
La Mudu alias Pendekar Tapak Dewa tersenyum dan mangangguk-anggukkan kepalanya pelan. Pikirannya bermain. Ia harus mengayuh sampan mulai dari sini. Warga desa ini adalah bagian dari negeri yang tengah menanti kehadiran dirinya. Kehadiran sang pembebas. Ia harus memulai tindakannya di sini. Karena itu ia pun berniat untuk memberikan sedikit bekal ilmu kesaktian kepada La Kalimone. Mungkin juga beberapa pemuda lagi agar lebih kuat. Kemudian ia bertanya, "Biasanya berapa orang anak buahnya La Afi Sangia yang mengambil jatah mereka di desa ini, Sahe?"
"Ya rata-rata sekitar dua puluhan orang, Jawara Mudu. Tapi untuk menghadapi seorang anak buah La Afi Sangia pun kami tidak mungkin berani dan mampu. Mereka rata-rata memiliki ilmu kesaktian yang tinggi.”
"Hmm, begitu. Lantas mereka lewat mana? Sebab sepengatahuan saya, Pulau Sangiang itu berada di sebelah timur pulau ini. Jadi kalau melewati pulau ini jelas akan berhadapan dengan pasukan kerajaan dulu."
"Mereka lewat laut, Jawara Mudu. Kapal mereka sandarkan di sekitar pantai Wane atau Kalepe. Mereka membawa hasil pungutan ke sana dengan menggunakan kuda, yang juga diambil begitu saja di desa ini atau di desa Salondo dan lain-lain."
La Mudu kembali manggut-manggut. "Jika memang kalian membebaskan diri dari kedzoliman manusia iblis itu, aku siap untuk membantu," La Mudu berkata sungguh-sungguh.
"Benar, Jawara Mudu?" bertanya La Kalimone dengan wajah tak mampu menyembunyikan kegembiraannya.
"Tentu!" tegas La Mudu. "Seorang pendekar sejati pantang untuk mengucapkan kata-kata yang berisi harapan kosong, Kalimone. Oleh karena itu aku berniat untuk membekalimu dengan kekuatan sakti yang cukup kepadamu."
__ADS_1
Ucapan itu jelas membuat mulut dan mata pemuda Kalimone menganga dan terbelalak, seolah-olah tak percaya dengan pendengaran. "Dewa akan memberikan kekuatan sakti?"
"Iya, Kalimone," jawab La Mudu tegas. "Tapi aku butuh lagi beberapa pemuda lagi, Kalimone. Mungkin sekitar dua puluhan orang pemuda. Tentu yang sekiranya mampu memegang rahasia, karena kau tadi mengatakan selalu ada mata-mata La Afi Sangia di tempatkan di mana-mana. Kau bisa siapkan?"
La Kalimone saking gembiranya sampai-sampai ia memeluk tubuh La Mudu sambil jingkrak-jingkrak. "Terima kasih, Jawara, terima kasih," ucapnya. “Soal pemuda jangan khawatir, Jawara Mudu. Pemuda yang bisa dipercaya dan sangat saya kenal di desa ini sangat banyak."
"Baguslah jika demikian, aku akan tinggal lebih lama sedikit di desa ini. Mungkin beberapa purnama. Kalau bisa, lebih cepat lebih baik untuk kamu kumpulkan teman-temanmu."
"Baik, Jawara Mudu. Nanti malam pun akan saya bawa mereka di suatu tempat yang aman!"
Walhasil, dalam waktu singkat La Kalimone berhasil mengumpulkan lebih dari sepuluh orang pemuda tangguh. Malam hari di bawah benderangnya cahaya purnama, para pemuda itu dibawa oleh La Kalimone dan Lamudu ke suatu kebun milik keluarga La Kalimone, yang terletak di kaki bukit yang tak jauh di sebelah utara perkampungan. Para pemuda tersebut hatinya begitu girang dan bersemangat ketika mereka diberitahu tentang hal apa yang akan mereka dapatkan dari Jawara Mudu nantinya. Hal yang memang sangat mereka impi-impikan. Mereka, sebagaimana juga seluruh warga desa lainnya, telah lama hidup dalam penzoliman yang teramat sangat dari orang-orangnya La Afi Sangia. Hidup dalam ketakutan yang tak pernah usai. Mereka ditindas dan bahkan diperlakukan tidak selayaknya sebagai manusia. Bahkan oleh orang-orangnya La Afi Sangia, mereka tak ubahnya sebagai sekumpulan besar sapi perah yang dapat diperlakukan sekehndak hati mereka. Maka harapan para pemuda tersebut, adalah juga seperti harapan La Kalimone. Semoga dengan ilmu kesaktian yang mereka dapatkan dari La Mudu kelak, mereka mampu membebaskan desanya dari jeratan nestapa itu.
Hal pertama yang dilakukan oleh La Mudu terhadap para calon murid dadakannya itu ialah menggali, melatih, dan mengolah daya rasa mereka, sehingga mereka mampu mengendalikan dirinya dari sifat sombong dan angkara. Kedua sifat yang paling pontensial membuat anak manusia jadi binasa. Mengingat hanya untuk kebutuhan mendesak, maka Pendekar Tapak Api tentu saja tidak akan melatih dan menggembleng para murid dadakannya itu dengan metode pelatihan seperti yang diterapkan oleh gurunya Dato Honglin terhadapnya yang dapat memakan waktu bertahun-tahun. Kepada para murid dadakannya La Mudu hanya akan menurunkan ilmu-ilmu kedigdayaan yang dapat dipelajari dalam waktu singkat. Sekalipun demikian, tentu saja ilmu-ilmu itu sangatlah dahsyat dan mampu mengatasi keangkaramurkaan para anak buahnya La Afi Sangia kelaknya. Artinya, ilmu-ilmu kedigdayaan itu sudah mampu menjadi benteng yang amat tangguh bagi mereka untuk menjaga keamanan dan kelanjutan hidup mereka dan segenap rakyat desa mereka dari gangguan para anak buahnya La Afi Sangia.
__ADS_1
Setelah latihan nafas dan pengendalian emosi dengan cara berpuasa untuk beberapa hari lamanya, selanjutnya La Mudu mulai menggembleng para murid dadakannya itu dengan ilmu-ilmu kedigdayaan yang praktis namun hasilnya tetap dahsyat. Karena jurus-jurus yang diturunkan oleh La Mudu terhadap para murid dadakannya adalah jurus-jurus kependekaran kelas wahid, maka bisa dipastikan kesakti-mandragunaan mereka akan jauh di atas kesaktian yang dimiliki oleh para anak buahnya La Afi Sangia.
Dan walhasil, hanya butuh waktu beberapa purnama, La Kalimone dan puluhan temannya telah berhasil digembleng oleh La Mudu dengan ilmu-ilmu kedigdayaan yang sangat hebat. Mereka telah menjelma menjadi para pemuda sakti mandraguna!
* * *
Suatu saat, tak berselang lama setelah Pendekar Dewa Api menggembleng sekelompok pemuda Desa Kandunggu menjadi pendekar-pendekar dadakan yang sangat ampuh, hal yang dinanti-nanti itu tiba. Ini adalah waktu pungutan pertama dari dua pungutan liar yang dilakukan oleh orang-orang La Afi Sangia terhadap warga Desa Kandunggu. Belum lagi matahari naik ke setengah belahan langit, warga desa sudah dipanikkan oleh kehadiran sekelompok anak buah sang pendekar durjana itu. Para laki-laki bertampang bengis berpakaian merah-merah itu datang dengan masing-masing menunggang seekor kuda. Begitu tiba, di mulut mereka keluar bentakan dan hardikan-hardikan kasar, agar warga desa segera mengumpulan pungutan. Pungutan yang biasanya warga desa persembahkan adalah hasil bumi, palawija dan padi-padian, dan kadang binatang ternak. Dan pungutan-pungutan itu mereka angkut dengan kuda-kuda milik warga desa itu sendiri, untuk di bawa ke kapal yang mereka sandarkan di sekitar Pantai Wane atau Kalepe. Kuda-kuda itu dilepaskan, dan akan kembali dengan sendirinya ke desa tuan mereka.
__ADS_1
Seperti yang pernah diucapkan oleh pimpinan kelompok orang-orangnya La Afi Sangia bahwa mereka akan kembali setelah musim panen padi, kini mereka menepati janjinya. Komplotan anak buah La Afi Sangia yang datang saat itu ada lebih dari dua puluh orang. Mereka sangat senang saat itu, karena ternyata masyarakat desa sudah menyiapkan bagian hasil panen itu di pinggi jalan desa, sehingga mereka tak perlu penat-penat untuk memintanya dengan bentakan-bentakan kepada masyarakat desa seperti biasanya.
Hal itu sebenarnya sudah diatur oleh La Mudu dan pemuda-pemuda desa yang menjadi murid dadakannya. Ia dan puluhan murid dadakannya itu akan menghadang gerombolan anak buahnya La Afi Sangia itu di sebuah lembah yang bernama Sonco Mila akan dilalui oleh gerombolan jahat itu yang letaknya cukup jauh di sebelah selatan perkampungan.