
"Baiklah. Paman, kalau tidak ada penjelasan atau materi disampaikan. Hito balik dulu ke Istana," ucap Hito sudah menyelesaikan semua catatan, tidak lupa Hito berpamitan pada Paman Erio.
Paman Erio yang tahu ini sudah tengah malam, mempersilahkan Hito untuk balik ke istananya, "Oh iya. Hito, silahkan. Paman merasa sudah cukup hari ini saja memberimu materi, di hari lain mungkin saja Paman ingat. Yang pasti Paman akan bilang padamu," terang Paman Erio yang membantu Hito keluar dari tenda.
Tidak lama percakapan antara Hito dan pamannya, Hito pun memutuskan pulang dengan langkah tegaknya. Dari kejauhan Paman Erio memandang tubuh Hito yang semakin mirip dengan ibunya semasa kecilnya, "Hito. Aku rasa bahwa kau sudah semakin mirip dengan Ibu," kata Paman Erio, sekilas merenungkan wajahnya mengingat Ibunya Hito.
"Aku hanya berharap, kau akan tahu bahwa Ibumu bukan meninggal Hito. Melainkan ia berpetualang di Benua lain demi penghidupan kau," sambung Paman Erio mengungkap kebenaran secara tidak sengaja, namun Hito sudah jauh dari tempat ia berada, "Entah, sampai kapan pertemuan kau diantara Ibumu. Sekarang aku cuma bisa melaksanakan janji dan pesan Ibumu. Di lain waktu keputusan aku sekarang, akan ada di tanganmu lagi Hito," tegas Paman Erio menatap ke atas langit malam dan tidak lama Paman Erio kembali ke tenda tempat ia berada.
Selama ini, yang mengingatkan Ibunya Hito adalah Paman Erio yang merupakan pelatih dan juga sebagai master pedang Ibunya Hito selama berlatih bertahun-tahun. Memang ada keputusan yang mengarah pada konflik dalam rumah tangga, sehingga Ibu Hito memilih jalur berpisah dari Istana. Di karenakan sebuah rentetan kasus yang masih belum diketahui, membuat Ibu Hito memilih pergi dan membuat kematian palsu. Padahal aslinya, Ibu Hito masih hidup. Dengan harapan ibu Hito meminta pengawasan pada Paman Erio, itulah sebuah janji yang diminta Ibu Hito selama ini. Sampai sekarang, Paman Erio memegang janji Ibunya saat ini, tanpa sedikit ingkar satupun.
Walaupun Hito belum mengetahui secara pasti permasalahan ini, lambat laun. Hito bisa menyadari keanehan dalam keluarganya sendiri, tanpa di bilang siapapun. Karena Paman Erio merasa sementara waktu ini, Hito seperti menyembunyikan tujuannya yang masih disimpan dalam hatinya. Belum Hito nampakkan dan masih belum terlihat celahnya, inilah yang membawa kekhawatiran bagi Paman Erio. Mungkin saja, di waktu yang akan datang Hito memutuskan untuk pergi dan mencoreng nama ia di dalam keluarga ini.
...----------------...
__ADS_1
Hito merasa telinganya berdengung saat berjalan, membuat Hito berhenti sebentar di tengah malam yang penuh dengan gemerlap bintang. Hito merasa saat ini ia harus berpikir keras, untuk melanjutkan kehidupan. Atau bertahan hidup, walaupun ia hidup di lingkungan keluarga yang penuh kekerasan. Hito masih cukup kuat untuk menanggungnya, "Paman. Seandainya, Paman tahu bahwa Ibuku ini hidup di luar. Apakah Paman mau memberikan kebenaran bagiku?" ucap Hito di malam dengan angin berhembus di badannya.
Hito memejamkan matanya merasakan ketenangan yang ia rasakan, seperti ia hidup di bumi dalam kesendirian dan kesepian. Namun, kenyataan ia harus hidup dengan lika-liku penderitaan yang harus ditanggung ia sendiri. Kenikmatan yang Hito hadapi dulu, tetapi sudah sirna. Yang ada yaitu menjalani hidup dengan tangan dan jalan takdirnya ia sendiri tentukan, maka dengan itu Hito menggenggam tangannya, "Aku harus kuat, jikalau aku tidak mampu menerima kehilangan. Untuk apa tujuan aku hidup," tangkis Hito tidak mampu memikirkan keluhan hidupnya.
Hito tidak mampu lagi membendung air matanya, yang ia pikirkan membuat ia jatuh di dalam buaian malam yang larut. Bahwa kehilangan bukanlah suatu cobaan ataupun kegelisahan yang membuat dirimu jatuh di dalam keputusasaan, melainkan kehilangan mengajarkan diri untuk terus bangkit mencoba sesuatu yang dapat dihargai dalam sebuah genggaman hidup.
Di malam yang panjang, Hito menangis memikirkan banyak hal yang harus ia lewatkan dan butuh sandaran untuk membuang perasaan yang tidak mengenakkan. Terkadang ada kalanya seorang menangis sendiri bukanlah di artinya sebagai orang lemah, namun bagaimana ia harus mengontrol situasi dimana seseorang merasakan perasaan yang begitu emosional dan merasakan kesedihan yang berlebihan, melebihi ambang batas seharusnya. Maka itulah hal yang tidak bisa dibendung oleh Hito, dimana emosi yang selama ini dipendam Hito harus dikeluarkan.
Hito mulai tegar kembali bangkit untuk kedua kalinya, ia percaya setiap apapun yang Hito lewati pasti ada hikmah dalam perjalanan hidup, "Aku tidak peduli sekarang, diriku keras atau dingin. Aku jalani kehidupan ini dengan jalan takdirku sendiri tanpa terkekang oleh aturan keluarga."
Hito sudah puas apa yang ia katakan keras, ia mulai melangkah kembali menuju istana pada tengah malam. Hito tidak terpikirkan, ia terlambat pulang ataupun melanggar aturan. Tapi di pikiran Hito ia harus mulai sadar akan tujuannya.
Ketika Hito berjalan masuk ke Istana menuju kamarnya, dengan membawa buku catatan yang ia tulis di tenda Paman Erio. Tanpa sengaja catatan itu menarik perhatian dari Kang Shan atau bisa dipanggil Kang, Kang merupakan anak pertama dari ibu tiri yang berumur 10 tahun. Namun Hito tidak mempedulikan bahwa anak pertama ibu tiri melewati dirinya, tapi Kang tidak mengenal bahwa yang ia lewati adalah Hito. Anak yang yang disiksa oleh Kang selama 2 tahun.
__ADS_1
"Hoii! Hito. Sudah lama diriku tidak melihatmu keluar dari kamarmu yang bau apek," panggil Kang melirik Hito seperti orang rendahan.
Akan tetapi, Hito tidak terhirau dengan panggilan dari Kang. Yang ada Hito melanjutkan perjalanannya, menuju ke kamar dengan perasaan tenang tidak terganggu oleh orang lain. Sehingga, Kang merasa geram sama Hito yang menghiraukan ia sampai tidak menoleh sedikit. Akibatnya Kang maju menghampiri Hito, sesampai di hadapan Hito. Hito pun dihadang oleh Kang di depan matanya.
"Kau sekarang sudah berani yah denganku," sergah Kang dengan senyum jahatnya melirik Hito.
Di sisi lain, Hito cuma menatapnya sejenak lalu melewati bagian samping tubuh Kang. Kang hanya menatapnya sejenak membawa ia makin merasa jengkel ingin emosi kepada Hito yang terus menghiraunya kembali. Dan akhirnya Kang menghampiri Hito, sampai Kang berperasaan ingin menarik bagian kerah belakang baju Hito.
"Gitu yah kau Hito. Sini aku berimu tam–" Tidak lama Kang berbicara menghampiri Hito, Hito pun sudah memprediksi apa yang dilakukan Kang terhadap dirinya. Sehingga Hito langsung menarik tangan Kang maju dan membalik belakang tubuhnya, untuk menendang bagian dagu Kang.
Brak!!
Tanpa perkiraan Kang, ia terkena tendangan lutut yang diarahkan ke dahinya langsung.
__ADS_1