
La Mudu dan seluruh murid dadakannya akan melakukan serangan pertama mereka dengan menggunakan tombak. Mereka adalah pemuda-pemuda yang memang memiliki ketrampilan alami dalam hal menggunakan senjata yang satu ini, karena mereka adalah pemburu-pemburu kijang yang sangat mahir. Kemungkinan para gerombolan anak buah la Afi Sangia sangat tak mengira akan mendapat serangan yang berani seperti itu. Karena selama ini belum ada sejarahnya masyarakat desa di seantero negeri Babuju yang merani menentang kebesaran la Afi Sangia secara langsung. Jadi La Mudu memperhitungkan, para gerombolan perampok jahat itu dengan mudah dibasmi, bahkan dengan tombak.
Malam itu cukup bendarang oleh cahaya bulan purnama. Saat suara ringkihan kuda-kuda terdengar mendatang dari arah utara, La Mudu segera memberi perintah kepada seluruh murid dadakannya untuk bersiap-siap. Mereka berdiri berjejer dalam jarak tertentu dan bersembunyi balik pepohonan di pinggir jalan setapak yang akan dilalui oleh gerombolan anak buahnya Afi Sangia.
Puluhan anak buah Afi Sangia menunggangi kudanya masing-masing. Ada yang mendahului puluhan kuda yang khusus membawa beban berupa padi, dan sebagian lagi berjalan mengikuti kuda-kuda beban. Suara ringkihan kuda-kuda yang diselingi oleh cerita dan tertawa mereka menjadikan suasana malam itu tidak sepi.
Namun di luar persangkaan mereka, saat mereka melewati sebuah tikungan jalan yang agak menanjak setelah melewati sebuah sungai mati, tiba-tiba mereka mendapat serangan cepat puluhan tombak. Tombak-tombak itu mengarah ke arah penunggang tiap kuda.
Seluruh anak buah gerombolan La Afi Sangia yang sama sekali bakal mendapat serangan yang demikian, tentu saja tak mampu mengelak. Apalagi suasana malam hutan yang dilalui cukup temaram karena cahaya bulan terhalang oleh pepohonan yang lebat. Maka tak ayal, erangan demi erangan terdengar memilukan disertai berjatuhannya tubuh mereka dari punggung kuda tunggangannya masing-masing.
Seluruh anak buah La Mudu berloncatan keluar dari tempat persembunyiannya dan langsung mendekati korbannya masing-masing, lalu tanpa ampun mereka mencabut tombak mereka lalu menghujamkannya berkali-kali ke tubuh manusia-manusia durjana itu. Hanya sesaat tempat itu ramai oleh suara jeritan kematian yang memilukan, lalu sepi.
La Mudu yang sejak tadi hanya berdiri menyaksikan aksi segenap murid dadakannya tetap berdiri di tempatnya. Dia memerintahkan agar seluruh mayat dibuang dalam satu tempat di sebuah jurang yang tak jauh dari tempat itu. Setelah semuanya beres, La Mudu mengajak seluruh anak buahnya untuk pulang ke desa dengan membawa kembali seluruh kuda beban yang membawa padi. Sementara mereka menunggangi kuda yang tadi ditunggangi oleh gerombolan anak buahnya La Api Sangia.
Segenap penduduk desa merasa lega demi mendapati kembali harta mereka yang tadi dibawa oleh gerombolan anak buahnya La Afi Sangia. Akan tetapi di sisi lain, segenap penduduk Desa Kandunggu merasa sangat khawatir jika peristiwa itu akan diketahui oleh La Afi Sangia lalu akan datang menyerang desa mereka.
“Kalian jangan khawatir,”ucap La Mudu, “desa ini sudah memiliki benteng yang sangat kuat. Benteng itu adalah puluhan pemuda desa ini yang telah memiliki ilmu bela diri yang cukup tinggi. Namun demikian, saya memberi jaminan pada kalian, bahwa selamanya desa ini akan aman, karena saya sudah memiliki rencana untuk mengakhiri kebiadaban manusia yang bernama La Afi Sangia itu.”
__ADS_1
Setelah mendengar ucapan dan jaminan dari La Mudu itu, segenap warga Desa Kandunggu meresa lega dan bergembira. Maka pada saat itu pun. Mereka sangat berterima kasih kepada La Mudu. Mereka menganggap La Mudu sebagai pahlawan dan dewa penyelamat bagi mereka.
Malam itu, setelah berada di rumah La Kalimone, La Mudu bercerita bahwa besok pagi-pagi ia akan melanjutkan perjalanannya. “Aku harap kau dan teman-temanmu menurunkan ilmu silat yang kalian miliki kepada pemuda lain di desa ini.”
Kalimone menatap wajah La Mudu lekat-lekat. Ada perasaan tak ingin berpisah di wajahnya dan kata-katanya, “Jawara hendak ke mana? Kami sangat mengharapkan Jawara untuk terus berada di sini. Kami sangat membutuhkan Jawara. Bahkan kami berencana untuk menjadikan Jawara sebagai pemimpin kami di desa ini.”
La Mudu tersenyum lalu menepuk bahu La Kalimone. “Jujur, aku juga sangat senang berada di desa ini, di tengah kalian sahabatku yang baik-baik, tetapi aku mempunyai tugas dan kewajiban yang harus kuselesaikan dahulu. Jangan khawatir, suatu saat aku akan mengunjungi kalian di sini.”
La Kalimone hanya manggut-manggut. Ia dapat memaklumi, bahwa La Mudu adalah seorang jawara, tentu memiliki tugas dan kewajiban hidup yang harus diembannya. Lalu ia berkata, “Baiklah, Jawara Mudu. Walau berat hati untuk berpisah dengan Jawara, namun bagaimana pun saya harus ihlas melepas kepergian jawara. Tetapi jika ada waktu, kelak tetap berkunjunglah ke sini, jenguklah kami.”
“Sama-sama, Jawara. Begitu pun kami, terutama saya pribadi dan calon istri saya, sangat berterima kasih kepada Jawara Mudu. Dan saya atas nama seluruh masyarakat desa menghaturkan banyak terima kasih kepada Jawara Mudu atas segala jasa dan kebaikannya.”
“Ya, aku menerima ucapan terima kasihmu, Kalimone,”balas La Mudu. “Dan satu harapanku kepadamu dan seluruh muridku yang lain, tolong didiklah para pemuda lain di desa ini agar mereka dapat menjadi pemuda yang kuat dan "ngau" seperti kalian. Bila perlu, didik adik-adik dan kemenakan kalian sejak dini. Desa yang memiliki para pemudanya yang kuat dan "ngau", itu seumpama ular yang sangat berbisa atau seekor singa yang bertaring dan bercakar yang tajam dan kuat. Sebab demikianlah nasihat yang aku dapatkan dari guruku.”
Kalimone mengangguk-angguk pelan lalu berkata, “Baiklah, Jawa. Pesan Jawara siap saya laksanakan!”
__ADS_1
* * *
Seperti yang direncanakan, ketika kokok ayam kedua terdengar bersahut-sahutan, La Mudu telah memacu kuda tunggangannya menuju arah timur. Kuda yang berbulu putih itu sengaja disiapkan oleh La Kalimone untuk dia pakai, yang merupakan kuda Babuju yang terkenal sangat kuat fisiknya walaupun tubuhnya lebih kecil dari kuda dari Pulau Sumba.
Saat matahari telah naik ke hampir setengah bola langit, La Mudu telah tiba di sebuah wilayah yang bernama Sape. Di sebuah rumah makan yang terletak pemukiman yang bernama So Toro, La Mudu mampir untuk mengisi perutnya yang sudah sangat keroncongan.
Warung itu lumayan ramai. Pemiliknya adalah sepasang suami istri yang bermata sipit dan berkulit putih yang berusia mungkin sekitar lima puluhan tahun. Melihat wajah bapak pemilik warung, benak La Mudu langsung teringat pada gurunya, Dato Hongli.
Di warung makan itu juga dibantu oleh seorang gadis berusia sekitar 20-an tahun yang berkulit putih, bermata sipit. Dia adalah putri dari pemilik warung. Untuk ukuran gadis desa, wajah gadis itu terbilang sangatlah cantik. Mungkin karena itu banyak laki-laki yang datang menikmati menu makanan di warung itu.
Ketika melihatnya kehadirannya, bapak pemilik warung memanggil nama gadis itu dengan sebutan Meili untuk melayaninya.
__ADS_1