinggir lubukan timbul niatnya untuk mengusili La Mudu yang masih berada dalam lubukan. Ia menggerakkan kedua tangannya dengan gerakan berputar meliuk-liuk sembari mengumpulkan sebuah kekuatan tenaga dalam yang cukup besar. Pelan namun pasti, air lubukan yang direnangi oleh La Mudu bergerak bergerak berolak. Olakan air itu semakin lama semakin kencang. Tubuh La Mudu pun ikut berputar cepat seperti benda kambang yang nyaris membentuk bayangan bulat hitam. Dato Hongli hanya tertawa terkekeh-kekeh melihat kepala murid kesayangannya timbul tenggelam dalam pusingan air dan berjuang sekuat tenaga untuk membebaskan diri.


      "Hentikan air ini, Ato..!" teriak La Mudu, membahana. Karena teriakan itu dalam keadaan berputar, maka menimbulkan kesan suara yang lucu namun menyayat hati.


       "Ato, sudah Ato. Pandangan mada berpusing juga, nih..!" teriak La Mudu tiada henti-hentinya.


      "Haiya, dasar bodoh!" suara Dato Hongli pelan, namun tetap terdengar membahana dalam ruangan batu itu. Tetapi anehnya mulut orang tua itu tidak bergerak sama sekali yang menandakannya lagi berbicara. "Kenapa kau tidak menggunakan ilmu Dewa Bumi Meredam Badai atau sejenisnya, Mudu?"

__ADS_1


          Mendengar itu, La Mudu seakan-akan tersadar dengan kebodohannya. Suara teriakannya lenyap, berubah hening. Sesaat ia memusatkan pikirannya sembari melakukan gerakan-gerakan tangan melingkar. Kekuatan jurus Dewa Bumi Meredam Badai ia kerahkan. Dan air yang berpusing kencang itu laksana dikuasai oleh kekuatan yang sangat besar. Terhenti mendadak, menyisakan sebuah permukaan danau kecil yang amat tenang. La Mudu mengakhiri perjuangannya, lalu menyadarkan tubuhnya di pinggir cerukan sambil mengatur kembali pernafasannya.


     "Oh ya Ato, kayaknya masih sangat banyak ilmu yang belum Ato turunkan ke mada," berucap La Mudu sesaat kemudian.


       Dato Hongli terkekeh-kekeh mendengar ucapan La Mudu. "Dasar anak manusia, selalu saja ingin memenuhi kepuasan kehendak. Tentu saja kelak kau akan mewarisi seluruh ilmuku, anak nakal. Haiya..!"


              *  *  *


Kelak itu pun kini hadir. Usia La Mudu sudah menginjak dua puluh tiga tahun. Ia telah tumbuh sebagai seorang pemuda yang tampan dan berpostur tubuh tinggi kekar. Tingkat ketinggian ilmu olah kanuragan dan kedigdayaannya sudah sangat sulit diukur lagi. Sementara Ato sekaligus gurunya, Dato Hongli, kian renta. Keduanya baru saja menyelesaikan suatu tarung latih yang dahsyat, panjang, dan melelahkan.


      "Mudu..," ucap Dato Hongli. Ia duduk bersila di atas lantai di depan tempat yang biasanya dia berkhalwat.


      "Iya, Ato," sahut La Mudu.

__ADS_1


      "Sekarang kautelah menjadi seorang pendekar sejati. Ilmu-ilmu yang aku turunkan telah mampu engkau serap dengan sangat baik. Tinggal satu ilmu pamungkas yang akan aku turunkan kepadamu, yaitu ilmu Jurus Tapak Seribu Dewa. Ingatlah, Cu, jurus Tapak Seribu Dewa adalah sebuah jurus pamungkas yang tak boleh sembarangan kaugunakan. Jurus ini hanya pantas digunakan disaat kaubenar-benar telah terjepit dalam sebuah pertempuran besar.”


 


__ADS_2