
“Tidak terlalu jauh.” Sahut Baojia tanpa melihat kepada La Mudu karena waktu itu ia sibuk dengan merapikan peralatan makan di meja La Pabise dan teman-temannya. “Hanya butuh waktu sepeminum kopi dengan naik kuda, kalian sudah sampai di pelabuhan itu.”
La Mudu dan keempat teman barunya saling berpandangan satu sama lain. “Berarti terpaksa kita harus menginap dulu di desa ini selama tiga hari,”ucap La Tunggara.
“Ya mau tak mau,”tanggap La Rangga Jo. Lalu bertanya kepada Baojia, “Apakah Tuan punya semacam penginapan yang bisa kami sewa?”
“Kami tak punya penginapan,”jawab Baojia, “tapi kami punya rumah kosong di belakang. Rumah saudara saya yang sebulan lalu pindah ke kota raja. Jika kalian mau memakainya, pakailah.”
“Terima kasih Tuan Baojia, karena sudah berbaik hati kepada kami,”ucap La Mudu seraya mengangguk kepada Baojia.
“Justru kami yang harus berterima kasih kepada Jawara mudu. Jika tak ada Jawara Mudu mungkin nasib kami hancur oleh para pangacau tadi itu,”sahut Baojia dengan sikap hormatnya. Lalu dia menoleh ke belakang dan memanggil Meilin. Saat putrinya itu datang mendekat, Baojia berkata, “Tolong kaubersihkan rumah belakang. Jawara Mudu dan tuan-tuan muda ini mau numpang menginap barang beberapa hari.”
“Baik, Fuqin…!”
“Oh, tak usah, Tuan Baojia. Biar kami sendiri saja yang membersihkannya,”ucap La Mudu.
“Ah, tak mengapa, Jawara Mudu, hitung-hitung buat balas budi kami,”ucao Baojia lagi, lalu berkata kepada putrinya, “Ayo Mei, pergilah ke belakang.”
“Baik, Fuqin...,” sahut Meilin, lalu melangkah keluar dari warung makan dan berjalan ke barat, ke belakang warung yang merupakan juga rumah tinggal.
“Kalau begitu saja juga akan bantu…” Tanpa menunggu jawaban dari Baojia, La Mudu keluar dari warung makan dengan setengah berlari, mengikuti Meilin. Keempat pemuda lain pun mengikutinya.
Baojia hanya menggeleng-geleng pelan melihat tingkat La Mudu dan keempat pemuda lainnya itu. “Haiya…dasar anak muda!”
Rumah yang dikatakan oleh Baojia adalah sebuah rumah panggung tiang sembilan, sebuah ukuran rumah panggung yang cukup besar di masa itu. Perabotannya masih lengkap, karena masih kadang dipakai oleh pemiliknya jika datang dari kota dan menginap. Hanya saja, tempat tidurnya harus diganti alasnya dengan tikar pandan yang bersih.
Saat Meilin membersihkan kamar tidur dan tempat tidur, La Mudu ikut membantu. Terkadang keduanya saling menatap dan melemparkan senyum. La Rangga Jo, La Tunggara, La Lewamori, dan La Pabisa rupanya pelan-pelan mengintip lewat dinding bilik yang terbuat dari papan. La Mudu menyadari itu, dan timbul niatnya untuk mengerjai keempat teman barunya itu. Kepada Meilin dia berkata dengan agak berbisik, “Tolong Meilin tutup dulu mulut dan hidungnya…”
Meilin tak paham maksud kata-kata La Mudu, tetapi ia mengikutinya saja. La Mudu lalu berkata, “Dinding bilik ini juga kayaknya sudah lumayan berdebu…,”dan tau tau-tau tangannya menampar dinding kamar dengan cukup keras. Debu berghamburan, lalu terdengar di luar suara batuk-batuk ramai La Pabisa, La Rangga Jo, La Lewamori, dan La Tunggara.
Mendengar itu, Meilin pun tak mampu menahan tawanya, lebih-lebih mendengar La Mudu berkata kepada keempat teman barunya dengan suara setengah membentak, “Makanya jangan suka mengintip! Sana, kuda-kudanya di bawa ke mari dan dikasih makan dulu…!”
__ADS_1
Tanpa menyahuti, keempat pemuda di luar pun turun dari rumah. La Mudu melihat kepada Meilin lalu menyembunyikan tawanya dengan tapak tangan kanannya. Hal yang sama dilakukan oleh Meilin.
Setelah beres membersihkan kamar, La Mudu dan Meilin duduk-duduk dan mengobrol di berada depan rumah. Udara dari arah laut tiada henti berhembus, membelai-belai wajah. Meilin berkali-kali menyingkirkan sebagian rambut mereka yang menutupi wajah mereka ke samping akibat tertiup angin.
“Meilin lahir di desa ini atau lahir di negeri Tiongkok?” bertanya La Mudu sembari menatap wajah wajah cantik gadis yang duduk kursi kayu di hadapannya.
“Mei lahir di sebuah desa di sekitar Sungai Yangtze, di daerah Zhejiang, Tiongkok Timur. Kami pindah ke sini sepuluh tahun yang lalu,”jawab Meilin seraya menatap wajah La Mudu.
“Oh begitu? Maaf, usia Meilin sekarang sudah berapa?”
“Sebulan Mei berusia dua puluh satu tahun.”
“Berarti pindah ke sini pas usia Mei sepuluh tahun, ya?”ucap La Mudu, lalu, “Mei anak tunggal…?”
“Tidak,” sahut Meilin, “saya anak kedua. Kakak saya laki-laki, sekarang dia sedang melawat ke Tanah Jawa. Sedangkan adik saya meninggal di lautan saat kami pindah ke sini.”
“Oh….”hanya itu yang keluar dari mulut La Mudu. Ada perasaan ikut teriris mendengar cerita gadis di depannya, sebelum ia kembali bertanya, “Kenapa orang tuamu memutuskan pindah ke sini, padahal menurut Dato Hongli, guruku, negeri Tiongkok itu teramat jauh. Dia aslinya dari sana juga.”
“Ya orang tuaku memutuskan pindah ke negeri yang sangat jauh ini karena di negeriku kala itu sedang dilanda perang saudara. Lalu…di mana gurunya Kak Mudu sekarang?”
“Benar sekali, Kak. Terima kasih, Kak…,”ucap Meilin, “andaikata tak ada Kak Mudu tadi, entah bagaimana nasib Mei.”
“Iya, sama-sama, Mei. Mungkin memang Sang Dewasa telah mengirim aku hingga bisa sampai ke sini,” jawab La Mudu.
“Bisa jadi, Kak,”sahut Meilin. “Mei merasa heran, kenapa masih saja ada pengacau kecil-kecilan seperti mereka, padahal telah ada pengacau besar yang berasal dari Pulau Sangiang.”
“Maksud Mei, kelompok Teratai Merah itu ya?”
“Iya benar, Kak.”
“Mereka pernah mampir untuk makan di warung makan kalian?”bertanya La Mudu.
“Bukan lagi pernah, Kak, tapi hampir setiap mereka masuk daratan, mereka akan mampir di makan di warung kami….”
“Apakah mereka tidak pernah mengganggu Mei?”Ada kekhawatiran di wajahd an suara La Mudu.
__ADS_1
“Tidak,”ucap Meilin. “Sebab setiap tahu mereka akan mampir, Mei langsung bersembunyi di sebuah tempat rahasia. Jadi, selama ini Mei masih aman-aman saja. Entahlah seterusnya, Kak.”
La Mudu mengangguk-angguk pelan, menyelami kekhawatiran yang ada di hati gadis cantik berkulit putih bersih di depannya. Dan untuk menghilangkan kekhawatiran itu ia pun berkata, “Tak usah khawatir, aku jamin kalian akan aman dan baik-baik saja.”
“Kenapa Kak Mudu bisa memastikan seperti itu?”
“Aku tak menjawabnya sekarang atau kapan pun, tapi biarlah waktu yang memastikan keadaan itu,” jawab La Mudu, lalu tersenyum.
“Maksud Kakak?”
La Mudu hendak mengatakan sesuatu, tetapi saat ituterlihat suara La Pabisa, La Rangga Jo, La Lewamori, dan La Tunggara di bawah halaman rumah bersama kuda-kuda mereka. Kelihatannya tadi mereka sekalian mengambil rumput untuk kuda-kuda mereka.
“Dik Mei ajaklah aku ke pantai,” ucap La Mudu kepada Meilin. “Jauhkah dari sini?”
“Baiklah, Kak,”ucap Meilin. “Tak jauh, Kak. Di belakang desa ini pantainya.”
Keduanya pun turun dari tangga rumah. Kepada keempat teman barunya La Mudu pamit untuk jalan-jalan sebentar.
“Luar biasa cantik itu anak pemilik warung, laksana anafari (bidadari),”puji La Tunggara sembari terus memandang tanpa berkedip punggung Meilin hingga menghilang di sudut rumah warung.
“Iya, aku juga seumur-umur baru melihat gadis secantik itu,”timpal La Lewamori pula seraya menggeleng-geleng pelan.
“Cantik dan putih seperti angsa,”sambung La Pabise, tak mau kalah.
“Tapi yang beruntung La Mudu. Dia pemuda yang sangat beruntung,”ucap La Rangga Jo. “Dari tatapan dan lirikannya, gadis itu menyukai La Mudu.”
“Ya wajarlah, La Mudu kan ganteng, tak jelek seperti kau!” ejek La Pabise, disambut tawa oleh yang lain. La Rangga Jo pun menutup mulutnya dengan tapak tangannya untuk menyembunyikan tawa kecilnya.
Kepada kedua orang tua Meilin, Baojia dan Fang Yin, La Mudu tak lupa untuk meminta ijin untuk menajak jalan-jalan putrinya.
“Iya, silakan, tapi kalian yang hati-hati, ya?”ucap Baojia. Laki-laki hampir baya itu berdiri berdampingan dengamn istrinya, mamandang punggung putrinya Meilin dan Jawara Mudu yang melangkah menjauh dari mereka. Di wajah mereka menampakkan senyum, karena merasa senang putri mereka akhirnya bisa jalan-jalan dengan seorang pemuda. Mereka yakin, Jawara Mudu mampu menjaga Meilin dengan baik.
__ADS_1