
Kedua alis La Mudu saling merapat, menunjukkan keheranannya. "Londo Iha itu apa?"
Sebaliknya, sepasang kekasih justru lebih terheran-heran lagi mendengar petanyaan yang terasa ganjil dari La Mudu. Mana bisa pemuda Babuju tidak mengerti perkara londo iha? Namun si pemuda tak ingin berpikiran panjang lebar lagi, lalu ia pun memberikan sedikit penjelasan. "Artinya ya kami harus minggat. Kami sedang melakukan kawin lari. Kami baru aman jika telah sampai ke rumah siapa pun, jika tidak sampai ke rumahnya tetua adat. Karena nanti orang yang punya rumah atau tetua adat akan mengirimkan laporan ke pihak keluarganya si perempuan, seperti kepada keluarga kekasihku ini, bahwa kami sudah wa'a sama. Setelah itu kami baru diantarkan kembali ke keluarga kami untuk dinikahkan," (Waa sama \= londo iha yang dilakukan atas inisiatif bersama antara pemuda dan gadis).
Setelah mendapat penjelasan dari si pemuda, barulah La Mudu memahami dan manggut-manggut. "Jadi ini peristiwa adat," ujar La Mudu. "Artinya kalian sekarang telah aman, karena telah berada di tempatku. Kalian sudah dalam ada dalam perlindunganku. Maaf, saya sejak kecil besar di rimba Sorowua dan tak pernah berbaur dengan manusia lain selain dengan guru saya."
Sepasang kekasih langsung saling menatap tanpa berkata apa-apa, terheran-heran. Lalu mereka pun menyadari, bahwa mereka sedang berhadapan dengan manusia rimba sejati. Si pemuda lantas berucap, "Tapi Lenga tidak sedang berada di rumah?" (Lenga \= teman, sebutan akrab).
La Mudu bertawa ringan dan berkata,"Rimba Sorowua ini adalah rumahku, dan kalian sudah memasuki wilayah kekuasaanku."
"Siapakah Amania ini?" bertanya La Alo Salaka. (Amania \= saudara laki-laki, tetapi digunakan juga untuk menyebut akrab atau penghormatan kepada seorang laki-laki sebagai pengganti namanya).
"Ohya, namaku La Mudu," jawab La Mudu singkat. "Jadi kalian duduk saja yang manis di sini. Kebetulan ikan-ikan ini baru aku bakar. Makanlah. Tidak usah takut lagi. Aku akan menjamin keamanan nyawa kalian berdua."
Sepasang kekasih saling berpandangan, masih meragukan ucapan pemuda berpakaian yang tak lazim di hadapan mereka. Pemuda yang mengenakan pakaian khas laki-laki negeri Tiongkok. Namun ketika melihat kesungguhan dan ketegasan darinya, si pemuda pun mengangguk kepada kekasihnya, lalu berkata, "Baiklah, Lenga. Kami serahkan jiwa raga kami kepada Ndaimu. Karena jika pun kami terus berlari, toh kami tetap akan terkejar sebelum sampai di Desa Parado, tempat tujuan kami." (Ndaimu \= sampean, halus).
"Iya, kupikir..." La Mudu tidak sempat melanjutkan kalimatnya, karena beberapa orang laki-laki pengejar telah sampai di hadapan mereka. Mereka terdiri dari enam orang, yang masing-masing meneteng parang yang putih kemilau.
Salah seorang laki-laki muda dari keenam pengejar itu maju ke depan dan langsung membentaki sepasang kekasih selarian dengan nada amarah di sela-sela nafasnya yang nampak ngos-ngosan. "Hei, kamu Kalimone. Kamu telah mencoreng aib di keluargaku! Jadi nyawamu yang akan menjadi tebusannya!"
__ADS_1
La Kalimone terlihat ketakutan, berdiri melindungi dirinya dan kekasihnya di belakang tubuhnya La Mudu. La Mudu memahami ketakutan itu. Namun dengan sikap tenang ia menghadapi para laki-laki pengejar yang sedang dilanda amarah di hadapannya. Dengan semua senyum, La Mudu berucap dengan sikap santai,"Kalian tenanglah, Kalimone, Alo Salaka. Mereka sudah ada di rumahku. Karena itu, nanti sore aku akan mengantar mereka kembali ke keluarganya, untuk memenuhi ketentuan adat. Sekarang kalian pulanglah dahulu."
"Apa? Rumahmu? Hutan belantara kaubilang sebagai sebuah rumah?" Yang berkata demikian adalah salah seorang dari keenam pengejar yang lebih tua. Mungkin pamannya si gadis.
La Mudu tertawa ringan dan tenang. "Iya, rimba Sorowua ini adalah rumahku, wilayah kekuasaanku. Siapa pun yang berani coba-coba berbuat rusuh di wilayahku, maka akan berhadapan dengan aku. Jadi sebaiknya kalian semua pulang secara baik-baik. Aku akan memenuhi semua hukum adatnya."
"Ah, tidak bisa! Bagaimana kami bisa mempercayaimu begitu saja? Bagaimana kami tahu jika kamu ini hanyalah seorang petualang liar atau tidak?" bantah pemuda yang bicara pertama.
"Karena itu aku meminta kalian untuk mempercayaiku," ucap La Mudu sembari mengakhiri sisa ikan bakar yang tengah dinikmatinya.
"Ah, tidak! Ayo, kita bereskankan bedebah ini!" berucap pemuda itu lagi, lalu bersiap menyerang dan mengiblatkan parangnya mereka ke tubuh La Mudu.
"Auwww..!"
Hanya satu kali La Mudu menyentakkan kaki kananya ke bumi, keenam tubuh laki-laki pengejar itu pun langsung mencelat beberapa depa ke belakang. Tubuh mereka jatuh menelentang dan membentur tanah dan bebatuan yang berserakan di sekitar itu.
"Iya, iya. Maafkan kami, Jawara. Kami percaya denganmu...!" berucap si laki-laki yang lebih tua sembari bangkit sambil memegang dadanya yang terasa nyaris remuk.
"Nah, harusnya dari tadi kalian bersikap begitu," berkata La Mudu dengan tenang. "Sekarang kalian pulanglah. Nanti kami menyusul."
__ADS_1
"Baiklah."
"Mudu. Namaku La Mudu," La Mudu melanjutkan ucapan si pemuda pengejar.
"Iya, Jawara Mudu. Kami mempercayaimu. Kami menunggumu untuk menyelesaikan aturan adat buat mereka. Santabe kami akan langsung kembali ke desa kami." Yang lebih tua berkata lagi. Setelah menyalami La Mudu, rombongan pengejar itu pun meninggalkan tempat itu. (Santabe \= silakan; permisi).
"Nah, sekarang kalian sudah aman. Nanti agak sorean aku akan mengantar kalian ke keluarga kalian," berkata La Mudu, kemudian, kepada pasangan selarian.
Sepasang kekasih, La Kalimone dan La Alo Salaka, serentak memeluk tubuh La Mudu sambil mengucapkan terima kasih berkali. La Alo Salaka menangis tersedu-sedu di lengan La Mudu.
"Sudahlah. Kalian nikmati saja dulu keindahan suasana rimba ini. Terserah kalian mau mandi atau apa. Itu ikan yang banyak, aku ijinkan kalian untuk menangkapnya sebanyak yang kalian inginkan. Lumayan buat dibawa pulang," berkata La Mudu.
"Iya, Jawara Mudu. Sekali lagi kami berdua mengucapkan besar rasa terima kasih kami. Kami tidak menduga akan bertemu dengan pemuda yang berhati mulia seperti Ndaimu," menjawab La Kalimone.
"Tak perlu dipikirkan, Kalimone. Kalian nikmatilah suasana La Rindi ini. Saya mau nelentangkan tubuh sebentar untuk menunggu datangnya sore," ucap La Mudu.
"Iya, silakan, Jawara," balas La Kalimone.
Ketika La Mudu melepaskan lelahnya di atas sebuah batu besar yang berpermukaan datar, La Kalimone dan La Alo Salaka dengan gembira bercengkerama di aliran sungai yang beraliran deras dan jernih. Ikan-ikan yang besar mereka tangkapi. Ikan-ikan itu mereka retasi, lalu dijemur di atas pemukaan bebatuan yang panas oleh terik yang tajam. Ketika La Mudu bangun, ikan-ikan yang dijemur itu pun sudah lumayan mengering. La Mudu menyaksikan perilaku sepasang kekasih yang sedang memperjuangkan cinta mereka itu dengan perasaan senang.
__ADS_1
"Wah, rupanya kalian sudah menyiapkan banyak ikan dendeng buat oleh-oleh."