
Belum sempat menyadari apa yang baru saja menimpanya, tiba-tiba La Goba kembali merasakan cekikan yang kuat pada jakun lehernya lalu disusul dengan tendangan keras lagi di dada. Kembali tubuh laki-laki itu terlempar ke belakang dan jatuh di depan kaki-kaki keenam kawanannya. Ia mengerang kesakitan yang sangat, dan berkali-kali batuk-batuk yang menyemburkan darah segar dari mulutnya.
Mendapati kenyataan yang di luar dugaan itu, membuat keenam kawanan lain amat kaget sekaligus geram luar biasa.
“Hei bocah bodoh! Apakah kau tak tahu sedang berhadapan dengan siapa!? ” ucap pimpinan kawanan dengan wajah semakin geram.
Pendekar Dewa Api alias La Mudu mendengus pongah dan menjawab, “Aku tak peduli sedang berhadapan gerombolan iblis sekalipun! Saya hanya minta kalian untuk membayar semua harga makanan dan minuman pada pemilik warung ini, termasuk hutang-hutang kalian, berikut peralatan warung ini yang kalian hancurkan!”
“Cuih!! Siapa kau bocah ingusan yang berani memberi perintah kepada kami!” ucap ketua kawanan yang wajahnya masih berlumuran darah.
“Tidak perlu banyak bacot, Pak Tua! Ikuti saja permintaanku. Jika tidak….”
“Jika tidak…apakah yang akan kau lakukan, anak ingusan?”potong salah seorang dari ketujuh kawanan, lalu disambut oleh tawa derai yang mengejek keenam kawannya.
“Jika tidak, kalian akan menyesalinya sepanjang hidup kalian!” ucap La Mudu dengan suara setengah membentak. Ia ingin memberi sinyal pada kawanan begundal di hadapannya bahwa ia sedang sungguh-sungguh dengan ucapannya.
Ketujuh kawanan tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan itu La Mudu itu.
“Hei bocah dungu!” bentak ketua kawanan, “Rupanya kaubenar-benar ingin memperpendek umurmu! Baik!”
Setelah berkata demikian,m ia memberi kode kepada keenam anak buahnya untuk menyerang si pemuda dengan gerakan kepalanya.
Dan tanpa dikomando untuk kedua kalinya mereka segera bersiap untuk melakukan penyerangan kepada La Mudu sembari mencabut golok parang di pinggangnya masing-masing.
“Dasar para sampah dunia! Baiklah, aku akan melayani keinginan kalian!” Seusai berkata demikian, La Mudu meloncat keluar dari dalam warung dan mengajak para calon lawannya untuk bertempur di luar.
__ADS_1
Namun belum lagi Pendekar Tapak Api sempat mendaratkan kedua kakinya di bumi, keenam lawannya telah menyerbunya sembari mengiblatkan sabetan dan tusukan senjatanya masing-masing yang disertai gerakan tangan dan kaki mereka yang deras ke arahnya.
Akan tetapi, di luar dugaan oleh keenam lawannya, La Mudu segera meyambut serangan gencar itu gerakan menunduk dan memutar yang amat cepat bagai sebuah kitiran. Dan tau-tau keenam tubuh musuhnya terlempar ke belakang oleh tendangan dan pukulan berantainya yang sangat keras dan tepat yang tepat mengenai dada dan rahang mereka. Tubuh keenamnya jatuh tumpang tindih tepat di depan kaki ketua mereka yang berwajah codet berlumuran darah.
Tak habis rasa heran yang disertai rasa sakit yang diderita, ketujuh kawanan teramat kaget ternyata mereka tak memegang senjata lagi dan senjata-senjata mereka telah terkumpul di depan si pemuda. Bahkan saat itu si pemuda sedang menenteng salah satu pedang milik salah satu dari mereka.
La Mudu melangkah maju ke depan ketujuh lawannya, dan sembari menunjuk para musuhnya dengan menggunakan pedang di tangannya ia berkata “Sekali lagi aku peringatkan agar kalian bayar makanan minuman dan semua hutang kalian serta untuk mengganti kerugian pemilik warung. Cepat!”
Cuisss! Ketua kawanan meludah. “Jangan dulu sombong, Bocah keparat! Kau harus melawanku dulu!”
Habis berucap demikian, sontak ia melakukan penyerangan kepada La Mudu dengan tebasan pedang yang sangat cepat yang disertai tendangan memutar kaki kanannya yang sangat mematikan.
Tentu saja serangan yang seperti itu tidak membuat perasaan La Mudu kaget. Bahkan dengan tenang ia menyambut serangan itu dengan permainan pedang yang jauh lebih cepat dan berbahaya lagi sehingga membuat lawan justru dalam waktu singkat terserang balik dan…
Trangg…!!
Pedang pemimpin terlepas dari tangannya dan terlempar ke udara lalu disusul oleh bunyi tubuhnya yang terlempar ke belakang akibat tendangan Pendekar Tapak Api. Ia jatuh dan membentur sebatang pohon besar di sekitar itu. Darah menyembur dari mulut dan kedua lobang hidungnya. Saat La Mudu meloncat dan hendak menebaskan pedangnya, laki-laki itu langsung menjatuhkan tubuhnya seperti orang yang bersujud sebagai tanda menyerah.
“Baiklah, Anak Muda, kami menyerah. Kami akan mengikuti permintaanmu,” ucapnya dengan nafas terengah-engah.
“Dasar manusia-manusia sampah yang tak punya otak! Kenapa tidak dari tadi kalian mengikuti ucapanku!? Sekarang kalian serahkan semua harta kalian!”
Tanpa diminta untuk kedua kalinya, sang pimpinan kawanan mengambil kantong hitam dari balik bajunya untuk kemudian dilemparkan ke depan kakinya La Mudu. “Kukira itu sudah lebih dari cukup untuk membayar semua utang dan kerugiannya Baojia.
“Belum!” bentak La Mudu, “Harga diri dan rasa malu anak gadisnya yang kalian perlakukan secara biadab tidak sebanding dengan sekantong uang ini. Ayo kalian serahkan kantong uang milik kalian. Jika tidak, kalian akan menggantinya dengan sebelah tangan kalian masing-masing!”
Mendapat ancaman yang naga-naganya tak main-main itu, keenam anggota kawanan pun serentak menyerahkan kantong hitam yang berisi kepingan-kepingan uang emas kepada La Mudu.
__ADS_1
“Hmmm. Untuk saat ini aku akan memaafkan kalian, namun jika lain waktu akau bertemu lagi dengan kalian sedang berbuat biadab, maka aku tak akan memaafkan kalian. Paling tidak aku akan membuat kalian cacat untuk seumur hidup. Itu sumpahku! Ingat!”
“Baik, Jawara Muda, kami berjanji tidak akan berbuat biadab lagi!”janji ketua kawanan.
“Aku genggam ucapanmu, orang tua!”sahut La Mudu. “Dan satu hal lagi, kalian jangan pernah berfikir untuk membalas dendam kepada pemilik warung ini dan keluarganya. Jika terjadi sesuatu hal yang buruk kepada mereka, maka aku akan mencari kalian hingga ke lobang semut sekalipun. Bagiku, dunia ini sangat sempit kalau hanya untuk mencari sampah dunia seperti kalian!”
“Iya, Jawara Muda, kami bersumpah untuk memegang ucapan kami!”janji ketua kawanan lagi.
“Baik! Segera kalian enyah drai tempat ini! Aku muak melihat kalian!”
Tanpa menunggu lama, ketujuh kawanan itu pun segera pergi dari tempat itu.
Baojia dan istrinya segera datang memeluk tubuh La Mudu. Keduanya mengucapkan terima kasihnya berulang-ulang. Saat itu Meilin hanya berdiri di pintu warung tanpa berkata apa pun, namun matanya memandang kepada La Mudu.
La Mudu tersenyum dan membalas pelukan sepasang suami istri pendatang dari negeri Tiongkok itu. “Sama-sama Baojia, Ibu, itu hanya kewajiban terhadap sesama saja.”
“Mereka gerombolan manusia yang sangat jahat, Jawara,” ucap istrinya Baojia. “Kami dan seluruh warga desa tak ada yang berani menentang mereka.”
“Iya ibu, saya rasa juga begitu, tapi mereka sudah berjanji untuk tidak pernah mengganggu ibu sekeluarga,”ucap La Mudu dengan sikap sopan kepada wanita setengah baya di depannya. Lalu kepada Baojia ia berkata, “Bapak bawa masuk semua kantong itu. Kukira ini cukup untuk membayar semua utang dan lain-lain mereka kepada Bapak Baojia sekeluarga.”
“Haiya, ini malah keterlaluan banyaknya, Pendekar Muda. Tentu saya hanya mengambil sesuai dengan utang dan kerugian kami saja,”sahut Baojia.
“Kalau begitu begini saja, Pak Baojia. Sebagian dari isi kantong-kantong ini diberikan saja kepada masyarakat yang membutuhkannya. Toh harta ini adalah milik penduduk yang mereka rampok juga.”
“Baiklah Jawara Muda…”Baojia tak melanjutkan ucapannya. Tampaknya ia seperti tersadar tentang sesuatu hal saat melihat penampilan sang jawara muda di hadapannya. Sepasang matanya semakin sipit.
“Ada apa Pak Boajia?” bertanya La Mudu karena ditatap demikian oleh Baojia.
__ADS_1
“Aaa…maaf Jawara Muda,”ucap Baojia agak ragu. “Saya hanya merasa heran ketika melihat penampilan Jawara Muda yang seperti penampilan para jawara di negeri saya Tiongkok sana. Apakah Jawara Muda ini berasal dari Tiongkok juga...?"