PENDEKAR DEWA API BUMI TENGGARA

PENDEKAR DEWA API BUMI TENGGARA
PART 18


__ADS_3

        La Mudu alias Pendekar Dewa Api mengambil tempat duduk di bangku yang paling pojok. Saat melihatnya, si gadis yang bernama Meili mendatanginya dan bertanya, “Tuan mau makan apa?”


      “Iya, siapkan saya makanan dengan lauk yang ada untuk saya sendiri,” jawab La Mudu  sambil mengangguk pelan.


       “Lalu Tuan mau minum apa? Di sini ada arak, yang agak keras, tapi juga ada air tuak. Kebetulan air niranya masih baru.”


       “Ya air tuak saja,” sekali lagi La Mudu mengangguk pelan seraya tersenyum. Ia sudah paham dengan kedua jenis minuman itu. Arak adalah minuman kesukaan gurunya, Dato Hongli. Ia tak pernah tahu entah dari mana orang tau bermata sipit itu mendapatkan minuman yang bisa memabukkannya itu. Sekalipun sang guru sangat menggemari minuman itu tetapi La Mudu tidak pernah sedikit pun ingin mencobanya. “Sebaiknya kamu tak pernah untuk mencicipinya,”saran Dato Hongli suatu saat.


         Saat Pendekar Dewa Api sedang asyik menikmati makanannya, masuk sekawanan laki-laki yang bertampang kasar. Jumlah mereka ada tujuh orang, langsung memenuhi beberapa bangku di sebelah selatan ruangan warung, berhadapan langsung dengan bangku dan meja yang ditempati oleh La Mudu.


       Bapak pemilik warung mendekati kawanan itu untuk menanyakan hidangan yang mau dipesan.


       “Siapkan saja semua makanan yang paling lezat di warung ini, serta beberapa wadah arak! Jangan lama-lama, Baojia!” ucap salah seorang di antara kawanan itu, yang kemungkinan adalah pimpinannya. Postur tubuhnya besar kekar namun memiliki codet yang panjang di pelipis hingga ke bawah pipinya. Mungkin dulunya bekas tebasan senjata tajam.


       “Baik tuan, pesanannya segera diantar!” sahut pemilik warung yang dipanggil Baojia lalu meninggalkan tempat itu. Walau dari wajahnya tidak mengalamatkan perasaan gembira sebagaimana halnya pemilik warung umumnya yang kedatangan pelanggan, namun ia menyruh putrinya, Meilin, untuk membawakan berbagai makanan dan berkendi-kendi arak di bawah yang dipesan ke mejanya kawanan. Keadaan warung jadi langsung berubah berisik oleh keberadaan kawanan itu. Lebih-lebih ketika gadis Meilin berada di dekat mereka.


         “Temani saja kita di sini ntika canggo, hayo sambil kita minum-minum,” goda salah seorang dari ketujuh gerombolan kepada Meilin. Ia memiliki tubuh yang pendek tapi kekar. [Ntika canggo \= cantik berleher jenjang).

__ADS_1


        La Mudu tak ambil peduli dengan perilaku kawanan itu. Ia masih menikmati kelezatan makanannya, karena memang ia sedang sangat lapar.


        Akan tetapi, jeritan Meilin membuat kepalanya sontak terangkat dan melihat ke arah depannya. Di sana Meilin sedang ditarik dan dipeluk oleh laki-laki yang bercodet di pipi dengan gemas dan disambut dengan tertawa ramai keenam anak buahnya.


     Baojia dan istrinya demi melihat putrinya diperlakukan secara tidak senonoh demikian datang hendak menolong anaknya. Tetapi belum sampai dia meraih tangan putrinya, salah seorang anggota gerombolan menendangnya ke belakang dan menghantam dagunya. Ia terjatuh ke belakang lalu jatuh terduduk bersama istrinya.


      Melihat kekurangajaran kawanan itu, amarah La Mudu langsung membuncah dalam dadanya. Ia sedikit menunjukkan tubuhnya. Beberapa kerikil di bawah meja makanannya dipunggutnya. Lalu tanpa melakukan gerakan yang mencurigakan, satu kerikil ia jentikkan, dan seperti diketapel, kerikil sebesar biji kemiri itu langsung menghantam telinga laki-laki yang wajahnya bercodet dan memeluk tubuh Meilin.


       Hantaman keras itu tentu saja membuat laki-laki itu sontak menjerit melengking sembari memegang telinganya yang ternyata sudah langsung mengucurkan darah segar. Dilepaskannya tubuh Meilin dari rangkulannya dengan setengah mendorongnya, dan dengan amarah tinggi dia membentak,“Bangsat Jahannam! Siapa yang melakukan ini!”


      Tak ada yang mencurigakan, karena orang-orang yang ada dalam ruangan warung itu tengah asyik menikmati makanannnya masing-maisng. Karena tak ada yang menjawab, laki-laki itu meluapkan kekesalannya dengan menghantam meja. Benda yang tak bersalah itu pun hancur berhamburan berikut isinya.


      Mendapati kenyataan itu, keenam anak buahnya pun sertentak naik pitam. Mereka bertanya siapa yang melakukan tindakan pengecut yang membuat kedua mereka menderita demikian rupa itu. Lagi-lagi tak ada yang menyahut. Karena itu, ketujuhnya pun langsung mengobrak abrik isi warung. Orang-orang yang datang langsung berlarian keluar meninggalkan makanannya maisng-masing, kecuali La Mudu. Bahkan Pendekar Tapak Api bersikap cuek saja sambil terus menyelesaikan makanannya. Seolah-olah tak ada peristiwa apa-apa.


        “Hei kau! Jangan-jangan kau yang melakukan tindakan yang pengecut ini, heh!”tiba-tiba salah seorang dari ketujuh anggota gerombolan membentak ke arah La Mudu.


          Dibentak demikian, La Mudu pura-pura kaget dan berkata,“Dari tadi saya sedang menikmati makanan saya, Tuan. Bagaimana mungkin saya berani melakukan hal seperti itu kepada tuan-tuan ini? Ya bisa jadi yang melakukannya orang dari luar.”

__ADS_1


         Ketujuh kawanan memandang tajam kepada La Mudu seolah mencari kebohongan di wajah sang pemuda. Namun tiba-tiba laki-laki yang berwajah codet berkata, “Ah, sudahlah. Besok kita akan kembali ke sini untuk mencari tahu. Kita pergi dari tempat ini.”Rupanya laki-laki itu lebih merasa malu dengan kondisinya ketimbang mencari tahu dulu siapa pelaku yang melemparkan dua biji batu itu kepadanya.


        Keenam anggota lain tak membantah dan langsung mengikuti ucapakan laki-laki berwajah codet. Namun baru saja mereka hendak keluar dari rumah makan, Baojia mencegahnya dari belakang. “Tuan-tuan belum membayar makanan dan minuman tuan-tuan, termasuk semua peralatan rumah makan saya yang hancur.”


       “Hai Baojia, apakah kamu tak melihat kondisi ketua kami, heh! Besok kami akan kembali lagi di sini!”jawab salah seorang dari ketujuh kawanan dengan suara tinggi.


        “Haiya, begitu terus ucapan dari dulu. Utang kalian sudah menumpuk. Kalau demikian caranya warung saya bisa tutup, Tuan-Tuan.”


           Mendengar ucapan Baojia itu, laki-laki yang berwajah codet yang segang berdarah-darah menoleh ke salah seorang anak buahnya dan berkata, “Goba, rupanya dia ingin diberi pelajaran!”


          Laki-laki pendek bertumbuh gempal yang bernama Goba tanpa membuang waktu segera berbalik dan langsung menceram leher Baojia dan mendorongnya dengan keras. Tubuh Baojia terlempar ke belakang dan jaruh di atas balai-balai bambu yang merupakan meja untuk hidangan.


        “Ampun Tuan, saya minta maaf, jangan siksa saya,” ucap Baojia sembari memegang lehernya yang terasa sangat sakit.


         Ucapan Baojia tak dihiraukan oleh laki-laki yang bernama Goba. Jari jemarinya yang kekar kembali mencengkeram lehernya Baojia. Naga-naganya ia ingin menghabisi nyawa laki-laki bermata sipit itu. Wajah Baojia terlihat sudah memerah dan kencang akibat tak bisa bernafas.


         Pada saat yang kritis itu, tiba-tiba satu tendangan keras menghantam dada laki-laki bernama Goba dari aras samping. Saking kerasnya tendangan itu, tubuh gempal laki-laki berusis sekitar tiga puluhan tahun itu mencelat ke belakang.

__ADS_1


       Sang penendang itu tak lain adalah La Mudu. La Mudu sangat geram atas perlakukan kawanan yang biadab itu. Dan tendangan itu bukan saja membuat korbannya yang kaget luar biasa tetapi juga keenam kawannya.


__ADS_2