
Akibatnya, Kang terhempas dari hadapan Hito yang sudah menahan marah dan kesedihan yang Hito alami pada malam ini.
"Bajingan Kau Hito!! Beraninya kau melakukan ini padaku!!" erang Kang menahan hidungnya mengeluarkan darah dan bagian bibirnya terluka karena tergigit oleh giginya.
Hito tanpa suara apapun, langsung maju mencengkram kerah baju Kang dengan kuat, "Kau! Aku sudah sekian lama menahan kesabaran! Sekarang kau mulai menyiksa aku lagi!" balas erang Hito kembali melawan Kang.
Namun, Kang tidak mau mengalah dan ia masih melanjutkan omongan Hito, "Memangnya kenapa! Kau anak buangan bisanya hanya diam saja. Bagus aku menyiksa dirimu untuk keluar dari sini!"
Hito yang sadar dari perkataan Kang, bahwa Hito sudah menerka apa yang dibilang oleh Kang. Sehingga Hito melepaskan cengkramannya dan berdiri mengambil catatannya kembali.
"Hah … hah. Kau sadarkan statusmu sekarang," ujar Kang dengan nada merendahkan Hito.
"Kau memang tidak tahu malu, menyiksa ibuku dan juga adikku. Lebih baik kau coreng saja namamu di keluarga dan pergilah bersama Ibumu!" gerutu Kang untuk Hito agar ia memanas perasaan, Hito hanya berusaha untuk memendam emosinya saja.
Hito tidak ingin mengeluarkan amarah besar, Hito mencoba untuk menahan kesabaran. Tiba-tiba tanpa sengaja Kang melampiaskan kekuatan sihir penguatan tubuhnya kepada Hito yang tengah lengah, Hitopum menoleh pada Kang dengan mempersiapkan sihir airnya.
Buum!!
"Kau bagusnya jadi samsak tinju baruku, setelah sekian lama aku berlatih kekuatan ini!" pamer Kang yang merasa dirinya berhasil mengenai Hito.
Padahal kepameran Kang hanya sementara saja, ia tidak mengetahui bahwa Hito menangkap tinjuan Kang dengan tangan kosongnya berlapis sihir air, "Sudah berapa kali aku menahan kesabaran untuk dirimu, Kang!" geram Hito menahan tangannya Kang.
"Kalau kau sudah begini, baiklah. Aku akan menyelesaikan urusanmu sekarang."
Sesuai permintaan Kang, Hito memutarkan tangan Kang dengan erat tanpa dilepaskan sedikitpun. Ketika Kang sudah menghadap ke belakang dengan kondisi tangan terkunci, Hito langsung menghantam leher Kang sampai ia mencium lantai lorong.
Brak!!
__ADS_1
"Hemmmmkhh!!" jerit Kang merasakan tangan kanannya dipukul oleh kaki Hito. Hito melirik keadaan Kang, sudah tidak lagi teringat simpati dari Kang.
Kang yang berusaha memberikan kode menyuruh Hito melepaskan tangannya, yang ada Hito menambahkan kembali kesakitan pada Kang. Dengan cara ini, Hito menginjak bagian leher Kang dengan keras.
"Akhhh, le– lepas arghhh!! sakit!! Sa– sakit!" jerit Kang menangis menahan kesakitan yang ia terima.
Hito masih merasa belum puas penyiksaan yang ia lakukan, tanpa pikir panjang ia menginjak-ginjak kembali leher Kang sampai dalam perasaan emosi yang ia tahan dapat keluar dan tidak terbenam lagi dalam pikirannya.
Brak!!
Brak!!
Brak!!
"U– uhuk, to … to– tolong–"
Brak!!
Hito menutup wajahnya dengan darah yang masih menempel di tangannya, Hito pun berusaha mengontrol perasaan dan emosinya yang keluar secara brutal dan Hito tidak mengira bahwa ia melakukan hal sesakit itu pada orang lain.
Karena sudah terlanjur terjadi. Hito sudah tidak mengingatnya kembali. Hito membiarkan tubuh Kang yang tidak sadarkan dirinya tergeletak begitu saja. Hito membiarkannya dan memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Tanpa lupa Hito menendang kepala agar Kang dapat melupakan kejadian yang Kang alami sama ia.
Hito merasa hari yang melelahkan bagi ia alami untuk pertama kalinya, ia berpikir perasaan selama ini dibendung bisa hilang dengan mengeluarkan perilaku yang ia tidak sadarkan dirinya. Hito pun berjalan menuju kamarnya dengan mulutnya masih tertawa-tawa, entah apa yang Hito rasakan senang ketika melakukan penyiksaan atau menertawakan hal lain.
Ujungnya, Hito berusaha untuk memejamkan matanya untuk tidak mengingat kejadian yang terulang itu kembali. Akan tetapi pikirannya terus bergejolak di dalam perasaan, sehingga Hito sampai di kamarnya. Hito pun mengunci pintu kamarnya dan pergi ke tempat tidur.
Hito tidak memikirkan apa-apa lagi dan juga catatan ia bawa, ada sebagian noda darah menempel. Hito biarkan saja catatan itu tergeletak di tempat tidur, karena ia bisa baca di hari lain.
__ADS_1
Hito menutup kepalanya dengan bantal dan selimut yang ia peluk setiap harinya, "Tolonglah. Kenapa diriku ini merasa bahagia dan tertawa sekali menyiksa seseorang," resah Hito memikirkan keanehan pada dirinya.
Hito terus memikirkan hal ini sampai akhirnya ia menyerah atas situasi yang dialaminya. Bisa dibilang ini sebuah gangguan mental yang harus di hadapan Hito, dimana pikiran Hito mulai teralihkan sama roh Hito sebelumnya.
Roh Hito sebelumnya memiliki sebuah memori penyiksaan yang begitu sadis di terima oleh roh Hito sebelumnya, sehingga Hito sekarang menerima memori itu agar teringat. Akibatnya Hito mengalami suatu kelainan yaitu tertawa sendiri atau tertawa berlebihan di situasi tidak lucu sebagai efek samping, bahwa Hito sebelumnya merasa senang dan puas. Kang Shan dapat di siksa oleh Hito sekarang dengan sangat brutal, sampai terluka cukup parah.
Seusai memori Hito sebelumnya masuk ke dalam otaknya Hito yang sekarang ini, Hito mulai terengah-engah napasnya dan ia memegang otaknya, "Gila. A- aku melihat semua memorinya, Hito. Sun– sungguh tragis dihadapi Hito sebelumnya, sampai terluka parah dan mengalami cedera otak," keluh Hito terbaring memikirkan memori yang barusan masuk ke dalam pikirannya.
"Sampai juga Hito terkena gangguan mental, pantaslah gara-gara ini menimbulkan efek sampingnya berdampak oleh diriku" pikir Hito memegang kepalanya.
"Kalau saja, aku tidak mengontrol emosi dan ketawa berlebihan aku tadi. Bisa saja aku dapat membunuh Kang dengan brutal tanpa memikirkan kesadaran aku lagi. Hah …,"
"Sudahlah yang terjadi biarkan terjadi. Yang penting sekarang aku harus merencanakan kegiatanku lebih konsisten, di tahun yang akan datang. Aku memutuskan untuk keluar dari keluarga ini tanpa terbebani lagi dalam mengurusiku,"
"Biarkan aku menanggung semua kehidupanku secara sendiri dan mandiri lagi,"
Setelah Hito mengeluh apa yang dipikirkan secara berbicara sendiri, Hito langsung tidur dengan muka masih menggerakkan alisnya. Tidak lama kemudian Hito dapat tidur dengan nyenyak, tanpa terganggu akan pikiran Hito sebelumnya.
...______...
"Tuan Kang! Tuan Kang! Tuan dimana? Ibunda mencari Anda, Tuan!" teriak pelayan Ibu Tiri mencari Kang Shan.
Pelayan tersebut keliling dengan membawa lilin menyala, mencari Kang Shan di tengah hujan dan petir menyambar. Ketika pelayan itu pergi ke lorong tempat Kang sering menunggu Hito. Tanpa sadar pelayan itu terkejut dan menjatuhkan lilin yang dipegangnya, "T– tu … Tuan K– Kang …," ucap pelayan itu badannya bergemeteran melihat Kang Shan sudah bersimbah darah di sekujur lehernya.
"Akhhhhhh!!"
Jgeerr!!
__ADS_1
Suara petir dan hujan lebat menambah suasana pelayan Ibu Tiri menjadi teriak begitu kencang, sehingga membawa kehebohan di dalam istana.