
PART 12
Dato Hongli sesaat terdiam sebelum melanjutkan ucapannya, “Sebenarnya, dalam dirimu ada kekuatan titisan yang tak siapa pun memilikinya, yaitu kekuatan mahadaya api. Energi api terserap oleh kekuatan titisan yang ada dalam tubuhmu, dan energi api itu akan muncul dengan sendirinya disaat amarahmu muncul. Ato berharap agar kauharus mampu mengendalikan amarahmu dan tidak zolim dalam bertindak. Pergunakan ilmu yang kaumiliki untuk membela kebenaran dan membasmi kemaksiatan dan kelaliman. Sesungguhnya tak ada ilmu yang hitam, yang ada hanyalah perilaku pemegang ilmulah yang hitam dan jahat. Kau adalah murid dari seorang pendekar agung dari suatu kemaharajaan yang agung pula. Maka kauharus benar-benar menjadi seorang pendekar yang agung berikut ahlakmu. Hindari sikap jumawa. Kejumawaan adalah hulunya kehancuran. Pergunakan ilmu menurut tingkat dan ukuran keperluannya. Ilmu pamungkas Tapak Seribu Dewa dari aku dan Tapak Api yang kauperoleh secara alami adalah dua kekuatan yang amat dahsyat dan hanya cocok dipergunakan ketika kau menghadapi kekuatan musuh yang besar pula. Ingat, hanya Ato yang memiliki ilmu Jurus Tapak Seribu Dewa di atas jagat raya ini, dan hanya kausendiri yang memiliki kekuatan Tapak Api. Jika ilmu warisanku ini kelak hendak kauturunkan, maka turunkanlah pada muridmu yang benar-benar memiliki watak yang mulia. Sebab, jika kausalah memilih murid, maka bencana besar akan terjadi di muka bumi. Camkan itu, Cucuku!”
"Baiklah, Ato. Setiap nasihat dan ajaran Ato akan menjadi permadani sutera untuk mada dalam menapaki kehidupan. Mada berjanji untuk selalu tidak pernah mengecewakan Ato," ucap La Mudu dengan suara rendah sembari menundukkan kepalanya.
"Sekarang kamu mendekatlah, duduklah di hadapanku."
"Baik, Ato." La Mudu mengambil tempat duduk bersila di hadapan Ato-nya. Jarak antara keduanya hanya sejangkauan tangan.
"Atur nafasmu dan berkonsentrasilah. Lenyapkan dulu segala rupa dunia di pikiranmu."
"Baik, Ato," Kemudian La Mudu mengikuti seperti apa yang diucapkan oleh sang guru.
Hal yang sama dilakukan oleh Dato Hongli. Laki-laki renta itu duduk mematung sembari meletakkan tangan kirinya menyilang di perutnya dan tangan kanannya diletakkan vertikal di depan dadanya. Pelan-pelan tubuh keduanya melayang ke udara, keluar dari mulut jurang, lalu terus melayang ke angkasa. Di alam yang hanya Dato Hongli yang tahu, melihat, dan mendengarnya, ia seperti memanggil-manggil lewat suara batinnya. Suara batinnya memenuhi jagat. Sesaat kemudian gumpalan-gumpalan cahaya putih kemilau di angkasa hadir satu persatu, lalu masing-masing cahaya itu memunculkan sosok-sosok manusia yang berambut putih, berjanggut panjang putih, serta berpakaian serba putih, mengambang di angkasa melingkari setiap penjuru jagat maya. Wujud dari sosok-sosok itu semuanya mirip Dato Hongli. Hanya satu orang yang beda sendiri di antara sosok-sosok itu, karena ia berwujud seorang wanita muda, seorang Dewi yang sangat cantik jelita yang mengenakan busana kebesaran seperti kebanyakan yang dipakai oleh wanita-wanita Tiongkok dari kalangan bangsawan tinggi. Ia berdiri di atas sekuntum bunga teratai raksasa yang mekar. Sang Dewi berdiri tak jauh dari tubuh Dato Hongli dan La Mudu, menatap dengan tanpa berkedip.
"Hamba hendak menyelesaikan tugas yang diembankan kepada hamba. Kini Sang Titisan telah berhasil hamba didik sebagai seorang pendekar sejati. Karena hamba tinggal menurunkan ilmu pamungkas, yaitu Ilmu Tapak Seribu Dewa, maka hamba bermohon ijin kepada kalian," berkata Dato Hongli.
__ADS_1
"Ijin diberikan. Segera lakukanlah Jenderal Hongli. Kami akan membantu." Yang berucap itu adalah yang berwujud Sang Dewi.
"Baiklah, Dewi. Hamba laksanakan," Dato Hongli bertabik.
Setelah itu Dato Hongli segera mengerahkan kekuatan raga dan dan sukmanya. Satu lengkingan setinggi langit menggelegar bersamaan dengan dorongan tangannya ke depan, menyentuh dada La Mudu.
Sebuah energi yang sangat kuat pun dialami oleh La Mudu menjadikannya berteriak melengking setinggi langit seolah angkasa dibuat bergetar dan menjadikan tubuhnya pun ikut yang bergetar dengan kuatnya. Ia sedang menerima pengaliran energi besar dari Ilmu Jurus Tapak Seribu Dewa. Pelan tapi pasti, tubuh Dato Hongli dan La Mudu diselumuti cahaya putih menyilaukan mata yang terus berputar dengan cepat sehingga membentuk sebuah bola cahaya yang besar, dan dari bola cahaya itu tiba-tiba terdengar sebuah dentuman yang amat besar, dan dari dentuman itu dua tubuh yang masih diliputi cahaya terpisah dan terpental di ruang angkasa, lalu dari tubuh keduanya pun tiba-tiba melesat ke angkasa.
Dato Hongli sesaat kemudian mampu menenangkan tubuhnya di angkasa dengan posisi tetap berkonsentrasi sembari meletakkan satu tangannya secara vertikal di depan dada. Sementara tubuh La Mudu masih terus berputar masih dalam kondisi diliputi cahaya putih kemilau, berputar dengan amat cepat. Dan dari putaran itu melahirkan ribuan cahaya berupa tapak tangan raksasa yang juga beredar mengelilingi tubuh La Mudu dengan putaran yang berlawanan arah. Lalu tiba-tiba tubuh La Mudu kemudian melesat ke bawah sembari mengarahkan kedua tapak tangannya ke bawah yang diikuti oleh seribu tangan raksasa berupa cahaya putih kemilau. Saat kedua tapak tangannya menghantam bumi, maka…
Sebuah dentuman yang amat keras terjadi bersama bergetarnya permukaan bumi yang menimbulkan asap menutupi rimba di sekitar itu.
Sesaat kemudian, ketika asap telah perlahan-lahan lenyap, maka tampaklah oleh La Mudu sendiri lobang berupa tapak raksasa bertebaran di mana-mana dengan tanah yang hangus menghitam. Sang pendekar menjadi terheran-heran sendiri.
“Kautelah menyerap Ilmu Tapak Api Seribu Dewa dengan baik, Cucuku.”
Ucapan dari gurunya, Dato Hongli, itu sontak membuatnya La Mudu menoleh. Sang guru saat itu sedang duduk di atas sebuah onggokan batu besar yang tak jauh darinya sambil tersenyum gembira.
__ADS_1
"Bagaimana perasaanmu, Cucuku?"
La Mudu menggerak-gerakkan tubuhnya dan berkata, "Rasa-rasanya aku baru mengalami sebuah mimpi yang sangat dahsyat. Sekarang menyisakan jiwa dan ragaku demikian enteng, pandangan dan pendengaranku demikian tajam, Ato."
Sekali lagi Dato Hongli tersenyum. "Sekarang kamu telah menjadi seorang pendekar agung yang sempurna. Tapak Seribu Dewa telah bersemayam dalam jiwa dan ragamu, Mudu.”
"Terima kasih, Ato. Atas asuhan dan bimbinganmu dan, kini aku telah menjadi seorang manusia seutuhnya." La Muda bertabik dan memeluk tubuh renta sang guru. Air matanya tiba-tiba mengalir keluar dari kedua sudut matanya lalu membasahi punggung pakaian sang guru.
"Cu, kau...?"
"Biarkan mada membasahi jubahmu dengan air mataku untuk yang terakhir kalinya, Ato. Air mata yang mada sendiri baru melihatnya."
Dato Hongli mengelus-elus lembut punggung dengan kepala sang murid yang sudah dianggapnya sebagai cucunya sendiri itu. Air mata dia sendiri pun ikut menetes. Namun seolah tersadar, dengan cepat ia menghapus air matanya, lalu kemudian memisahkan tubuh La Mudu dari tubuhnya. "Iya, aku mengerti, Cucuku. Sekarang waktunya kamu harus meninggalkan tempat ini. Kau harus menuju ke tempat asalmu yang sesungguhnya. Tempat di mana bangsamu tengah menantikan kedermawanan hatimu."
"Jadi…mada harus meninggalkan Ato sendirian di sini...? Tapi mada..." ucap La Mudu seakan-akan keberatan dengan ucapan Ato-nya.
__ADS_1