
"Tidak, Mudu!” potong Dato Hongli.” Tempatmu dan nasibmu bukan di sini, tapi di masyarakat yang sangat luas. Nasib, tugas, serta kewajibanmu sebagai seorang pendekar telah menantimu di sana." Dato Hongli berhenti sesaat sebelum melanjutkan, "Baiklah, Cucuku, duduklah dulu yang tenang. Aku ingin menceritakan suatu kisah yang terjadi di masa lalu. Semoga kisah ini nantinya akan menjadikanmu untuk segera turun dari dunia yang sunyi ini."
Dato Hongli menceritakan semua tentang semua peristiwa yang terjadi di Desa Tanaru dua puluh tiga tahun yang silam. La Mudu mendengarkannya dengan seksama.
Di akhir cerita, mendadak La Mudu memegang leontin kalung berupa separuh keping selaka (perak) yang menggantung di lehernya. Wajahnya tiba-tiba berubah merah padam. "Jadi…apa bayi dalam cerita Ato itu adalah…mada?"
Dato Hongli mengangguk-angguk pelan. "Benar, Cucuku. Para Dewa menggugahku dalam semedi dan mereka memerintahkanku untuk segera ke arah timur untuk mengambilmu dan kemudian diangkat sebagai muridku. Saat itu tubuhmu tergolek di samping tubuh seorang wanita yang mendekapmu. Tubuh wanita itu sudah hangus. Ato perkirakan ia adalah jasad ibumu. Kau benar-benar titisan para dewa, Cucucku. Tubuhmu utuh, sama sekali tak tersentuh api. Justru energi api terserap habis oleh tubuhmu. Dan itu kekuatan dahsyat yang tersimpan dalam tubuhmu. Karena aku mendapatkanmu di atas bekas sisa pembakaran, maka aku memberimu nama La Mudu. Ya, kau adalah titisan para Dewa, Cucuku. Kauselamat secara ajaib dari pembantaian dan pembakaran yang dilakukan oleh La Afi Sangia bersama anak buahnya. Maafkan Ato, karena Ato terlambat untuk mencegah aksi pembantaian itu. Mungkin juga Sang Dewata juga menggariskan demikian. Yang tersisa ketika itu hanya kau sendiri. Kau mengenakan kalung dengan leontin separo itu. Kakek berfirasat pasti ada maknanya mengapa leontin kalungmu hanya kepingan separo. Kemudian beberapa bulan kemudian, Ato mencoba mencari tahu, dan Ato mendengar selentingan di kalangan masyarakat desa-desa di sekitar bekas desamu, bahwa Galara Ompu Mpore dan Ina Canggo, ayah dan ibumu, mempunyai dua bayi kembar dampit. Bayi kembar laki-laki dan perempuan. Jika benar adanya kabar itu, menurut firasat Ato, kembaranmu itu masih hidup. Sebab Ato tidak melihat mayatnya saat itu jika ia sudah mati. Jadi itu tugasmu untuk mencari tahu nantinya. Kauharus mengakhiri kebiadaban Afi Sangia. Ato dengar akhir-akhir ini perbuatan sewenang-wenang La Afi Sangia bersama anak buahnya sudah semakin biadab dan merajalela."
Mendengar cerita Dato Hongli lagi itu, amarah La Mudu mencuat di wajah dan sinar matanya. Namun sang guru, Dato Hongli, mewanti-wantinya agar selalu bertindak secara bijak dan menggunakan perhitungan yang matang. "Kebijakan dan perhitungan yang matang adalah kunci sebuah keberhasilan, Cu," nasihat Dato Hongli.
__ADS_1
Setelah semua percakapan berlangsung cukup lama, akhirnya La Mudu mengikuti kata-kata sang guru, Dato Hongli, untuk meninggalkan tempat itu. Walaupun dengan hati yang amat berat.
"Pergilah kau, Cucuku. Tegakkan kepala, jangan pernah menoleh ke belakang," berkata Dato Hongli ketika mengantarkan kepergian sang murid kesayangannya, buah hatinya. Setelah itu, dengan sebuah gerakan yang ringan, tubuhnya melesat turun ke dalam mulut jurang sempit, tempat di mana selama dua puluh tiga tahun ia membesarkan dan mengasuh La Mudu. Di atas petilasannya, ia lenyapkan suka duka dunianya. Ia melanjutkan berkhalwat.
La Mudu, tidak menyahuti sepatah kata pun. Hanya menghentikan langkah sesaat, tak berpaling. "Selamat tinggal, Ato, guruku. Jika Sang Dewata Agung masih menghendaki, mada akan datang menjengukmu!" gumamnya, sebelum ia melanjutkan langkah kakinya, meninggalkan orang yang amat dia cintai seorang diri.
* * *
Saat telah berada di kaki gunung, ia melepaskan lelahnya sesaat. Pada aliran sungai La Rindi yang mengalir deras dan jernih, ia merendam kakinya, membasuh wajah dan kedua pergelangan tangannya. Air sungai yang jernih dan sejuk sedikit mampu melenyapkan penat di jiwa dan raganya. Segala jenis ikan besar dan kecil berenang bebas di aliran sungai adalah pemandangan pertama yang mengingatkannya pada sepanjang kenangannya di dalam gua jurang Sorowua. Ia hampir setiap hari memilih dan menangkap ikan di aliran sungai bawah tanah, untuk kemudian menjadi makanan kesehariannya dengan Dato Hongli. Ia dibesarkan dengan ikan-ikan seperti ini. Maka dengan melihat i
__ADS_1
kan yang besar-besar yang berenang lalu-lalang di sekitar kedua kakinya, perutnya mendadak keroncongan. Ia memungut beberapa biji batu kerikil di sekitarnya duduk, lalu dijentikkannya ke beberapa ikan yang cukup besar. Ikan ikan-ikan itu langsung mati mengambang. Ikan-ikan itu dibakar dengan ranting-ranting kayu yang banyak berserakan di sekitar itu. Dan tak lama kemudian, aroma khas ikan bakar pun langsung menyebar.
Di saat ia tengah menikmati ikan bakar, telinganya menangkap suara tapak-tapak kaki orang yang tengah berlari. Ada suara seorang laki-laki dan perempuan yang terus berbicara di antara nafas mereka yang kelelahan. Semakin lama suara itu semakin terdengar mendekat dan mengarah ke tempatnya berada. Dan benar juga, La Mudu melihat seorang laki-laki dan perempuan muda sedang berlari dengan sisa nafas mereka yang sudah ngos-ngosan. Tangan pemuda tak pernah melepaskan pergelangan si perempuan agar tetap bisa bertahan dan berlari.
"Maaf, Lenga, Amancawa. Kalian berdua dari mana dan hendak ke manakah gerangan?" bertanya La Mudu, ketika sepasang muda-mudi itu telah berada di hadapannya. (Lenga \= teman; amancawa \= sebutan penghormatan untuk wanita).
"Tolong kami, Amania, kami dikejar oleh para laki-laki dari keluargaku," menjawab si gadis di sela-sela nafasnya yang terengah-engah karena kelelahan. (Amania \= saudara laki-laki, atau untuk sebutan penghormatan terhadap laki-laki).
"Kenapa kalian dikejar, dan mereka hendak melakukan apa terhadap kalian berdua?”
__ADS_1
"Kenalkan dulu nama saya La Kalimone dan calon istriku ini namanya La Alo Salaka,” ucap si pemuda. “ Iya, Kami saling mencintai dan sekarang kami memutuskan untuk londo iha. Jika keluarga kekasihku ini berhasil mengejar kami, tentu kami bisa dibunuh, Lenga." Londo iha \= kawin lari/selarian).