
Kepada kedua orang tua Meilin, Baojia dan Fang Yin, La Mudu tak lupa untuk meminta ijin untuk menajak jalan-jalan putrinya.
“Iya, silakan, tapi kalian yang hati-hati, ya?”ucap Baojia. Laki-laki hampir baya itu berdiri berdampingan dengamn istrinya, mamandang punggung putrinya Meilin dan Jawara Mudu yang melangkah menjauh dari mereka. Di wajah mereka menampakkan senyum, karena merasa senang putri mereka akhirnya bisa jalan-jalan dengan seorang pemuda. Mereka yakin, Jawara Mudu mampu menjaga Meilin dengan baik.
Seperti kata Meilin, pantai itu tak jauh, berada di belakang desa. Pantainya luas memanjang berpasir putih. Di sebelah timur laut tampak oleh La Mudu sebuah pulau kecil beruba sebuah gunung yang tinggi menjulang. Tak ingin penasaran dengan pertanyaan dalam hatinya, La Mudu bertanya kepada Meilin, “Apakah itu yang disebut Pulau Sangiang?”
“Benar, Kak, itulah Pulau Sangiang…” Sesaat Meilin menatap wajah pemuda dari samping. Terasa ada keheranan yang mencuat di wajah cantiknya dengan pertanyaan barusan. “Kakak orang asli negeri ini, kenapa tidak tahu tentang Pulau Sangiang?”
“Oh iya…,” spontan La Mudu menoleh dan seolah-olah agak kaget dengan pertanyaan balik dari Meilin itu, lalu ia tersenyum, dan, “Iya, benar. Tapi saya belum pernah menjelajahi penghujung timur pulau ini. Sejak kecil saya dibesarkan dan digembleng oleh guru saya di sebuah gunung, dan saya baru turun sekitar sebulan yang lalu.”
Wajah cantik Meilin kembali menyiratkan keheranan. Kedua alisnya saling merapat. “Maksud Kakak, seumur hidup Kakak, Kakak tak pernah turun dari gunung itu?”
“Iya, benar!” jawab La Mudu. “Sejak bayi saya diasuh, dibesarkan, dan digembleng oleh Dato Hongli. Beliau satu bangsa dengan Dik Meilin. Dia pendatang dari negeri Tiongkok.”
Meilin menatap wajah La Mudu sambil mengangguk-angguk kecil. “Lantas orang tua Kakak…?”
“Saya tidak pernah melihat wajah kedua orang tua saya,” potong La Mudu. “Konon, suatu peristiwa tragis telah menimpa mereka berikut seluruh warga desa lain. Ah, ceritanya panjang, Dik Mei. Tapi yang pasti, keluarga saya telah dibantai oleh kelompok manusia durjana secara sadis dan tak berperikemanusiaan.”
__ADS_1
“Ya, Dewa…,” spontan terlontar ucapan dari bibir Meilin. “Meilin turut prihatin ya, Kak.”
“Ya, terima kasih,” sahut La Mudu, tanpa menoleh kepada Meilin. Tatapan sepasang mata elangnya diarahkan ke Pulau Sangiang. Pulau yang merupakan sarangnya manusia durjana yang telah membantai keluarganya.
“Kalau boleh Mei tahu, siapa kelompok durjana itu, Kak?”
La Mudu mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Suasana tempat itu sepi, hanya mereka berdua yang ada di pantai panjang tersebut. Deburan ombak-ombak kecil tiada henti, dan ditingkahi oleh sekawanan burung camar yang terbang ke sana ke mari. “Dik Mei bisa pegang rahasia?”
“Tentu, Kak Mudu. Rahasia apa itu?”
La Mudu menegangkan lehernya seraya memandang ke arah Pulau Sangiang. “Kelompok durjana itu adalah yang bersarang di Pulau itu.”
Meilin sontak menoleh. Ada kekagetan yang mencuat di wajah cantiknya. “Maksud Kakak, Gerombolannya La Afi Sangia…?” Ia mengecilkan suaranya.
“Meilin ikut prihatin Kak. Semoga keluarga Kak Mudu tenang di alam sana.”
“Terima kasih, Dik Mei,” sahut La Mudu.
“Lantas bagaimana ceritanya Kakak sendiri bisa hidup lalu dipungut oleh Dato Hongli?”
“Menurut Dato Hongli, saya pun ikut terbantai dan terbakar dengan seluruh warga desa lainnya, tetapi ajaibnya, saya masih mampu bertahan hidup. Menurut saya pun, ya itu sebuah keajaiban, tetapi menurut Dato Hongli saja adalah bayi titisan para dewa. Entahlah. Terkadang di atas dunia ini terjadi peristiwa-peristiwa di luar nalar manusia.”
__ADS_1
Meilin mengangguk-angguk pelan. “Lalu tujuan sebenarnya Kakak ke pulau itu Kakak hendak menuntut balas?”
“Lebih tepatnya, saya akan mengakhiri kedzoliman mereka selamanya di atas muka bumi ini, Dik Mei. Kata Dato Hongli, sudah saatnya para manusia durjana itu dilenyapkan, demi masa depan kehidupan semua orang.”
Meilin memandang pada La Mudu dengan tatapan tanpa berkedip. Namun di rona wajah yang mutih kemerahan itu tak mampu menyembunyikan kekhawatirannya. “Tapi mereka sangat kuat dan bengis, Kak. La Afi Sangia adalah seorang jawara yang berilmu sangat tinggi dan memiliki anak buah ribuan, apakah Kak Mudu mampu menaklukkan mereka seorang diri?”
La Mudu mendongak ke langit biru. “Tidak, saya tidak sendiri, saya bersama Sang Dewata Agung,” ucap La Mudu tenang, tanpa sedikit pun kekhawatiran dari wajah dan suaranya. “Dato Hongli pun meyakinkan saya, bahwa saya akan mampu menaklukkan La Afi Sangia itu.”
“Semoga Dewata Agung senantiasa melindungimu, Kak,” ucap Meilin.
“Terima kasih, Dik Mei, atas harapannya,” balas La Mudu.
Tiba-tiba Meilin terisak, membuat La Mudu langsung menoleh. "Ada apa, Dik Mei? Apa yang membuatmu tiba-tiba bersedih?”
“Jujur, Kak Mudu, keluarga kami juga pernah kena pendzoliman oleh orang-orangnya La Afi Sangia. Kakak laki-lakinya Mei pun pernah nyaris dibunuh andaikata ayahnya Mei tak menebus dengan harta. Dulu kehidupan keluarga kami makmur, tetapi setelah nyaris semua harta kami diserahkan kepada orang-orangnya La Afi Sangia, kami jatuh miskin. Kami pun memulai dari awal dengan usaha membuka warung makan itu. Itu pun setiap kali mereka masuk daratan, kami wajib melayani makan mereka secara gratis.”
La Mudu menghela nafas panjang lalu dihembusnya dengan pendek, yang menandakan ada gejolak amarah dalam dadanya. Tangan kirinya meraih punggung Meilin dan mengusap-usapnya dengan lembut. “Nasib kalian masih sangat beruntung dibandingkan dengan nasib saya. Tapi jangan lagi bersedih, saya berjanji untuk mengakhiri kedzoliman La Afi Sangia!”
“Mei akan mengiringi tujuan mulia Kak Mudu dengan do’a.”
“Terima kasih, Dik Mei.”
__ADS_1
Sepulang dari pantai, La Mudu ikut membantu keluarga keluarga Meilin di warung makannya. Ada keinginan dari dasar hatinya untuk terus dekat dengan gadis dari Negeri Tirai Bambu itu. Dan ada keinginan dalam hatinya untuk menjaga gadis itu dan kedua orang tuanya dari gangguan orang-orang yang berhati jahat. Baojia dan istrinya, Fang Yin, saling menoleh dan tersenyum ketika melihat kedekatan putri mereka dengan La Mudu, tanpa keinginan untuk mengusiknya. Bahkan dalam hati mereka ada kesenangan dengan pemandangan itu. Kesenangan dan kenyamanan. Betapa tidak, pemuda sakti dan baik hati seperti Jawara Mudu adalah idaman bagi setiap orang tua untuk dijadikan menantu. Tetapi tentu saja pikiran semacam itu dipinggirkan jauh-jauh dalam benak Baoli dan istrinya. Mereka tidak ingin berharap lebih kepada Jawara Mudu. Jawara muda itu telah menolong mereka dari gangguan gelompok penjahat tadi pun merupakan sebuah kebaikan yang tak mungkin mereka balas dengan apa pun.
* * *